Devan Artyom, sang pewaris sah Artyom Group, disingkirkan dalam konspirasi pembunuhan oleh kakaknya sendiri karena ambisi kekuasaan. Meski ia selamat, namun tidak dengan Ayahnya. Devan kemudian diasingkan dalam kondisi fisik dan mental yang hancur, termasuk ditinggalkan oleh tunangannya sendiri yang lebih memilih sang kakak yang telah berkuasa.
Di titik terendah dalam hidupnya itu, takdir mempertemukannya dengan seorang perempuan berambut keemasan yang menyelamatkan jiwanya dari kematian dan memberinya cahaya untuk hidup kembali, namun perempuan itu menghilang tanpa jejak.
Dialah Anna Isadora B, yang dibesarkan dalam kurungan seorang ibu yang kejam. Suatu hari ia kembali menerima janji kebebasan di atas kapal pesiar, namun nyatanya ia pun kembali diperjualbelikan.
Namun, takdir kembali mempertemukan Devan dan Anna tepat di saat Anna mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat ke tengah samudera. Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya?
💌DARK PSYCHOLOGICAl ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evrensya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Dari Masa Lalu (2)
Kali ini Anna benar-benar merasa lelah dan ingin mengakhiri semuanya. Toh pada akhirnya, kan, ia akan dipecat juga. “Tidak. Anda keliru menempatkan makna kebebasan yang saya maksud. Kebebasan bagi saya bukan soal merasa berhak mengubah tatanan yang dibuat orang lain hanya karena saya mampu melakukannya. Itu dua hal yang berbeda.”
"Pertama, saya memilih pekerjaan ini semata karena inilah jalan kebebasan saya. Sedangkan apa yang terjadi di ruangan ini bukan manifestasi kebebasan saya, itu murni profesionalitas. Saya melihat seorang pemimpin yang selalu dicitrakan sempurna, perfeksionis, absolut. Namun ruang pribadinya justru tidak merepresentasikan hal itu. Saya melihat ada ketimpangan.” Anna menjelaskan prinsipnya dengan cukup sederhana.
Devan hanya menyimak.
Anna melanjutkan. “Dan ketika saya melihat sesuatu yang bisa diperbaiki, dan saya merasa mampu memperbaikinya, saya memilih memberikan yang terbaik. Ini bukan karena saya merasa berhak, melainkan karena saya menghormati standar Anda sebagai Boss saya sendiri.”
“Jadi jangan satukan makna kebebasan saya dengan kesewenang-wenangan, kebebasan saya berhenti di hidup saya. Sementara pekerjaan saya, itu saya dedikasikan sepenuhnya pada Anda,” tutup Anna tegas, namun dengan nada yang sedikit kesal.
Dan di titik itu, Devan dipaksa mengakui semua ucapan Anna dari awal hingga akhir. Kata-kata 'kebebasan' yang Anna lontarkan mampu mengguncang seluruh jiwanya, membuatnya berhenti mempermainkan gadis itu.
Gadis di dekatnya ini, memang bukanlah sosok biasa. Ia memiliki kecerdasan visual, verbal, dan logis, bahkan mungkin setara dengannya. Ia dapat diandalkan. What an amazing girl.
“Aku akan memberimu sebuah tantangan lain,” ucap Devan kemudian. Ia ingin menguji lebih jauh kemampuan Anna yang sesungguhnya.
Kedua alis Anna terangkat. “Tantangan?”
“Nilai penampilanku, dari skala nol sampai seratus.” Kali ini Devan sudah tak tanggung-tanggung lagi.
Mendengar ujian itu, pak Ali tercengang. Bagaimana mungkin seorang Devan yang disegani semua orang, meminta penilaian penampilannya dari seorang pegawai rendahan? Seseorang yang bahkan tampak tak peduli pada penampilannya sendiri?
Anna tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan Devan dari ujung rambut hingga sepatu, potongan jas, pilihan warna, jam tangan, sepatu, hingga detail kecil tak luput dari ketajamannya. “Sebelas dari seratus,” katanya akhirnya.
Pak Ali hampir tersedak mendengar jawaban gadis cupu itu. “Berani sekali kau memberi nilai serendah itu!” seru Pak Ali tak tertahan.
“Saya hanya menjawab pertanyaan Boss dengan jujur,” timpal Anna, seolah sudah menduga reaksi itu akan muncul.
Bulu kuduk Pak Ali meremang. Baginya, ini sudah di luar nalar. Sejak tadi percakapan mereka terasa semakin tak masuk akal. Ia tak lagi mampu mengikuti logika yang dipertukarkan sedemikian rupa.
Sebelas dari seratus?
Angka itu membuat tubuh Pak Ali mendadak lemas sekaligus panas. Sebab seluruh kebutuhan fashion Tuan Devan hari ini adalah tanggung jawabnya. "Apakah aku akan dipecat gara-gara gadis itu? Dari mana datangnya orang seberani dan setidak tahu diri ini?" rutuknya dalam hati.
“Apa yang kurang dari penampilanku, sampai kau berani memberi nilai serendah itu?” tanya Devan. Ujung matanya sempat melirik Pak Ali, yang berdiri melempem seperti kehilangan tenaga.
“Sebelas untuk gaya berpakaian Anda, dan seratus untuk proporsi tubuh Anda,” jawab Anna lugas.
Devan hampir tak mampu menahan senyum lebar mendengar penilaian itu. “Apakah penampilanku ini sedemikian buruk?”
“Tidak buruk, hanya terlalu biasa," sahut Anna yakin.
