Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—22
Bumantara menarik sudut bibirnya, seraya menatap layar ponsel nya, ia yang baru saja mendengarkan suara Arumi kembali menjadi rindu.
Dia juga bisa melihat wajah malu-malu gadis itu, bahkan rona di pipi nya tergambar jelas dari foto yang di kirim Ares — maka dari itu kenapa dia bisa berani bilang pipi Arumi yang memerah, itu karena dia mendapat kan buktinya.
Axel menyenggol lengan Kenzo yang sedang fokus menatap luar mobil, sehingga mengalihkan perhatian Kenzo, lalu bertanya, "Kenapa?"
Pertanyaan itu bukan hanya mengalihkan perhatian Axel, tapi juga perhatian Virgo yang juga duduk di belakang, sedang Aris dan Bumantara ada pada dunia nya.
Axel berdecak, seraya menunjukkan arah Bumantara dengan dagu nya, seakan-akan memberi kode, "Sedang mendapat kan asupan dari ayang," bisik Axel hampir tanpa suara.
Kenzo dan Virgo pun menatap kearah yang sama namun hanya bisa mengangguk kecil.
"Aris, kapan kau ingin keluar, dan melihat kebenaran di depan sana?" tanya Bumantara, mengalihkan perhatian mereka yang sibuk dengan pikiran nya sendiri.
Bumantara memasukkan ponsel ke saku, seraya menatap arah vila yang masih terang benderang karena cahaya lampu.
"Ayo kita lihat kenyataan yang menyakitkan," ajaknya sambil membuka pintu mobil dan di ikuti Aris yang meragu — karena Tika sang kekasih menggambarkan jika dia ada di rumah dan tidak kemana-mana, sehingga membuat nya bingung saat Bumantara membawanya ke vila keluarga Tika.
Aris berjalan di depan, dengan Bumantara dan ketiga pria lain nya ada di belakang langkah kaki nya — saat sampai di depan pintu vila, Aris kembali menengok ke arah belakang di mana ke empat teman nya berdiri diam disana.
"Bagaimana cara kita masuk, Buma? Sedangkan kita enggak ada kunci nya," tanya Aris, mengerutkan kening menatap Bumantara.
"Ambil..." Bumantara menjulurkan kunci ke tangan Aris yang langsung menengadahkan tangan nya, rasa penasaran semakin menjadi saat kunci itu ada di tangan Bumantara, dia menatap kunci dan Bumantara secara bergantian.
"Masuklah, kau hampir kehilangan banyak waktu," imbuh Bumantara, mengangguk sambil menatap pintu vila itu.
Setelah Aris memutar kunci dan berhasil, dia perlahan memutar kenop pintu dan membukanya, Aris kembali menengok kearah ke empat teman nya di belakang termasuk Bumantara yang mengangguk.
Ketika masuk yang di lihat Aris adalah ruang tamu yang sepi, ruang keluarga ada sedikit perbedaan, karena di sana ada sepasang pakaian yang teronggok.
Axel menendang sebuah benda yang berwarna pink beserta dengan kening nya yang berkerut jijik, "Bisa-bisa nya bra sampai kesini."
Benda yang di tendang Axel memang bra, namun benda itu terlempar jauh dari pakaian yang ada di bawah sofa.
Pikiran Aris jadi kemana-mana, namun dia masih belum mendapat kan jawaban nya, tapi asumsi di hati nya sudah menjalar kepikiran nya.
"Zo, pikiran lo sama gue, sama kan?" tanya Virgo pelan, tujuan mata mereka sama, yaitu kamar yang ada di depan mereka.
Kenzo mengangguk, "Kali ini lo enggak sendiri," jawab Kenzo tak kalah pelan.
"Buma, jika yang aku pikir kan ini benar... boleh kan yang menghajar bajingan itu hanya aku seorang, tanpa ada kalian. Ini seperti urusan pribadi," celetuk Aris, menatap Bumantara yang mengangguk.
"Lakukan."
Bumantara menatap kearah sofa di depan nya, seakan-akan sedang meneliti jejak-jejak basah yang tertinggal — setelah tak menemukan apapun, ia mendudukkan bokongnya di sana, seraya mempersilahkan Aris membuka pintu kamar itu.
Aris mengangguk, perlahan berjalan ke arah pintu yang sedang menjadi tujuan utama nya.
Ganggang pintu itu Aris tekan lalu buka, suara menjijikkan semakin terdengar jelas dan pemandangan saling menindih itu membuat hati Aris memanas — tatapan Aris berubah tajam dan dingin, kali ini dia tidak akan memberi ampun kepada sepasang kekasih yang sedang menikmati hasratnya.
