Season1
Dita merupakan gadis cantik yang selalu di kucilkan keluarga nya, di saat pesta ulang tahun saudari tirinya bernama Sheila menjebaknya dengan mencampurkan obat perangsang di minuman Dita.
Nathan, seorang Ceo tampan yang banyak di kagumi oleh kaum hawa. Nathan yang menderita mysophobia yang alergi jika di dekati oleh wanita maupun di sentuh.
Sahabat nya bernama Daniel prihatin akan phobia Nathan hingga nekat memberi obat dan menyewa seorang pemuas nafsu.
Season ke 2
Menceritakan kehidupan dan perjalanan cinta dari twins L. Al yang gila dengan pekerjaan dan juga perfeksionis, sementara El kebalikan dari itu.
Lea, adik dari twins L yang sangat manja dengan IQ standar. Dia sangat mengagumi wajah pria yang berparas tampan, hingga banyak pria yang salah paham dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Karena Al mengalami sedikit cedera di lengannya, Nathan mambawa Dita dan twins L menuju rumah sakit milik keluarga Wijaya. Bara dan lilis yang mendengar informasi dari Dita yang menelfon, dengan segera berangkat menuju rumah sakit Wijaya.
"Kenapa mobil ini jalannnya sangat lamban!" gerutu Lilis.
"Bukan mobilnya yang lamban, tapi ibu sendiri yang tergesa-gesa, " ucap Bara yang fokus dengan setir mobil.
"Mulai besok gantilah mobil rongsokan ini, bahkan siput lebih cepat dari mobil tua mu, " sewot Lilis.
"Ini mobil sangat antik, walaupun begitu kecepatannya jangan di ragukan, " ujar Bara yang membanggakan mobil kesayangannya.
"Seharusnya mobil ini berada di peleburan besi, berhenti mengajak Ibu berbicara, " ucap Lilis yang terus mengomel di sepanjang jalan.
"Oh astagaaa....ada apa dengan Ibu? kenapa jadi menyalahkan aku? " batin Bara yang mengelus dadanya.
Sesampai nya di rumah sakit, Lilis dan Bara menghampiri Dita dan juga twins L. Lilis sangat sedih melihat wajah cantik Dita sedikit lebam, dia juga melihat keadaan lengan Al yang di perban. Dia menelusuri wajah twins L, meneliti setiap inci dari wajah tampan cucunya, "oh ya ampun....wajah mu sedikit lebam El, ketampanan mu berkurang 25 persen, " goda Lilis.
"Benarkah?? berikan aku cermin, " ucap El yang sangat antusias ingin mengetahui kondisi wajah tampan nan rupawannya.
Bara, Dita, dan Al menatap jengah dengan drama di hadapan mereka hadapannya, "kapan drama ini akan selesai? " gerutu Al.
"Eh, maafkan nenek yang melupakan mu, Al. Coba perlihatkan bagaimana luka yang di perban itu, " Lilis tersenyum ramah.
"Ayolah nenek, ini hanya luka kecil saja! jangan Memperbesarkan masalah. "
"TIDAK!! aku khawatir dengan keadaan kalian, ayo duduk di pangkuan nenek, " Al mengikuti instruksi dari Lilis.
"Ceritakan aksi heroik kalian kepada kami?" ucap Bara yang sangat bersemangat.
"Sayang sekali, papa tidak lihat bagaimana aksi keren kami melawan 20 para penjahat jelek itu, " El membanggakan kejadian di malam itu.
"Benarkah? bagaimana dengan senjata yang melekat di tubuh kalian? apa kalian memanfaatkan dengan baik? "
"Tentu saja Pa, " jawab Al.
****
Perjalanan yang melelahkan, hingga membuat tempat tidur sebagai sandarannya. Nathan merebahkan tubuhnya tanpa yang belum mengganti pakaian kantor,
Nathan memejamkan matanya, hingga pagi menjelang.
Novi memasuki kamar itu, berniat mengajak anaknya untuk sarapan pagi, pemandangan yang membuat matanya sakit, "dia tidur tanpa mengganti pakaiannya, " Novi mengeleng-gelengkan kepala seraya membuka gorden.
Sinar matahari yang menyeruak menusuk ke pori-pori, Nathan mengerjapkan mata yang tak tahan dengan silauan dari sinar matahari yang menembus jendela.
"Mama, aku masih mengantuk, " ucap Nathan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Bangun lah, ini sudah pukul delapan pagi. "
"Memangnya kenapa? masih ada Daniel yang mengurus semuanya, " ucap Nathan dengan setengah kesadarannya.
"Kamu lupa, siapa yang memecatnya dari kantor, " ujar Novi yang bertolak pinggang.
"Eh, mama benar. Tapi, dari mana mama tau? "
"Heh, mama ini adalah nyonya Wijaya, " ucap Novi dengan bangga.