"Jelaskan dengan detail," titah Devan.
"Vest look yang sederhana seperti ini tidak tepat untuk Anda. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan rompi dan kemeja polos yang Anda kenakan. Dengan tubuh Anda, hampir apa pun akan terlihat pantas." Anna menjelaskan tanpa ragu.
“Hanya saja, kombinasi hitam dengan lis abu, ditambah jam tangan perak, terlalu monoton. Terlebih untuk Anda, yang seorang penikmat seni sekaligus CEO perusahaan fashion. Penampilan ini bahkan tidak jauh berbeda dengan asisten pribadi Anda.” Anna mengisyaratkan ibu jarinya ke arah Pak Ali.
Wajah Pak Ali langsung pucat. "Tamatlah riwayatku. Sejak kapan aku menjadi tolok ukur? Bukankah sejak awal gadis itu yang diinterogasi? Kini justru nasibnya lah yang sedang dipertaruhkan. Keberuntungan macam apa yang dimiliki gadis itu sampai bisa membalikkan keadaan sejauh ini?
“Memang benar, outfit-ku hari ini diurus oleh asisten pribadiku. Stylist pribadiku sedang cuti. Itu sebabnya penampilanku tak jauh berbeda darinya. Sekarang katakan, menurutmu apa yang harus aku lakukan pada asistenku, jika hasil akhirnya hanya bernilai sebelas? Nilai itu cukup memalukan.
Pak Ali kian gelisah. "Dunia terlalu kejam. Apa iya aku harus berhenti melayani Tuan Devan hanya karena penilaian sewenang-wenang seorang wanita asing?"
“Boss, bagaimana jika selama stylist pribadi Anda cuti, urusan fashion Anda saya tangani sendiri. Dan biarkan asisten pribadi Anda tetap fokus pada tugas utamanya, mendampingi Anda. Dengan begitu, perannya tidak terbagi, dan ia bisa bekerja optimal seperti biasanya.” Hanya satu solusi dari Anna yang menempatkan semua orang pada posisi terbaiknya.
“Oke,” ujar Devan akhirnya. “Aku terima tawaranmu. Tapi dengan satu syarat, tunjukkan dulu padaku kemampuanmu.” Ia menatap dengan tatapan kemenangan.
Ucapannya itu terdengar ringan, seolah keputusan itu diambil tanpa banyak pertimbangan. Padahal syarat yang ia ajukan hanyalah pembungkus formalitas.
Faktanya, sejak Anna berani berdiri di hadapannya tanpa gentar dan tetap rasional, Devan sudah memutuskan bahwa ia tidak akan melepaskan perempuan itu begitu saja.
“Kalau begitu, bolehkah saya mengakses koleksi fashion Anda di ruang ganti?” tanya Anna, seolah kesepakatan itu sudah final.
"Silahkan." Devan tidak keberatan sama sekali, malah merasa antusias menunggu kejutan apa yang akan diberikan oleh Anna.
“Kalau begitu, biarkan saya menyiapkan sesuatu untuk Anda.” Tanpa ragu, Anna beranjak menuju ruang yang menyimpan koleksi fashion milik sang CEO perusahaan itu.
Di titik itu, Pak Ali tak menyangka bahwa gadis ini bisa melangkah sejauh itu. Dengan kata-kata, dengan kecerdikan, ia mendekati Tuan Devan tanpa terlihat memohon. Lebih buruk lagi, gadis ini memanfaatkan sisi paling berbahaya dari Boss besar, yaitu haus akan kesempurnaan.
Siapa sebenarnya gadis ini? Namun semakin lama Pak Ali memperhatikan, seperti ada ikatan tak kasatmata terjalin kuat antara Devan dan Anna, seolah keduanya berbicara dalam jiwa yang sama.
Namun satu hal yang luput dari pengamatan pak Ali, sejak awal, permainan logika itu hanya jalan untuk menjerat Anna. Karna semakin Anna menunjukkan ketajamannya, tanpa sadar, keberanian dan kecerdasannya sendiri sedang membawanya semakin dekat, semakin terikat, ke dalam dunia Devan.
Dan Devan… adalah tipe pria yang tidak melepaskan apa pun yang ia anggap layak dimilikinya.
Tak lama kemudian, Anna kembali dan berhenti beberapa langkah dari Devan. “Boss, saya sudah menyiapkannya di dalam. Silakan Anda memakainya.”
Devan yang masih duduk, memutar kursinya perlahan. “Mari kita buktikan kemampuanmu. Aku berharap kau bukan hanya pandai mengkritik, tapi juga mampu memenuhi standarku."
Ia pun bangkit, sosok yang menjulang itu kini melangkah mantap menuju ruang ganti.
Namun di ambang pintu, Devan berhenti. Ia menoleh setengah, tatapannya mengunci Anna dari balik bahu lebarnya.
“Tapi ingat satu hal, jika kau gagal, kau akan membayar mahal segalanya. Tidak ada kata maaf yang bisa menyelamatkanmu. Dan percayalah, bahkan tak ada tempat di dunia ini yang cukup jauh untuk menyembunyikanmu dariku, kau akan kusandera selamanya.” Ia tersenyum tipis seolah mengancam, padahal dibalik itu ada antusiasme yang tak mampu ia tahan.
Lalu ia pun masuk ke ruang ganti, meninggalkan kalimat itu mencabik kesadaran Anna. Dan di detik itu juga, ia langsung menyadari bahwa dirinya sudah terperangkap.
❤️❤️❤️
semangat buat kakak author