Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Hanya butuh waktu satu jam Peno sudah mengalahkan lawan pertamanya, kini ia keluar gedung arena untuk beristirahat sambil menunggu pertandingan selanjutnya.
"bagi rokoknya Man!" kata Peno saat sudah bergabung dengan teman temannya.
"bagaimana No, kamu menang apa kalah?" Eko yang memang sangat berharap Peno jadi juara langsung menanyakan pertandingan tadi.
"nih rokoknya No, kamu mau kopi ga, nanti aku pesankan sekalian, kebetulan kami juga sedang pesan!?" setelah memberikan bungkus rokok Maman pun menawarkan kopi pada Peno.
sambil duduk dan menyalakan rokoknya Peno pun mengiyakan tawaran kopi dari Maman, "boleh Man, kebetulan buat ngilangin pusing!"
"oke, tunggu sebentar!" Maman pun langsung menghampiri pedagang kopi yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
Sambil menikmati rokoknya Peno pun ngobrol dengam Dimin da Eko menunggu pesanan kopi datang.
Pak Supri yang baru saja dari toilet menghampiri saat melihat Peno sudah duduk bersama teman temannya, "menang No?" tanya pak Supri.
"alhamdulillah pak, tinggal nunggu lawan lagi, kata panitia nanti akan dipanggil!" jawab Peno, pak Supri pun kini ikut gabung duduk dilantai bersama mereka.
"kopi pak, kalau mau nanti saya pesankan?" Dimin berinisiatif menawarkan kopi pada pak Supri.
"tidak usah Min, kopiku masih didalam, aku cuma pengin ngrokok saja, didalam tidak boleh soalnya!" jawab pak Supri sambil mengeluarkan rokok dari saku celananya dan mengambilnya sebatang untuk dibakar.
"kalau yang dari jalur umum biasanya permainannya biasa saja No, beda dengan yang seleksi dikecamatan, makanya aku optimis pasti kamu bisa menang dengan mudah, apalagi jika lawanmu si Agus itu!" dengan masih menjepit batang rokok dikedua jarinya pak Supri berbicara dengan Peno.
"ya mudah mudahan bisa sampai semi final pak nanti," ucap Peno dengan rendah hati.
"eh iya, gimana kabarnya pak Agus ya, apa bisa menang ya!?" ucap Dimin yang penasaran dengan nasib Agus.
"sepertinya kalah Min, tuh sudah mau pulang bareng pak kades!" tunjuk Eko kearah parkiran mobil yang sedikit jauh didepan mereka.
Dimin pun mengedar pandang sesuai dengan arah tunjuk tangan Eko, "oalah iya Ek, itu!"
"nah kan, apa aku bilang No, sama aku saja si Agus kalah, apalagi main ditingkat kabupaten ini, ya pasti dibantai dia!" ujar pak Supri yang masih kesal dengan keputusan pak kades menjagokan Agus.
"ha ha ha...., tenang pak!" kata Peno sambil tertawa, lagian saya juga sudah disini dan masih lanjut kebabak selanjutnya!"
"aku berani taruhan No, nanti kalau kamu bisa juara pasti pak kades akan mengaku aku kalau dia yang selama ini mendukung kamu!" ucap Maman yang sudah kembali dengan membawa empat cup kopi panas.
"ah, betul itu man, aku juga yakin pak kades pasti akan seperti itu!" kata Eko yang sangat setuju dengan pendapat Maman.
"ngaku ngaku ya biarin Man, daripada lemes, ha ha ha ha........!" kata Peno yang kemudian berdiri membuang puntung rokoknya dan masuk kearena dengan membawa cup kopinya.
"oooh bocah edan, ngaku itu mengakui bukan kaku tegang, No Penoooooo!" gusar Maman sambil menepuk jidatnya sendiri.
"ha ha ha ha........, kena sleding kamu Man!" ledek pak Supri sambil berdiri dan juga masuk keruang arena.
pertandingan kedua pun dimulai, nama Peno dipanggil untuk menempati meja duapuluh, Peno berjalan santai kearah mejanya, disana sudah menunggu sang lawan yang ternyata masih lumayan muda, Peno segera duduk dan setelah juri menjelaskan berbagai peraturan pertandingan dimulai, Peno main dengan bidak hitam.
