Luka.
Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.
Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.
Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.
Luka adalah bukti.
Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.
Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.
Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.
*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi Bisu
"Gas, kamu sudah dengar soal Kak Renata?" ucap gadis yang datang mendadak.
Kedatangan gadis itu umumnya bisa mengagetkan seseorang, namun tidak untuk Bagas. Secara teknis ia kaget, tapi karena sudah terbiasa, ekspresinya menjadi hampir tak terlihat.
"Aku dengar kabar dia ketahuan melakukan hubungan intim di ruangan kepala sekolah loh."
Kata-katanya barusan justru lebih mengejutkannya. Bagas yang paham dengan gadis yang dibicarakan, mana mungkin menganggap itu benar. Ia percaya. Meski pekerjaannya terbilang kotor, Renata masihlah memiliki hati nurani.
Ia percaya, sekotor apapun gadis itu, ia tidak akan mungkin melakukan perbuatan tak senonoh itu di sekolah.
"Meski aku tidak tahu apa-apa soal dia, aku yakin kalau dia tidak mungkin melakukannya."
Kata-katanya barusan murni berasal dari dalam lubuk hatinya. Ia memang tidak tahu seluk beluk kehidupannya. Dengan segala hal yang terjadi, kemungkinannya tidaklah nol.
Yang ia ketahui tentang Renata hanyalah sebatas permukaannya saja. Tidak lebih. Karena itu, kesimpulan yang timbul menciptakan sebuah harapan dalam hatinya.
Semoga saja dia tidak seperti yang orang-orang bilang.
"Tapi kamu dekat dengannya 'kan? Kalau tidak ingin dapat masalah, lebih baik kamu menjauhinya deh."
"Memangnya kenapa? Toh dia bukan orang jahat."
"Betul sih, tapi, dia jadi bahan perbincangan semua orang tahu! Kalau kamu ikut terseret gosip yang tidak-tidak, bisa-bisa kamu jadi bahan perbincangan seisi sekolah juga."
Bagas tak ingin berkomentar apa-apa. Setelah banyak hal yang Renata telah lakukan padanya, tidak mungkin ia akan mengindahkan kata-kata Linda begitu saja.
Seolah mengerti isi hati Bagas, ia masih belum menyerah memberi penjelasan,
"Bayangkan kalau kamu terseret. Dia enak sebentar lagi lulus, sementara kamu harus menjalani sisa-sisa masa sekolah dengan gosip buruk yang melekat padamu. Kalau ingin hidupmu baik-baik saja, dengarkan kata-kataku tadi, oke?"
Bagas paham kalau gadis itu khawatir. Tapi, setelah mendengar peringatannya, ia justru semakin tak ingin membiarkannya.
Seandainya Renata berada di posisinya, ia pasti tidak akan ikut menjauhinya.
Apa dia pernah peduli dengan dirinya? Tidak pernah. Jika aku justru malah memikirkan diriku sendiri, bukankah aku hanya akan jadi manusia yang gagal?
Bagas paham. Apapun yang terjadi, ia tidak akan menuruti kata-kata Linda. Bahkan dari siapapun kata-kata serupa keluar, ia tetap tidak akan melakukannya.
...----------------...
Sebuah ujian akhir sedang dilangsungkan. Para siswa fokus untuk meningkatkan jam belajar mereka. Terlebih kelas akhir yang berada di situasi gawat darurat.
Selain ujian kelulusan, mereka juga sibuk memburu universitas ternama yang mereka inginkan.
Namun, ada orang-orang yang menjadi pengecualian. Mereka tak sesibuk yang lain karena masa depan mereka sudah bisa dipastikan.
Seperti langsung kerja serabutan atau meneruskan usaha keluarga. Tapi, di antara orang yang menjadi pengecualian masih ada pengecualian lagi.
Yaitu orang yang masa bodo dengan masa depannya. Salah satunya Renata. Ia belajar, tapi ala kadarnya. Bisa ya sudah, tidak bisa ya apa boleh buat.
Hoki adalah syarat kelulusannya. Jika hokinya sedang bagus, ia tidak perlu mengulang kelas. Jika sedang anjlok, mau tidak mau ia harus memperpanjang masa SMA-nya.
Renata sebenarnya bukan seorang pemalas, tapi memang waktunya saja yang minim. Sering kali ketika membuka buku, hanya butuh sepuluh menit untuk membuatnya tertidur. Meski begitu, kali ini ia tidak berniat mengulang kelas.
