Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kacau
Alessa, Gita dan juga Manda menembus tepi hutan. Malam ini, ada banyak warga yang melakukan ritual untuk malam satu Suro, dan biasanya berada dititik tertentu, terutama daerah Pantai Pancur, dan hal ini membuat mereka mendapatkan banyak mangsa dengan mudah.
Wuuuussh
Wuuussh
Mereka melesat dengan cepat, dan kekuatan yang dimiliki oleh ketiganya sudah sangat begitu besar, dan tentunya sangat mudah untuk melakukan teleportasi dalam waktu yang sangat singkat.
Tap
Tap
Tap
Mereka tiba ditepi pantai. Hal yang sangat luar biasa, ternyata ada ribuan manusia yang memadati tempat tersebut untuk melakukan ritual dalam mencapai puncak spritual.
Akan tetapi, mereka tak menyadari, jika bahaya lain sedang mengincar.
Dimana asap hitam yang bergulung dari arah gelombang dilautan dan membentuk makhluk aneh yang sangat mengerikan.
Saat bersamaan, Alessa menatap sosok yang datang dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Gelombang laut tampak bergulung, tinggi dan juga ganas, ini tak seperti bisanya.
"Datanglah, dan kita akan berpesta!" Alessa tampak begitu bersemangat. Sosok itu mulai mendekat, bersama gelombang yang sangat tinggi.
Saat yang bersamaan, warga yang masih menikmati pertunjukan wayang kulit dengan alunan gamelan dan bertujuan mensucikan diri, tersentak kaget melihat fenomena alam yang terjadi.
Bagi para petapa, dan warga yang melakukan wirid dan sebagainya tidak menyadari apa yang sedang terjadi.
"Hah! Apa itu?!" tunjuk salah satu warga yang saat itu sedang menikmati pertunjukan wayang kulit.
Suaranya memecah pertunjukkan yang sedang berlangsung, dan mereka spontan dengan serentak melihat ke arah gulungan ombak yang tinggi.
"Ini petaka." salah satu warga bangkit, dan diikuti oleh warga lainnya.
Tak hanya orang dewasa, tetapi juga ada anak-anak yang ikut dalam kegiatan tersebut.
"Lari!" pekik warga yang melihat asap hitam membentuk ombak tinggi tersebut.
Suaranya membuat warga tersentak, dan ikut melihat ke arah yang ditunjuknya.
Saat gulungan ombak mendekat, yang datang bukan air laut, tetapi pasukan makhluk aneh yang bermutasi dengan tampang mengerikan.
Dari ular laut, buaya air asin, kepiting bakau, dan juga lainnya.
Ukuran mereka tumbuh menjadi beberapa puluh kali lipat lebih besar dari ukuran normal.
Warga berlarian, wajah ketakutan terbias jelas diwajah mereka. Hingga membuat Alessa tersenyum dengan rasa puas.
"Ayo, kita tangkap mereka!" Alessa menghentakkan cambuknya ke atas pasir pantai.
"Ayo, kita tangkap mereka semua," jawab Manda yang menyetujui ucapan Alesaa, dan mereka bergerak yang diikuti oleh Gita.
Para warga berhamburan menyelamatkan diri.
Sedangkan para petapa yang sedang melakukan petilasan ikut berhamburan untuk menyelamatkan diri.
Akan tetapi, para anak-anak yang tertangkap akan dihisap darahnya oleh para makhluk tersebut.
Setelah mati, maka akan hisap kembali dan berubah bentuk sesuai dengan makhluk yang membunuhnya.
Jiwa mereka dikuasai, dan semua semakin terasa mengerikan.
"Aaaaarrrgh....," suara pekik ketakutan, histeris, wajah pucat dan ingin terbebas dari cengkraman para iblis yang saat ini sedang membinasakan mereka.
Terlihat para makhluk mengerikan itu terus menangkap mereka.
Sosok Kepiting raksasa dengan kepala manusia menangkap para anak kecil, lalu memakannya.
Para gadis dan orang dewasa lainnya ditangkap, lalu dimasukkan dalam jeruji, dan akan dibawa ke Kerajaan ghaib untuk dipekerjakan.
"Hahaha, kalian akan menajdi budak Raja, maka terima saja nasib kalian!" Alessa tertawa lepas. Ia yang sudah dikuasai oleh sosok Genderuwo, tak lagi memiliki empati, dan berbuat sesukanya.
