"Cinta bisa membuat sesorang menjadi lebih baik dalam hidupnya. Namun juga sebaliknya cinta dapat membuat seseorang menjadi lebih buruk dan berdampak negatif bagi dirinya juga bagi orang yang dicintainya." (Plato)
Cinta adalah anugrah dari yang kuasa, tak ada yang bisa menghindar dari kehendak-Nya. Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hamba-Nya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya.
"Cinta sejati itu memandang kelemahan, lalu dijadikan kelebihan untuk saling mencintai." (BJ. Habibie)
Sangat banyak kata-kata bijak tentang cinta, tapi tak satupun membuat gadis ini percaya tentang cinta. Keretakan rumah tangga orang tuanya membuatnya tak percaya dengan cinta. Perceraian orang tuanya membuatnya takut untuk jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bintun arief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Aku terus mencoba untuk melupakan perlakuannya terhadapku. Untuk pertama kalinya dia bersikap kasar kepadaku. Sakit hati? ya, tentu saja. Aku paling tidak suka dibentak, dan satu lagi aku tidak suka diatur. Siapa dia, seenaknya mau tau aku dimana, sedang apa, sama siapa!
Aku memilih untuk keluar dari mobil itu secepatnya. Ac dan pemutar lagu dalam mobilnya sengaja kumatikan untuk menghentikan ucapannya yang mulai "kearah sana." Sekarang aku mesti berpikir ulang. Apakah menerimanya dan melangkah menuju masa depan bersama adalah pilihan yang benar-benar tepat. Kuurungkan niatku untuk menjawab perasaannya itu.
\=\=\=\=
"Mau pakai gula putih atau merah, Kakak?" tanya pramusaji yang datang membawa buku menu ke meja itu. Adzka melayangkan pandangannya ke arah Juna yang memilih duduk diseberangnya bukan disebelahnya, tak seperti biasanya. Netra mereka bertemu, Juna langsung mengalihkan pandangannya.
"Saya pakai gula merah, Kak. Jeruk nya yang banyak ya. Esnya dikit aja. Banana crishpy topingnya campur, satu porsi!" ucap Juna tanpa melihat buku menu. Dia hanya melihat menu tambahan itu pada gambar yang melekat di setiap dinding.
"Kalau abang?" tanya pramusaji itu lagi.
"Samain aja."
"Oke, sebentar ya kak." pinta pramusaji itu pamit meninggalkan pasangan yang tampak sedang bermasalah itu.
Telepon Juna berdering, spontan ia mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Halo, Sayang!" suara dari seberang sana. Gadis itu mengerutkan alisnya. Benda pipih yang ia tempelkan di telinganya ia tarik kembali, melihat nama yang tertera dalam ponselnya.
"Hm ... napa!" ucapnya ketus.
"Lagi minum es ya, enak tu. Teganya aku gak di ajak!"
"Sok tau! kau dimana?" ucap Juna ketus
"Dihatimu!"
"Uweeek!" Juna menjulurkan lidahnya. Senyumnya mengembang mengingat kekonyolan orang yang tengah menelponnya.
"Lagi dimana sih, Chel? disini juga? gak ada tuh. Leherku sudah seperti jerapah ni celingukan!"
"Kangen, ya! baru aja ketemu tadi." suara tawa dari seberang sana seakan menular, membuat Juna juga tertawa. Seketika dia melupakan laki-laki dihadapannya yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Pramusaji datang dengan membawa pesanan yang tadi mereka pinta.
"Minum dulu!" ucap Adzka keras. Suaranya terdengar oleh Marchel dengan sangat jelas.
"Op, ada yang marah nih! ya udah, esnya jangan terlalu banyak! nanti amandelmu kumat. Aku sudah sampai nih. Selamat bersenang-senang adikku ketemu gede."
"Iya abangku yang sok gede." balas Juna absurd, bingung mau bilang apa.
Panggilan telepon itu sudah berakhir, keheningan kembali melanda.
"Sudah berapa lama pacaran sama, siapa namanya? Marchel!" Adzka membuka pembicaraan.
"Gak pacaran kok, Dok!"
"Gak pacaran kok sayang-sayangan." ketusnya
"Ih, apaan sih nih orang. Cemburu kok tetap ganteng!" gumam Juna sambil memakan buah kelapa yang dikerok kasar tersebut.
"Masa lalu, Dok. 5 tahun yang lalu."
"Oh, apa dia sudah menyelesaikan pendidikannya?"
"Sudah. Eh, apa dokter mengenalnya?"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan dokter, ini tidak dirumah sakit. Panggil aku Adzka saja, atau apapun yang membuatmu nyaman." masih dengan mode ketus
"Oh, baiklah aku panggil adek saja." Juna menggoda laki-laki dihadapannya. "Salah sendiri kenapa memberiku kebebasan itu." tawanya dalam hati
"Eh, kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau mengenalnya, Dek?"
"Cepat habiskan makananmu!"Adzka berdiri, merogoh kantong celananya, meninggalkan dompetnya tepat disebelah benda pipih milik Juna diletakkan. Dia meninggalkan Juna yang bengong menyaksikan tingkah dokter muda itu. Ekspresinya diluar dugaan Juna.
Adzka masuk kedalam mobilnya, menghidupkan mesin mobil tersebut. Juna setengah berlari menghampirinya, masuk kedalam mobil membawa satu styrofoam box berukuran kecil.
