Dua keluarga yang terlibat permusuhan karena kesalahpahaman mengungkap misteri dan rahasia besar didalamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagerNulisCerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penderitaan Part 2
Malam yang ditunggu itu tiba juga, suasana sel membawa hawa lembap yang menyelinap melalui jeruji besi. Lampu sel yang redup berkelip sesekali, seolah ikut gugup menyaksikan apa yang akan terjadi. Malam ini bukan malam biasa. Hendro, Wawan, dan Adam sudah menunggu saat ini sejak lama sebuah malam yang, bagi mereka, dianggap sebagai peluang.
Hendro duduk bersandar di dinding sel, matanya tajam mengawasi sekitar. Sesekali ia melirik ke arah Aldi yang terlelap di sudut ruangan, tubuhnya meringkuk, kelelahan setelah hari panjang yang menguras mental.
Dengan suara setengah berbisik namun penuh tekanan, Hendro memecah keheningan.
“Wan, Dam,” katanya sambil menghela napas pelan, “kalian masih ingat kan apa yang perlu kita lakuin nanti?”
Nada suaranya rendah, tapi jelas menyimpan keyakinan yang dingin.
Wawan, yang sejak tadi tampak gelisah, menggaruk tengkuknya. Wajahnya tegang, keringat tipis mengilap di dahi meski malam terasa dingin.
“Tapi bos,” ucapnya ragu-ragu, suaranya sedikit bergetar, “aman nggak ini?”
Adam yang duduk tak jauh dari Wawan ikut menimpali. Matanya membesar, bibirnya bergetar sebelum kata-kata keluar.
“Iya bos,” katanya lirih dengan wajah pucat, “kita takut banget, bos. Takut malah makin parah hukuman kita nanti.”
Hendro terkekeh pelan, senyum miring terukir di wajahnya. Ia mengibaskan tangan seolah kekhawatiran itu tak ada artinya.
“Udah aman itu,” ujarnya santai namun penuh percaya diri. “Ada orang dalam kita. Toh kita juga cuma disuruh, kan? Yang penting perut kenyang, duit banyak.”
Ucapan itu membuat Wawan dan Adam terdiam. Ragu masih ada, tapi iming-iming uang dan rasa takut pada Hendro membuat mereka memilih patuh.
Di sudut lain sel, Aldi masih terlelap. Ia sama sekali tak menyadari bahwa dalam hitungan menit hidupnya akan berubah. Tubuhnya yang lemah dan kondisi mentalnya yang rapuh menjadikannya sasaran empuk.
Hendro berdiri perlahan, lalu memberi isyarat dengan dagunya ke arah Aldi.
“Siram, Dam. Tarik ke sini,” perintahnya dingin, tanpa emosi.
Adam menelan ludah. Tangannya gemetar saat ia melangkah mendekati Aldi. Air disiramkan begitu saja. Tubuh Aldi langsung terperanjat. Ia terbangun dengan napas tersengal, matanya membelalak penuh ketakutan. Tangannya meronta, mencoba melepaskan diri.
Dengan suara panik dan nyaris menangis, Aldi berteriak,
“Apa yang mau kalian lakuin, Bang? Lepasin… lepasin! Tolong… tolong!”
Suara itu menggema di dalam sel, namun tak ada yang peduli. Hendro berdiri dengan wajah datar, seolah menyaksikan sesuatu yang biasa.
“Lakuin, Wan,” katanya singkat, tanpa ragu.
Aldi akhirnya hanya bisa pasrah. Tenaganya habis, suaranya pecah, air matanya jatuh bercampur rasa takut dan putus asa. Tak ada yang menolong. Tak ada yang mendengar. Ia menjadi korban kebejatan tiga orang yang menguasai sel itu meski di balik semua itu, mereka hanyalah tangan panjang dari seseorang yang lebih berkuasa.
Beberapa waktu setelah kejadian itu, Hendro berdiri di sudut yang lebih sepi, memegang ponsel. Wajahnya berubah serius. Sambungan telepon terhubung.
Dari seberang, terdengar suara berat dan tenang.
“Gimana, sudah kalian lakukan?” tanya pria misterius itu, suaranya datar tanpa emosi.
Hendro tersenyum kecil, nada bicaranya berubah sopan.
“Sudah, bos. Aman. Ini juga ada rekamannya,” katanya sambil melirik ponselnya.
“Bagus,” jawab pria misterius singkat. “Uangnya sudah saya kirim ke rekening kalian.”
Hendro mengangguk meski lawan bicaranya tak bisa melihat. Namun raut wajahnya berubah ragu.
“Terima kasih, bos,” ucapnya, lalu menelan ludah. “Tapi… kalau anak itu lapor gimana, bos?”
Dari seberang terdengar tawa kecil, dingin.
