✏ Season 1: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Ainsley)
Ainsley terpaksa menjalani pernikahan wasiat, menikah dengan suami kakaknya sendiri. Dia yang tidak tau penyebab kematian kakaknya harus bekerja sama dengan sang suami untuk mengusut kematian. Bisakah mereka menemukan pelaku di balik rencana pembunuhan? Lalu, bagaimana akhir dari kisah pernikahan wasiat?
✏ Season 2: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Gavin)
Kisah cinta pertama Gavin harus kandas ketika dia melanjutkan pendidikan di luar negeri. Beberapa tahun setelah itu mereka bertemu lagi dan membuat harapan muncul untuk kembali bersama. Sayangnya pengganggu kecil muncul di tengah itu semua, wanita dengan segudang kecerobohan. Pada siapa hati Gavin akan berlabuh?
___
Semoga novel ini satu selera denganmu 😊
Cek istagram @justrenko untuk informasi novel lainnya~
Terima kasih atas support readers dan NovelToon/MangaToon terhadap novel ini 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melindungi Harapan
"Kau melihat beritanya? Ternyata dia sangat tampan. Tatapannya yang sangat seksi itu membuatku luluh. Mendapatkan pernyataan cinta dari pria sepertinya sungguh sebuah keberuntungan mutlak." ujar seorang mahasiswa wanita.
"Awalnya aku harap berita pernikahan itu adalah kebohongan. Bagaimana bisa pria setampan dan sekaya itu menikah dengan wanita sepertinya?" tambah mahasiswa wanita di sebelahnya.
Kedatangan Juni membuat perbincangan mereka berhenti. Mereka tau jika Juni sangat dekat dengan Ainsley dan mereka juga tidak mau mencari masalah dengan Juni, karena di kampus Juni terkenal cerewet dan berani. Mereka berdua akan kalah jika melawan Juni.
Baru saja duduk sebuah panggilan masuk menggetarkan ponsel. Sederet nomor asing tampil di sana, tidak diketahui siapa pemiliknya. Lantas Juni tidak segan-segan menjawab. Juni berpikir mungkin saja akan mendapatkan telepon dari seorang pria tampan.
"Juni?"
Suara seorang pria semakin meninggikan harapan Juni. Dalam hati Juni kegirangan mendengar suara berat pria yang dianggapnya sebagai pengagum rahasianya. Juni berdehem sebentar dan melembutkan suara sebelum melanjutkan pembicaraan.
Dengan kalimat kakunya pria tersebut mengatakan agar Juni mau mendengarkan sampai akhir dan tidak marah jika tau siapa dirinya sebenarnya. Pria itu mengatakan bahwa ibunya Juni sedang sakit keras saat ini dan ingin sekali bertemu dengan Juni.
"Kau suaminya?"
"Ya."
Juni langsung mematikan panggilan telepon. Nomor asing itu ternyata adalah nomor pria yang menikah dengan ibunya. Setelah membawa ibunya pergi jauh darinya, sekarang Juni diminta untuk menemui ibunya yang sedang sakit.
"Heh, jangan bercanda."
2 mahasiswa tadi menelan ludah. Mereka berpikir jika Juni telah mendengar perbincangan mereka tadi. Tanpa pikir panjang mereka mengambil langkah seribu menjauh dari Juni.
Drrt.. Drrt..
Lagi-lagi pria itu menelepon dan terus menelepon sampai Juni selesai kuliah dan saat Juni bekerja pun. Ponselnya selalu bergetar sehingga membuat Juni kesal dan akhirnya mematikan ponsel. Sekarang tidak akan ada lagi yang mengganggu pekerjaannya.
Catatan yang dipegang oleh Juni tiba-tiba direbut oleh Lewis. Juni diminta untuk menunggu di ruang kerja. Sementara itu Lewis lah yang akan menggantikan pekerjaan Juni.
Lewis meminta maaf pada pelanggan atas ketidaknyamanan pelayanan yang diterima. Senyuman tipis menambah ketulusan atas permintaan maafnya. Pesanan makanan pun dicatat dan Lewis melemparkan catatan kecil itu pada Lexa.
"Nice catch, Lexa!!" mengacungkan jempol.
*Tangkapan yang bagus.
"Apa ini?!"
"Meja nomor tiga dengan sedikit mayonaise!" melangkah mundur ke ruangannya.
Di dalam ruang kerja itu Juni memperhatikan layar ponsel yang sudah dihidupkan kembali. Ada 53 panggilan tidak terjawab tertera di sana, semuanya adalah nomor yang sama.
"Pelangganku akan kabur jika menerima pelayanan buruk seperti tadi."
