"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 14
Windya melengos jengkel, sementara yang lain satu persatu meninggalkan meja makan.
Nyonya Athaya menggeleng, wajahnya muram menyayangkan sikap Seno yang seperti itu. "Nenek tidak pernah mengajarkan mu bersikap seperti itu pada wanita, Seno. Apalagi dia adalah istrimu, " ujar nyonya Athaya, mata tuanya berkilat penuh makna.
"Suatu hari kau akan menyesal. " saking kecewa nya, ia melontarkan kata- kata itu, tanpa sadar seperti mantra yang yakin suatu hari akan terkabul.
Rania juga sebelum meninggalkan area meja makan sempat melirik ke arah Seno lalu ke Windya dengan sorot seperti nyonya Athaya, tanpa banyak bicara ia juga beranjak dari sana.
Ryan sebelum pergi, menoleh sebentar ke arah Seno. "Kalau tahu di tangan mu akan lebih menderita, lebih baik ky rebut lagi dia dari mu, " kata- katanya mengandung sarkas membuat darah Seno mendidih.
Seno mengepalkan tangannya kuat- kuat tanpa sadar, sebelum nya ia selalu membalikkan ucapan Ryan dengan telak, namun kali ini tenggorokannya terasa kering hingga tidak ada kata- kata yang keluar.
Setelah semua pergi, tersisa Windya dan Seno sendiri yang ada di sana. Di belakang punggung pria itu, Windya bisa merasakan aura mencekam yang menguar, ia bergidik ngeri membayangkan semarah apa Seno saat ini.
"Kak Seno, aku... " Windya menyembul kan kepalanya untuk melihat ekspresi sang pria.
Tanpa di duga Seno melirik nya tajam. "Pergilah Windya, aku ingin sendiri dulu saat ini. "
"Tapi kak... "
"Pergi! " suara Seno naik tiga oktaf membuat Windya tersentak lantas pergi dengan mencak- mencak.
Sementara di luar jendela yang langsung menghadap ke halaman, Seno bisa melihat Indira yang berjalan tenang tanpa air mata, tidak seperti dugaanya kalau gadis itu akan menangis diam- diam di belakang nya.
Rahang Seno mengeras, tangannya yang berada di dalam saku terasa dingin. Entah apa yang terjadi padanya, tapi hanya dengan semalam sikap gadis itu berubah.
Indira yang cengeng dan lemah tidak ada lagi dalam bayangan nya, segalanya tentang gadis itu telah berubah dan ini membuat Seno tak bisa lagi merendahkan nya.
Tidak bisa!
Di sisi lain, Indira berjalan keluar pekarangan rumah tanpa menoleh. Tidak ada air mata yang jatuh, tidak ada dada yang bergetar hebat. Hanya langkah yang terasa lebih ringan saat kakinya menuruni teras dan sebuah taksi berhenti tepat di depannya. Seolah semesta sedang berpihak-- setidaknya untuk hari ini.
Tak lama pada ponsel di tangannya berdering, nama yang tertera sontak membuat matanya berbinar.
"Mentari." sapanya hangat.
"Hei, aku sudah memesan taksi untuk mu. Kita ke cafe biasa ya. " suara mentari ceria di sebrang sana.
Hati Indira terasa menghangat, ia mengangguk meski Mentari tak mungkin melihat itu, "Mmm, aku akan segera kesana. "
Indira kemudian masuk ke dalam taksi ketika sang supir membukakan pintu untuk nya, mobil berjalan meninggalkan pekarangan. Di dalam, Indira menghela napas pelan, tangannya terlipat di pangkuan, pandangannya lurus menembus kaca jendela. Jakarta bergerak seperti biasa, bising dan seolah tak peduli. Ketidakpedulian yang untuk pertama kali dalam hidupnya ia syukuri.
Tak lama ponsel nya kembali bergetar.
Pesan dari Mentari masuk.
(Aku udah disini, lagi duduk di luar tempat biasa kita. Kamu masih suka yang dekat jendela kan? )
Indira tersenyum kecil, kebiasaan lama yang tak pernah berubah.
Ia kemudian mengetik balasan.
(Baiklah).
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kafe yang berada di sebrang jalan itu tidak besar, tetapi hangat. Dindingnya bata ekspos berpadu dengan lampu-lampu kuning redup, meja kayu dengan sudut-sudut yang mulai aus, dan aroma kopi yang menenangkan. Di luar, pepohonan kecil berbaris rapi, memberi kesan teduh di tengah hiruk-pikuk kota.
Mentari melambai begitu melihat Indira masuk. Rambutnya diikat asal, wajahnya polos tanpa riasan tebal--seperti dulu, seperti selalu.
“Kurang lima menit dari kebiasaanmu,” ujar Mentari sambil berdiri dan memeluk Indira erat. “Aku hampir khawatir kamu berubah jadi ibu rumah tangga beneran.” guraunya.
Mereka memang sudah membuat janji sejak pagi tadi, karena ada kejadian tak mengenakkan itu membuat Indira sedikit terlambat, biasanya mereka selalu datang berbarengan.
Indira lalu terkekeh pelan. “Maaf ya.”