Aris masuk kedalam kamar itu dengan langkah pasti, sehingga membuat dua orang di kamar itu terkejut.
"Aris..." Tika yang terkejut dengan cepat menutup tubuhnya dengan selimut, mata nya terbelalak tidak percaya.
Aris dengan cepat memberikan satu pukulan di wajah Rangga yang menyeringai, seakan-akan sedang mengejek Aris.
"Brengsek!" umpat Rangga, menyeka sudut bibir nya.
"Aaa...," teriak Tika terkejut, menatap Aris dengan takut-takut. .
Aksi itu di lihat Axel, Kenzo dan Virgo yang juga mengeraskan rahang nya, mereka bertiga menahan amarah nya, ingin ikut memberikan pelajaran kepada bajingan itu, namun harus di tahan karena perintah Bumantara,
"Biarkan dia menyelesaikan sendiri. Jika dia kalah, kalian baru bisa turun tangan."
Aris berdiri di depan dua manusia yang baru saja berbagi keringat, menatap Tika dengan tajam, "Saya tidak tau berapa lama Anda melakukan ini di belakang saya. Namun saya tidak pernah menyesal melepaskan barang yang tak berharga itu. Namun saya tidak suka saat benda sampah itu mengkhianati saya."
Mata Tika terbelalak, "Sayang... aku..."
"Wanita itu bilang, lo enggak jago di ranjang, jadi dia butuh yang lebih menantang. Seperti gue," sela Rangga bangga.
"Hmmm..." Aris menarik tangan Rangga dari ranjang, hingga jatuh tersungkur.
"Sialan lo anjing!" Rangga berteriak marah, berdiri sambil mengambil handuk di atas ranjang.
Namun Aris tidak menunggu pria itu sampai berhasil melilitkan handuknya, karena satu pukulan kembali menghantam wajah Rangga yang kembali tersungkur di atas ranjang.
Teriak Tika dan makian Rangga memenuhi kamar itu.
Rangga yang mencoba membalas tidak sekali pun di beri kesempatan oleh Aris yang sudah membabi buta menghajar Rangga, sehingga Rangga tidak berdaya, barulah Aris melepaskan satu pukulan lagi, sehingga membuat pria yang ada di bawah Aris tidak sadar lagi.
"Lemah..." gumam Aris dingin.
Sedang ketiga pria yang berada di ambang pintu itu benar-benar tidak memisahkan Aris yang bagaikan kesetanan, mereka membiarkan Aris melampiaskan rasa amarahnya dengan santai — seakan membiarkan sosok yang tidak berdaya itu mampus perlahan.
Aris menepuk tangan nya, menatap Tika yang menangis terisak dengan datar,
"Axel!" panggil Aris.
Axel yang di panggil, berjalan mendekat kearah Aris yang masih menatap Tika yang hanya menundukkan pandangan.
"Kenapa, Ris?"
"Gue ingin membawa bajingan ini ke markas." Axel terdiam, dia menatap Rangga yang sudah tidak sadar.
"Axel!" seru Aris, menyadarkan Axel.
"Eh... iya."
"Bawakan saja." Bumantara menyadarkan tubuhnya di ambang pintu, sambil memainkan ponselnya, ia sudah merindu kan Arumi dan ia ingin menemui pujaan hati nya.
Aris menatap Bumantara, banyak pertanyaan yang ingin dia tanya kepada teman nya itu.
"Siap, bos." Axel menjawab dengan semangat.
"Woy, bro! Sini bantuin gue angkat nih bajingan."
"Aris, kalian mau bawa dia kemana?" tanya Tika lirih, menatap Aris dengan takut.
Karena dia baru pertama kali melihat Aris seperti itu — yang dia kira Aris adalah pria lembut, dan tidak pernah bisa melakukan kekerasan, atau bahkan tidak bisa berkelahi, sehingga alasan itu yang membuat nya mendua, dia tidak suka pria lembek.
"Pria bajingan ini urusan saya. Selebihnya Anda tidak perlu tau," sahut Aris dingin.
Lalu Aris keluar menyusul ke empat temannya yang sudah keluar dari kamar itu.
"Aris!!!" teriak Tika tidak membuat Aris menghentikan langkah panjang nya.
Dia berlalu meninggal Tika begitu saja, sama seperti perasaan nya yang sudah dia buang bersamaan dengan peluh di tubuh Tika yang mengalir.
——
——
Bersambung...