NovelToon NovelToon
Kembalikan Cintaku Dokter

Kembalikan Cintaku Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cintapertama / One Night Stand / Konflik etika / Obsesi / Dokter
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEDATANGAN BU RINI, IBU MELISA

Melisa menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih tidak beraturan. Ia merapikan rambut Narendra yang berantakan, berusaha memberikan keyakinan lewat tatapan matanya meskipun hatinya terasa perih.

​"Mas, dengarkan aku," ucap Melisa lembut, membelai pipi suaminya. "Pekerjaan ini tidak akan lama. Majikanku bilang, aku hanya perlu membantu mereka selama 30 hari saja. Kontraknya hanya satu bulan."

​Narendra sedikit mengerutkan kening, menatap Melisa dengan rasa ingin tahu. "Hanya 30 hari? Kenapa sebentar sekali, Mel?"

​Melisa memaksakan senyum, mencoba terlihat antusias agar Narendra tidak curiga. "Iya, karena mereka hanya butuh bantuan ekstra saat masa transisi kepindahan mereka. Dan karena jam kerjanya yang sulit—menjaga bayi sepanjang malam—mereka memberiku bayaran yang sangat besar, Mas. Bayaran satu bulan itu sudah lebih dari cukup untuk menutupi sisa biaya rumah sakitmu dan modal kita untuk mulai lagi nanti."

​Narendra terdiam sejenak, tampak menimbang-nimbang. Ada rasa lega sekaligus beban di wajahnya. "Besar sekali? Berapa mereka membayarmu?"

​"Cukup untuk membuat kita tidak perlu berutang pada siapapun lagi," jawab Melisa cepat, menghindari angka nominal yang pasti. "Jadi, aku mohon padamu, Mas. Bersabarlah sebentar saja. Hanya 30 hari ke depan. Setelah itu, aku akan berhenti dan kita akan selalu bersama setiap malam."

​Narendra menghela napas panjang, lalu menarik tangan Melisa dan menggenggamnya erat di atas dadanya. "30 hari... Aku akan menghitung setiap harinya, Mel. Aku tidak suka kamu kelelahan seperti ini, tapi kalau memang itu bisa membuat kita tenang, aku akan mencoba mengerti."

​Narendra mencium punggung tangan Melisa lagi, kali ini lebih lama. "Terima kasih sudah berjuang untukku, Sayang. Maafkan suamimu yang tidak berdaya ini."

​Melisa hanya bisa tersenyum getir sambil mengangguk. Di dalam pikirannya, angka "30 hari" itu terus bergema. Baginya, itu bukan sekadar masa kerja, melainkan masa hukuman yang harus ia jalani bersama Harvey demi nyawa pria yang kini sedang memeluk tangannya dengan begitu tulus.

*

Pintu kamar VIP kembali berderit terbuka. Melisa menoleh, mengira itu Arneta yang kembali, namun jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat sosok wanita paruh baya dengan tas belanja dan wajah yang sembab berdiri di ambang pintu.

"Ibu?" suara Melisa tercekat.

Bu Rini melangkah masuk dengan cepat. Wajahnya yang kelelahan menunjukkan campuran antara rasa sedih dan amarah yang meluap. Ia mengabaikan sapaan lirih Melisa dan langsung menuju ranjang Narendra, melihat menantunya yang kini sudah sadar namun tampak sangat lemah.

"Narendra... Ya Allah, Nak," tangis Bu Rini pecah saat mengusap tangan menantunya itu.

Setelah beberapa saat menenangkan diri, Bu Rini berbalik dan menatap Melisa dengan tajam. Ia menarik lengan Melisa sedikit menjauh dari ranjang agar tidak terlalu mengganggu Narendra.

"Kenapa kamu tidak bilang, Mel? Kenapa Ibu harus dengar dari Bu Lastri kalau dia lihat suamimu didorong keluar dari ICU kemarin pagi?" tanya Bu Rini dengan suara tertahan, namun penuh tekanan. "Ibu ini orang tuamu! Bagaimana bisa kamu menyembunyikan hal sebesar ini?"

Melisa menunduk dalam, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga. "Maaf, Bu... Melisa tidak bermaksud begitu. Melisa hanya tidak ingin membuat Ibu khawatir, tensi Ibu kan sering tinggi. Melisa mau nunggu sampai Mas Rendra benar-benar stabil baru kasih tahu Ibu."

"Tapi ini bukan cuma soal sakit biasa, Mel! Ini koma!" potong Bu Rini ketus. "Tetangga-tetangga di rumah sampai bertanya-tanya kenapa rumahmu selalu kosong tiap malam. Ibu sampai bingung mau jawab apa!"

Narendra yang melihat keributan kecil itu mencoba menenangkan mertuanya. "Sudah, Bu... Melisa benar, dia hanya takut Ibu kepikiran. Yang penting sekarang Rendra sudah sadar."

Bu Rini mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan emosinya. Ia menatap Melisa yang masih tampak gemetar, lalu melihat ke sekeliling kamar VIP yang sangat mewah itu. Matanya menyipit penuh tanya.