Mereka lalu duduk berhadapan. Dua cangkir kopi sudah menunggu, pesanan Mentari yang hafal betul selera sahabatnya.
"Aaaa! secangkir coppicino memang yang paling tepat saat libur. " seru Mentari setelah menyeruput minumannya.
Indira terkekeh kecil, kebiasaan Mentari yang unik sejak dulu, gadis itu memang selalu ceria.
Ia dan Mentari adalah sahabat sejak kuliah, setelah lulus Indira memutuskan untuk menjadi perawat dan setahun setelahnya, Mentari mengikuti jejaknya. Mereka bagai perangko yang tak terpisahkan, meski kini ia sudah menikah, Mentari akan selalu menjadi bagian hidupnya yang tak mungkin ia lupakan.
Kedua perempuan itu terdiam sejenak, menikmati hidangan masing-masing seraya melihat kaca besar yang langsung menghadap ke jalan raya yang padat.
Mentari menatap Indira, cukup lama. Ada rasa iba, kebanggaan, kasih sayang untuk sahabat nya. Ia tahu apa saja yang sudah di lewati Indira selama ini. Mengajaknya kesini pun bukan tanpa sebab. Sahabat nya itu sedang terkena musibah, pernikahan yang di jalaninya bukanlah kehendaknya.
Dan sebagai sahabat, Mentari ada di sini-- bukan untuk menghakimi, bukan untuk menyela tapi untuk memberikan dukungan.
Mentari mengusap lengan Indira di atas meja, seolah menyalurkan energi dan kekuatan untuk sahabat satu- satunya sejak seperjuangan itu.
"Aku nggak akan nanya ‘kamu baik-baik saja Indira’,” kata Mentari akhirnya. “Karena jelas kamu nggak ada di situasi itu.”
Indira mengangguk. Ia menarik napas, panjang dan tertata, seperti saat hendak menjelaskan kondisi pasien pada dokter senior, sudah terlatih.
"Makasih sudah mau mengerti, Tari."
Mentari mengangguk. "kalau ada apa-apa kamu bisa langsung cerita padaku, Ra."
Cukup lama Indira terdiam, hingga akhirnya mulutnya terbuka, dan mengalir lah kata- kata yang selama ini ia berusaha pendam sendiri.
Indira menceritakan semuanya--tentang kondisi nya setelah pernikahan yang tiba-tiba itu, tentang keluarga Barata yang dingin dan penuh penilaian dan hanya nenek Athaya yang menerimanya dengan baik. Tentang Seno yang sinis, tajam, dan memperlakukannya bukan sebagai istri, melainkan kewajiban yang terpaksa ia tanggung.
“Dia tidak menyentuhku,” ujar Indira tenang, tanpa getar. “Tapi dia selalu mengingatkanku bahwa itu kewajibanku. Seolah tubuhku ini kontrak yang harus ditepati.”
Mentari mengepalkan tangan di atas meja. “Breng*sek.”
“Dia membenciku,” lanjut Indira. “Menurutnya karena akulah penyebab pernikahan kakaknya retak, aku lah sumber rasa sakit kakaknya, dia ingin balas dendam melalui pernikahan ini.
Mentari menatapnya lama, tangannya masih terkepal, namun teringat ia ketika momen Indira melihat Seno untuk pertama kali.
Matanya menyorot berbeda.
Hening kembali menyelimuti mereka. Hingga Mentari mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap Indira lebih dalam.
“Ra,” ucapnya hati-hati. “Aku sahabatmu. Jadi aku jujur.”
Indira menoleh.
“Ada sesuatu di caramu menyebut nama Seno. Kamu kagum.” tebaknya tiba-tiba
Indira sampai tertegun dan tidak langsung menjawab.
Ia lantas mengingat kembali hari itu. Pernikahannya yang gagal. Pria dengan setelan gelap, rahang tegas, tatapan dingin yang berdiri seperti badai yang tertahan. Ada sesuatu dalam diri Seno--ketegasan, kendali, aura yang tak bisa diabaikan. Kekaguman sesaat, naluriah, sebelum semua itu runtuh saat ia mengenal sifat aslinya.
“Aku tidak menyangkal,” kata Indira akhirnya. “Dulu. Sekilas. Tapi itu sudah hilang.”
Atau setidaknya, ia ingin percaya dedemikian.
Mentari mengangguk, seolah sudah menduga. “Kadang yang bikin kita terpesona bukan siapa mereka sekarang. Tapi sesuatu yang terasa… familiar.”
Ucapan yang tanpa sadar di keluarkan nya justru terdengar penuh makna.
Dan itu membuat Indira terdiam. Ada denyut kecil di kepalanya, samar dan tak jelas, seperti potongan ingatan yang belum utuh.
“Kamu nggak perlu memutuskan apa-apa sekarang,” lanjut Mentari lembut. “Yang penting, kamu nggak sendirian.”
Indira tersenyum, tulus kali ini. “Makanya aku ke sini.”
Setidaknya ia masih mempunyai Menteri di sisinya, di saat keadaan yang menekan dan orang-orang yang meneriakinya untuk menyerah.
******
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah