"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7. pemakaman simbok
4 orang pemuda tengah jogging bersama mengelilingi kampung dengan memasuki gang-gang yang ada di kampung itu. Karena gang disana tidak buntu dan saling sambung menyambung.
mereka adalah Toni, Rama dan dua temannya Rohim dan Rehan. memang mereka rajin jogging jika hari Minggu, biasanya Aksara ikut juga tapi karena Aksara membantu ibunya diwarung dia tidak bisa ikut.
"eh itu mbak-mbak yang dirumah Simbah kan?" tanya Rohim
"lah iya kenapa mereka lari-lari gitu?" tanya Toni
"mungkin jogging juga" sahut Rama
"tapi kok mukanya kayak panik gitu, yok kita samperin" ajak Toni
mereka berempat menghampiri Nadira dan Elsa yang terlihat sangat panik
"mas! Mas tolong kami mas!" ucap Nadira masih tersengal
"ada apa ini mbak?" tanya Rama
"itu-itu simbok! Hah hah" Elsa juga masih tersengal hingga susah mengatakan apa yang terjadi
"ini saya bawa minum, mbaknya minum dulu dan atur nafas ya" Rohim memberikan air mineral pada Nadira dan Elsa
sedangkan laki-laki yang bernama Rehan masih diam menunggu penjelasan dari kedua gadis itu. wajahnya selalu nampak datar hingga orang-orang tidak bisa menebak isi pikirannya
"hah...itu mas Simbah gantung diri dikamarnya!" ucap Elsa yang membuat para laki-laki tertegun sesaat
"hah? Gantung diri? Simbok Minah?" tanya Toni dan Rama serempak
"iya mas, ayo cepetan bantuin" ucap Nadira
"sebentar saya beri tahu pak RT dulu kalo gitu" ucap Toni menarik tangan Rehan untuk pergi kerumah pak RT untuk memberi kabar tersebut
"ayo mbak kita lihat dulu, nggak baik kalo ditinggal sendirian" ucap Rama
Mereka akhirnya kembali kerumah Simbah yang nampak seram itu. Rama dan Rohim mengusap tengkuk mereka berkali-kali. Entah mengapa setiap mereka melewati rumah ini selalu merinding. Ini malah langsung masuk kedalamnya.
"mereka kok berani ya tinggal disini" bisik Rohim pada Rama
"iya loh, padahal serem banget ya kayak rumah hantu" bisik Rama
"husstt jangan ngomong gitu, ini loh suasananya mencekam" ucap Rohim
"itu mas kamarnya" tunjuk Nadira
"eehh emm kita sekalian tunggu yang lain aja lah mbak. Kami nggak berani" ucap Rama
"lah terus gunanya kami minta tolong sama kalian apa dong" sungut Elsa
Dikira bakal bantuin malah ikutan takut. Mereka pikir jika ada laki-laki yang menemani maka akan bisa membantu. Minimal untuk mengecek kedalam dan memastikan jika simbok memang ada dikamar.
"loh ya kami kan sudah jadi dua tadi, Rehan sama Toni manggil pak RT, sedangkan kami nemenin mbak-mbaknya disini" ucap Rohim
"udah-udah nggak usah ribut, mending kita tunggu yang lain. Masnya tolong tunggu didepan pintu depan biar orang-orang nggak salah paham" ucap Nadira
"baik mbak" ucap Rama dan Rohim serempak dan langsung berlari kearah pintu keluar
"huh dasar! Nyari cowok untuk bantu ngelindungi malah mereka lebih takut lagi" ucap Elsa
Nadira hanya diam sambil menatap kamar atas yang paling pojok.disana terdapat kamar yang tidak pernah dibuka sejak ia masih kecil dulu. Entah apa isi didalamnya, hingga Mbah kakung dan Mbah putrinya sangat melarang jika ada yang ingin memasuki kamar itu
Nadira bisa merasakan jika ada sesuatu yang berbahaya dirumah ini. Namun, ia belum bisa memastikan. indra keenamnya sempat hilang saat SMA dulu pernah di ruqyah. Meskipun begitu, ia masih bisa merasakan kehadiran sosok-sosok ghaib.
