Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sirep
...Panca...
...────୨ৎ────...
9 hari yang lalu...
Aku mendengar si Mbah sedang mengobrol dengan seseorang di teras sebelah pekarangan. Entah dengan siapa, pagi-pagi begini sudah datang minta pertolongan si Mbah.
Sungguh mengganggu saja.
Aku yakin kalau enggak kepala desa atau mereka, orang-orang yang mau daftar CPNS.
Suka heran sih, sama orang-orang di sekitar sini.
Bisa bayangin, kan?
Tes seleksi CPNS itu soal atau pertanyaannya pakai komputer, kan?
Kalau memang mereka ingin dapat nilai tinggi harusnya ke tukang servis komputer, dong. Tanya bagaimana caranya nge-hack sistem seleksi nasional, bukannya malah ke dukun dan ujung-ujungnya sampai sini cuma di asapin kalau enggak di ludahin sama si Mbah.
Kekuatan mistik?
Bulshit.
Jujur, aku sama sekali nggak percaya.
Sekalipun benaran ada, aku yang tiap hari di rumah ini, belum pernah tuh yang namanya kerasukan, kesurupan atau melihat setan, jin dan makhluk apa lah itu namanya.
"Panca!" belum selesai aku curhat pada kompor tiba-tiba si Mbah malah panggil-panggil. "Sini, bentar, le."
"Sek, toh, Mbah. Gosong loh entar tempenya!" dengusku kesal.
Apa lagi kali ini?
Jangan bilang dupanya habis terus pagi-pagi begini aku disuruh ke pasar.
"Tenang. Dupanya masih banyak, tapi bunga, Le! Petikno kenanga di sebelahnya sumber air, yo. Cepetan selak dipakai!"
Sebenarnya dia itu tahu isi hatiku apa bagaimana, sih?
Curiga aku sama si tua bangka satu ini.
"Kalau masih muda, mbah bisa manjat sendiri! Ayo cepetan, jangan ngomel kalau disuruh orang tua itu!" teriaknya dari teras.
Tuh, kan?
"Iya, iya Mbah, duh!" sahutku sambil menyudahi penggorenganku.
Aku lekas beranjak mengambil tas dan sebilah pisau dari gudang sebelum seperti sekarang ini.
Sekarang?
Iya, kini aku ada di puncak pohon kenanga. Mencabuti bunga-bunganya yang bermekaran dan sialnya, ada banyak sarang semut merah di sini. Aku tak sengaja menginjak sarangnya dan mereka semua menyergapku dengan sengatan-sengatan gatal hingga akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk melompat, untung saja sumber air menjadi tempatku terjatuh.
Yang membuatku kesal adalah.
Si mbah nggak pernah menyetok bunga atau bahan-bahan lain buat kebutuhan perdukunannya.
Ayo lah, bikin stock obname gitu, loh mbah, biar nggak ngerepotin Panca terus!
Semoga dia mendengar kata hatiku kali ini.
Dengan basah kuyub aku menenteng tas yang penuh dengan bunga kenanga, menyusuri jalan setapak menuju kembali ke rumah. Sampai pekarangan, aku merasa tak asing dengan dua orang pria yang sedang bercengkrama ria dengan si Mbah.
Bukannya itu mas-mas yang jaga indomarket kemarin?
Satunya?
Aku tak mengenalnya.
"Nih, bungannya!" todongku ke arah si Mbah, sambil mengerutkan bibir. "Lain kali itu—"
"Stock Obeng, kan? Mbah tahu!" potongnya.
"Obname, Mbah. Obname!" jelasku kesal.
Aku kira hanya pendengaran di telinganya saja yang terdampak akibat lanjut usia, tapi kualitas mata batinnya mungkin juga sudah menurun.
Aku kembali melanjutkan menggoreng tempeku, di dapur. Aku penasaran apa yang diinginkan mas-mas kasir, sampai datang ke sini. Dan bagaimana dia bisa kenal dengan si Mbah.
Aku mematikan kompor dan melipir ke ruang tamu. Kita hanya terpisah jendela kaca dengan tirai batik berwarna biru muda. Jadi aku bisa dengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
Kamis-Wage.
Ada apa dengan Kamis-Wage?
Tunangan, weton, teman?
"Hoaaammphhh," entah apa yang selanjutnya mereka bahas, yang jelas belum sampai satu menit aku berusaha menguping di kursi ini, tiba-tiba aku malah bermimpi indah.