NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Api Sunyi adalah api yang tidak menyala, tidak ada nyala merah, tidak ada panas yang menghanguskan udara, tidak ada cahaya yang menari-nari seperti api biasa.

 Namun justru karena itulah Yun Ma merasa lebih takut dibanding saat ia pertama kali dipaksa menyerap energi murni, “Api… tanpa api?” gumamnya pelan.

Ruang dimensi tampak sama seperti biasa langit perak, tanah hitam berkilau namun atmosfernya berubah. Udara menjadi sunyi secara aneh, seolah suara sendiri enggan bergerak. Bahkan detak jantung Yun Ma terdengar terlalu keras di telinganya.

Shen Yu berdiri beberapa langkah di depannya, wajahnya tenang, nyaris dingin.“Api Sunyi bukan teknik untuk menghancurkan tubuh,” katanya perlahan. “Ia menghancurkan kehendak.”

Yun Ma menelan ludah. “Kalau begitu… kenapa teknik ini dilarang?”

“Karena kebanyakan orang tidak punya kehendak yang cukup kuat untuk bertahan setelah membakarnya,” jawab Shen Yu. “Mereka menjadi kosong. Hidup, tapi bukan manusia.”

Yun Ma menarik napas panjang. “Dan kau ingin aku mempelajarinya.”

“Ya.” jawab Shen Yusingkat

“Kenapa?” tanya Yun Ma

Shen Yu menatapnya lama. Tatapan itu tidak menusuk, tapi berat. “Karena kau sudah mati sekali.”

Jawaban itu sederhana, namun menghantam lebih keras dari tamparan.

“Kau tahu rasanya kehilangan segalanya,” lanjut Shen Yu. “Rasa itu adalah bahan bakar Api Sunyi.”

Yun Ma menunduk, jari-jarinya bergetar. Bayangan api, jeritan, dan bau daging terbakar kembali menyelinap ke benaknya. Ia memejamkan mata, lalu membukanya kembali.

“Ajari aku,” katanya tegas.

Shen Yu mengangguk satu kali. Ia mengangkat kedua tangannya, dan di antara telapak itu muncul sesuatu yang… sulit dijelaskan. Bukan cahaya, bukan kegelapan. Seperti distorsi tipis di udara, berdenyut pelan, hampir tak terlihat.

“Inilah benih Api Sunyi,” kata Shen Yu. “Ia tidak akan masuk ke tubuhmu lewat meridian. Ia akan masuk ke ingatan.”

Yun Ma terdiam. “Ingatan…?”

“Ya.” Shen Yu melangkah mendekat. “Dan ia akan memilih sendiri apa yang akan dibakar.”

Sebelum Yun Ma sempat bertanya lebih jauh, Shen Yu menekan benih itu ke dahinya.

Dan tiba tiba dunia runtuh.

Yun Ma kembali berdiri di paviliun Yun.

Namun paviliun itu utuh. Tidak terbakar. Lentera masih bergantung, tirai sutra berkibar lembut, dan suara kecapi terdengar samar.

Ia menatap sekeliling dengan napas tercekat.

“Ini… sebelum segalanya?” bisik Yun Ma

“Apa yang kau lihat adalah ingatan yang masih kau simpan,” suara Shen Yu terdengar, bergema dari segala arah. “Api Sunyi akan berjalan di sini.”

Langkah kaki terdengar.

Yun Mailan dirinya yang dulu muncul dari balik tirai. Wajahnya pucat, namun matanya lembut, penuh harap. Di tangannya ada secangkir teh.

“Kakak Changfeng akan datang hari ini,” kata Yun Mailan kecil dengan senyum malu. “Ayah bilang aku harus bersikap baik.”

Yun Ma menatap bayangan itu, dada terasa sesak. “Itu bukan aku lagi…” gumamnya.

Api Sunyi mulai bekerja, tidak ada nyala, tapi ingatan itu bergetar. Retakan tipis muncul di udara, seperti kaca yang hendak pecah. Senyum Yun Mailan kecil membeku, lalu memudar.

Adegan berubah.

Ia melihat dirinya berlutut di aula utama. Menteri Yun berdiri di depan, wajahnya keras, Yun Hi di sampingnya dengan air mata palsu.

“Kau mencemarkan nama keluarga,” suara Menteri Yun menggema. “Hukuman mati adalah kemurahan hati.”

Api Sunyi merambat, kata-kata itu tidak terbakar. Perasaan yang terbakar, rasa ingin dimengerti, rasa ingin dibela dan rasa berharap ayahnya akan berkata,

"cukup" Yun Ma menjerit tanpa suara. Ia merasakan sesuatu di dadanya robek, lalu… hampa.

Adegan berganti lagi.

Api.

Jeritan.

Tangan-tangan yang mendorongnya ke tiang.

Wajah Gu Changfeng, kaku, membeku di antara kerumunan.

“Kau tidak menolongku,” bisik Yun Ma, suaranya pecah. “Kau bahkan tidak menatapku.”

Api Sunyi berhenti.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan panas.

Bukan panas di kulit tapi panas di dada, tepat di tempat kenangan itu disimpan.