"Kau belum memakannya sama sekali, Adzka! Ini dibayar loh, bukan gratis."Juna memberikan kembali dompet milik Adzka.
"Uang-uang ku kok, kau yang repot. Sudah makan saja. Aku sudah tak berselera." mengambil box makanan itu meletakkannya diatas paha Juna.
"Sini aku suapin! aku kenyang. Maaf pak dokter yang gak mau dipanggil Adek." goda Juna.
"Dasar, orang aneh! sudah takdir, Bro. Aku lebih dulu dilahirkan daripada kau." lagi-lagi Juna berkata-kata dalam hatinya.
Adzka membuka mulutnya. Hampir lima menit dia membukanya namun tak ada yang masuk kedalamnya.
"Aaaa ... katanya mau nyuapain. Masuk lalat lah udah!"
Juna tersadar dari lamunannya, "Maaf, maaf. Kirain gak mau!" Juna memasukkan sepotong pisang bertoping coklat dan keju itu kedalam mulut Adzka.
"Ini sangat nyaman, memang benar kata orang. Makan dari tangan orang lain itu terasa lebih enak." Adzka tersenyum senang, imajinasinya mulai berkembang. "Aku ingin seperti ini tanpa dosa, Tuhan. Aku ingin dia jadi ibu dari anak-anakku nanti!" lirihnya sambil menghabiskan pisang crishpy yang memenuhi mulutnya.
\=\=\=\=\=
"Hai, Ma. Apa kabar!" Marchel mencium lembut pucuk kepala wanita paruh baya yang sedang duduk bersantai membaca majalah mode ditemani secangkir teh hijau dan satu piring camilan.
"Eh, anak mama sudah sampai. Mana Juna? katanya mau bawa dia kesini. Kamu tu ya, bohongin mama terus."
"Tadi ketemu sih, Ma. Beneran Marchel gak bohong. Dari Makassar kesini kami bareng. Satu pesawat lagi. Tapi sampai bandara dia sudah dijemput, Ma. Sepertinya Juna hanya bisa menjadi anak mama saja, tidak menantu." Marchel menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Nasi sudah menjadi bubur, Sayang. Supaya bubur itu bisa dinikmati kau tinggal memberinya sedikit santan, kerupuk, ayam dan bawang goreng. Mama sudah selalu mengingatkan mu kan! ikhlaskanlah ... dia berhak bahagia, Sayang. Bagaimana kalau kita mampir kerumahnya. Mama sangat merindukannya. Sudah sebesar apa dia sekarang?"
"Memangnya dia anak kecil, bertahun tak melihatnya dia jadi tumbuh besar lagi gitu! Mama ini ada-ada saja. Dia ya tetap jelek seperti dulu."
"Jelek-jelek begitu kau menyesal karena meninggalkannya kan?" Mama melirik Marchel yang menatap datar langit-langit ruangan itu.
"Sudah lah, Ma. Jangan bahas itu lagi. Marchel mandi dulu deh. Lengket!"
\=\=\=\=
"Sudah sampai mana, Ka?" suara dari seberang sana. Rudi menanyakan keberadaan mereka yang belum juga sampai ke kediaman Rudi. Waktu maghrib sudah hampir tiba.
"Ini sudah masuk gerbang komplek, Om." ucap Adzka
"Papa!" ucap Juna tanpa suara, hanya gerakan mulutnya saja, namun Adzka bisa mengartikannya dan menganggukan kepalanya.
"Kenapa gak telpon aku aja sih!" Juna memanyunkan bibirnya.
"Yang anaknya siapa, yang ditelpon siapa!" dia berbicara sendiri. Adzka tertawa geli melihat tingkah lucu gadis disebelahnya tersebut.
"Aku kan anaknya juga!" Adzka menjawab tanpa melihat ke arah Juna.
"Anak dari mana!!" Juna makin ketus.
"Anak mantu."
"Huh, lucu lucu lucu."
"Gue mah ogah, belum apa-apa udah ngatur-ngatur. Mau tau aja apa kegiatan sehari-hariku. Is ... enggak deh, Ka. Aku gak mau. Kau cari saja yang lain."
Deg!
"Apa dia menolakku?"
KNP SIH JUNA MSH GK PERCAYA CINTANYA ADZKA MA DY...
SECARA DY SNDIRI SDH TAU HNY KPD DY CINTA PERTAMA ADZKA , DN ADZKA TDK PRNH MNGISI HATINYA BUAT WANITA LAIN, KCUALI DY, JDI KNP MSH RAGU, HINGGA GK MAU DISENTUH SUAMI HINGGA NGAKU SDG HAID..
SAAT U TINGGALKN ADZKA, LO MSH BSA DKT MA MARCHELL MNTAN LO, SDGKN ADZKA TTP SETIA MNCINTAI LO, BETAPA SAKITNYA PERJUANGN ADZKA MNCINTAI LO, MAKANYA DY WAJAR POSSESIF.. KRN DY TAKUT KHILANGAN LO..
GK MIKIR KBHAGIAAN ANAK..
APALAGI MARCEL DISEBUTKN TURUNAN MANADO DN TIONG HOA, GK DIJELASKN OTHOR KYAKINANNYA APA....
DN LO SBAGAI MUSLIMAH. JGN LH BRHUBUMGN BEDA KYAKINAN DGN LO..
terimakasih untuk tulisan indah mu thor 💜💜🌹🌹🌹🌹🌹🌹