Hidup dalam takdir yang sulit membuat Meta menyimpan tiga rahasia besar terhadap dunia. Rasa sakit yang ia terima sejak lahir ke dunia membuatnya sekokoh baja. Perlakuan tidak adil dunia padanya, diterima Meta dengan sukarela. Kehilangan sosok yang ia harap mampu melindunginya, membuat hati Meta kian mati rasa.
Berbagai upaya telah Meta lakukan untuk bertahan. Dia menahan diri untuk tak lagi jatuh cinta. Ia juga menahan hatinya untuk tidak menjerit dan terbunuh sia-sia. Namun kehadiran Aksel merubah segalanya. Merubah pandangan Meta terhadap semesta dan seisinya.
Jika sudah dibuat terlena, apakah Meta bisa bertahan dalam dunianya, atau justru membiarkan Aksel masuk lebih jauh untuk membuatnya bernyawa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hytrrahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Terluka (a)
"Sa, aku mau kamu jujur tentang keadaan anakku. Kenapa kalian menutupi hal itu dari aku, aku berhak tau, Sa. Aku mohon," lirih Vina melalui telepon seluler yang saat ini ada dalam genggaman Risa, wanita itu juga tak dapat menahan kesedihannya.
Tangisannya mengiringi suara, perih hatinya tak kunjung sampai pada sang buah hati kebanggaannya. Vina kecewa, ia ingin marah tapi pada siapa, mungkinkah pada dirinya sendiri?
Sentuhan di kedua pundak Risa membuatnya sedikit terkejut, Putra ada di sana, baru saja tiba dan malah melihatnya seperti ini. Untungnya pemuda itu tak banyak bertanya, ia cuma mendengar dan merekam dengan baik pembicaraan Risa bersama ibu kandung Meta. Faktanya, Putra mengetahui hal ini sejak awal dari Beni. Jadi dia tidak terlalu terkejut, hanya saja ikut merasa marah kepada Vina.
Mengatup rapat bibirnya sejenak, Risa mencoba mencari kekuatan. "Tau soal apa, Mbak? Nggak ada yang kami sembunyikan dari Mbak Vina, Meta baik di sini," tipunya sambil mengepalkan tangan, mencoba kuat dalam kebohongan.
"Enggak mungkin! Hati aku nggak tenang, Meta sama temannya udah berangkat ke Jakarta. Dia menyalahkan aku atas apa yang udah dia alami. Luka di tubuhnya itu kenapa, Risa?!"
Risa langsung tersentak mendengar pertanyaan bernada tinggi itu, ia tak akan pernah sanggup menceritakan kepada Vina alasan sebenarnya di sini. Karena Vina mungkin akan membawa Meta pergi, itu artinya Risa akan kehilangan anaknya lagi. Itu artinya ia akan sendirian kembali, tersiksa tanpa ada seorang pun di sisinya.
Selain itu, Risa tak bisa menceritakannya langsung kepada Vina, sebab jika Meta tak sependapat, ia akan dihabisi oleh Beni nantinya. Laki-laki berengsek itu akan selalu tahu perihal Meta dan dirinya, khawatirnya, Vina juga akan menanyakan hal tersebut kepada Beni. Ia tidak mau, tidak akan pernah bisa.
Enggak! Aku nggak bisa kalau bukan Meta sendiri yang ngomong sama Mbak Vina! jerit Risa dalam hati, ia bertengkar dengan pikirannya sendiri. Hatinya ingin menjadi malaikat, namun kepalanya meminta agar Meta dipulangkan kembali pada ibu kandungnya. Aku nggak berdaya, Mbak.
Melihat reaksi Risa yang terdiam sambil menahan tangisnya, Putra merampas ponsel di genggaman Risa dengan berani. Wanita itu pun terkejut, menatap Putra seolah bertanya kenapa.
Putra mengakhiri panggilan itu sepihak, kemudian mematikan ponsel tersebut agar Vina berhenti mengganggu. "Aku nggak suka Ibu kayak gini," ungkap cowok itu pelan.
"Putra, Ibu harus bagaimana? Ibu nggak mau Meta semakin tersiksa, makanya Ibu suruh dia untuk cerita ke mamanya. Tapi Meta justru menentang keputusan Ibu, dan Ibu nggak bisa jujur. Ibu takut Vina marah-marah sama Mas Beni, Ibu takut semua kejahatan Beni akan membuat Meta menjadi korban."
Perih sekali melihat Risa seperti ini, dadanya mendidih ingin membunuh Beni hidup-hidup. Putra mengusap air mata wanita itu, ingin menenangkan Risa.
"Aku yang akan tanggung jawab. Ibu sama Meta nggak perlu lari, aku akan menyelamatkan kalian. Aku janji!"
Tangis Risa semakin menjadi, isakannya semakin membuat Putra kesulitan untuk bernapas. Ia seperti ikut terikat sampai kedua matanya memerah dan memanas. Ia bersumpah akan membuat Beni menyesal. Tak lama setelah itu, Putra memeluk Risa, membiarkan wanita itu mencari ketenangan lewat dirinya.
Aku tau apa yang sebenarnya Ibu takutkan, Beni bersalah, Bu. Dia harus dihukum dengan seberat-beratnya! Tangan Putra mengepal kuat dibalik punggung rapuh milik Risa, menahan emosi semampunya.