"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Terjadi Begitu Saja
"Apa yang Paman lakukan?"
Rieta segera membalikkan badan, berniat untuk protes saat ia akan membuka pintu mobil, tetapi pintu itu justru dalam keadaan terkunci.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku beberapa hari lalu," ucap Arlan tanpa menoleh.
Dahi Rieta berkerut tipis, menatap wajah sang paman yang tengah menatap lurus ke depan. Mereka baru saja tiba di kantor, dan saat ini masih di dalam mobil yang Arlan parkirkan di area khusus di basement kantor.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Rieta.
Arlan menoleh, membuat pandangan mereka bertemu. Selama beberapa saat, Arlan hanya menatap manik mata wanita yang duduk di jok sisi penumpang di mobilnya, salah satu hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini, yang mana ia sekali pun tidak pernah membiarkan seorang wanita naik ke mobil pribadinya. Rieta menjadi orang pertama.
"Apakah kau bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Arlan.
Ada jeda keheningan yang terasa begitu panjang setelah pertanyaan itu terlontar, Rieta menatap lekat manik mata pria dewasa di depannya, dan tidak menemukan sebuah candaan di sana.
"Paman memberiku pertanyaan aneh," sahut Rieta setelah lama terdiam.
"Tentu saja aku bahagia. Kenapa aku harus tidak bahagia?"
"Bahagia jenis apa yang sedang kamu bahas sekarang? Berpura-pura baik-baik saja disaat hatimu ingin memberontak?" sindir Arlan.
"Kamu mungkin bisa membohongi kedua mertuamu, tapi aku tidak buta untuk melihat sikap palsu Evan terhadapmu."
"Itu bukan urusan, Paman," sahut Rieta membalikan badan, kembali membuka pintu mobil yang ternyata masih terkunci.
"Buka pintunya, Paman. Aku bisa terlambat," kesal Rieta.
"Apakah dia pernah melakukan kekerasan terhadapmu?" tanya Arlan tiba-tiba.
"Apa yang Paman bicara-"
"Aku tidak akan bertanya apakah dia pernah menyentuhmu atau belum, karena aku sudah tahu jawabannya," potong Arlan cepat. "Tapi, katakan padaku, apakah dia pernah melakukan kekerasan?"
Pertanyaan itu menusuk telak di hati Rieta. Ia membisu, tidak tahu bagaimana harus menjawab. Jika itu di depan mertuanya, ia bisa segera memberikan jawaban, tetapi kenapa di depan Arlan lidahnya terasa begitu kelu?
Perlahan, tangan Arlan terulur, menyentuh pipi Rieta dan membelainya lembut.
"Matamu terlalu jujur untuk menutupi apa yang terjadi. Tanpa dikatakan pun aku bisa menebak apa yang terjadi antara kamu dan Evan. Dia tidak mencintaimu dan kamu tidak mencintainya," ucap Arlan lagi seolah mengerti apa yang tengah Rieta pikirkan.
"Dia bersikap manis padamu hanya ketika berada di depanku atau kedua orang tuanya, dan bersikap sebaliknya ketika berada di kamar, apakah aku salah?"
Rieta kian membisu, ia bahkan tidak menghindar ketika tangan Arlan menyentuh pipinya. Aroma maskulin dari Arlan justru mampu menenangkan hatinya.
"Tidakkah kamu bertanya-tanya, mengapa pernikahanmu masih disembunyikan di depan publik? Dan mengapa pernikahanmu hanya dilakukan secara hukum?"
Rentetan pertanyaan itu tak satupun bisa Rieta jawab. Ia sendiri juga bertanya-tanya mengapa. Ia hanya mengiyakan saja permintaan Tuan Marlan tanpa memperdulikan hatinya sendiri.
"Itu akan menjadi urusanku, Paman tidak perlu ikut campur masalah rumah tanggaku." ucap Rieta menepis tangan Arlan dari pipinya. "Buka pintunya," tekannya kemudian.
"Sudah terlambat." ucap Arlan kembali mengulurkan tangan untuk meraih dagu Rieta.
"Karena kau sudah menarikku masuk ke dalam lingkaran yang tidak kamu tutup rapat pintunya sejak kamu kembali."
"Apa maksud Pa- hempt..."
Kalimat Rieta tenggelam bersama dengan ciuman yang tiba-tiba Arlan berikan. Kedua matanya melebar saat ia merasakan sesuatu yang kenyal nan basah itu menempel di bibirnya, kedua tangannya berusaha mendorong dada Arlan, tetapi usahanya sia-sia.