“Lepaskan,” suara Shen Yu terdengar, kini dekat. “Jika kau masih menggenggamnya, api akan membakarmu bersama kenangan itu.”

Yun Ma terisak. Air mata jatuh, namun tidak ada yang menjawabnya. Tidak ada yang menenangkannya.

Dan di sanalah ia mengerti, ia sendirian dan selalu sendirian tapi justru karena itulah… ia hidup. “Aku lepaskan,” katanya serak. “Aku tidak ingin mereka mengingatku. Aku tidak ingin membalas dengan harapan.”

Api Sunyi menyusut.

Kenangan itu tidak hilang tapi menjadi abu. Tidak lagi menyakitkan, tidak lagi hangat. Sekadar fakta.

Yun Ma terjatuh berlutut.

Ketika ia membuka mata, ia kembali di ruang dimensi. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya terengah, namun… ringan.

Shen Yu berdiri di depannya, ekspresinya sulit dibaca.

“Bagus,” katanya pelan. “Kau tidak hancur.”

Yun Ma tertawa kecil, pahit. “Aku merasa… kosong.”

“Itu normal.” Shen Yu mengulurkan tangan. “Api Sunyi tahap pertama hanya membersihkan. Mulai sekarang, kau akan mengisinya dengan kehendakmu sendiri.”

Yun Ma menerima tangan itu dan berdiri.

“Dan mulai sekarang,” lanjut Shen Yu, “jangan biarkan siapa pun menyalakan apimu kecuali dirimu sendiri.”

Keesokan paginya, Yun Ma membuka Toko Obat Feng Ling seperti biasa.

Namun Ayin langsung menyadari perubahan itu. “Nona…” Ayin ragu-ragu. “Apakah Anda… baik-baik saja?”

Yun Ma tersenyum. Senyum itu lembut, tapi tidak lagi rapuh. “Aku baik.”

Dan itu bukan kebohongan.

Pelanggan datang dan pergi. Yun Ma meracik obat dengan tangan mantap, pikirannya jernih. Bahkan ketika seorang wanita paruh baya menyebut nama Yun Mailan secara tak sengaja, jantungnya tidak lagi berdenyut nyeri.

Nama itu terasa jauh. Seperti cerita orang lain.

Menjelang sore, pria tua berjanggut putih itu datang lagi.

Ia menatap Yun Ma lama, lalu tertawa kecil. “Menarik… apinya berubah.”

Yun Ma menatapnya tenang. “Apakah Tuan ingin membeli obat?”

Pria itu mengangguk. “Obat penenang.”

Saat Yun Ma menyerahkan bungkusan itu, pria tersebut berbisik, “Api Sunyi jarang memilih manusia. Lebih jarang lagi… manusia yang selamat.”

Yun Ma menegang. “Tuan tahu teknik itu?”

Pria itu tersenyum samar. “Aku tahu banyak hal yang seharusnya terlupakan.”

Ia pergi tanpa penjelasan.

----

Malam itu, Shen Yu tampak lebih waspada dari biasanya. “Pria tua itu bukan orang biasa,” katanya. “Ia bisa mencium Api Sunyi.”

“Apakah dia musuh?” tanya Yun Ma.

“Belum tentu.” Shen Yu menatap ruang kosong. “Tapi dunia mulai memperhatikanmu.”

Yun Ma menghela napas. “Aku hanya ingin hidup tenang sedikit lebih lama.”

“Dan kau akan mendapatkannya,” jawab Shen Yu. “Tapi tenang bukan berarti diam.”

Malam itu latihan berubah. Shen Yu mengajarinya memadatkan Api Sunyi menjadi benang tak kasatmata.

“Ini bukan untuk menyerang,” kata Shen Yu. “Ini untuk mengikat.”

Yun Ma berkonsentrasi. Api itu tidak terasa panas, tapi setiap kali ia mengendalikannya, pikirannya terasa lebih tajam.

“Dengan ini,” lanjut Shen Yu, “kau bisa mengikat sumpah, membakar niat jahat, atau… memutus takdir yang lemah.”

Yun Ma membuka mata. “Takdir… bisa diputus?”

“Takdir hanyalah alur energi yang disepakati banyak orang,” jawab Shen Yu. “Jika kau cukup kuat, kau bisa menulis ulang.”

Yun Ma terdiam lama.

...****************...

Di ibu kota, Gu Changfeng kembali berdiri di depan puing paviliun Yun. Angin malam membawa bau debu dan kayu lapuk.

“Jika kau masih hidup…” gumamnya, tangannya mengepal. “Kenapa aku merasa… terlambat?”

Di balik tirai, Yun Hi menggigit bibirnya hingga berdarah.

Sementara itu, di Kota Qinghe, Yun Ma menatap pantulan dirinya di cermin kecil.

Wajah yang sama namun mata itu… bukan lagi mata korban, karena api Sunyi berdenyut pelan di dalam dirinya, tidak terlihat, tidak terasa, namun hidup.

Dan suatu hari nanti ketika api itu dilepaskan dunia akan terbakar, tanpa pernah melihat nyala.

Bersambung.

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!