Paris, 2021.
Tepat lima tahun Wulandari Laksana, 32 tahun, tinggal di kota yang dijuluki La Ville Des Lumiéres (kota cahaya) ini.
Dan tepat di tahun ke lima ini, pernikahannya dengan pria Perancis bernama Pierre, berakhir.
Hancur, tentu saja. Hidupnya seperti berada di titik nadir.
Namun, dia berusaha untuk mengumpulkan kepingan - kepingan hatinya yang hancur, dan mencoba bangkit kembali.
Berbekal kelulusannya dari Universitas Sorbonne, dia melamar menjadi guru Bahasa Inggris di sebuah SMA di pinggiran Paris.
Di sanalah dia bertemu dengan seorang murid bengal, 16 tahun, Maximilian Guillaume, yang membuat hidupnya kembali kacau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Magnifica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Lonely Heart And Angry Mind.
Wulan yang tengah berbincang dengan Adrienne di pintu utama sekolah buru - buru berpamitan dengan rekan sesama Gurunya itu begitu melihat Max dan Etienne melintas di hadapannya.
"Max ... hei! Kita harus bicara." Wulan menempatkan posisinya di antara Max dan Etienne. "Etienne, aku pinjam temanmu, ya."
"Hmmm ... okay, Miss," sahut Etienne seraya menggaruk rambut keritingnya.
Wulan mencengkeram lengan Max dan menariknya keluar gerbang sekolah.
"Mau bicara di mana, Miss? Biar aku yang memilih tempatnya," kekehnya sembari melancarkan senyum jahilnya.
Wulan meraih hoodie pemuda itu dan menariknya ke belakang. "Kau pikir ini kencan?" hardiknya sebal.
"Aku maunya begitu," jawab Max dengan santainya.
"Jangan bercanda, Max!" pekik Wulan geram. Ia kembali mencengkeram lengan Max. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Wulan membawanya menjauh dari area sekolah.
"Auch, sakit, Wulan. Bisa kau lebih lembut sedikit?"
Wulan tak menggubris keluhan Max. Ia terus berjalan menarik lengan anak itu menuju sebuah taman di area pemukiman penduduk.
Parc De Brimborion, begitu yang tertulis di papan nama yang ada di pintu masuk taman.
"Duduk!" seru Wulan seraya menekan kedua bahu Max dan memaksanya duduk di sebuah kursi semen. Ada satu meja dan tiga kursi yang mengelilingi, termasuk kursi yang tengah diduduki oleh Max.
"Vas - y, explique moi (ayo, jelaskan padaku)!" Wulan melipat kedua lengannya di depan dada.
Max tak langsung menjawab. Ia menundukkan kepala sembari mengetuk - ngetukkan jemarinya ke atas meja.
"Max?"
"Aku tidak suka kau dekat - dekat dengannya."
"Alasannya?"
"Dia brengsek!"
Wulan memutar bola matanya. "Kenapa kau berpikir dia itu brengsek? Apa alasannya? Ada masalah apa kau dengan Damien?" cecarnya.
"Karena ...." Kata - kata Max menggantung. Ia mengangkat dagunya, lalu menatap Wulan lekat. "Cari saja pria lain, Miss ... jangan Damien!"
Wulan geram bukan main. Ingin rasanya mencabik - cabik anak bengal di hadapannya ini dengan kuku - kuku panjangnya.
"Memangnya aku pernah bilang kalau aku tertarik dengan Damien?" Wulan menepuk jidatnya keras. Untuk apa ia mengatakan hal itu pada Max. Dalam hati ia memaki dirinya sendiri.
Max menyunggingkan senyum lebarnya. "Jadi, masih banyak kesempatan untuk pria lain mendekatimu, bukan?"
"Max!" sergah Wulan. "Jangan mengalihkan topik pembicaraan!"
"Aku sudah mengatakan yang harus kukatakan, Miss."
Wulan menangkup kedua pipinya dengan telapak tangan. Lalu perlahan menjatuhkan kepalanya ke atas meja dan mengacak rambutnya kasar.
"Wulan ...."
Max menyentuh lengan Wulan lembut. "Aku berjanji tidak akan mengganggu Damien di depanmu." Tapi di belakangmu aku akan menghajarnya.
Wulan mendongak. Masih dengan posisi badannya menumpu ke atas meja. "Benar kau tidak ada masalah serius dengan Damien?"
Max mengangguk. Telapak tangannya masih berada di atas lengan Wulan dan mengelusnya. Membuat Wulan segera menarik lengannya dan memperbaiki posisi duduknya dengan elegan. Ia berdehem sekali dan merapikan syal di lehernya.
