Tiba-tiba ada yang mengaku sebagai ayah kandungku!
Dia masih muda, dan kaya raya. apa dia benar ayah kandungku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oyi_jy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Jam istirahat di kantor, sesuai janji Alan akan menemui Dhika lagi di ruangannya.
Belum masuk ke ruangan, Indra terlebih masuk dahulu untuk mengecek apakah di ruangan masih ada banyak orang atau sudah tinggal Dhika saja.
Setelah di rasa aman, Indra menyuruh Alan untuk masuk .
"Maaf mengganggu waktu istirahat mu kak Dhika" ucap Alan, duduk di salah satu kursi.
"Tidak apa-apa tuan muda" jawab Dhika
"Duduklah, ada yang ingin aku tanyakan" ucap Alan.
Dhika duduk di kursi depan Alan. Alan melihat sekeliling ruangan
"Hm.. yang di katakan om Indra benar, alat-alat dan perlengkapan di sini semuanya canggih, kenapa mereka sangat sulit mendapatkan informasi yang gampang seperti itu " batin Alan.
"sebenarnya apa yang ingin di tanyakan tuan muda ini?" Batin Dhika.
"Kenapa tidak ada yang menunjukkan cctv ruangan Ceo Erik?" tanya Alan
"Itu, karena cctv nya di matikan" jawab Dhika
"Kenapa di matikan?" tanya Alan
"Ceo Erik merasa terganggu, jika ada cctv, dia bilang tidak bisa konsen bekerja saat ada cctv yang mengawasi" jawab Dhika
"Ck... nyalakan cctv itu sekarang" perintah Alan
"Tapi.. tuan muda, saya tidak berani" jawab Dhika, menundukkan kepalanya.
"Aku bilang, nyalakan cctv itu sekarang!!" perintah Alan lagi.
Dhika menatap ke Indra, Indra hanya mengangguk saja.
"baik tuan muda" jawab Dhika, Setelah itu dia menyalakan cctv yang berada di ruangan Ceo Erik itu.
Alan memejamkan matanya .
"Hah.. katanya mau lihat cctv yang di ruangan Ceo Erik tapi kenapa tuan muda menutup matanya?" Batin Dhika.
"Sialan.!!!" Ucap Indra, menarik kursi Arthur dan menutupi layar komputer itu dengan tubuhnya.
"Aku tidak melihatnya om, karena aku menutup mataku. tenang saja" ucap Alan
"Ck... keterlaluan sekali mereka, melakukan hal yang tidak senonoh di perusahaan!!" Ucap Indra .
"Bukankah dia, sekretaris baru itu??. dia dan Ceo Erik ada hubungan??. saya akan mematikan cctv-nya terlebih dahulu" Ucap Dhika.
"Tunggu, jika kau matikan sekarang. kita tidak dapat bukti apa-apa" ucap Alan
"Bukti?.. maksud anda?" Tanya Dhika.
"Bukankah kau lebih tahu, kejahatan Ceo Erik kak Dhika, kenapa kau malah bertanya pada kami ?" tanya Alan
Dhika hanya diam tak menjawab.
"Aku ingin kau bekerja sama dengan kami kak Dhika" ucap Alan
"Bekerja sama??" Ucap Dhika.
"Ya, aku sedang menyelidiki Ceo Erik dan semua orang yang bersangkutan dengan nya, termasuk teman-teman mu yang ada di sini" ucap Alan.
"Apa saya juga termasuk?" tanya Dhika.
"Ya, bisa di bilang seperti itu. Aku sudah menyelidiki informasi tentang kalian, termasuk kau kak." Ucap Alan
"Anda tahu, kalo Ceo Erik mengirim uang untuk kami?"
"Tentu saja, Ceo Erik setiap bulannya mengirimi kalian uang cukup banyak bukan. tapi kau tidak menerima uang itu kenapa?"
"Karena saya tidak mau menerima uang suap, saya hanya ingin mendapatkan uang dengan keringat saya sendiri" jawab Dhika.
"Kau tidak menerima uang suap tapi kenapa kau diam saja dan tidak melaporkan apa-apa pada kami Dhika?" sahut Indra.
"Maafkan saya, saya terpaksa diam karena saya di ancam" jawab Dhika .
"Haaaahhh... baiklah aku mengerti kak, sekarang aku tanya. Uang suap itu untuk apa?" tanya Alan, menatap serius Dhika.
"Ceo Erik ingin informasi tentang dirinya dan bawahannya di sembunyikan tuan muda, bukan hanya itu, dia meminta pada kami untuk tidak menuruti perintah tuan Arthur jika tuan Arthur ingin mencari data seseorang atau informasi apapun di luar pekerjaan" jawab Dhika.
