NovelToon NovelToon
Dendam Dua Jiwa [Mafia Cantik Di Tubuh Gadis Lugu]

Dendam Dua Jiwa [Mafia Cantik Di Tubuh Gadis Lugu]

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ikri Sa'ati

Dendam dua jiwa.

Jiwa seorang mafia cantik berhati dingin, memiliki kehebatan dan kecerdasan yang tak tertandingi, namun akhirnya hancur dan berakhir dengan mengenaskan karena pengkhianatan kekasih dan sahabatnya.

Jiwa yang satu adalah jiwa seorang gadis lugu yang lemah, yang rapuh, yang berlumur kesedihan dan penderitaan.

Hingga akhirnya juga mati dalam kesedihan dan keputus asaan dan rasa kecewa yang mendalam. Dia mati akibat kelicikan dan penindasan yang dilakukan oleh adik angkatnya.

Hingga akhirnya dua jiwa itu menyatu dalam satu tubuh lemah; jiwa yang penuh amarah dan kecewa, dan jiwa yang penuh kesedihan dan putus asa, sehingga melahirkan dendam membara. Dendam dua jiwa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26. Tak Ada yang Bisa Menahannya Jika Berkehendak

Sementara itu suasana masih terendam dalam keheningan pasca pertarungan cukup menarik beberapa menit yang lalu.

Tujuh penjaga keamanan beserta dua Tuan Muda keluarga Winata masih terkapar diam di lantai ruang tengah. Sedangkan Abraham Winata beserta istri dan kedua putrinya masih terpaku diam di atas sofa empuk itu.

Tampak Abraham Winata seperti orang linglung, tidak tahu harus berbuat apa untuk mengatasi Annabella. Apa yang dipertunjukkan oleh gadis itu di depan matanya benar-benar di luar dugaannya.

Sementara Nyonya Chalinda bukan hanya bingung menghadapi situasi seperti ini, dia sekarang malah tampak ketakutan. Takut jika Annabella juga berbuat kasar terhadap dirinya dan terhadap Nikita, putri kesayangannya.

Annabella telah berani berbuat sedemikian rupa terhadap kedua kakaknya hingga babak belur begitu. Tentu berani juga bertindak lebih kasar lagi terhadap Nikita.

Dirangkulnya lebih erat lagi putri kesayangannya itu, mencoba memberikan keamanan dan kenyamanan yang maksimal dengan memeluknya. Karena dia melihat Nikita amat ketakutan.

Ya benar, Nikita memang benar-benar ketakutan kini. Takut dari amukan Annabella, takut kalau Annabella memaksanya untuk mengaku jika dia berbohong soal Annabella menampar wajahnya dan soal Annabella ikut balapan liar yang memang belum pasti dia ketahui.

Dia seperti sudah kehilangan penolong yang akan membantunya menindas Annabella dengan berlabel hukuman.

Satu-satunya yang diandalkan sekarang untuk berlindung agar kebohongannya tetap tertutup dan berlindung dari amukan Annabella adalah kedua orang tua angkatnya ini. Tapi apakah bisa? Apakah mereka mampu menahan amukan Annabella?

Nindira pun juga tampak bingung, bahkan semakin tidak mengerti dengan apa yang ada pada adik kandungnya itu.

Annabella ternyata memiliki kemampuan bela diri yang menandingi kedua kakaknya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dengan ilmu bela diri yang hebat itu, dia amat berani dan sanggup membuat Darren dan Arden terkapar tidak berdaya.

Nindira semakin tidak memahami keadaan dan diri Annabella saat ini. Apakah dia memang orang yang benar-benar tertindas di rumah ini?

"Tuan Abraham, kau nggak menyangkan bukan, akhirnya penghukumanku yang berlaku?"

Seketika terdengar Annabella berkata bernada kalem dan tenang. Namun sanggup membuat keheningan langsung berantakan, sanggup membuat kebisuan tersentak kaget.

Serta-merta Abraham Winata, istrinya, Nikita maupun Nindira menoleh pada Annabella yang sudah berdiri diam di tempatnya saat ini. Di tangannya masih tergenggam tongkat cambuk yang dipakai menghajar Darren dan Arden tadi.

