Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*13
13
Seketika, air mata mama Avin jatuh. Raina Saraswati adalah nama anaknya yang hilang. Nama itu terukir dengan indah di atas liontin yang dulunya melekat di leher Ain saat masih kecil. Dan, itu juga kenapa nama Ain masih sama. Karena nenek yang menemukannya, tidak mengubah nama itu sedikitpun. Dia tetap memanggil anak yang ia temukan sesuai nama yang tertera atas liontin yang datang bersama anak tersebut.
Tangisan pecah seketika. Sang mama tidak lagi mampu menahan suara tangisan yang ingin lepas dari tenggorokan. Tak hanya itu saja, tangannya langsung menjangkau tubuh langsing putri tercinta.
"Anakku ... kamu anakku ... Raina! Ke mana saja kamu, Nak? Mama sudah berusaha sekuat tenaga untuk menemukan kamu. Kamu sembunyi terlalu lama, sayang. Sampai mama kehilangan banyak waktu untuk bersama kamu. Mama kehilangan waktu-waktu berharga. Maafkan mama yang terlalu tidak bisa diandalkan jadi mama. Mama terlalu lemah."
Dan, banyak lagi kata yang Camelia ucapkan saat memeluk tubuh Ain sambil menangis. Rasanya, tidak pernah cukup buat mama Ain meratapi apa yang telah terjadi selama ini. Bibirnya terus saja berucap banyak kata sebagai tanda sesal.
"Kamu menghilang. Kamu menghilang sejak kamu masih sangat kecil. Setiap malam mama memikirkan keadaan kamu, Nak. Mama memikirkan apa yang akan terjadi padamu. Bagaimana kamu melewati hari-hari sendirian."
"Kamu putriku. Kamu hidup sengsara di luar sana. Aku hampir tidak ingin hidup lagi di dunia ini. Rasa bersalah terus menghantui. Semua gara-gara manusia durja*na yang kejam. Hanya karena harta dan kekayaan, mereka tega memisahkan anak kecil dari keluarganya. Mereka tidak pantas di sebut sebagai manusia."
Iya. Raina memang diculik saat masih kecil. Penculikan itu atas dasar sakit hati. Yang melakukan penculikan tak lain adalah saingan bisnis papa Ain. Mereka kalah saing, tapi tidak terima. Rasa sakit hati membuat mereka menculik Aina, lalu membuangnya di kota lain.
Begitulah pada akhirnya, Ain berpisah dari keluarganya. Mereka sudah berusaha keras untuk menemukan putri tercinta mereka. Hanya saja, takdir masih belum ingin mempertemukan Ain dengan orang tuanya saat itu. Sekarang, pertemuan itu akhirnya terjadi.
"Mama. Ee ... bisakah mama lepaskan Aina sekarang? Kasihan dia, Ma. Dia mungkin sedang tidak nyaman dengan pelukan mama yang terlalu lama." Avin berucap dengan hati-hati.
Sang mama tersadar dari apa yang sedang ia lakukan. Namun, hatinya terlalu enggan untuk melepaskan putri tercinta yang baru saja dia temukan setelah sekian lama.
"Mama .... " Pelukan itu terlepas. Tapi tidak sepenuhnya. Tangan Camelia langsung menyentuh lembut pipi Ain. Tentunya, dengan mata yang masih menumpahkan buliran bening tanpa henti.
"Putriku, kamu akhirnya pulang, Nak. Tolong, jangan tinggalkan mama lagi. Apapun keadaannya, tetaplah di dekat mama ya."
"Ma, Aina butuh waktu untuk menerima kenyataan yang datang secara tiba-tiba. Jadi, mama harus bicara dengannya secara perlahan ya." Lalu, Avin berbisik pelan di telinga sang mama. "Jangan buat dia jadi takut, Ma."
Sang mama sama sekali tidak ingin mendengarkan apa yang anak sulungnya katakan. Tetap saja dia enggan untuk melepaskan Aina dari genggaman tangannya.
"Mama takut untuk melepaskan kamu, Nak. Mama takut, jika mama lepaskan, kamu akan hilang lagi."
Aina yang terdiam sejak tadi akhirnya memberanikan diri. "Ma-- mama."
Sang mama langsung mengangguk cepat.
"Iya, nak. Aku mama kamu. Jangan takut ya. Kali ini, aku akan melindungi kamu sekalipun dengan nyawaku."
"Ee ... Ma. Bagaimana kalau mama hubungi papa dan Bisma. Aku yakin, mereka juga pasti akan sangat bahagia saat mendengar kabar ini."
"Kamu aja yang hubungi sana. Mama ingin bicara dengan Aina."
"Ah, ma. Dia ... bicaranya bagaimana kalau nanti saja. Sekarang, minta bi Narsih buat siapkan kamar untuknya? Bagaimana?"