"Lalu, dari mana uangnya, Mel?" tanya Bu Rini tiba-tiba, suaranya kini lebih rendah namun menyelidik. "Kamar ini, perawatan ini... Ibu tahu tabungan kalian tidak mungkin cukup untuk membayar rumah sakit semahal ini seharinya. Siapa yang menjamin semuanya?"

Melisa mematung. Pertanyaan ibunya adalah lubang hitam yang paling ia takuti. Ia melirik Narendra yang juga tampak menunggu jawabannya, lalu teringat pada sosok Harvey yang mungkin saat ini sedang memantau mereka dari kejauhan.

"Melisa... dapat bantuan, Bu. Dan Melisa sekarang bekerja sebagai pengasuh bayi di rumah orang kaya. Bayarannya besar karena kontrak khusus 30 hari," jawab Melisa dengan kalimat yang sama seperti yang ia katakan pada Narendra, berharap ibunya tidak akan bertanya lebih jauh.

Bu Rini menatap Melisa lama, seolah mencari celah kebohongan di mata putrinya. "Pengasuh bayi? Sampai bisa bayar kamar VIP? Mel, jangan macam-macam..."

Pintu kamar VIP itu kembali terbuka. Langkah kaki yang tegas terdengar saat Harvey masuk, diikuti oleh Arneta yang membawa catatan medis terbaru. Suasana yang tadinya penuh ketegangan antara Melisa dan ibunya mendadak berubah menjadi formal.

"Selamat pagi. Saya perlu melakukan pemeriksaan terakhir sebelum kita menyusun jadwal operasi perbaikan tempurung kepala Pak Narendra," ucap Harvey dengan nada dingin dan profesional yang menjadi ciri khasnya.

Namun, perhatian Harvey teralihkan saat matanya menangkap sosok Bu Rini yang berdiri di samping ranjang. Begitu pula dengan Bu Rini. Wanita paruh baya itu mematung, matanya melebar saat menatap dokter tampan di depannya. Ingatannya berputar ke masa beberapa tahun lalu, saat Harvey dan Melisa masih memiliki hubungan yang sangat dekat sebelum akhirnya Harvey menghilang dan Melisa menikah dengan Narendra.

"Dokter... Harvey?" gumam Bu Rini dengan nada tak percaya.

Melisa langsung menegang. Ia lupa bahwa ibunya mengenal Harvey. Jantungnya berdegup kencang, takut ibunya akan keceplosan di depan Narendra.

Harvey hanya memberikan anggukan kecil yang sangat formal kepada Bu Rini, seolah mereka tidak pernah saling mengenal secara pribadi. "Benar, Ibu. Saya dokter spesialis yang menangani menantu Anda."

Bu Rini menatap Melisa dengan penuh tanya, namun Melisa dengan cepat membuang muka. Kebingungan Bu Rini semakin memuncak saat ia mengingat biaya kamar VIP ini. Bagaimana bisa dokter dari masa lalu putrinya kini menjadi orang yang menangani menantunya?

Melihat kecanggungan itu, Arneta segera mengambil alih pembicaraan untuk menutupi situasi.

"Ibu tidak perlu khawatir mengenai administrasi," ujar Arneta sambil tersenyum ramah. "Mas Narendra sangat beruntung. Sebagian besar biaya operasi dan perawatan selama di ruang VIP ini ditanggung oleh yayasan rumah sakit. Dokter Harvey sendiri yang mengajukan nama Mas Narendra sebagai penerima bantuan prioritas karena kasusnya yang dianggap sangat kritis."

Narendra yang mendengar itu tampak terharu. "Terima kasih banyak, Dokter. Saya tidak tahu harus membalas budi Anda dengan cara apa."

Bu Rini masih tampak sangsi. Insting seorang ibu memberitahunya ada sesuatu yang tidak beres. Bagaimana mungkin seorang mantan kekasih yang dulu pergi begitu saja tiba-tiba muncul sebagai "malaikat penolong" yang menanggung biaya rumah sakit hingga ratusan juta?

"Yayasan?" tanya Bu Rini pelan, matanya beralih dari Harvey ke Melisa. "Begitu besarkah bantuan yayasan di sini sampai menantu saya bisa di kamar semewah ini?"

"Kami memiliki kuota khusus untuk kasus-kasus tertentu, Bu," potong Harvey tajam, tidak membiarkan Bu Rini menggali lebih dalam. "Sekarang, perawat Arneta akan menjelaskan prosedur operasi besok pagi. Nyonya Melisa, bisa ikut saya sebentar ke ruangan? Ada dokumen persetujuan operasi yang harus Anda tanda tangani sebagai wali sah."

Melisa mengangguk lemas. Ia tahu "menandatangani dokumen" hanyalah alasan Harvey untuk membawanya pergi dari jangkauan mata selidik ibunya.

***

Bersambung...

1
Dede Dedeh
oke lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!