Tapi Nikita tak sanggup berlama-lama memandang Annabella. Rasa takut masih membayangi dirinya, takut kebohongan yang dia buat bakal dibongkar oleh Annabella dengan memaksanya mengaku.

"Aku sudah bilang padamu, jangan coba-coba lagi bermain-main denganku," kata Annabella lagi, masih bernada kalem, santai, dan tenang. "Tapi kau nggak mendengarkan aku, dan masih nggak percaya kalau aku bisa berbuat apa saja sekehendak aku."

Abraham Winata masih belum bisa bicara, apalagi menanggapi ucapan putrinya yang sekarang berlaku aneh itu.

Lalu Annabella mengangkat tongkat cambuk di tangannya ke depannya, terus berkata.

"Sebenarnya... aku ingin mencoba tongkat yang sering kau pakai menyiksaku ini ke tubuh putri kesayanganmu itu, Tuan Abraham," kata Annabella lagi, masih kelem dan tenang.

"Karena dia sudah berbohong, mengatakan padamu kalau aku telah menamparnya tadi," lanjutnya masih kalem dan tenang, "padahal nggak sama sekali."

Lalu Annabella berhenti bicara, seolah menjeda ucapannya, ingin melihat reaksi Abraham Winata serta istrinya sambil melirik pada Nikita.

★☆★☆

Ucapan-ucapan itu memang diucapkan dengan kalem dan santai. Namun kedengarannya amat mengerikan di tengah suasana yang masih berselimut ketegangan dan horor itu.

Nikita, mendengar ucapan Annabella barusan, wajah cantiknya semakin pucat. Rasa takut semakin melingkupinya. Dia memang takut jika Annabella membongkar kebohongannya. Tapi lebih takut lagi jika Annabella benar-benar memukulnya dengan tongkat cambuk itu.

Dia tadi masih sempat melihat betapa kuat, keras dan brutalnya Annabella memukul kedua kakaknya dengan cambuk itu. Lalu, bagaimana jadinya jika tongkat itu dipukulkan di tubuhnya yang kecil ini?

Membayangkan saja rasanya Nikita seperti mau pingsan. Bulu kuduknya semakin meremang, semakin merinding ketakutan.

"Ma..., a-aku..., aku... takut...," ucapnya dengan suara gemetar di tengah rasa takutnya yang hebat.

"Ja-jangan... takut..., sayang," Nyonya Chalinda berusaha menenangkan putrinya, padahal dia juga sudah gemetar ketakutan, "a-ada... ma-mama... di sampingmu...."

"Bella..., jangan macam-macam sama adikmu!" Abraham Winata mencoba membentak. Tapi karena dia juga ketakutan, jadi suara bentakannya terdengar aneh.

"Bella, jangan coba-coba melakukan niatmu pada Niki," Nindira mencoba marah pada Annabella di tengah rasa takutnya. "Nanti... nanti... aku nggak mengganggumu lagi sebagai adikku...."

Annabella hanya melirik sebentar pada Nindira. Setelah itu tidak menghiraukannya lagi; tidak menghiraukan orangnya, dan tidak perduli dengan ucapannya yang mencoba mengancam.

Ancaman itu hanya dianggap angin saja. Karena Annabella sudah tidak lagi menganggap keluarga Winata sebagai keluarganya.

"Tapi kau tenang saja, Tuan Abraham, aku nggak akan memukul putri kesayanganmu itu dengan tongkat ini," kata Annabella lagi dengan santai dan tenang. "Karena sejatinya tongkat hukuman ini dibuat hanya untuk aku, khusus untuk menyiksaku."

"Bukan untuknya," Annabella menunjuk lurus pada Nikita dengan ujung tongkat cambuk di tangannya itu, yang membuat Nikita semakin gemetar ketakutan.

"Tapi sekarang tongkat ini nggak bisa lagi dipakai untuk menyiksaku," lanjutnya makin dramatis.

Belum hilang gema suara Annabella, dia sudah mematahkan tongkat cambuk itu menjadi tiga bagian. Lalu dicampakkan ke lantai begitu saja.