"Nad, kamu kenapa kok ngeliat arah atas terus?" tanya Elsa
"nggak papa kok" jawab Nadira
tak lama kemudian, pak RT dan para warga berdatangan untuk melihat sekaligus melayat simbok Minah.
"dimana jenazahnya mbok Minah nduk?" tanya pak RT
"masih dikamar pak, kami nggak berani melakukan apa-apa" ucap Nadira
"baiklah, biar kami lihat dulu ya"
pak RT dan beberapa warga laki-laki memasuki rumah dan langsung menuju kamar simbok yang ditunjukkan oleh Nadira
"Astaghfirullahalazim!!" semua orang disana sangat terkejut melihat wanita tua yang tergantung di langit-langit kamarnya dengan lidah yang menjulur serta mata melotot lebar
"kenapa bisa seperti ini nduk?" tanya pak RT yang masih syok
"kami juga nggak tau pak, subuh tadi saat selesai sholat, kami mengalami gangguan ghaib. Ada sosok yang menyerupai simbok dan ternyata bukan simbok. Setelah sosok itu menghilang, kami langsung mencari keberadaan simbok ke kamarnya, dan menemukan.simbok dalam keadaan yang sudah seperti ini" jelas Nadira dengan tubuh yang gemetar
"sosok menyerupai simbok? Apa sosok itu mengatakan sesuatu nduk?" tanya pak RT lagi
"iya pak dia mengatakan "sing ditandhani wis teka lan sing dipilih akhire teka" ucap Nadira yang masih mengingat kata-kata hantu kerempeng tadi
"lailla ha illallah! Celaka! apa kamu nadira anak Wijaya?" tanya pak RT
"benar pak, saya memang belum sempat buat laporan" ucap Nadira
"kita urus dulu jenazah almarhumah, bapak-bapak tolong bantu turunkan jenazah simbok dan ibu-ibu yang lain tolong siapkan tempat pemandian jenazah ya" ujar pak RT memberi perintah pada warga
"baik pak" jawab mereka serempak
"tolong salah satu siarkan berita duka ini di musholla, dan oh iya dimana pakde Saruji?" tanya pak RT yang sadar jika suami simbok tidak ada disana
"hah? Iya Nad! Paklek dari kemarin nggak keliatan kan?" Elsa dan Nadira terkejut karena baru menyadari jika paklek Saruji tidak ada dirumah sejak kemarin
"cari pakde Saruji sekarang. Dia pasti belum tahu keadaan isterinya" ucap pak RT
Pagi itu, hampir semua warga sibuk mambantu pengurusan jenazah simbok. mereka agak terkejut karena orang tua itu kini sudah meninggal. Walaupun semenjak juragan pemilik rumah ini beserta isteri sudah meninggal, simbok dan suaminya sering melakukan hal yang aneh. Dan rumah yang dulunya mewah dan hangat dipandang kini justru seolah menjadi rumah angker yang membuat semua warga sini tak berani memasukinya walaupun hanya sebatas halaman. mereka melewati rumah ini pun jika keadaan terdesak saja
"terima kasih banyak kepada pak RT dan semua bapak ibu warga disini karena sudah membantu kami mengurus jenazah simbok" ucap Nadira yang masih sedih, karena bagaimanapun juga dia sudah mengenal simbok dari ia masih kecil dulu
Nadira sudah mengabari orang tuanya dan kakaknya dikota tentang meninggalnya simbok Minah. mereka pun langsung bergegas menuju desa setelah mendengar kabar dari sang putri
"orang tuamu akan datang nduk?" tanya pak RT
"iya pak, sekarang sedang dalam perjalanan" ucap Nadira
"jika orang tuamu sudah datang, minta mereka untuk kerumah bapak. Nama bapak Hamdan" ucap pak RT
"baiklah pak, nanti saya sampaikan" ucap Nadira
Mereka akhirnya pulang kerumah masing-masing karena proses penguburan sudah selesai.
tidak ada yang menyadari jika dibalik pohon besar ujung makam, ada seseorang yang menatap tajam ke arah mereka. Orang itu mengenakan caping dan baju yang agak kebesaran
"tunggu pembalasanku Getih pilihan!" gumam orang itu