Menikahi Pria terpopuler dan Pewaris DW Entertainment adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah terjadi di hidupnya. Hanya karena sebuah pertolongan yang memang hampir merenggut nyawanya yang tak berharga ini.
Namun kesalahpahaman terus terjadi di antara mereka, sehingga seminggu setelah pernikahannya, Annalia Selvana di ceraikan oleh Suaminya yang ia sangat cintai, Lucian Elscant Dewata. Bukan hanya di benci Lucian, ia bahkan di tuduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap kekasih masa lalunya oleh keluarga Dewata yang membenci dirinya.
Ia pikir penderitaannya sudah cukup sampai disitu, namun takdir berkata lain. Saat dirinya berada diambang keputusasaan, sebuah janin hadir di dalam perutnya.
Cedric Luciano, Putranya dari lelaki yang ia cintai sekaligus lelaki yang menorehkan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenni Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 - Kabar Memilukan
Sesuai janji author tadi ya. Bakalan update ya walau LIKE-nya kurang. Tapi makasih antusiasnya. Aku bakalan berusaha memenuhi permintaan kalian.
HAPPY READING.
...****************...
Raven terdiam membisu. Raut wajahnya nampak jelas, bahwa lelaki itu tengah merasakan kekecewaan. Untuk kedua kalinya. 'Kenapa ... apakah aku benar-benar tidak pantas untuknya?' batin Raven bertanya-tanya. Namun, pandangannya menatap raut wajah keterkejutan pada Adnan.
Seketika itu juga, Raven menyadarinya.
Apakah Anna berbohong padanya. Namun, mengapa? Mengapa Anna berbohong padanya. Ia telah lama mengagumi sosok Anna yang lembut, perhatian dan cantik itu, namun kenapa rasanya tak pernah ada kesempatan untuknya bersama gadis itu.
Setelah lama mencari dan menunggu Anna, akhirnya ia bisa bertemu dengan gadis pujaan hatinya, namun yang ia dapatkan adalah kabar memilukan.
Deg!
Raven terdiam, saat sorot matanya menatap bocah di hadapannya dengan seksama. Ia baru menyadari sesuatu. 'Ke-kenapa anak ini ....'
Menyadari tatapan Raven pada Putranya. Sontak Anna langsung menutup Cedric di balik tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang. Takut, jika Raven tak mempercayai ucapannya.
"Anna ... kenapa? Kenapa anak ini mirip Lucian?" tanya Raven, ia merasa bingung. Apa mungkin, hanya dalam satu Minggu pernikahan mereka yang tanpa di dasari cinta, hanya sebuah keterpaksaan saja dapat membuahkan hasil.
Dan, karena itulah Anna berbohong padanya mengatakan bahwa dirinya telah menikah dengan lelaki di sampingnya, bahkan disaat lelaki disampingnya terkejut dengan pernyataan Anna.
Anna hanya bisa terdiam. Ia sangat ketakutan saat ini. Bagaimana caranya menjelaskan kemiripan Lucian dan Cedric. Bagaimana caranya ia menutupi ini. Bukti ini terlalu kuat untuk ia sangkal.
Adnan tiba-tiba berdiri di balik Anna. Menatap Raven dengan tajam. "Maaf, biarkan anak dan Istriku pergi. Kami harus pergi sekarang," ujar Adnan, mengikuti akting Anna tadi. Jelas Adnan tahu, jika Anna saat ini sedang berusaha menutupi Cedric dari lelaki di depannya. Yang entah siapa itu.
Anna bernafas lega dan merasa bersyukur ada Adnan saat ini. Walau kesannya ia memanfaatkan Adnan, yang jelas memiliki perasaan padanya. Anna merasa bersalah, namun ia tak bisa apa-apa. Saat ini yang terpenting baginya menyembunyikan Cedric dari siapapun yang berhubungan dengan Lucian.
