NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu / Kumpulan Cerita Horror
Popularitas:48.8k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 032 : Gerbang Terakhir Bavaria

Suasana di kamar penginapan pagi itu lebih panas daripada tungku perapian yang menyala di sudut ruangan.

Aroma minyak telon masih menyengat dari arah sofa tempat Marsya berdiri dengan berkacak pinggang. Meski hidungnya masih memerah dan suaranya sengau, semangat bertarungnya telah kembali seratus persen.

​"Pokok e aku melu, Mbak! Opo arek iku? Berpendidikan kok koyok ngunu! Uwes ditulong malah mentung!" omel Marsya meledak-ledak. Ia berjalan mondar-mandir di depan Rachel yang sedang merapikan syalnya di depan cermin.

​(Pokoknya aku ikut, Mbak! Apa-apaan orang itu? Berpendidikan kok seperti itu! Sudah ditolong malah memukul/berbuat jahat!)

​"Setinggi-tingginya sekolahnya, kalau mulutnya kayak sampah gitu, mending tak 'sikat' pakai minyak telon ini sekalian!" lanjut Marsya masih berapi-api.

​Bella yang sedang merapikan kamera polaroidnya mendengus keras, setuju dengan setiap kata Marsya.

Sementara Rara, meski hanya diam, matanya memancarkan kekesalan yang dalam. Melissa yang berdiri di samping kursi roda Rachel menepuk bahu sang sepupu.

​"Dia nggak pantas dibantu lagi setelah ucapannya itu! Kamu tahu, dia begitu berpendidikan hingga setara dengan Adio. Tetapi, mulut dan hatinya tidak berpendidikan. Lebih baik.."

​"Lebih baik diselesaikan secara cepat, lalu kita pulang!" jawab Rachel memotong dengan nada yang tenang namun berwibawa.

​Jawaban itu membuat Melissa dan yang lainnya menghela napas panjang. Di balik pintu yang sedikit terbuka, Adio tersenyum bangga.

Ia kagum melihat betapa bijaksananya Rachel; gadis itu seolah tidak punya ruang untuk menyimpan dendam.

​"Aku mau ikut, Mbak! Tak jambak beneran rambutnya nanti!" Marsya masih meronta saat Rachel mulai mendorong kursi rodanya ke arah pintu.

​"Rara, Bella, tolong jaga Marsya. Dia masih masuk angin," perintah Rachel.

​"Mbak Hel! Mbak! Aku bukan anak kecil! Dancuk ncen, Sarah iku!" pekik Marsya frustrasi saat kedua tangannya dipegangi oleh sepupunya agar tidak nekat ikut.

​(Dancuk memang, Sarah itu!)

​Saat pintu terbuka, Adio sudah menunggu di sana. Ia tersenyum, lalu segera mengambil alih kemudi kursi roda untuk pergi bersama Rachel menuju kediaman Sarah.

Beberapa menit berlalu mereka habiskan untuk menempuh perjalanan. Hingga sampailah mereka berdua di kediaman Sarah.

​Suasana rumah itu begitu sepi. Sarah duduk bersimpuh di depan peti jenazah Kevin. Begitu Rachel masuk, Sarah hanya menunduk malu.

​"Mari kita lakukan sesuai janjiku," ucap Rachel pelan.

​Rachel meminta Sarah duduk berhadapan dengannya. Mereka saling menggenggam tangan satu sama lain dan terpejam.

Rachel mulai merapalkan mantra kejawen dengan nada yang rendah namun bertenaga. Detik ketika doa itu usai, sebuah pusaran ghaib menarik sukma mereka.

​Sarah tersentak. Ia kini berada di sebuah alam yang dipenuhi cahaya putih keemasan. Di sekelilingnya, beberapa harimau raksasa—Maung—berdiri menjaga jarak, serta barisan Senopati Maung dan Senopati Cakar yang bersiaga tepat di belakang mereka.

​Di depan mereka, berdiri tiga sosok agung. Seorang kakek tua berpakaian serba putih, dialah Simbah Gautama.

