SINOPSIS
Nara dan Ingfah bukan sekadar putri pewaris takhta Cankimha Corp, salah satu konglomerat terbesar di Asia. Di balik kehidupan mewah dan rutinitas korporasi mereka yang sempurna, tersimpan masa lalu berdarah yang dimulai di puncak Gunung Meru.
Tujuh belas tahun lalu, mereka adalah balita yang melarikan diri dari pembantaian seorang gubernur haus kuasa, Luang Wicint. Dengan perlindungan alam dan kekuatan mustika kuno keluarga Khon Khaw, mereka bertahan hidup di hutan belantara hingga diadopsi oleh Arun Cankimha, sang raja bisnis yang memiliki rahasianya sendiri.
Kini, Nara telah tumbuh menjadi wanita tangguh dengan wibawa mematikan. Di siang hari, ia adalah eksekutif jenius yang membungkam dewan direksi korup dengan kecerdasannya. Di malam hari, ia adalah ksatria tak terkalahkan yang bersenjatakan Busur Sakti Prema-Vana dan teknologi gravitasi mutakhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar Impian yang Mengejutkan
Malam yang penuh pelajaran teknologi dan identitas baru itu akhirnya berakhir. Arun memberikan isyarat kepada Bibi Ratri (Mae Parang) untuk membawa kedua gadis itu beristirahat.
"Pergilah tidur. Besok adalah hari yang besar, dan kalian butuh energi untuk menghadapi ribuan mata di sekolah baru," ujar Arun lembut.
Bibi Ratri menuntun mereka ke lantai atas, menuju sebuah pintu ganda berwarna putih bersih. Saat pintu itu terbuka, Nara dan Ingfah terkesiap.
Selama 11 tahun tinggal di gubuk hutan dan kamar kayu kuil yang sederhana, mereka tidak pernah membayangkan tempat tinggal seperti ini.
Kamar itu sangat luas dan harum aroma lavender.
Dua buah tempat tidur besar dengan sprei berwarna putih dan cream yang tampak sangat empuk mendominasi ruangan. Di atas kasur, berjajar boneka-boneka beruang dan kelinci yang lucu—hal-hal yang tidak pernah mereka miliki selama masa pelarian.
"Daddy Arun sendiri yang mendesain kamar ini," kata Bibi Ratri sambil tersenyum haru. "Dia ingin kalian merasa seperti anak-anak pada umumnya. Dia ingin kalian punya masa kecil yang sempat hilang."
Bibi Ratri kemudian membuka lemari besar dan mengeluarkan dua stel pakaian tidur.
"Ini untuk kalian pakai malam ini."
Piyama itu berbahan sutra yang sangat halus dengan motif kembar. Nara mengenakan piyama berwarna biru tua yang elegan, sementara Ingfah mengenakan warna biru muda yang cerah. Saat kain itu menyentuh kulit mereka, rasanya sangat berbeda dengan kain safron yang kasar.
"Wah, lembut sekali, Pi!" seru Ingfah sambil memeluk boneka kelinci besarnya.
Ia menjatuhkan dirinya ke atas kasur yang membal, tertawa kecil karena merasa seperti tenggelam di dalam awan.
Nara duduk di tepi kasur, memperhatikan adiknya yang tampak begitu bahagia. Untuk sesaat, ia melupakan busur cahayanya dan ancaman pemburu mustika. Di kamar ini, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, mereka hanyalah dua saudara yang akhirnya memiliki "rumah".
Sumpah di Tengah Keempukan Kasur
Setelah Bibi Ratri keluar dan mematikan lampu utama, hanya tersisa cahaya remang dari lampu hias.
"Pi Nara..." bisik Ingfah dari kasur sebelahnya. "Apakah ini nyata? Kita benar-benar tidak akan lari lagi?"
Nara memiringkan tubuhnya, menatap Ingfah yang memeluk bonekanya erat-erat.