Adnan menarik tangan Anna, membawanya menjauh dari Raven. Ketiganya meninggalkan lelaki itu, dengan perasaan tak karuan.
"Anna! Tunggu, Na! Aku belum selesai bicara!" teriak Raven, menyesali pertanyaannya tadi. Jika saja ia tak membahas Lucian. Anna mungkin, masih mau menemuinya.
'Anna ... apakah anak itu benar anak Lucian? Lalu, kenapa kau berbohong?' batin Raven, memandangi punggung pujaan hatinya yang kian menjauh, hingga menghilang di balik kerumunan orang.
'Apakah karena Anna takut ... takut jika seandainya Lucian mengetahui fakta ini dariku. Dan merebut Putranya darinya?' batin Raven, terdiam cukup lama. Kesimpulan itu adalah hal yang paling pas untuk menyimpulkan situasi ini.
"Pak! Pak Raven! Anda darimana saja? Saya mencari-cari Bapak sedari tadi," ujar seseorang dengan stelan jas. Ia nampak berkeringat karena telah mencari Raven sejak tadi.
Raven terbangun dari lamunannya. Ia lalu mengubah mimik wajahnya. "Oh, maafkan saya, Pak Damar. Saya tadi hanya melihat-lihat. Malah tanpa sengaja terpisah," jelas Raven, tersenyum menyembunyikan ekspresi sedihnya.
"Oh, tidak apa-apa. Setidaknya anda tidak kenapa-kenapa. Lalu, bagaimana dengan Taman Bermain ini? Apakah anda setuju untuk memberikan investasi?" tanyanya dengan senyum bisnis. Sembari mengusap-usap tangannya
Raven tersenyum. 'Kau pasti tinggal di daerah ini. Ada untungnya aku mengikuti permintaan Papa untuk datang kesini, sembari menenangkan diri,' batin Raven. Ia sebenarnya malas, untuk datang mensurvei sendiri tempat yang akan mereka investasikan. Namun, karena sejak kepergian Anna. Raven terus bekerja untuk menghilangkan bayang-bayang Anna, sembari mencari informasi tentang keberadaan Anna.
Hingga membuat Papanya merasa khawatir akan kesehatan tubuh dan mental Putranya. Dan, menyarankan Raven untuk mencari udara segar di daerah pinggiran kota yang sejuk. Namun, siapa sangka karena kekhawatiran Papanya justru mempertemukan dirinya dengan Anna lagi.
"Baiklah. Segera siapkan kontraknya," ujar Raven, tersenyum senang. 'Kali ini, aku yang akan lebih dulu mendekatimu.'
...****************...
Anna dan Cedric telah sampai di rumah dengan selamat. Di antarkan oleh Adnan. Lelaki itu lama memandangi Anna, seolah ingin meminta penjelasan. Anna bingung, harus darimana ia menjelaskannya. Jika ia menjelaskan tentang Raven, maka ia pasti juga akan mengungkap tentang Lucian.
"Maaf, Nan. Aku tidak bermaksud memanfaatkanmu. Tapi ... Aku berterimakasih. Maaf, aku belum bisa menjelaskannya," jelas Anna, tertunduk dengan rasa bersalah.
Adnan menghela nafas panjang. "Ya sudah. Aku pamit dulu ya, Assalamualaikum." Adnan pergi dengan raut wajah kecewa.
'Aku tak bisa memaksamu. Kau memang penuh dengan rahasia, Na,' batin Raven, sesaat setelah beranjak pergi.
"Waalaikumsalam ...."
Di dalam rumahnya. Anna termenung lama di kamarnya. Ia tak menyangka akan bertemu Raven. Apa lagi dengan Raven yang telah melihat Cedric. Anna yakin, bahwa lelaki itu mengetahui siapa Cedric sebenarnya.
'Harusnya aku menjelaskannya pada Raven. Dia selalu mendengarkanku sejak dulu. Harusnya dia juga bisa mengerti jika aku menyembunyikan Cedric dari Lucian,' batin Anna merasa menyesal telah melarikan diri karena rasa takutnya. Membuatnya tak berpikir dua kali.