Juni langsung berdiri dan meminta maaf lantaran sudah membuat masalah di restoran. Selanjutnya Juni berjanji tidak mengulanginya dan akan berusaha lebih baik lagi. Mereka berdiam diri sesaat. Hanya hentakan wajan dari dapur dan suara getaran ponsel yang bersuara setelah itu.
"Kau tidak ingin menjawab panggilan itu?"
Juni meminta maaf dan kelabakan mengambil ponsel. Padahal ponsel itu hanya disimpan di dalam saku bajunya. Setelah itu panggilan tidak terdengar lagi, Juni telah menolak panggilan itu.
"Aku di sini bukan sebagai atasan dan bawahan, tetapi sebagai teman. Kau bisa menceritakan masalahmu padaku."
Juni menghela napas. Juni sudah tidak bisa mengelak lagi. Pekerjaannya yang berantakan sudah menjelaskan bahwa dirinya memang ada masalah. Akhirnya Juni menceritakan permasalahan yang sedang dihadapinya pada Lewis.
Ibunya sedang sakit dan ayah tirinya meminta Juni untuk menemuinya, tetapi Juni tidak menyukai ayah tirinya yang mana telah merebut ibunya. Juni menganggap bahwa ayah tirinya sangat jahat. Kegelisahannya hari ini adalah karena kekhawatirannya terhadap kondisi ibunya. Di samping itu sebenarnya Juni ingin sekali bertemu ibunya.
"Kau sudah bertemu dengan ayah tirimu?"
"Belum."
"Bagaimana kau yakin kalau dia adalah orang yang jahat?"
Ucapan itu menutup mulut Juni untuk beberapa saat. Selama ini Juni memang belum pernah bertemu dengan ayah tirinya. Lalu bagaimana bisa sangat yakin jika ayah tirinya itu jahat. Juni tidak memikirkan kemungkinan lain karena rasa benci yang begitu besar.
Juni baru menyadari sekarang setelah hidup dalam asumsinya sendiri. Bisa saja ada alasan dibalik kepergian ibunya. Kesedihan telah dilampiaskan dengan membenci ayah tiri yang belum pasti baik atau jahat.
"Angkat teleponmu." Lewis tersenyum dan memberikan waktu untuk Juni mengangkat telepon.
Ponsel masih berdengung. Juni menghirup napas dan membuangnya perlahan. Juni mempersiapkan diri sebelum mengangkat panggilan. Biar bagaimanapun ini adalah pertama kali setelah sekian lama tidak berkontak dengan ibunya.
"Juni, akhirnya kau mengangkatnya." suara ibunya Juni.
"Maaf. Aku sibuk bekerja."
"Kau bekerja? Apa biaya yang ibu kirimkan padamu tidak cukup? Ibu akan mengirimkannya lagi nanti."
Ibunya Juni selalu mengirimkan uang setiap bulan dan jumlahnya sangat besar. Namun Juni tidak pernah memakainya sama sekali, sampai detik ini pun. Selama ini Juni hidup dengan kerja kerasnya sendiri, biaya kebutuhan hingga biaya kuliah. Juni berusaha sebaik mungkin agar mendapatkan gaji tinggi di restoran. Oleh karena itu jika kehilangan pekerjaan di sana, Juni tidak tau harus bagaimana.
"Aku hanya ingin mengisi waktu luangku."
"Sudah lama sekali ibu tidak mengobrol denganmu. Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja? Bagaimana keseharianmu? Uh-huk! Uh-huk!"
"You should rest." sela seorang pria.
*Kau harus beristirahat.
"But, i miss her."
*Tapi aku merindukannya.
Juni menitikkan air mata. Suara sang ibu sudah lama tidak didengarnya. Tidak bisa menahan tangis Juni meminta ibunya untuk beristirahat dan Juni berkata akan datang secepatnya. Setelah telepon dimatikan Juni menangis di ruang kerja Lewis seorang diri.
"Bagaimana ini? Kau akan kehilangan satu pegawaimu lagi." ujar Lexa yang juga ikut mencuri dengar saat Lewis keluar ruangan tadinya.
***
"Jangan berharap terlalu banyak. Pernikahan kita terjadi karena permintaan terakhir Emily. Tugasku hanya melindungimu, bukan membalas perasaanmu."
Seperti ada jutaan duri yang menusuk hati. Sangat menyakitkan dan sangat menyedihkan. Sepanjang malam Ainsley meratapi kepedihan itu. Tangisannya enggan untuk berhenti meski Ainsley sudah berusaha menghentikannya.
Seharian Ainsley tidak beranjak dari kasur meski perutnya sudah meminta untuk diisi. Ainsley tidak bersemangat sama sekali. Untuk menangis pun rasanya air mata sudah habis terkuras. Bahkan Ainsley tidak peduli pada pintu rumah yang terdengar membuka dan menutup, menandakan Zack sudah pergi dan sudah pulang.