Disaksikan oleh Abraham Winata yang amat terkejut melihat tongkat cambuk itu patah.

Dia terkejut bukan karena Annabella amat mudah mematahkan tongkat cambuk itu. Tapi dia terkejut karena tongkat itulah yang dipakai untuk memukul putri kandungnya selama ini dengan alasan untuk menghukumnya atas kesalahan yang putrinya itu lakukan.

Kini tongkat cambuk itu sudah patah. Tapi kenapa dia merasa seperti ada yang patah juga antara dirinya, keluarganya dengan putri kandungnya itu. Dan hal itu membuatnya merasa amat sakit di hatinya yang amat dalam.

"Tapi bukan berarti putri kesayanganmu itu nggak mendapat hukuman dariku atas fitnah yang dia lakukan kepadaku...."

Bagai ledakan petir yang amat keras bagi Nikita dan yang lainnya mendengar kalimat mengerikan yang diucapkan Annabella itu. Padahal kalimat itu hanya diucapkan masih dengan kalem dan tenang, penuh dramatis.

Dan seketika suasana ruang tengah itu seolah membeku, dibekukan oleh ketakutan dan kengerian akan apa yang akan dilakukan oleh Annabella.

★☆★☆

Tampak Annabella melangkah amat cepat ke arah Nikita. Belum juga Nikita berbuat sesuatu apa yang ingin dia perbuat, tahu-tahu Annabella sudah ada amat dekat di depan hidungnya.

Dia ingin menjerit sekeras-kerasnya, namun suaranya seakan-akan tercekik di kerongkongannya. Dia ingin menangis, namun tangisnya seakan terkunci dalam ruang ketakutannya.

Sepasang mata indahnya terbelalak liar menguarkan ketakutan dan keterkejutan yang amat sangat.

Sedangkan Abraham Winata masih terpaku dan terkunci di tempat duduknya. Dia terlalu kaget, terlalu shock untuk mereaksi apa yang akan terjadi.

"Bella, jangan...!" mohon Nyonya Chalinda masih di tengah rasa takutnya.

"Jangan..., Bella...!" Nindira segera berdiri dan menghambur ke arah Annabella untuk mencegah tindakannya. "Dia adikmu! Kakak mohon jangan...!"

Tapi Annabella tidak perduli. Tidak ada yang bisa menghalangi niatnya jika sudah berkehendak.

Dengan cepat dan kuat Annabella mencengkram kerah baju Nikita, lalu menariknya dengan kasar dan kuat hingga terlepas dari pelukan mamanya, hingga gadis itu berdiri dengan paksa.

Sedangkan air mata gadis malang itu sudah tertumpah, air mata sungguhan, bukan air mata palsu. Tapi sayang suara tangisnya tidak ikut keluar. Sumpah, saat ini dia benar-benar ketakutan, asli ketakutan.

Sementara Nindira sudah sampai di belakang Annabella. Kedua tangannya terulur hendak menarik lengan atas adik kandungnya.

Tapi niatnya untuk mencegah tindakan Annabella terpaksa dia telan sendiri. Karena begitu Annabella menghentakkan tangannya itu ke belakang, dia langsung terdorong terjajar ke belakang dengan limbung. Lalu jatuh ke lantai dengan menyedihkan.

Sedangkan Annabella kembali fokus pada Nikita. Tapi datang lagi gangguan dari Nyonya Chalinda yang juga hendak mencegah tindakannya.

Namun, sama seperti Nindira, wanita paruh baya itu hanya bisa menelan niatnya. Karena begitu putri kandungnya itu mendorongnya, dia langsung terdorong ke belakangnya.

Hampir saja dia jatuh menghantam meja kalau tidak cepat ditangkap oleh Abraham Winata. Dan belum juga kepala rumah tangga itu mengamankan istrinya yang ternyata pingsan, Annabella sudah bertindak.

"Jelas-jelas aku nggak menamparmu, brengsek! Tapi sepertinya kau memang ingin meminta tamparan dariku.... Maka aku akan memberikannya dengan senang hati...."