"Ini nyata, Nong. Kita akan belajar hidup seperti orang lain. Tapi jangan lupa, Pi akan selalu menjagamu. Tidurlah, besok kita akan memulai peran baru kita."
Ingfah segera terlelap karena kelelahan, namun Nara tetap terjaga sedikit lebih lama, membiasakan diri dengan keheningan kota Bangkok yang sesekali dipecah oleh suara kendaraan jauh di luar sana.
***
Pagi pertama di Bangkok dimulai dengan kebingungan yang sangat lucu. Bagi Nara dan Ingfah yang selama belasan tahun mandi di sungai Ban Khun Phum atau menggunakan gayung di pancuran batu Kuil Emas, kamar mandi modern ini terlihat seperti ruangan dari planet lain.
Misteri Air yang Hilang
Nara berdiri tegak di tengah kamar mandi yang luas dan berlantai marmer itu. Ia menatap dinding yang penuh kaca dan benda-benda logam mengkilap dengan bingung. Tidak ada bak air besar, tidak ada ember, apalagi suara gemericik air sungai.
"Aku harus mandi, tapi airnya di mana?" gumam Nara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ingfah, yang masih mengucek matanya dan berjalan gontai, ikut masuk ke kamar mandi. Ia melihat kakaknya yang tampak seperti sedang mengintai musuh di dalam ruangan kecil itu.
"Pi, kenapa kamu berdiri saja di situ?" tanya Ingfah polos.
"Aku sedang mencari air, Nong. Kita harus berangkat sekolah, masa kita tidak mandi? Tapi aku tidak menemukan sumber air di sini," jawab Nara serius.
Ingfah ikut memutar tubuhnya, melihat ke sekeliling.
"Benar, Pi. Tidak ada air. Apa orang kota tidak pernah mandi?" tanya Ingfah dengan wajah tanpa dosa. Ia bahkan sempat berpikir mungkin orang kota hanya mengelap badan dengan tisu.
Tepat saat kedua gadis itu sedang mendiskusikan apakah mereka perlu mencari sumur di halaman belakang rumah, Bibi Ratri masuk sambil membawa dua stel seragam sekolah yang masih terbungkus plastik rapi.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa masih kering begini? Cepat mandi, kalian bisa terlambat!" tanya Bibi Ratri heran melihat kedua keponakan (anak) angkatnya itu hanya berdiri mematung di tengah kamar mandi.
"Bibi... airnya tidak ada," lapor Ingfah dengan wajah sedih. "Kamar mandi ini kering sekali."
Bibi Ratri tertegun sejenak, lalu tawa kecil pecah dari bibirnya. Ia lupa kalau mereka sama sekali belum pernah melihat teknologi shower.
"Oh, ampun! Maafkan Bibi, Bibi lupa memberi tahu kalian," kata Bibi Ratri sambil mendekat ke arah dinding kaca.
Sihir Bernama "Shower"
Bibi Ratri memutar sebuah tuas logam mengkilap.
Syuuuuur!
Tiba-tiba, air hangat menyembur deras dari langit-langit kecil (kepala shower). Nara hampir saja melompat mundur dan memasang kuda-kuda bertarung karena terkejut.
"Ini namanya shower, Nara, Ingfah. Airnya keluar dari sini. Jika kalian putar ke kanan, airnya jadi hangat. Jika ke kiri, airnya dingin," jelas Bibi Ratri sambil tersenyum geli.
"Dan ini tombol untuk menyiram toilet. Jangan bingung lagi, ya?"
Ingfah mendekat dan menyentuh tetesan air itu dengan jarinya.
"Wah! Airnya turun seperti hujan, Pi! Dan hangat!" seru Ingfah kegirangan.
Nara menarik napas lega, meskipun ia merasa sedikit malu karena sempat menganggap ruangan itu tidak ada airnya.
"Ternyata orang kota mandinya sangat canggih," gumam Nara.