Suara teriakan terus menggema, hingga akhirnya Alessa dan kedua rekannya berhasil menangkap seluruh warga, dan membawanya kepada Raja Kala Gemet.
****
"Cepat!" suara Axel dan Jhony terdengar garang. Mereka baru saja membawa banyak tawanan yang akan dipekerjakan untuk membangun candi dan juga kolam pemandian.
Tak
Sebuah cambukan mendarat dipunggung para tawanan yang dipaksa kerja untuk membuat bangunan yang diinginkan oleh raja.
Para pemahat batu, dipaksa membuat prasasti untuk patung sang Raja.
Semua dipekerjakan paksa, siapa yang mencoba melawan akan disiksa, dan berakhir dengan dimangsa.
Nathan yang melihat penyiksaan demi penyiksaan tersebut merasa geram. Ia bertekad untuk mencari keberadaan keris Jalak Tilam Sari yang dimaksud oleh Dewi Gayatri dan juga sosok pria misterius yang akhirnya binasa ditangan Siluman Ular Kobra.
"Waktunya makan!" Jhony terlihat mengumumkan kepada para pekerja. Terlihat Sena dan beberapa wanita lainnya menarik gerobak berisi makan siang untuk disantap bersama.
Sena membagikan makanan yang dibungkus dengan daun jati. Nasi putih yang terasa masih panas dengan lauk sambal ulat jati dan rebusan daun singkong.
Saat membaginya kepada Nathan, ia menatap pemuda tersebut. Memberi isyarat jika ada sesuatu yang akan disampaikannya.
Nathan mengerjapkan kedua matanya, lalu membuat mereka berpisah kembali, sebab Sena harus membagikan makanan tersebut kepada yang lainnya.
Pemuda itu membuka bungkusannya. Ia menatap nasi yang mengepul, dan ada lembaran daun pisang didalamnya. Disana tertulis sebuah kalimat yang diukir menggunakan ujung pisau.
"Kita harus bebas, dan membebaskan semuanya. Dilorong gelap, ada cahaya," kalimat itu berakhir disana.
Ia mendengar langkah kaki menuju ke arahnya. Ia tahu itu tapak kaki kerbau dan pastinya adalah Jhony.
Nathan menatap nasi dan lauk diatas daun jati dengan tatapan nanar.
Saat Jhony mendekat, ia berpura-pura menyuapkan makanannya, dan ketika terlepas dari pengawasan, ia bergegas membuangnya, mengurugnya bersama tanah liat yang menggunung.
"Lorong gelap, ada cahaya?" gumamnya lirih. Ia terlihat sedang memikirkan apa yang menjadi petunjuk dari Sena. "Apakah itu lorong Goa Istana?" ia kembali mencoba memikirkan tentang pesan tersebut. Ia tak ingin terus berada ditempat yang asing, dan penuh dengan penderitaan. Ada banyak jiwa yang tertahan.
"Tetapi bagaimana aku bisa kembali ke sana? Ada banyak penjaga yang terus mengawasi, apalagi Si Axel yang saat ini menjadi salah satu orang kepercayaan Raja Kala Gemet, mana songong lagi!" gumamnya dengan lirih.
"Aku harus punya orang dalam, agar dapat masuk ke sana,"
Saat bersamaan, ia melihat Kael yang saat ini sedang bersama sang Raja Kala Gemet yang datang untuk meninjau pekerjaan para tawanan, untuk melihat seberapa besar kemajuannya.
Nathan berpura-pura mencetak batu bata, dan melirik Kael yang saat ini menjadi salah satu pengawal Raja.
"Kemana Kenny? Mengapa aku tak melihatnya sejak kemarin?" ia masih penasaran dengan apa yang terjadi pada pemuda itu, sebab tak terlihat sama sekali.
Hatinya tampak gelisah, dan berharap menemukan cara untuk dapat kembali le Goa Istana.
Kael menatapnya sejenak, pandangannya berbeda dari yang lain, ia tak begitu sangar, lebih bersahabat dibanding dengan Axel dan juga Jhony.
"Kerja yang benar, jangan pemalas!" hardik Axel dengan lantang, seolah ingin cari muka dihadapan Raja.
Nathan menatap geram, dan sejenak melirik pada Kael, ia memiliki sebuah rencana.
kasihan yaa para keluarga nya yg kebingungan mencari keberadaan mereka semuanya 😔
Semoga Naura dan Kael serta Nathan bisa menemukan kitab kuno itu, sehingga mereka bisa bebas dari hutan Alas Purwo.. 🙏