"Ya sudah," ujarnya seraya beranjak dari duduknya.
"Mau kemana, Miss?"
"Pulang," jawab Wulan sembari membalikkan badan dan melangkah keluar dari taman.
"Hei, kau sudah menculikku dan meninggalkanku begitu saja seperti ini?" Max telah berjalan di sampingnya. Menunjukkan cengiran tengilnya yang Wulan akui dalam hati sangat menggemaskan. "Kau harus bertanggung jawab, Miss."
"Kau mau apa?" ujar Wulan sembari memukul lengan atas pemuda itu.
Max meringis. Ia mengikuti langkah Wulan yang cepat menuju stasiun bawah tanah.
"Makan siang?" tawar Max.
"Aku sudah makan siang dengan Damien."
"Minum di bar?"
Wulan memukul ujung kepala Max gemas. "Anak Nakal!"
"Boleh mampir ke apartemenmu?" tanya Max sembari menuruni tangga stasiun bawah tanah sembari badannya masih menghadap pada Wulan.
"Tidak boleh!" tegas Wulan. Lalu berjalan mendahului Max menuju peron. Setelah sebelumnya melewati pintu palang otomatis.
Keduanya kini berdiri di sisi rel menunggu kereta datang. Membaur dengan calon penumpang yang lainnya.
"Miss ... boleh, ya?"
"Apa?"
"Mampir ke apartemenmu." Max memasang wajah memohonnya. Ia mengerjap - ngerjapkan mata birunya yang begitu jernih.
Wulan mendecak sebal. "Ponselmu berdering," ujar Wulan seraya menunjuk kantong jaket Max.
Max segera mengambil ponsel dari sakunya dan memeriksa layar.
Eloise.
Ia mengurungkan niatnya menekan tombol digital berlogo telepon berwarna hijau di layar ponselnya ketika kereta telah berhenti di depannya.
Begitu masuk melalui pintu otomatis, ia menjawab telepon Eloise seraya mengambil tempat duduk di sebelah Wulan.
"Salut (halo), Eloise."
Wulan menoleh sekilas pada Max ketika mendengarnya menyebut nama Eloise.
"Max, Sorbonne akan mengadakan pameran seni rupa dua minggu lagi, terbuka untuk umum. Aku pikir akan bagus kalau kau ikut berpartisipasi. Banyak orang penting yang akan diundang." Suara Eloise dari seberang, terdengar jelas oleh Wulan.
"Oais, oais, bien súre (ya, ya, tentu saja)." Max menjawab dengan antusias.
"Trés cool (wah, asyik), kalau begitu kapan kita bisa bertemu untuk membicarakan teknisnya lebih lanjut?"
Suara Eloise masih terdengar jelas oleh Wulan. Ada rasa aneh menyeruak di dalam dadanya ketika Max berucap. "Aku akan mengabarimu, Eloise."
Max menutup telponnya dan memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya. Ia menoleh pada Wulan yang terdiam dan menatap lurus ke depan.
"Miss ...."
Panggilan Max bertepatan dengan suara pengumuman pemberhentian kereta. Wulan beranjak dari duduknya dan menoleh sekilas pada Max yang menatapnya penuh harap.
"Ciao, Max," ucap Wulan sembari membenarkan letak tas cangklong di pundaknya dan melangkah keluar pintu otomatis begitu kereta telah berhenti sempurna.
Max hanya bisa memandangi kepergian Ibu Gurunya itu dengan perasaan tak menentu. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kereta.
Gerbong yang ramai oleh penumpang terasa sepi baginya.
***
STALINGRAD, SURESNES.
Max mengetuk pintu warna abu - abu bernomor lima puluh delapan itu pelan. Lalu berjalan mondar mandir dengan gelisah menunggu seseorang membukanya dari dalam.
Setelah beberapa menit menunggu, pintu itu terbuka perlahan. Dilihatnya wajah sembab Nyonya Dasia Kareem yang memaksakan senyum untuknya.
"Maman (mama) ...." Ia tercekat. Sepertinya Ibu angkatnya itu telah mengetahui semuanya.
Nyonya Dasia mempersilahkan Max masuk. Lalu wanita paruh baya itu duduk di sofa dengan pandangan mata kosong.
"Putain (sial)." Max menggumam pelan. Dadanya terasa nyeri menyaksikan wanita di hadapannya itu bermuram durja.