Usahanya nampak jelas saat dirinya memperbanyak waktu belajar dengan mengurangi waktu kerjanya. Ia juga tertolong karena dirinya dibenci, ia jadi bisa fokus belajar tanpa memedulikan orang lain.
Hingga waktu ujian yang menentukan, tiba tanpa terasa.
Renata tidak merasa siap. Namun ia tak ketakutan saat lembaran ujian menghampirinya—karena, sudah melakukan segala yang ia bisa.
Ekspresinya kontras dengan peserta ujian lain hingga membuat siapapun yang sadar pasti menduga kalau ia lebih dari siap.
Nyatanya berbanding terbalik. Ia terbiasa melepaskan semua beban dalam hidupnya, lalu tak peduli dengan yang akan terjadi.
Seperti itulah cara hidupnya selama ini.
Ia tetap konsisten seperti itu bahkan sampai ujian berakhir. Di saat orang-orang was-was mendulang nilai merah, ia tetap berjalan dengan santainya.
Untung saja keberuntungan masih berpihak kepadanya. Pengumuman menyatakan kalau dirinya lulus. Meski dengan nilai ala kadarnya.
Renata terkejut untuk sesaat. Namun, ia merasa kalau dirinya memang seharusnya lulus. Kesialannya seharusnya sudah dipakai habis oleh hidupnya yang dipenuhi oleh kesialan.
Bekas luka di wajahnya adalah saksi bisu. Bisa hidup saja sampai hari ini adalah keajaiban baginya.
...----------------...
Wisuda adalah tanda berakhirnya sebuah masa sekaligus menjadi garis awalnya. Sebuah siklus peralihan seorang penuntut ilmu dari siswa menjadi siswa yang memiliki imbuhan "maha-" di depannya.
Ada juga yang puas dan ada juga yang muak.
Renata tidak berdiri di salah satu kubunya. Ia tidak mungkin merasa puas ataupun muak dengan yang sudah terjadi. Ia tak merasakan apa-apa.
Meskipun kebaya putih sudah membalut tubuhnya; juga toga sudah bertengger di kepalanya;
Meskipun di sekelilingnya ada siswa yang merengek haru pada orang tua mereka; juga ada siswa yang bernostalgia ria dengan teman-teman mereka dan juga ada siswa yang bermesra dengan pacar mereka.
Masih tak ada yang ia rasakan.
Kehebohan-kehebohan yang terjadi di sekitarnya seolah tak memberikan kesan apapun. Hanya sekadar pemandangan baru baginya.
Ia yang tak mendapati siapapun di sekelilingnya, mendadak tersenyum getir.
Manusia memanglah makhluk sosial. Ia sangat paham akan hal itu. Namun, itu hanyalah dalam rangka melanjutkan hidup.
Pada awalnya, manusia sendirian dalam perut yang sempit. Lalu akan berakhir sendirian juga dalam timbunan tanah.
Karena itu, mengalami kesendirian adalah bagian dari hidup. Kebetulan saja ia sudah merasakannya lebih cepat ketimbang manusia lain.
Renata yang datang hanya karena formalitas, berharap acara ini cepat selesai dan dia bisa terbebas dari kemelut kehidupan sekolah ini.
Saat matanya memandangi sekitar, kebetulan arahnya ke seorang anak yang mendapat karangan bunga dari kedua orang tuanya yang sedang menangis haru. Tiba-tiba saja terasa sentakan yang ada dalam dadanya.
Kenangannya memutarkan ingatan lama tentang sosok kedua orang tuanya yang ada dalam ingatannya ketika dirinya masih belia.
Seandainya mereka masih ada, apakah ekspresinya akan sama seperti mereka?
Seandainya mereka masih ada, apa aku akan mendapat sesuatu juga?
Ia tidak mendapat jawabannya hanya dari ingatan samar itu.
"Selamat ya, Kak."
Ya benar. Tidak perlu hadiah segala. Sebuah ucapan saja sudah cukup untukku.
"Ini mungkin tidak seberapa tapi aku hanya bisa menyiapkan ini."
Lamunan Renata buyar saat mendengar suara familiar barusan. Saat tersadar, ia mendapati sesuatu tersodor di hadapannya.
Membuatnya benar-benar terkejut.