"Cepat mandi bergantian. Bibi tunggu di luar untuk membantu kalian memakai seragam. Ini bukan kain safron lagi, banyak kancing dan dasi yang harus dipasang!" kata Bibi Ratri sebelum keluar.
Setelah drama air yang "hilang" selesai, tantangan berikutnya muncul: seragam sekolah internasional yang rumit. Di atas tempat tidur, sudah terbentang kemeja putih bersih, rok motif kotak-kotak (tartan) berwarna biru tua, blazer, kaos kaki panjang, dan dasi.
Nara menatap rok pendek itu dengan dahi berkerut.
"Bibi, apakah ini tidak kependekan? Bagaimana kalau aku harus menendang seseorang?" tanya Nara sambil membolak-balik rok tersebut.
Bibi Ratri tertawa sambil membantu mengancingkan kemeja Ingfah.
"Nara, di sekolah kamu tidak akan menendang orang. Ini seragam standar sekolah elit. Pakai saja, nanti kamu akan terbiasa."
Nara memakai seragam itu dengan kaku. Ia merasa sangat aneh tanpa celana panjang atau kain safronnya. Saat mencoba memasang dasi, ia justru hampir menjerat lehernya sendiri.
"Benda ini lebih sulit dikendalikan daripada tali busur," gerutunya.
Ingfah, di sisi lain, tampak sangat bersemangat. Saat ia selesai memakai seragam lengkap dengan kaos kaki panjangnya, ia berdiri di depan cermin besar.
"Pi Nara, lihat! Aku seperti karakter di buku cerita yang pernah Daddy tunjukkan!" seru Ingfah.
Nara menoleh dan tertegun. Ingfah yang mengenakan seragam itu terlihat sangat menonjol. Rambut pirangnya kontras dengan warna biru tua seragamnya, dan matanya yang biru tampak semakin jernih. Ia benar-benar terlihat seperti "Gadis Farang" yang berasal dari keluarga bangsawan Eropa.
Nara sendiri terlihat sangat berbeda. Rambut hitamnya dikuncir kuda dengan sangat rapi (high ponytail), memberikan kesan tegas dan cerdas.
Meskipun mengenakan rok, aura "pelindung" dalam dirinya tidak hilang; ia tampak seperti pengawal pribadi yang menyamar menjadi siswi.
***
Mereka turun ke lantai bawah menuju meja makan. Arun (Daddy) sudah duduk di sana sambil membaca berita di tabletnya. Ia mendongak dan tersenyum puas melihat penampilan kedua "putrinya"
"Sempurna. Kalian terlihat seperti siswi yang akan meraih nilai tertinggi," puji Arun.
"Ingat, di sekolah nanti, gunakan nama Nara Cankimha dan Ingfah Cankimha. Ingfah, jika ada yang bertanya tentang penampilanmu, katakan saja ibumu orang Eropa. Jangan beri tahu lebih banyak."
"Baik, Daddy," jawab Ingfah sambil mencoba memegang garpu dan pisau untuk memakan roti panggangnya.
Setelah sarapan, sebuah mobil mewah berwarna perak sudah menunggu di depan rumah. Sopirnya adalah salah satu orang kepercayaan Arun.
"Ayo berangkat," ajak Arun. "Aku akan mengantar kalian sampai gerbang. Ini adalah langkah pertama kalian menguasai dunia modern."
****
Di dalam mobil, Nara terus menggenggam tangan Ingfah. Ia tidak membawa tongkat pusakanya, tapi di dalam tas sekolahnya, ia telah menyisipkan beberapa alat pertahanan diri modern yang diberikan Arun semalam.
Saat mobil mulai memasuki kawasan sekolah yang megah dengan gerbang besi tinggi dan gedung-gedung bergaya kolonial, jantung kedua gadis itu berdegup kencang. Ribuan murid dengan penampilan serupa mulai terlihat turun dari mobil-mobil mewah lainnya.