Di sampingnya, seorang pria paruh baya mengenakan blangkon dengan senyum teduh, Abahnya Rachel. Dan yang paling memukau, seorang wanita yang duduk di atas singgasana megah dengan pakaian ratu kerajaan Jawa kuno—Nyai Ratu, sang penguasa Jawadwipa.

​Rachel segera membungkuk memberi hormat pada tiga leluhurnya.

"Simbah, Nyai Ratu, Abah... saya memohon izin dan bantuan. Bawakan jiwa Kevin ke sini untuk perpisahan terakhir."

​Nyai Ratu tersenyum agung dan mengangguk. Beliau mengibaskan tangannya, dan dari kabut cahaya, muncul sosok Kevin. Ia tampak sangat terang, bersih, dan tidak ada lagi luka atau mata hitam yang mengerikan.

​"Kevin..." Sarah berbisik, air matanya tumpah seketika.

​"Kakak..." suara Kevin terdengar lembut. Kevin melangkah mendekat namun ia menatap Sarah dengan serius.

"Kakak, jangan pernah menyalahkan Rachel atas apa yang terjadi padaku. Semua ini adalah takdir, Kak. Tidak ada satu pun manusia yang bisa merubahnya."

​Kevin menoleh ke arah Rachel dan menunduk hormat.

"Terima kasih, Rachel. Terima kasih atas semua yang sudah kau lakukan."

​Kevin kemudian memeluk Sarah erat. Dalam dekapan itu, Kevin berbisik,

"Selamat tinggal, Kakak... Aku sudah tenang."

Perlahan, tubuh Kevin memudar menjadi butiran cahaya dan menghilang sepenuhnya dari alam tersebut.

​Kembali ke raga mereka di dunia nyata, Sarah menangis sesenggukan. Saat Rachel dan Adio hendak berpamitan pergi, Sarah menatap keduanya dengan tatapan yang sangat dalam. Adio menyadari itu dan hanya menaikkan salah satu alisnya.

​"Bolehkah aku memeluk kamu dan dia untuk terakhir kali?" tanya Sarah lirih.

​Rachel mengangguk seraya tersenyum tipis. Sarah memeluk Rachel dengan erat.

"Terima kasih, Rachel."

Tak lama, ia memeluk Adio.

"Maafkan aku, Yo."

​Setelah pelukan terlepas, Sarah mundur dan menatap keduanya lagi.

"Masa lalu memang gak bisa diputar lagi, Yo. Dari dulu, sampai saat ini pun aku masih Sarah yang dulu. Seandainya dulu keputusanku tidak melepasmu... mungkin ceritanya beda!"

​Sarah menatap Rachel dan tersenyum tulus.

"Tapi, dia lebih baik dari aku! Bukan kesetaraan profesi yang menyamakan dia denganmu. Tetapi hati kekasihmu yang sekarang, jauh lebih bersih daripada aku. Dia sama sepertimu, Adio! Berbahagialah, terima kasih untuk waktu, bantuan, dan tamparan kenyataan yang halus. Aku menerimanya!"

​Adio dan Rachel tersenyum. Sarah berbalik dengan bahu yang bergetar karena tangis. Rachel menatap punggung itu dengan senyum getir, memahami betapa perihnya melepaskan orang yang dicintai. Adio menyentuh bahu Rachel dengan lembut.

​"Mari pergi, sayang!" lirih Adio. Rachel mengangguk, memberikan waktu sendiri bagi Sarah.

​Sore menjelang petang, Adio membawa Rachel ke sebuah tempat paling romantis yang bisa melihat kota Jerman dari ketinggian.

Di tengah butiran salju yang turun dengan cantik, Rachel mendadak menatap pagar balkon yang terbuat dari kayu kokoh.

​"Yo... aku pengen berdiri sebentar aja," ucap Rachel tiba-tiba.

​Adio tertawa kecil.

"Loh, kamu kan lagi 'cuti' kakinya, sayang. Yakin?"

​"Iya, aku mau berdiri. Mau ngerasain salju dari posisi yang lebih tinggi!" Rachel membalas dengan nada manja sekaligus jenaka.