Hingga keesokan pagi butanya, Ainsley keluar dari kamar. Semua ujung jemarinya terasa dingin dan tubuhnya begitu lemas. Dalam keadaan seperti itu Ainsley memaksa untuk menggeret koper bersamanya. Ainsley berjalan menuju ruang kerja yang masih menyala lampunya.
Zack mengangkat kepala ketika menyadari Ainsley masuk ke ruang kerjanya. Zack melirik koper yang digeret, lalu melirik lagi pada Ainsley. Zack hanya diam menanti alasan mengapa pagi buta sekali Ainsley datang bersama koper tersebut menemuinya.
"Aku ingin meminta hadiah itu sekarang. Aku ingin kembali bekerja dan tinggal di tempat yang berbeda denganmu."
"Aku hanya memberikan satu hadiah."
"Kalau begitu aku ingin bekerja, tetapi untuk sementara waktu aku akan tinggal bersama Juni."
"Aku tidak mengizinkannya."
Ainsley mengangkat dagunya dan menatap marah pada Zack, lalu mengatakan, "Aku tidak akan bisa melupakanmu jika kita terus-terusan bertemu."
Zack melepaskan kacamata dan meletakkannya di atas meja. Sambil berlalu pergi Zack berkata, "Kau bisa melupakanku selama aku pergi. Aku akan melakukan perjalanan bisnis untuk sementara waktu."
Ainsley menelepon Lewis pagi hari itu dan menanyakan apakah dirinya masih bisa bekerja di restoran. Tidak disangka jawaban Lewis sangat menyenangkan. Ainsley disambut untuk bekerja kembali.
Lewis tidak memberikan pekerjaan lama, karena akan berdampak buruk bagi Ainsley nantinya jika orang-orang tau bahwa istri seorang pria kaya bekerja sebagai pramusaji. Untuk itu Lewis memberikan pekerjaan yang lebih tinggi dibandingkan itu.
***
Keesokan harinya Ainsley langsung bekerja. Semuanya terkejut melihat kedatangan Ainsley dan bertanya-tanya mengapa Ainsley berada di restoran. Lewis pun mengumpulkan semua pegawai dan mengumumkan pada mereka jika mulai hari ini Ainsley akan bekerja sebagai asisten manajer restoran.
Lewis menjelaskan tugas apa saja yang harus dilakukan ketika bekerja. Tidak hanya menjelaskan saja, Lewis bahkan sengaja menyediakan seluruh waktunya untuk mengajari Ainsley sampai terbiasa dengan pekerjaan baru itu.
Beberapa hari pun berlalu dan selama itu Ainsley menyibukkan diri dengan pekerjaan dan persiapan wisuda. Pikirannya perlahan teralihkan karena kesibukan yang dijalani. Meskipun tetap sama saja, ada Zack atau tidak perasaannya semakin bertumbuh.
Diam-diam Lewis mengajak Ainsley ke suatu tempat. Tanpa sepengetahuan pegawai restoran, mereka meninggalkan pekerjaan untuk sementara waktu. Ainsley bertanya-tanya kemana mereka akan pergi. Ainsley ragu meninggalkan restoran tanpa ada yang menjaga.
"Tenang saja. Lexa sebentar lagi akan datang ke restoran. Kita akan pergi ke sebuah tempat yang menyenangkan." tersenyum lebar.
Mereka sampai di depan sebuah gedung. Di dalam gedung banyak pengunjung hadir menikmati lukisan yang terpajang. Hari ini adalah pameran lukisan dan Lewis mengikutsertakan Ainsley bersamanya.
Ainsley mengamati satu persatu lukisan yang berjejer menghiasi langkahnya. Ada begitu banyak lukisan yang diamati. Keasyikan melihat-lihat, Ainsley baru sadar bahwa kini dirinya berjalan sendirian. Tidak ada Lewis yang tadinya berjalan di sampingnya.
Ainsley mencari-cari keberadaan Lewis dari sudut ke sudut sambil menutup wajahnya, takut jikalau ada orang yang mengenali. Lama mencari Lewis masih belum ditemukan. Ainsley pun mencoba menghubungi Lewis.
Dalam kepanikan itu tiba-tiba seseorang mengejutkannya. Ainsley terperanjat kaget sehingga membuatnya tanpa sadar berteriak. Semua mata langsung mengarah padanya. Sedangkan Lewis terpingkal lantaran berhasil membuat Ainsley terkejut.
Ainsley membalikkan badan dan keluar dari gedung. Sepanjang jalan Ainsley mengomeli Lewis yang begitu usil sampai membuat jantungnya hampir copot. Lewis masih terpingkal membayangkan ekspresi Ainsley tadi dan menganggap omelan Ainsley sebagai sesuatu yang lucu pula.
"Aku minta maaf. Jangan marah lagi. Sebagai gantinya aku akan membelikan es krim untukmu."