Dengan cepat telapak tangan kanan Annabella bergerak menampar dua kali berturut-turut secara bolak-balik, menghantam wajah cantik Nikita dengan telak.

Plaaak! Plaaak!

"Aukh...! Aukh...!"

Saking keras dan kuatnya tamparan itu mendarat di wajah Nikita, membuatnya menjerit-jerit kesakitan. Tampak sudut bibirnya meneteskan darah pertanda bibirnya pecah.

Belum juga Nikita lama menikmati rasa sakit di wajahnya, kembali Annabella melayangkan tamparan yang terakhir dan yang lebih kuat, lebih keras.

Plaaak!

Tak terdengar lagi jeritan dari Nikita. Karena dia sudah pingsan dalam cengkraman Annabella. Lalu Annabella menghempaskan tubuh Nikita begitu saja hingga terjatuh ke sofa.

"Niki...!" jerit Abraham Winata begitu melihat putri kesayangannya sudah terbaring diam di sofa.

Sementara Annabella, cuma melirik tajam pada pria tua itu. Lalu beranjak mengambil tasnya. Lalu bersiap meninggalkan ruang tengah ini.

Tapi sebelumnya dia memandang sejenak pada Abraham Winata yang sudah memeluk Nikita. Lalu terdengar dia berkata bernada dingin tapi sikapnya masih tenang.

"Tuan Abraham, aku harap kau bisa mengambil pelajaran akibat ulah putri kesayanganmu itu. Dan aku ingatkan sekali lagi jangan lagi macam-macam denganku!"

"Dan aku ingatkan, jangan coba-coba melapor polisi jika kau nggak ingin keluarga Winata-mu menjadi hancur...!"

Lalu Annabella meninggalkan ruang tengah itu. Sikapnya begitu santai, tenang, seolah-olah dia tidak pernah berbuat apa-apa dan merasa tidak terjadi apa-apa.

Sementara Abraham Winata masih terpaku diam di tempat duduknya sambil masih memeluk Nikita yang pingsan.

Sejenak dia memperhatikan keadaan keluarganya; istrinya yang masih pingsan, Darren dan Arden yang masih terbaring tak berdaya di atas lantai, Nindira yang menangis terisak sambil duduk di lantai.

Semua keluarganya itu benar-benar berantakan akibat amukan Annabella, sang putri kandung.

benarkah anak itu tidak bersalah? Benarkah anak itu memang benar-benar dia tindas selama ini?

Memikirkan hal itu membuat kepalanya menjadi sakit dan pusing.

★☆★☆★

1
Evi 060989
up
Adhie: siap kaka
👍👍👍
total 1 replies
MelodyStar
update :(
MelodyStar: kok lama 🗿
total 2 replies
Evi 060989
up
Adhie: siap, lagi dipersiapkan...
total 1 replies
Evi 060989
up lg
Adhie: lagi dipersiapkan...
total 1 replies
MelodyStar
update☹️
MelodyStar
update☹️☹️ plis
Adhie: sorry, author lagi trobel kemarin
total 1 replies
Evi 060989
up lg thor
Evi 060989
up lg
kriwil
knp ga tampar anak pungut itu
Adhie: sudah ditampar 3 kali sampe pingsan
total 1 replies
Evi 060989
up lg
Adhie: siap...
total 1 replies
Zahra Nur
bunuh aja keluarga anjing tu
Adhie: aduh.... sadis kaka
total 1 replies
Anonymous
suke badas mantap lanjut thor👍
Adhie: terima kasih atas kunjungannya kaka
🙏🙏🙏
total 1 replies
Sonya Nada Atika
ini yg bikin malas....muter2 g jls...katanya kuat.
Adhie: makasi sudah mampir
🙏🙏🙏
total 1 replies
Aretha Shanum
males beh muter2
Adhie: makasih sudah mampir
total 1 replies
Adhie
maksudnya kenapa bella masih bertahan di kediaman winata?
bella menunggu momen di mana dia benar benar diusir oleh keluarga winata, baru dia mau keluar.
Aretha Shanum
kenapa harus bertahan disitu
Adhie: makasih sudah mampir kaka...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!