"Baiklah, aku mengerti kak" ucap Alan.
"Tuan muda mengerti?" tanya Dhika
"Ya, sangat mengerti" jawab Alan.
"Baiklah, jam istirahat sebentar lagi selesai. Aku tanya sekali lagi kak, kau mau bekerja sama dengan kami? Ini demi kebaikan bersama, dan kelanjutan perusahaan ini kedepannya, cita-cita mu adalah menjadi karyawan tetap perusahaan ini bukan? dan kau juga mengidolakan Ayahku bukan?" Ucap Alan.
Dhika terkejut, mendengar yang di katakan Alan barusan. Yang di katakan Alan memang benar adanya.
"Apa tuan muda tahu semuanya tentang kehidupanku?" Batin Dhika.
Alan mengambil ponselnya, dan mengetikan sesuatu.
Triiingg... bunyi ponsel Dhika
"Itu nomer ponselku kak, hubungi aku jika kau sudah membuat keputusan. Dan malam ini, jangan keluar rumah. ini demi keamanan mu dan ibumu kak" ucap Alan.
"Baik tuan muda" jawab Dhika.
"Makan lah ini, aku harap makanan itu masih hangat. Kalo begitu aku permisi kak, nikmati makan siangmu" ucap Alan, beranjak dari duduknya.
"Terima kasih tuan muda" ucap Dhika.
Alan sudah keluar dari ruangan tersebut, tinggal Indra dan Dhika yang masih berada di ruangan.
Indra menepuk pundak Dhika.
"Tuan muda percaya padamu, bukan hanya tuan muda, tuan Arthur dan saya juga percaya padamu. Jangan membuat kecewa kami Dhik, dan besok bersiaplah, kau akan kami jemput di kontrakanmu" ucap Indra
"Jangan banyak bertanya dan tidak ada penolakan. kirim video tadi ke laptopku nanti"
"Ba... baik sekretaris Indra" jawab Dhika.
"Dan bertingkah lah seperti tidak ada apa-apa, aku pergi" ucap Indra
"Baik" jawab Dhika.
Indra keluar dan menyusul Alan, dan kembali ke ruangan Arthur.
------
Di ruangan Arthur, mereka semua sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Arthur dan Indra yang sibuk dengan pekerjaannya, Alan yang sibuk dengan gadgetnya dan Alana yang sibuk mengganggu Alan bermain game. Tapi Alan tidak merasa terganggu dengan kejahilan Alana.
tok...tok..tok... bunyi ketukan pintu
Masuklah Rita membawa 2 kotak susu.
"Cih.. mau apa dia!!, Bikin jengkel saja" batin Indra.
"Saya membawakan susu untuk anak-anak tuan Arthur" ucap Rita, meletakkan susu kotak tersebut di meja.
"Lihat dia, dia sengaja atau terburu-buru sampai kancing kemeja nya terbuka seperti itu" batin Indra lagi. (Ehemmm.. berarti kau melihat sesuatu dong sekretaris Indra😂).
"Anak-anak ku tidak meminum susu kotak seperti itu, bawa kembali saja" ucap Arthur.
"Ah begitu ya, baiklah saya akan membawakan jus buah saja. Tolong tunggu sebentar" ucap Rita, mengambil nampan yang berisi susu kotak .
"Hei.. lihat kan aku ini ibu yang cocok untuk kalian, tenang saja jika aku jadi ibu kalian aku akan memperlakukan kalian dengan baik" batin Rita .
•mode baca pikiran/hati on
Alana hanya tersenyum sinis.
Rita berjalan menuju pintu keluar ruangan Arthur.
"Tunggu, kau belum mendengar jawaban dari kami kenapa kau sudah mau keluar" ucap Alana.
Rita membalikkan badannya
"Iya, maksud nona?" Tanya Rita
"Tidak usah membawakan kami minuman apa-apa, fokus saja sama pekerjaan mu, pergilah" ucap Alana.
"Pfftt...." Indra menahan tawanya.
Rita menatap Indra dengan kesal. Indra tidak peduli dia fokus dengan laptopnya.
Rita masih berdiam di tempatnya.
"Kenapa kau masih di sini, keluar!!" Ucap Arthur.
Rita terkejut, dan segera keluar dari ruangan Arthur tanpa mengatakan apa-apa.
Bersambung....
Hi kakak-kakak ku yang tersayang.. 😍😍🙈
jangan lupa klik like, favoritnya 👍❤
rate dan coment juga ⭐💕💕.
---
Bab ini harusnya up siang tadi, tapi karena ada kendala jadi bisa up nya malam. 😂😂😫😫
maafin ya🙏🙏😄😄
oyi-jy ❤