NovelToon NovelToon
Perempuan Pilihan Mertua

Perempuan Pilihan Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seroja 86

Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPM 11

Ibunya terdiam sesaat.

“Kamu membela istrimu terus sekarang. "

“Aku menjalankan tanggung jawab aku sebagai suami,” jawab Johan pelan tapi mantap.

 “Aku mohon, berhenti menekan Mia, semua sudah terjadi suka atau tidak suka Mia adalah menantu Mama istri aku. ”

Percakapan itu berakhir tanpa jawaban yang jelas.

Panggilan terputus begitu saja.

Johan menatap layar ponselnya lama. Ada rasa lega, tapi juga kekhawatiran. Ia kembali masuk ke kamar dan menatap Mia yang terlelap. Wajah istrinya tampak tenang, tapi ia tahu, ketenangan itu dibangun dari terlalu banyak hal yang ditahan.

Johan duduk di sisi ranjang, mengelus rambut Mia pelan.

Di dalam hatinya, ia berjanji jika ada satu hal yang tidak boleh ia ulangi, itu adalah membiarkan orang lain melukai istrinya, dengan alasan apa pun.

Sejak percakapan malam itu, ibunya Johan tidak lagi menghubungi. Tidak ada telepon, tidak ada pesan. Bahkan grup keluarga pun sepi dari namanya. Sikap itu, bagi Johan, terasa seperti jeda yang ia butuhkan.

Namun bagi ibunya, diam bukan berarti menyerah.

Ia tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Menghadiri arisan, bertemu kenalan lama, berbincang dengan kerabat jauh.

Di setiap pertemuan, satu topik selalu ia singgung tanpa emosi, tanpa nada mengeluh.

“Jo itu sebenarnya anak baik,” ujarnya suatu siang.

“Sayang istrinya belum juga memberi keturunan.”

Beberapa orang hanya mengangguk. Yang lain mulai bertanya lebih jauh.

 Ibunya Johan tidak menjawab dengan panjang. Ia hanya tersenyum tipis, seolah sedang menerima kenyataan yang tidak bisa ia ubah.

Jam makan siang tiba. Kantin kantor mulai ramai oleh suara kursi yang digeser dan obrolan ringan para karyawan yang melepas penat. Mia duduk berhadapan dengan Rina.

Biasanya Mia cukup cerewet soal menu hari itu, tapi kali ini ia lebih banyak diam, hanya sesekali mengaduk makanannya tanpa benar-benar menikmati.

Rina memperhatikan sejak tadi. Awalnya ia mengira Mia hanya lelah, tapi tatapan kosong dan helaan napas pelan yang berulang membuatnya yakin ada sesuatu yang sedang dipendam sahabat barunya itu.

Di sela-sela makan, Rina akhirnya membuka suara, nadanya dibuat seringan mungkin.

“Mia… maaf sebelumnya, boleh tanya sesuatu?”

Mia mendongak, tersenyum ramah meski terlihat tipis.

“Kenapa, Rin?”

Rina ragu sejenak sebelum melanjutkan.

“Kamu lagi ada masalah ya? Kelihatannya kepikiran terus.”

Ia lalu menambahkan dengan hati-hati,

“Kalau kamu mau dan percaya, kamu bisa cerita ke aku.”

Mia terdiam. Garpu di tangannya berhenti bergerak. Ada keraguan di matanya, seperti sedang menimbang apakah ia siap membuka sesuatu yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

Rina tidak mendesak. Ia hanya tersenyum kecil dan berkata pelan,

“Mungkin aku nggak bisa kasih solusi. Tapi kadang, dengan cerita bisa bikin lebih lega.”

Ucapan itu seperti mengetuk pelan dinding pertahanan Mia. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia mengangkat wajah sedikit, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh di tempat umum.

“Aku nggak tahu harus mulai dari mana, Rin,” ucapnya lirih.

Rina mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Mia dengan genggaman hangat.

“Pelan-pelan aja aku dengerin.”

Napas Mia terasa lebih berat saat akhirnya ia bicara.

“Mertuaku… selalu menyudutkan aku karena aku dan suamiku belum dikaruniai anak. Sindiran, tuduhan, paksaan itu sudah jadi makanan sehari-hari buat aku.”

Rina terdiam, menatap Mia dengan sorot mata iba .

“Kalian sudah menikah berapa lama, Mi? Terus… memangnya mertua kamu belum punya cucu?”

Mia menggeleng pelan.

“Sudah, Rin dari anaknya yang lain kami sudah tiga tahun menikah.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan,

“Hanya saja dari awal, mertuaku memang tidak sepenuhnya setuju anaknya menikah sama aku.”