Satu jam setengah sudah berlalu, skor imbang satu satu, Peno kini menjalankan bidak hitam lagi, dengan santai tapi pasti Peno mencoba mengecoh konsentrasi lawannya dengan memajukan pion mengamcam gajah lawan, dan ternyata itu berhasil, lawan Peno panik dan bingung, jika dia memakan pion Peno dengan gajah otomatis skak, sebab menteri milik Peno sudah mengintai dari belakang lurus dengan rajanya.
maka dengan paniknya lawan itu malah memakan pion Peno dengan pionya juga, dengan cepat Peno langsung memakan pion itu dengan kudanya dan skak mat, Peno menang dengan skor dua satu.
Seperti biasa, untuk menunggu babak selanjutnya Peno duduk lesehan lagi dilantai emperan gedung bersama teman temannya, sambil menikmati rokok dan kopi juga cuci mata melihat cewe cewe yang datang untuk menonton atau sekedar joging, sebab area itu adalah pusat aktifitas bagi masyarakat yang mau berolah raga.
"sayang aku pakai sendal jepit, tahu kalau akan banyak cewe cewe yang joging tadi aku pakai sepatu!" keluh Eko yang memang berangkat tadi pakai sendal jepit.
"kalau pakai sepatu kamu mau ikut joging Ek?" tanya Dimin.
"iya Min, lumayan, siapa tahu bisa kenalan, he he he....!" jawab Eko.
"nih pakai sepatuku Ek, sana lari lari, pokoknya kalau belum kenalan sama cewe jangan berheti ya, ha ha ha ha.......!" kata Peno menawarkan sepatu yang sedang ia pakai.
"lah gempor No, jalan kaki dari rumah kesini saja udah lumayan pegel kakiku, apalagi ditambah lari!" ucap Eko.
"demi cewe Ek, ha ha ha.....!" ucap Dimin menyemangati Eko.
"mending ga jadilah Min, daripada gempor, nanti malah kalian tinggal pulang!" kata Eko sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding gedung.
"No masuk!" pak Supri keluar memanggil Peno, sebab pengundian peserta untuk babak delapan besar akan segera dimulai.
Peno pun langsung beranjak mengikuti pak Supri masuk kedalam gedung arena, ia duduk dikursi yang sudah disediakan oleh panitia khusus untuk para peserta yang lolos delapan besar.
Delapan peserta sudah lengkap, panitia muali menjelaskan aturan tata tertib dan juga sistemnya, para peserta mendengarkan dengan serius apa saja yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.
Setelah limabelas menit melakukan brifing panitia pun mengumumkan pertandingan akan segera dimulai, para peserta dipanggil satu satu sesuai dengan nomer meja yang mereka dapat setelah diundi tadi.
Dengan ditandai bunyi bel para peserta memulai pertandingan caturnya, Peno berada dimeja nomer tiga, ia melawan seorang pemuda yang kebetulan mewakili kecamatannya.
"kecamatan tumpinya desa apa mas?" tanya Peno sambil memajukan pionya satu langkah kedepan.
"lah kok sampaian tahu aku dari kecamatan tumpi!?" pemuda itu malah bertanya balik pada Peno.
"ya tahu lah mas, kan tadi sudah disebut sama panitia, oh ya, kenalkan aku Peno waluyo dari desa rengginang!" Peno mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"aku Dadang mas, dari desa runtuk, kok aku ga ketemu masnya pas turnamen dikecamatan!?" sambil menyambut uluran tangan Peno Dadang mengenalkan dirinya dan bertanya pada Peno.
"sudah ayo jalan, aku daftar lewat jalur umum, bayar empat ratus ribu!" jawab Peno sambil menyuruh Dadang menjalankan bidaknya.
"mahal juga ya daftarnya, kenapa ga lewat jalur perwakilan desa mas!?" tanya Dadang setelah menjalankan salah satu bidaknya.
Peno kembali menjalankan bidaknya langsung setelah Dadang menjalankan bidaknya juga, " ga ditunjuk sama kadesnya, ayo jaoan lagi!"
"walah, jangan cepet cepet mas, aku aja belum mikir!" kata Dadang protes Peno terlalu cepat mainnya.
"kayu dipikir, dijalankan saja jangan dipikir!" kata Peno lagi sambil meminum air mineral jatah dari panitia.