"Aku bukan anak kecil!"
Dari jauh Lewis datang membawakan 2 tangkai es krim, satunya disodorkan pada Ainsley. Awalnya Ainsley tidak mau menerima karena masih marah pada Lewis, namun es krim itu sangat menggoda untuk disantap siang hari.
"Aku sangat puas! Wajahmu terlihat murung dari tadi. Untuk itu aku membawamu ke tempat ini dan sekarang kau sudah bisa tersenyum. Ah, aku dengar dari Juni bahwa sebentar lagi akan ada acara kelulusan. Apa yang akan kau lakukan setelah lulus nanti?"
"Aku belum memikirkannya."
"Jika kau mau, aku bisa mengenalkanmu pada pemilik galeri ini atau apa pun itu aku akan membantumu untuk mendapatkannya. Kau bisa menghubungiku kapan saja untuk itu."
"Aku sempat mengira kau bukanlah orang yang baik, tetapi sekarang aku mengakui kesalahanku. Terima kasih, Lewis. Aku sangat menghargai niat baikmu."
Mereka kembali ke restoran dan disambut oleh kemarahan Lexa. Bukan Ainsley melainkan Lewis yang diomeli karena sudah membawa Ainsley pergi saat jam kerja masih berlangsung. Di samping itu mereka yang suka bergosip memandang sinis ke arah Ainsley.
Lexa yang semakin hari semakin sensitif mengundang tanya bagi Lewis. Apalagi jika menyangkut Ainsley, dirinya akan selalu diomeli tanpa sebab. Lewis berpikir jika Lexa cemburu atas kedekatannya dengan Ainsley, karena akhir-akhir ini waktunya lebih banyak bersama Ainsley ketimbang bersama Lexa.
Untuk mengatasi masalah itu, Lewis pun mengajak Lexa pergi jalan-jalan bersamanya besok. Sebagai pengganti waktu yang selama ini dihabiskannya bersama Ainsley. Akan tetapi ajakannya ditolak dengan alasan besok adalah hari Senin di mana pengunjung lebih ramai dari biasanya.
Lexa meraih ponselnya yang berdengung dan langsung menerima telepon di hadapan Lewis. Itu adalah telepon dari teman-temannya yang memberi kabar bahwa ada masalah yang terjadi. Kabar tersebut mengharuskan Lexa untuk segera pergi.
"Lexa, jangan lupa bahwa kau adalah seorang wanita. Kau tidak harus menghajar mereka dan jangan lupa sampaikan salamku pada teman-teman lainnya." melambaikan tangan.
Lexa tidak menggubris ucapan Lewis. Di perjalanan Lexa kesal sendiri dengan Ainsley dan Lewis. Meskipun menyarankan Ainsley untuk menerima Lewis namun Lexa melakukan semua itu bukanlah untuk Ainsley, melainkan semata-mata agar Lewis bahagia dan Lexa tidak ingin Lewis menjadi sedih.
Lexa tiba di sebuah rumah yang pernah dikunjunginya beberapa kali. Lexa langsung masuk ke dalam sana dan di dalam sudah ada pertengkaran yang harus diselesaikan olehnya.
"Kenapa hal kecil seperti ini harus dibesar-besarkan? Apa kalian sudah bosan hidup?" menjitak kepala temannya.
"Ini masalah besar untukku. Kau tau kalau Bobo sudah menemaniku selama ini." menangis.
Tidak diduga masalah besar yang membuatnya sampai tergesa-gesa adalah kematian seekor kucing. Walaupun kesal Lexa harus tenang menghadapi temannya itu.
Akhirnya permasalahan di mana kucing bernama Bobo dikubur terselesaikan. Dibantu oleh teman-teman yang lain, mereka menguburkan kucing itu di belakang rumah. Bunga juga diletakkan di atas makam kecil itu.
"Kenapa Lewis tidak datang?" tangisan baru saja reda.
"Dia harus tetap di restoran karena aku terpaksa meninggalkan restoran setelah mendengar masalah besar ini." menghela napas di akhir kalimat.
"Ngomong-ngomong sampai kapan kau akan pura-pura menjadi kuat?"
Lexa menampar pelan wajah temannya yang baru saja datang, lalu tersenyum sambil berlalu pergi. Sebelum benar-benar pergi Lexa berteriak menjawab pertanyaan itu. Lexa mengatakan bahwa dirinya akan berpura-pura kuat untuk selamanya.
Lexa ingat ketika dirinya pertama kali memiliki keinginan menjadi kuat, yaitu saat Lewis diperlakukan dengan buruk. Lexa tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi pada Lewis. Untuk itu dengan menjadi kuat lah Lexa bisa melindungi Lewis.
bagaimana menurutmu tentang ini kk?