SETIAP HARI UP UNTUKMU🤩
Kedatangan lelaki-lelaki muda Eropa yang ganteng-ganteng telah menuai pusat perhatian. Disaat yang bersamaan, lelaki-lelaki dan wanita-wanita muda pun ikut menghilang satu demi satu secara misterius.
Holsi dan teman-temannya menyadari hal itu dan tahu rahasia dibalik itu semua. Namun, mereka semua berhasil dibungkam oleh dua tokoh yang menawan namun iblis. Holsi dan teman-teman nya berhasil di usir dan di hina kan banyak orang.
Dua tokoh menawan itu semakin dipuja-puji bak dewa-dewi. Peminatnya dari kalangan remaja yang begitu tergila-gila pada dua tokoh itu.
Lalu, jelas nya seperti apa? Baca Sekarang!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Firmo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 26
Noah adalah ibu dari ketiga kembar bernama Erik, Holsi, dan Nuel.
Mereka berempat saat ini sedang duduk di sebuah meja makan yang ada di dapur. Dan dimeja makan ini, sudah di hidangkan makanan-makanan seperti, sayur kangkung, sayur wortel, ayam goreng, sambal, nasi, dan se teko es apel manis.
Noah lalu mengambil satu demi satu piring nya itu, untuk ketiga anaknya itu. Noah menaruhkan nasi di tiga piring untuk anak-anak nya itu. Lalu ia berkata. "Nah, untuk lauk pauknya. Silahkan kalian ambil sendiri ya, kan kalian sendiri yang ingin belajar untuk mandiri, maka lakukanlah sekarang."
Dengan penuh kebahagiaan, Erik, Holsi, Nuel mengikuti apa yang ibunya katakan.
Mereka bertiga memakan makanan buatan ibunya dengan lahap dan penuh rasa nikmat.
Noah yang melihat betapa lahapnya ketiga anaknya yang tengah makan ini, tersenyum. "Wuah, anak-anak ibu lahap sekali makannya. Dan tumben ya kalian nggak ribut kaya kemarin pagi?"
Erik lalu meminum secangkir es apel itu. "Aaah... segarnya minum es apel buatan mu, bu. Ditengah hari yang panas ini..."
Dan Holsi pun yang masih makan dengan lahapnya, berkata. "Bu, aku kangen banget sama mu, Bu."
Noah pun tersenyum lebar. "Ibu juga..."
Lalu Nuel yang sudah habis makannya itu, meminta untuk nambah kepada Noah. "Ibu, aku ingin nambah... habisnya makanan ibu enak banget."
Kemudian Noah pun mengambil piring Nuel itu. "Baiklah, akan ibu ambilkan lagi nasi untuk mu. Makan lah sampai habis ya..."
Setelah berkata begitu, Noah kembali mengambil kan nasi yang banyak untuk Nuel.
"Makasih banyak bu, ibu selalu ada buat aku, aku sayang ibu." Seru Nuel yang bahagia.
Noah pun hanya bisa tertawa lucu. "Hahaha, kalian kenapa sih pagi ini aneh banget. Padahal kemarin pagi kalian itu ribut terus bikin kepala ibu pusing, hihihi."
Kemudian Nuel kembali menyeletuk. "Habisnya aku udah kaya lama banget nggak ketemu ibu, makanya aku ngomong nya sekarang gini."
Lalu Noah memberikan piring yang sudah berisikan banyak nasi ke Nuel. "Mimpinya pasti lagi berpetualang ya? Sampai-sampai rasanya itu nyata sekali."
Dan Erik menyeru. "Ibu aku sudah kenyang, aku tidak mau nambah."
Kemudian Noah, melemparkan senyuman manis ke arah Erik. "Itu kan kebiasaan mu yang suka tidak mau nambah, kalau Nuel kan beda."
Holsi yang sedang memegang cangkir dingin nya itu, berkata. "Ibu, selepas kita selesai makan. Ibu mau kemana?"
Noah terlihat sedang mengelap meja itu dengan penuh hati-hati. "Kebetulan ibu mau keluar rumah dulu ya, ibu mau ke kebun."
Dengan penuh antusias, Holsi berkata. "Ibu, bolehkah aku ikut?"
Terlihat Noah menolak. "Tidak perlu, kau bermain saja bersama kedua kakak dan adikmu itu di halaman belakang ya."
Holsi pun sedikit kecewa. "Aaah ibu... kenapa?"
"Tidak apa-apa kok." Tutur ibunya dengan lemah lembut.
Setelah Noah berkata begitu, ia berdiri dari duduk nya. Lalu berpamitan pergi kepada ketiga anak kembar nya itu.
Sebelum Noah benar-benar meninggalkan ketiga anak-anak itu, ia berkata. "Ingat pesan ibu, jadilah seorang pahlawan."
Dengan serentak, Erik, Holsi, Nuel memberikan hormat kepada Noah.
*Ok siap, Ibu.*
Spontan, Noah tertawa lucu kepada ketiga anak nya itu. Lalu Noah pun meninggalkan ketiga anaknya itu dirumah ini. Ia pergi keluar rumah ini tanpa berkata apapun lagi.
|
Setelah kepergian ibunya yang Erik, Holsi, Nuel ketahui bahwa ibunya itu pergi untuk mengecek kebun milik ibunya itu, saling menatap satu sama lain.
