Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan yang Tak Terbendung
Setelah fajar menyingsing di ufuk timur, suhu tubuh Pamela akhirnya mulai stabil berkat cairan infus dan obat penawar yang bekerja di dalam darahnya. Aulia, dengan lingkaran hitam di bawah mata karena tidak tidur semalaman, tetap menjalankan kewajibannya dengan efisiensi yang luar biasa; ia membelikan sarapan bergizi dan memastikan sistem keamanan di kamar perawatan Pamela terjaga sebelum ia bersiap untuk pergi.
"Soal penyebab kamu masuk rumah sakit karena efek obat itu, aku tidak mengatakan apa-apa pada ibumu. Aku hanya bilang kamu kelelahan dan pingsan," ujar Aulia dengan nada bicara yang datar, hampir tanpa emosi.
Sikap dingin Aulia kali ini justru membuat harga diri Pamela yang biasanya setinggi langit terasa menciut. Untuk pertama kalinya, Pamela meraih ujung baju Aulia dan memohon dengan nada memelas agar tidak ditinggalkan sendirian. Panggilan "Kakak Ipar" yang selama lima tahun ini hanya ia gunakan dengan nada mengejek atau saat ingin memanfaatkan Aulia, kini meluncur dengan ketulusan yang tak disengaja.
Aulia tidak langsung pergi. Ia mencoba membantu Pamela memutar kembali ingatan untuk melacak asal obat tersebut. Pamela awalnya bersikeras bahwa semua makanan di rumah Rizki sangat aman karena ada Bi Susan dan pengawasan ketat kakaknya. Namun, sebuah memori samar mulai muncul di kepala Pamela: fragmen tentang segelas anggur merah yang ia minum dengan terburu-buru di kamar Meli semalam.
Meskipun logika Pamela mulai mengarah tajam pada Meli, hatinya masih memberontak. Ia tidak sanggup membayangkan bahwa "kakak ipar impiannya" yang selalu terlihat lembut itu tega mencelakainya. Namun, benih kecurigaan itu kini telah tertanam di tanah yang subur dan sangat sulit untuk dicabut.
Begitu Violeta memberi kabar melalui pesan singkat bahwa ia hampir sampai di rumah sakit, Aulia segera berkemas. Ia tidak butuh ucapan terima kasih yang dipaksakan, apalagi pengakuan palsu dari Keluarga Laksmana. Baginya, tugas kemanusiaan ini sudah selesai.
Setelah punggung Aulia menghilang di balik pintu, seorang perawat masuk untuk mengganti botol infus. Perawat itu tersenyum ramah dan memberi tahu Pamela bahwa seluruh biaya pengobatan darurat dan deposit rumah sakit telah dilunasi oleh wanita yang menemaninya tadi.
Informasi kecil itu menghantam perasaan Pamela layaknya palu godam. Di saat ia berada di titik terendah dan terancam skandal memalukan, Meli—sosok yang ia puja dan ia curigai sebagai pelaku—sama sekali tidak bisa dihubungi. Sebaliknya, Aulia—sosok yang ia injak-injak selama lima tahun—justru memberikan segalanya: waktu, perlindungan, reputasi, hingga materi, tanpa meminta imbalan satu persen pun.
Saat perawat itu bertanya, "Siapa gadis hebat yang menemanimu tadi? Kakakmu?"
Pamela terdiam sejenak, tenggorokannya terasa tercekat sebelum menjawab dengan suara bergetar, "Bukan hanya kakak... dia Kakak Iparku."
Jawaban itu terus terngiang di telinganya sendiri. Pamela mulai menyadari perbedaan mencolok yang selama ini ia abaikan. Meli hanyalah bayangan indah yang manipulatif, sedangkan Aulia adalah pelindung yang nyata. Aulia telah menunjukkan kualitas seorang "Kakak Ipar" yang sesungguhnya: menjaga rahasia yang memalukan, melindungi martabat keluarga di saat krisis, dan tetap berdiri tegak tanpa perlu mencari validasi.
Pamela kini berada di persimpangan jalan yang sangat berbahaya. Apakah ia akan memberanikan diri menceritakan kecurigaannya terhadap Meli kepada Violeta dan Rizki? Dan bagaimana reaksi Rizki saat menyadari bahwa istrinya yang ia abaikan demi Meli semalam, justru adalah sosok yang menyelamatkan adik kesayangannya dari kehancuran total?
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.