"Bagaimana jika Raven memberitahu Lucian?" gumam Anna, gusar. Matanya berkaca-kaca.
"Bunda ...."
Anna dengan cepat mengusap air mata di sudut matanya. Lalu, menatap Cedric. "Ada apa, sayang?" tanyanya dengan lembut.
"Tadi itu ... siapanya ... Papa?" tanya Cedric. Ia sebenarnya telah mengetahui jika pria itu adalah Ravendra Dewata, sepupu Lucian. Yang berhasil di bidang investasi. Namun, ia harus tahu dari mulut Bundanya sendiri apa hubungan Bundanya, Raven dan Papanya.
Anna terdiam. Mendengar kata Papa terucap dari bibir Putranya. Walau pria kecil itu nampak ragu.
"Sepupunya," jawab Anna singkat.
"Apakah dia menyukai Bunda? Apakah dia bersaing dengan Papa?" tanya polos Cedric, sontak membuat Anna terbelalak kaget. Bisa-bisanya Putranya itu malah berpikir seperti itu.
"Tidak! Mana mungkin mereka bersaing memperebutkan Bunda. Kamu ini ada-ada saja," jelas Anna, namun ia merasa tersentil di ulu hatinya.
Keduanya begitu luar biasa bagi Anna. Ia yang mencintai Lucian secara sepihak, dan dapat bertemu dengan teman sebaik Raven adalah hal terbaik yang pernah ia punya kala itu.
Dimata Anna, Raven yang baik, lembut, kaya dan perhatian tak mungkin menaruh perasaan padanya yang bukan siapa-siapa. Apa lagi jika Anna berpikir bahwa Lucian akan bersaing memperebutkan dirinya. Itu terdengar sangat konyol.
"Bunda jangan takut. Dia tidak akan memberitahu Papa tentang aku. Karena dia pasti tidak menginginkan Papa kembali pada Bunda. Karena dia menyukai Bunda," jelas Cedric, lagi-lagi membuat Anna terbelalak kaget. Seolah tak percaya, Putranya itu mengatakan hal itu.
"Tahu darimana kamu. Jangan ngaco. Udah, tidur sana," titah Anna, mendorong Cedric menuju kamarnya dan menutupnya dengan pelan.
"Percayalah, Bunda ... jadi jangan terlalu khawatir berlebihan. Itu tidak baik untuk kesehatanmu," jelas Cedric sebelum Bundanya pergi dari kamarnya.
"Baiklah. Selamat malam, mimpi indah ya," ujar Anna di balik pintu.
"Bunda juga," sahut Cedric dari dalam.
"Apakah pada akhirnya ini sudah waktunya untuk Cedric bertemu Lucian ... Tapi aku belum siap, Ya Allah. Bagaimana jika pria itu membawanya," gumam Anna tak rela. Ia merasa bahwa kenyataan yang selama ini ia sembunyikan dari Lucian akan segera terbongkar.
"Tolong lindungilah kami. Jangan biarkan kami berpisah," gumam Anna, lalu meninggalkan kamar Cedric.
...****************...
LIKE-nya JANGAN LUPA, YA!
SEMAKIN BANYAK LIKE, SEMAKIN GIRANG AUTHOR UPDATE...
SEMAKIN BERTAMBAH KOMENTAR DAN DUKUNGAN, SEMAKIN SEMANGAT AUTHOR UPDATE TIAP HARI 2 CHAPTER, HAYOOOKKK!...
ya ...🤔 ...ga kuat perasaanya ya krn merasa bersalah amat sangat /Whimper/
kok lalap dikit dikit meleyot, apakah selama hidup dengan Cedric ga bisa bikin si anna ini lebih kuat lebih tegas dan lebih realistis, ini kesan nya kayak protagonis pick me dan naif banget