Erik yang pertama berkata. "Jujur ini seperti mimpi..."
Lalu Holsi yang dari tadi memegang secangkir es itu, berkata. "Mungkin ini mimpi."
Nuel yang terlihat sudah selesai melahap makanan itu, berkata. "Ini kenyataan!"
Setelah berkata demikian, Nuel berdiri lalu merapihkan bekas makanan nya itu. Ia mencuci piringnya itu, lalu menaruh nya dengan rapi.
"Nuel, kamu selalu rajin ya." Seru Holsi dari meja makan.
"Iyalah, emangnya Erik yang suka mengandalkan tenaga adik sendiri. Mentang-mentang kakak tertua..." Ledek Nuel yang seperti mengundang perdebatan antara adik dan kakak.
Dengan kesal, Erik memukul meja mekan itu. "Hey! Kau mau mulai lagi? Adik bontot!"
"Mulai apa? Mulai perang lagi? Lagian nanti aku akan lapor ke ibu, dan kuping mu itu akan di cubit sampai memanjang kaya kuping peri!" Tutur Nuel yang tengah berdiri disamping tempat pencucian piring.
Dengan perasaan yang semakin kesal, Erik menunjuk ke arah Nuel. "Jangan katakan Peri lagi! Aku nggak mau kaya peri!"
Dan Holsi yang masih duduk tenang, hanya bisa membuang muka. "Oke papa, mereka mulai lagi."
Lalu Nuel semakin mengeluarkan ledekannya itu. "Peri, peri, peri Erik..."
"Nuel! Dasar adik tidak ada akhlak!" Tegas Erik yang kembali memukul meja dengan keras.
Nuel kemudian tertawa. "Hahaha, lagian aku bisa lapor ibu kok nanti kalau kamu sampai macam-macam dengan ku."
Wajah Erik semakin memerah penuh amarah. "Tapi sekarang ibu sedang tidak ada dirumah!"
Setelah berkata penuh emosi, Erik mengejar Nuel untuk memberikan pukulan keras.
Melihat Erik yang berlari ke arahnya, membuat Nuel berlari tunggang langgang ke arah taman belakang rumah.
Dan Holsi yang melihat Erik dan Nuel yang bertengkar, menyeru. "Hei, kalian jangan berlebihan gitu dong. Jangan sampai ibu nanti datang, malah aku juga yang kena hukuman kaya kemarin!"
Setelah Holsi berteriak-teriak seperti itu, ia menyusul Erik yang tengah mengejar Nuel di halaman belakang rumah.
|
Di halaman belakang rumah, Holsi berusaha mengejar Erik untuk tidak sampai memukul Nuel.
Namun Nuel yang dikejar oleh Erik, malah semakin menjadi untuk meledek Erik lebih keras lagi.
Mereka bertiga berlari melewati pagar halaman belakang rumah ini, sampai-sampai mereka sampai ke sebuah hutan lalu memasukinya.
Nuel terus berlari dari kejaran Erik, dan Erik terus berlari berusaha menyusul Nuel, dan Holsi yang paling belakang larinya terus berusaha mengejar Erik agar tidak sampai memukul Nuel.
Namun tiba-tiba, Nuel tersandung sebuah batu nisan yang misterius.
*Brak!*
Nuel terjatuh disebuah makam yang misterius, kemudian datang Erik yang juga ikut terjatuh, lalu datang juga Holsi yang juga sama-sama ikut terjatuh.
Lalu Erik mengeluh kesakitan. "Aah... sakit!"
"Aduh, kok bisa-bisanya sih batu ini menghalangi aku lari?" Tutur Nuel yang juga ikut kesakitan.
Holsi lalu berusaha bangun, ia tidak terlalu merasakan sakit. Kemudian ia menoleh ke arah batu nisan tersebut. Lalu membaca tulisan dari batu nisan itu.
*NOAH
LAHIR : 32 DESEMBER 1880 MASEHI
MENINGGAL : 32 DESEMBER 1915 MASEHI*
Seketika itu, Holsi yang menyadari semua ini, berteriak sedih. "Ibu... ibu, ibu, ibu, hiks."
Setelah berteriak-teriak sedemikian rupa, Holsi memeluk batu nisan itu dengan erat sekali.
Melihat Holsi yang begitu sedih sekali, membuat Erik dan Nuel bertanya-tanya.
"Apaan sih?" Jelas Erik yang terkejut.
"Iya ada apa Holsi?" Kata Nuel yang terkejut pula.
Erik dan Nuel kemudian membaca bacaan dari batu nisan tersebut. Seketika itu, mereka berdua berteriak-teriak tidak karuan dan menangis sejadi-jadinya.
Bahkan mereka bertiga sadar, jika makam yang kini mereka duduki adalah makam ibu kandungnya.
Kesedihan benar-benar tidak reda dari air mata mereka. Rasa tak dapat menyangka benar-benar menyentuh hati mereka bertiga. Bahwa ibu yang tadinya mereka lihat, mereka berbincang-bincang dengannya, ternyata nyatanya telah tiada sejak seratus tiga tahun yang lalu.
tunggu ya
Author.....lanjut, tuntaskan ceritanya
cling gitu
Apakah dia murid baru