Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. PERTEMUAN DENGAN TETANGGA
Pada pagi harinya, setelah mereka kembali dari melihat rumah panggung, Rian sedang membantu Nenek Siti membersihkan pekarangan rumah ketika mendengar suara kaki berjalan di atas tanah yang keras. Mereka menoleh dan melihat sosok seorang pria berusia sekitar lima puluhan tahun dengan tubuh yang bongsor dan wajah yang ramah mendekat ke arah mereka. Pakaiannya yang sederhana dan sepatu sandal yang sudah aus menunjukkan bahwa dia adalah salah satu penduduk desa yang tinggal dari hasil bercocok tanam.
“Rian! Apakah benar-benarmu itu?” teriak pria itu dengan suara yang penuh kegembiraan, mempercepat langkahnya hingga bisa mencapai mereka. “Aku hampir tidak mengenalmu karena sudah lama tidak bertemu. Dan ini pasti anak-anakmu ya?”
Rian segera mengenalnya – Pak Soleh, tetangga lama yang tinggal di rumah sebelah ketika dia masih kecil. Pak Soleh dulu sering membantu ayahnya bekerja di sawah dan pernah mengajaknya berenang di sungai desa ketika hari libur tiba.
“Betul sekali, Pak Soleh!” jawab Rian dengan suara yang penuh dengan senyum, segera mendekat dan memberikan pelukan pada tetangga lamanya itu. “Aku tidak menyangka masih bisa bertemu denganmu di sini. Kabarmu baik saja ya?”
Pak Soleh mengangguk dengan senyum lebar, melihat sekeliling dengan ekspresi yang penuh dengan perhatian. “Aku baik-baik saja, Rian. Cuma saja melihat kamu kembali ke desa dengan membawa anak-anak membuatku ingin tahu apa yang telah kamu alami. Kakakmu sudah memberitahu aku sedikit tentang keadaanmu di kota. Sungguh menyakitkan hati mendengarnya.”
Dia kemudian melihat ke arah Hadian dan Alea yang sedang berdiri di belakang ayahnya dengan wajah yang sedikit malu namun penuh rasa ingin tahu. “Hai anak-anak,” ujarnya dengan suara yang hangat, mengeluarkan beberapa buah mangga dari kantong bajunya dan memberikannya kepada mereka. “Ini dari pohon mangga di pekarangan rumahku. Rasanya manis dan segar lho.”
Alea menerima buah mangga dengan senyum ceria, sementara Hadian mengucapkan terima kasih dengan sopan. Pak Soleh melihat kondisi rumah Nenek Siti yang cukup sempit dan perlahan mengerti bahwa mereka mungkin mengalami kesulitan dalam hal tempat tinggal, terutama dengan datangnya Rian dan anak-anak.
“Kamu tahu tidak, Rian,” ujar Pak Soleh dengan suara yang lembut setelah beberapa saat berdiri diam. “Rumahku memiliki sebuah bangunan tambahan di belakang pekarangan yang dulunya digunakan untuk menyimpan hasil panen. Aku sudah membersihkannya dan membuatnya cukup nyaman untuk dihuni. Jika kamu dan anak-anak tidak keberatan, kamu bisa tinggal di sana sementara waktu hingga kamu selesai memperbaiki rumah panggungmu.”
Rian merasa sangat terkejut dan terharu mendengar kata-kata itu. Dia tidak pernah berharap akan mendapatkan bantuan seperti ini dari siapapun, terutama setelah semua kesulitan yang mereka alami di kota. “Tidak mungkin, Pak Soleh,” jawabnya dengan rasa malu. “Kamu sudah sangat baik hati memberikannya padaku. Aku tidak ingin menyusahkanmu.”
“Tidak ada yang menyusahkan sama sekali, Rian,” balik Pak Soleh dengan suara yang penuh dengan kepastian. “Kita adalah tetangga dan keluarga besar di desa ini. Kita harus saling membantu satu sama lain, terutama dalam keadaan sulit seperti ini. Selain itu, aku juga punya beberapa makanan yang bisa kubagikan denganmu – beras dari hasil panen sendiri, telur dari ayam kampungku, dan beberapa sayuran dari kebunku.”
Tanpa memberikan kesempatan bagi Rian untuk menolak, Pak Soleh segera mengajak mereka untuk mengunjungi rumahnya yang terletak tidak jauh dari rumah Nenek Siti. Saat mereka tiba di rumah Pak Soleh, mereka melihat bahwa rumahnya adalah rumah kayu yang cukup luas dengan pekarangan yang penuh dengan tanaman sayuran dan buah-buahan. Di belakang rumah, sebuah bangunan tambahan yang terbuat dari kayu dan bambu berdiri dengan rapi, pintunya terbuka dan menunjukkan bahwa interiornya sudah dibersihkan dengan baik.
“Silakan masuk saja,” ujar Pak Soleh dengan senyum hangat, membimbing mereka masuk ke dalam bangunan tambahan itu. Di dalamnya, beberapa kasur empuk sudah disiapkan dengan rapi, beberapa lemari kayu kecil untuk menyimpan barang-barang, dan bahkan sebuah kompor kecil yang bisa digunakan untuk memasak. Dindingnya dihiasi dengan beberapa kain batik yang memberikan sentuhan hangat pada ruangan yang cukup luas untuk mereka tiga.