“Sudah aman,” jawab pria misterius mantap. “Semua sudah saya atur.”
Telepon ditutup. Pria misterius itu menatap layar ponselnya sebentar, lalu melirik ke arah Aldi yang terkulai lemas, tubuhnya gemetar dan matanya kosong. Ada senyum tipis di wajah pria itu—senyum puas yang tersembunyi.
Sementara itu, di Kafe Kamboja, suasana berbeda terasa. Musik pelan mengalun, lampu kuning temaram memberi kesan hangat. Namun di balik suasana itu, hati Ratri terasa berat.
Ia duduk sendirian, jemarinya saling bertaut di atas meja. Matanya sesekali melirik jam, menunggu seseorang yang telah ia hubungi sebelumnya.
Tak lama kemudian, seorang pria datang dengan senyum lebar.
“Wah,” katanya sambil menarik kursi, nada bicaranya penuh godaan, “dalam rangka apa ini mantan kekasihku ngajak ketemu? Jujur, aku merasa terhormat. Kamu masih cantik seperti dulu, sayang.”
Tanpa izin, pria itu menyolek pipi Ratri. Ratri langsung merasa risih. Dengan cepat, ia menghempas tangan pria itu, wajahnya mengeras.
“Aku ke sini bukan buat nostalgia,” katanya tegas. “Aku mau minta tolong. Bebasin anakku yang sekarang dipenjara.”
Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi, senyum licik muncul di wajahnya.
“Bayarannya apa?” tanyanya santai. “Kamu tahu kan, itu bukan perkara gampang.”
Ratri menarik napas dalam-dalam, suaranya bergetar namun penuh tekad.
“Apa pun,” katanya mantap. “Asal anakku bebas. Tapi ingat, jangan minta yang macam-macam.”
Ia mengangkat telunjuknya, memberi peringatan. Pria itu tertawa kecil.
“Loh, loh, loh,” ujarnya meremehkan. “Kamu yang datang meminta bantuan ke saya saya, Jadi, saya yang berhak menentukan apa yang mau saya minta sebagai imbalan"—Pria misterius
Ratri terdiam. Kepalanya tertunduk. Ia tahu, posisinya lemah.
Pria itu lalu mendekat, nada suaranya berubah serius.
“Baiklah, aku setuju,” katanya pelan. “Tapi ingat, suatu saat nanti aku akan tagih janji itu. Jadi kamu harus siap kapan pun itu.”
Ratri mengangguk perlahan. Tak ada pilihan lain.
Di sebuah vila yang sunyi, Vanes duduk di depan laptop. Wajahnya tegang saat ia menatap layar, memutar ulang video yang baru saja diterimanya. Ekspresi jijik dan puas bercampur di wajahnya.
Tiba-tiba pintu terbuka.
“Eh, Van, lagi ngapain?” tanya Arga sambil masuk.
Vanes terkejut. Dengan refleks, ia menutup laptopnya.
“Eh, Ga,” katanya gugup sambil tertawa kecil. “Nggak kok. Ini cuma nonton film yang belum sempet kutonton. Kamu kenapa?”
Arga menatapnya curiga sebentar, lalu menghela napas.
“Nggak papa,” jawabnya. “Gue cuma kepikiran Aldi. Kita belum pernah jenguk dia.”
Vanes terdiam sesaat, lalu mengangguk.
“Iya juga ya,” katanya. “Besok siang kita jenguk Aldi.”
Meski mulutnya berkata begitu, hatinya menolak. Ia jijik pada Aldi. Berteman dengannya hanya bagian dari rencana balas dendam. Namun pada Arga, Vanes tetap tulus karena Arga memang orang baik.
Kelas berakhir. Naura dan Tiara berada di perpustakaan, tenggelam dalam buku. Tiba-tiba sebuah suara menyapa.
“Loh, mbak ke perpus juga? Sendirian aja mbak” tanya Dokter Fahri ramah.kebetulan memang, Naura masih mencari-cari buku bacaan di lorong perpus.
Tiara menoleh kaget.
“Eh, dokter kebetulan tadi dengan teman kebetulan saat ini sedang mencari buku di pojok sana untuk referensi tugas kami,”
Tiba-tiba Naura datang “Loh, Mas ke perpus juga?”
"Nah, itu teman saya"—Tiara
Dokter Fahri tersenyum.
“Iya, kebetulan.”
Tiara tertawa kecil.
“Kalian sudah saling kenal?”
Naura mengangguk.
“Beliau dokter yang nolong aku waktu mobil Pak Mamat mogok.”
"Wah kebetulan sekali, Na kenalin ini Dokter Fahri. Dokter yang menolongku saat kecelakaan di Villa dulu. Kalau ini temenku dok, namanya Naura."
Mereka pun saling berjabat tangan sebelum akhirnya Dokter Fahri pamit lebih dulu.