Arlan menahan tengkuk Rieta saat ia menempelkan bibirnya di bibir wanita itu, memberikan gigitan kecil pada bibir bawah Rieta agar terbuka, lalu memperdalam ciuman saat kesempatan itu datang.
Kedua tangan Arlan tak tinggal diam, ia menahan kedua tangan Rieta yang mendorong dadanya, menguncinya di atas kepala wanita itu menggunakan satu tangan, sementara satu tangannya yang lain mulai mengusap lembut paha Rieta.
"Paman! Berhenti!"
Rieta kembali bersuara ketika Arlan melepaskan bibirnya sebelum kembali menciumnya, jantungnya berdetak cepat, tubuhnya mulai merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya saat tangan Arlan mulai masuk ke balik rok yang ia kenakan, mengelus paha dalamnya.
Rieta terus meronta, berusaha melepaskan diri. Tubuhnya mengeliat dengan harapan ia bisa menyingkirkan tubuh Arlan menjauh. Tetapi ia kalah tenaga. Hingga, ia terpikirkan satu-satunya cara yang bisa ia lakukan dengan memanfaatkan posisinya saat ini. Perlahan, perlawanannya mereda, cukup untuk membuat Arlan sedikit lengah, dan akhirnya...
"Shh...!"
Arlan mendesis, segera menarik mundur wajahnya hingga ciumannya pada Rieta terlepas, tetapi tetap tidak melepaskan kuncian tangannya pada Rieta.
"Kenapa menggigit lidahku?" protes Arlan.
Dada Rieta naik turun karena kesal, wajahnya merah karena marah. Tetapi hal itu justru membuat Arlan tersenyum senang. Karena dari ciuman ini ia bisa tahu bahwa ini adalah ciuman pertama bagi Rieta.
"Paman mesum! Lepaskan aku dan buka pintunya!" tekan Rieta dengan napas tidak stabil.
"Baiklah." Arlan melapaskan tangannya, kembali ke joknya sendiri dan membuka kunci pintu mobil.
Mendengar bunyi klik pada pintu mobil membuat Rieta segera membuka pintu mobil, melangkah keluar dan menutup pintu dengan kasar.
"Rie!"
Langkah Rieta saat akan menjauh dari mobil terhenti, tapi tidak berbalik.
"Rapikan penampilanmu atau orang-orang akan memberimu banyak pertanyaan," ucap Arlan mengingatkan.
Rieta tidak memberikan jawaban, melanjutkan langkahnya dengan tergesa sampai sosok Rieta menghilang dari pandangan Arlan yang masih berada di dalam mobil.
Arlan terkekeh pelan, mengusap bibirnya sendiri sembari membayangkan bibir manis Rieta serta wajah memerah wanita itu.
"Menggemaskan."
Arlan bergumam pelan, mencabut kunci mobil dan bersiap untuk keluar. Akan tetapi gerakannya terhenti saat netranya menemukan tumbler milik Rieta yang diberikan oleh Evan pagi ini tertinggal di mobilnya. Tangannya terulur meraih tumbler itu, membawanya keluar dari mobil dan melemparkannya ke tempat sampah tanpa ragu.
.
.
.
"Rieta, bibir kamu kenapa?"
Pertanyaan yang Rihana lontarkan sukses membuat Rieta segera menutupi bibirnya sendiri.
"Bibirmu sedikit bengkak," ucap Rihana lagi.
"Uhm.. Itu... se... serangga, ada serangga menggigit bibirku saat aku di basement," jawab Rieta menutupi kegugupan yang hatinya rasakan.
"Serangga?" ulang Rihana mengerutkan kening. "Menggigit bibir?" lanjutnya setengah tak percaya.
"Di basement? Kamu membawa mobil sendiri?"
Rieta menutup matanya sejenak, merutuki jawabannya sendiri yang tidaklah tepat. Ia selalu mengatakan datang ke kantor naik taksi ketika Rihana bertanya.
"Itu... aku meminta sopir taksi menurunkanku di basement. Aku penasaran dengan basemen kantor ini," jawab Rieta diakhiri senyum konyol.
"Apakah kakak membutuhkan sesuatu?" taya Rieta mengalihkan pembicaraan.
Rihana tertawa sambil menggelengkan kepala. "Ada-ada saja."
"Ini, ada laporan yang harus kamu kerjakan," lanjut Rihana sambil menyodorkan berkas pada Rieta.
"Usahakan selesai sebelum jam makan siang, setelah selesai bawa langsung ke ruangan Tuan Avalon untuk di tandatangani."
"Apa...!?"
. . . .
. . . .
To be continued...