Kalimat itu menggantung di udara, meninggalkan rasa getir yang perlahan meresap di antara mereka.

Rina terdiam beberapa detik setelah penjelasan Mia. Tatapannya tak lagi sekadar iba, ada kemarahan kecil yang tertahan.

 “Tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar, Mi,” ucapnya .

 “Dan soal anak… itu bukan sepenuhnya tanggung jawab perempuan.” Mia tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip topeng agar ia tetap terlihat baik-baik saja.

“Aku tahu, Rin. Johan juga selalu bilang begitu. Tapi capek kalau terus-terusan harus kuat sendirian.”

Ia menghela napas, lalu menunduk menatap makanannya yang hampir tak tersentuh.

“Kadang aku ngerasa bersalah sama Johan. Dia selalu pasang badan buat aku, tapi di sisi lain… aku juga ngerasa jadi sumber masalah di keluarganya.” Suaranya mengecil di akhir kalimat.

Rina menggeleng pelan.

“Mi, dengar ya. Kamu bukan masalah. Kamu manusia yang lagi diuji. Dan ujian itu harusnya dipikul bareng, bukan ditimpakan ke satu orang.”

Mia terdiam untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa didengar tanpa dihakimi. Ada kelegaan kecil menyusup di dadanya, meski tak sepenuhnya menghapus beban yang selama ini ia simpan.

Ia mengangguk pelan.

 “Makasih ya, Rin. Aku nggak nyangka bisa cerita sejauh ini.” Rina tersenyum hangat.

“Kapan pun kamu butuh, aku ada jangan biasakan memendam semuanya sendirian.”

Usai makan siang, Mia dan Rina kembali ke kantor.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong, suasana siang terasa lebih lengang karena sebagian karyawan belum kembali ke meja masing-masing. Langkah Mia sedikit lebih pelan dari biasanya, pikirannya masih tertinggal pada percakapan barusan.

“Mia ,kamu semangat yaa.”Ujar Rina sambil menepuk bahunya lembut sentuhan kecil tapi hangat.

"Makasih ya Rin. " Balas Mia.

Lift terbuka. Mereka masuk bersama, berdiri berdampingan tanpa banyak bicara. Namun untuk pertama kalinya sejak lama, Mia merasa dadanya sedikit lebih ringan. Setidaknya sekarang ia tahu, ia tidak benar-benar sendirian.

Sore itu, jam kerja baru saja usai ketika Johan menjemput Mia di depan gedung kantor. Wajah Mia tampak lebih segar dibanding beberapa minggu sebelumnya. Lingkungan kerja perlahan mengembalikan semangat yang sempat meredup, meski di balik senyumnya, ada hal-hal yang masih ia simpan sendiri.

Sepanjang perjalanan pulang, mereka berbincang ringan tentang pekerjaan dan rencana makan malam, seolah tak ada beban yang menggantung di antara mereka.

Malamnya, setelah makan malam dan bersantai di ruang tengah, ponsel Johan bergetar.

Ia melirik layar sekilas sebelum mengangkat panggilan itu.

“Hallo, Kak,” sapa Johan.

“Hallo, Jo. Gimana kabar kalian?” suara kakaknya terdengar sedikit basa-basi.

“Kami baik. Ada apa tumben?”

“Begini Jo , sebentar lagi Mama kan ulang tahun ke enam puluh. Kita mau buat kejutan. Nanti kita diskusi sama Florence juga,” jelas kakaknya tentang rencana keluarga mereka.

Johan terdiam sesaat sebelum menjawab. “Aku sih setuju, Kak. Tapi Kakak tahu sendiri Mama… kasihan Mia kalau nanti disindir-sindir lagi. Tolong Kak, sebelum hari H, coba bicara sama Mama.”

Di seberang sana terdengar helaan napas. “Iya sih, Kakak juga kasihan sama Mia. Tapi kamu tahu sendiri sifat Mama. Ya sudah, Kakak coba ngomong.”

“Iya, Kak. Terima kasih.”

1
Siti Amyati
orang tua yg terlalu mencampuri rumah tangga anaknya bisa bikin tidak nyaman pasangan
Pelangi senja: itu karena awalnya emaknya tidak suka samaemantunya jadi di cari cari kesalahannya
total 1 replies
Siti Amyati
kalau sdah ngga bisa di pertahanin mending di tinggal apalagi ibunya terlalu mencampuri yg bukan ranahnya lanjut kak
Pelangi senja: iya tapi mertua model begini ada dalam Dunia nyata
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!