"Masak kakek-kakek kayak kamu nggak kuat ngangkat aku?"

​"Eh, sembarangan! Aku ini kuat banget!" Adio menyanggupi tantangan itu.

​Adio berdiri di belakang Rachel, ia menyelipkan tangannya di bawah ketiak Rachel dan mengangkat tubuh gadis itu perlahan.

Kedua tangan Rachel bertumpu kuat pada kayu balkon. Napas Rachel terkesiap saat ia akhirnya bisa menatap kemegahan kota Jerman dengan posisi berdiri, meski sepenuhnya disokong oleh tubuh Adio.

​Adio menempatkan dagunya di bahu Rachel, memeluknya dari belakang agar Rachel tidak goyah.

"Hel... aku bangga banget sama kamu hari ini. Bangga bisa dapetin kamu. Aku sayang banget sama Rachel-ku ini."

​Wajah Rachel seketika bersemu merah di tengah cuaca dingin.

"Dih, gombal terus! Hati-hati ya, kalau aku jatuh, kamu yang tak tarik duluan!" canda Rachel menutupi rasa haru.

​"Aku serius, Sayang. Aku beneran beruntung punya kamu," bisik Adio lagi tepat di telinganya.

​Rachel tertawa kecil.

"Iya, iya, dasar bawel! Udah, aku malu!" Rachel sedikit memaki dengan candaan khasnya.

​Namun, ketika Rachel menoleh, pandangan mereka bertemu dan terkunci. Tawa jenaka itu mendadak pudar.

Di bawah langit malam Jerman yang indah dan guyuran salju, Adio memajukan wajahnya. Ia mencium lembut bibir Rachel, sebuah ciuman hangat yang membekukan waktu di tengah dinginnya Bavaria.

1
Chimpanzini Gagal Hiatus
serem banget. saking banyaknya mayat bisa jadi tanah pijakan.
Chimpanzini Gagal Hiatus
samudra mematuhi kehendakku
Chimpanzini Gagal Hiatus
wihh ilusinya sama kuatnya kek karakter Huli Jing di novelku/Proud//Proud/
Chimpanzini Gagal Hiatus
langsung refleks megang perut 😭😭
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
wah gagal teguh mau hibernasi ehh ada tugas mendadak 🤭🤭
duh gemesin si arka tau2an Rachel ada didepan
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
ngeri woii kalo jadi aelke jelas aja dia ketakutan.
untung yg hampir nabrak Aldo jadi seenggaknya kamu sedikit aman sekarang
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
wkwkwk Adio ihh nyuri kesempatan lagi yaa 🤣🤣
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
pas baca judulnya udh penasaran siapa lagi arwah nya , oh Bagus lah kalo ternyata orang tuamu tami
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
yeee akhirnya cak Dika melakukan niatnya buat ngelamar rara🤭🤭
wah kemana pak dokter sama pasiennya 😄
etdah Tami kamu yaa blak2an banget
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
aihh habis adegan tegang menegangkan plus serem dikasih yang manis2 gini meleleh lahh
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
sumpah menegangkan banget, untung mas suhu sama bela bisa cepat bawa Tami .
semoga nanti Tami bisa ketemu orang tua nya berkat bantuan Rachel ya
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
ini yakin kan Tami bakal selamat enggak bakal denger suara aneh2 lagi
merinding bayangin kematian toby 🥺
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
isss tamii ini gegara kecerobohan mu juga , untung Rachel bangun dan segera datang menolong mu
CACASTAR
yakin banget deh di lokasi angkernya setengah ampun
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
keren lahh Tami punya kekuatan juga ternyata, wah Bella siap2 kamu beranak banyak sama mas suhu🤣🤣
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
Wah ada 3 pasangan nih yg mau meresmikan status mereka
jadi kalau Rahel nikah dy harus melepaskan kekuatan nya
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
cie cie cie Dio
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
hahahah barend ngapain kamu mau belajar dewasa pake cerutu gitu nya 🤣🤣
Tami kan bener dia random banget
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
ngeri ngeri
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
ternyata di ambil dr kisah nyata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!