"Hem."
"Kenapa kamu memecat Daniel? apa dia berbuat kesalahan yang sangat fatal?"
"Hem, kesalahannya tidak bisa aku maafkan"
"Apa yang dia lakukan?"
"Sudah, jangan menanyakannya lagi, aku ingin membersihkan diri setelah itu turun untuk sarapan, " Novi melihat anaknya yang pergi tanpa menjawab pertanyaan nya, "aku akan menanyakan ini langsung dengan Daniel, apa yang terjadi? biasanya mereka tidak pernah terpisahkan, " batinnya.
Keluarga Wijaya melakukan kebiasaan paginya, yaitu sarapan bersama keluarga, di meja makan hanya terdengar dentingan sendok dan garpu tanpa ada obrolan, semua berfokus pada piring masing-masing.
Selesai sarapan bersama, Nathan duduk di sofa sembari menonton tv, mata yang memandang tv dengan pikiran yang melayang. Tepukan pelan, membuyarkan lamunannya, "ada apa? ceritalah dengan papa. "
"Bukan apa-apa Pa, " kilah Nathan.
"Jangan membohongi papa mu ini, papa tau jika kamu sedang ada masalah dan menutupinya dari kami. "
Nathan menghirup udara sangat dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, "apa yang Papa lakukan jika mempunyai sahabat yang berkhianat? "
"Jangan bilang jika kalian bertengkar dengan masalah itu, " Wijaya menatap anaknya dengan dalam. Nathan mengangguk pelan seraya berkata "papa benar, Daniel mengkhianatiku. "
"Tidak mungkin Daniel melakukannya, papa tau bagaimana sifatnya. Dan bagaimana dia selalu di sampingmu, membantu dalam mengelolah perusahaan." Wijaya tidak yakin dengan ucapan dari putranya.
"Terserah jika Papa tidak yakin dengan ku. "
"Kenapa kamu masih bersantai di sini, kamu tidak ke kantor? " Wijaya mengerutkan keningnya.
"Seperti yang Papa lihat, aku sangat malas untuk ke kantor hari ini. "
"Yasudah lah, jika itu keinginan mu. Papa dan Mama mau pergi dulu, jaga dirimu. "
"Papa, aku bukan anak kecil lagi, " rengek Nathan yang tak terima, Wijaya terkekeh pelan saat melihat reaksi anaknya.
Nathan sangat bosan di mansionnya, jika pergi ke kantorpun dia sangat malas. Dia memutuskan untuk ke rumah sakit Wijaya, untuk melihat kondisi twins L.
Walaupun terkadang twins L membuatnya kesal, tetap saja dia merasa seperti ada magnet jika berdekatan dengan twins L.
Setelah bersiap-siap dengan pakaian yang non formalnya, Nathan melajukan mobil yang di kendarainya, menerobos beberapa kendaraan di depannya dengan sangat lihai.
Berjalan menuju koridor rumah sakit, membuatnya menjadi pusat perhatian bagi kaum hawa, mereka sangat terpesona dengan pemilik rumah sakit tempat mereka mencari nafkah.
Suara ketukan pintu yang terdengar nyaring membuat Dita dan twins L menoleh, "masuklah tuan. " Nathan memasuki ruangan dengan membawa beberapa keranjang yang di bawakan oleh para pelayan, dia menyerahkan sekitar 8 keranjang yang berisi cemilan dan juga buah-buahan.
Mata Al dan El seakan tidak berkedip, di tambah air liur mereka yang hampir menetes, "surga dunia. " El dan Al seakan buta dengan keadaan sekeliling. Tanpa banyak bicara, mereka memakan cemilan dan juga buahan itu membuat Nathan terkejut dan menganga yang melihat porsi makan twins L.
"Apa kalian cacingan? "
"Kami anak sehat," ucap Al yang memakan cake.
"Dan tidak cacingan, " tambah El.
"Apa perut kalian tidak akan meletus dengan porsi makan yang kurang wajar untuk anak seusia kalian. "
"Jangan mengomentari banyaknya porsi makan kami," ucap El yang menyeruput jus jambu. Nathan menghela nafas dengan kasar, lagi dan lagi dia kalah telak jika berbicara dengan twins L. Dita yang baru keluar dari toilet tak sengaja bertubrukan dengan Nathan, dengan cepat Nathan memegang pinggang Dita.
Mata yang saling menatap lama membuat twins L sedikit cemburu, " hei paman galak, lepaskan tanganmu di pinggang ibuku. Dasar tidak sopan, " omel El.
Mereka tersadar dan Nathan melepaskan tangannya dari pinggang Dita, hingga suasana menjadi sedikit canggung.
"Ada apa dengan jantungku?" batin Dita.
"Apa aku punya riwayat penyakit jantung?" Batin Nathan yang memegang dadanya.