Nyonya Dasia mengambil sebuah benda putih berukuran sekitar enam sentimeter panjangnya dengan tanda dua garis merah yang tampak di layar kaca di bagian atasnya. Lalu menunjukkannya pada Max.
"Aku menemukan ini di tas Nadia," ucapnya lirih. "Apa kau sudah mengetahui tentang hal ini, Max?"
Max menelan ludahnya. Tenggorokannya seakan tercekat. Ia tak mampu menjawab pertanyaan Ibu angkatnya itu.
"Elle est ou Nadia , Maman (di mana Nadia, mama)?"
"Max ... kau tahu siapa pria itu?" Nyonya Dasia balik bertanya tanpa menggubris pertanyaan Max.
Max mengangguk pelan.
"Pria kulit putih?"
Kembali Max mengangguk. Sementara Nyonya Dasia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rintihan tangisnya terdengar.
"Ya Allah," ucapnya dengan suara pilu. Hatinya benar - benar hancur. Puteri satu -satunya hamil tanpa suami di usia masih enam belas tahun, dan parahnya, dengan seorang pria kulit putih. Ini benar - benar pukulan yang berat untuknya. Ia punya harapan yang besar atas Nadia. Ia ingin puterinya itu menyelesaikan sekolahnya, kuliahnya, bekerja dengan layak, lalu menikah dengan sesama warga keturunan Lebanon. Hanya itu yang ia inginkan.
Max beringsut mendekati Nyonya Dasia dan menawarkan pelukan padanya. Ia mencoba memberi kekuatan pada wanita paruh baya itu dengan mengelus punggungnya lembut.
"Aku akan menghubungi saudaraku di Toulouse," ujar Nyonya Dasia menyebutkan sebuah kota besar di barat daya Perancis. "Aku akan menikahkan Nadia dengan sepupu jauhnya."
Terdengar suara pintu dibuka dengan kasar. Membuat Max dan Nyonya Dasia terperanjat.
"Non, Maman (tidak, mama)!" seru Nadia yang baru saja muncul dari balik pintu kamarnya. "Aku tidak mau menikah dengan Farghan!" teriaknya.
"Kau pikir kau punya pilihan, Nadia?" Nyonya Dasia bangkit dari duduknya.
Untuk pertama kalinya Max menyaksikan wanita itu membentak dengan suara menggelegar.
"Aku mau Damien!" seru Nadia di sela - sela tangisnya lalu menghambur ke pelukan Max.
"Max, tolong aku, jangan biarkan Ibuku menikahkanku dengan Farghan!"
"Hei, tenanglah, Nad ...." Max melepaskan pelukan Nadia dan menghapus air mata di pipi gadis itu.
"Je te déteste (aku benci kau)!" hardik Nadia menatap sang Ibu dengan mata menyala.
"Nadia! Selama ini aku sudah sangat bersabar menghadapi kelakuan burukmu. Sudah cukup. Kali ini kau harus menuruti kata - kataku!"
"Maman, tenanglah ...." Max mencoba melerai perdebatan antara Ibu dan anak itu.
"Max ...." Suara Nyonya Dasia melunak. "Kau pergilah."
"Maman ...."
"S'il te plait (tolonglah)."
Max menghela napas dalam - dalam. Ia menatap Nadia sekilas lalu menarik gagang pintu dan keluar dari ruangan itu.
Begitu menutup pintu, ia tak segera pergi. Disandarkannya punggung ke dinding lorong apartemen. Sayup - sayup masih terdengar keributan antara Nadia dan Nyonya Dasia di dalam sana.
Ia merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Diambilnya sebatang lalu dinyalakannya.
Max menghembuskan asap rokok tebal dari mulutnya, bersamaan dengan meluapnya amarah di dadanya. Amarahnya terhadap Damien yang sepertinya akan lolos begitu saja dari tanggung jawab.
Tidak. Tidak akan semudah itu. Max akan menunggu. Menunggu waktu yang tepat untuk menghajar pria itu habis - habisan.
***
***
***
*Wkwkkw ... jadwal update random sekali ya?
Ya begitulah, aku orangnya memang random 😁😁😁*
sunggu max bikin duniaq jungkir balik kak thor...q bener2 merasa max sosok yg nyata yg ingin q temui setiap menit.
karymu sunggu luar biasa ❤️❤️
tapi dr 2 novel (ben-laras,max-wulan)q merik kesimpulan bahwa kak lady menyukai laki2 bermata biru.🤭
modyaaarrrrr😡😡😡
bahsanya tidak monoton dan mudah dimengerti serta ceritanya juga menarik..semangat terus kak lady😍