“Aku sudah menyediakan semuanya yang kamu butuhkan untuk sementara waktu,” ujar Pak Soleh dengan suara yang penuh dengan perhatian. “Air bersih bisa kamu ambil dari sumur di pekarangan rumahku, dan kamu bisa menggunakan dapur utama untuk memasak jika kamu mau. Aku tinggal sendiri saja di rumah utama, jadi tidak akan ada masalah sama sekali.”
Hadian dan Alea melihat sekeliling ruangan dengan mata yang penuh dengan kagum. Mereka tidak pernah berharap akan mendapatkan tempat tinggal yang nyaman seperti ini setelah semua yang mereka alami. Alea segera berlari ke arah salah satu kasur dan duduk di atasnya dengan senyum ceria. “Nyaman banget ya, Papa!” teriaknya dengan suara yang ceria. “Kita bisa tinggal di sini ya?”
Rian merasa mataharinya berkaca-kaca mendengar kata-kata putrinya. Dia melihat ke arah Pak Soleh dengan rasa terima kasih yang dalam tidak bisa diucapkan dengan kata-kata apa pun. “Terima kasih banyak, Pak Soleh,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Aku tidak tahu bagaimana cara membayar budimu ini.”
Pak Soleh mengangkat tangan dengan santai dan memberikan senyum hangat. “Kamu tidak perlu membayar apa-apa, Rian,” jawabnya dengan suara yang jelas. “Yang penting kamu dan anak-anak punya tempat tinggal yang nyaman dan bisa hidup dengan tenang di desa ini. Jika kamu benar-benar ingin membantuku, kamu bisa membantu aku bekerja di sawah atau kebunku ketika kamu punya waktu luang. Itu sudah cukup bagiku.”
Setelah itu, Pak Soleh membawa mereka ke rumah utamanya dan menunjukkan lemari yang penuh dengan makanan – beras dalam karung besar, ember penuh dengan telur ayam kampung, keranjang penuh dengan sayuran segar seperti bayam, kubis, dan cabai, serta beberapa botol minyak kelapa yang dibuat sendiri. Dia memasukkan sebagian besar makanan itu ke dalam keranjang dan memberikannya kepada Rian.
“Ini untuk kamu dan anak-anak,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan kasih sayang. “Aku tahu bahwa kamu mungkin kesulitan untuk mendapatkan makanan di awal-awal datang ke desa. Semoga makanan ini bisa membantu kamu sampai kamu bisa berdiri sendiri.”
Rian menerima keranjang makanan dengan hati yang penuh dengan rasa syukur. Dia menyadari bahwa di desa ini, rasa kebersamaan dan saling membantu masih sangat kuat – sesuatu yang sudah mulai hilang di kota. Meskipun dia dan anak-anak telah melalui banyak kesulitan dalam hidup, namun bantuan yang diberikan oleh Pak Soleh membuatnya merasa bahwa ada harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.
Saat mereka kembali ke rumah Nenek Siti dengan membawa makanan dan barang-barang yang akan mereka bawa ke tempat tinggal sementara milik Pak Soleh, mereka melihat beberapa tetangga lain yang sudah mulai menyadari kedatangan mereka. Beberapa dari mereka datang dengan membawa makanan atau barang-barang kecil yang bisa mereka berikan, menunjukkan bahwa rasa kekeluargaan di desa ini masih sangat erat.
Hadian dan Alea membantu ayahnya membawa barang-barang kecil, senyum terus terpampang di wajah mereka. Mereka sudah mulai merasa bahwa desa ini adalah tempat yang benar-benar bisa mereka sebut sebagai rumah – tempat di mana mereka diinginkan dan dibantu oleh orang-orang yang tidak mengenal mereka dengan baik namun tetap mau memberikan bantuan dengan tulus.
Di malam hari itu, mereka makan malam bersama dengan Nenek Siti dan Pak Soleh di rumah Pak Soleh. Makanan yang sederhana namun lezat – nasi putih dengan tumis sayuran, telur balado, dan ikan bakar yang dibawa oleh tetangga lain – terasa lebih nikmat daripada makanan mewah apa pun yang pernah mereka makan di kota. Suasana makan malam yang penuh dengan candaan dan cerita tentang kehidupan di desa membuat mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian lagi dalam menghadapi segala kesulitan hidup.
Setelah makan malam selesai dan anak-anak sudah tertidur lelap di tempat tinggal sementara mereka, Rian dan Pak Soleh duduk bersama di teras rumah Pak Soleh melihat langit malam yang penuh dengan bintang-bintang. Mereka berbicara tentang rencana Rian untuk memperbaiki rumah panggung dan tentang bagaimana Pak Soleh bisa membantunya dengan mendapatkan bahan-bahan bangunan yang murah dari desa atau dari tetangga yang memiliki usaha kayu.
“Kamu tidak perlu khawatir tentang apa-apa, Rian,” ujar Pak Soleh dengan suara yang penuh dengan dukungan. “Kita semua di desa ini akan membantu kamu memperbaiki rumah panggungmu. Kita bisa bekerja bersama-sama pada hari libur atau setelah selesai bekerja di sawah. Dengan kerja sama kita semua, rumah itu akan segera kembali menjadi tempat tinggal yang layak bagi kamu dan anak-anak.”
Rian mengangguk dengan senyum yang penuh dengan harapan. Dia tahu bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan dan banyak rintangan yang harus dia hadapi. Namun dengan bantuan dari Pak Soleh, Nenek Siti, dan tetangga desa lainnya, serta dengan semangat yang tinggi dari anak-anak, dia merasa bahwa dia memiliki kekuatan untuk mewujudkan impiannya – untuk memiliki rumah sendiri dan memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga kecilnya.