Mati kemudian hidup kembali namun bangun di tubuh seseorang yang berbeda.
Clarissa hidup sebagai seorang ratu bernama Meira.
"Skandal konyol macam apa ini" Gumam Clarissa.
"Yang Mulia, anda berubah sepenuhnya. Anda tidak seperti yang dulu. Terlihat dari kekejaman yang anda buat sekarang!" Ucap Rodiah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asyera Kesita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERIMA INI!!
Pagi yang sangat indah. Indah bagi Meira yang sedang mengalami kemenangan. Bagaimana rasanya? Yah, rasanya bagaikan memenangkan lotre!
Meira bangun. Bukan karena terpaan sinar matahari ataupun kicauan burung. Ia terbangun karena ingin bangun. Hebat bukan?
Suara pintu terbuka. Rodiah datang membawa nampan yang berisi roti dan susu. Rodiah pun meletakannya di Meja.
"Susu yang segar. Apa ini baru diperah?" Tanya Meira sekedar basa basi.
Rodiah duduk setelah Meira duduk. Bukan sifat Rodiah yang tak sopan, hanya saja Meira tidak ingin diperlakukan dengan embel embel ratu. Ia juga sudah tau dia ratunya disini.
"Aku tidak tau Nona Meira. Nanti aku tanyakan," Jawab Rodiah.
"Ah, kau ini! aku hanya bercanda!" Meira menepuk pelan bahu Rodiah. Hal ini sangat canggung. Karena memang jarang terjadi diantara ratu dan dayang.
"Kalau begitu, bawa aku berkeliling kota. oh, ya...sepertinya aku mau ke pasar!" Meira membuka lemarinya. Walau dia masih di istana negeri ungu, namun pelayan sudah siap sedia membawakannya baju.
"Ahhh, bajunya ribetin banget sih. Masa iya ke pasar doang bajunya semewah ini." Gumam Meira dengan tangan yang masih memilih baju. Rodiah yang mendengar itu seakan telinganya asing. Logat yang berbeda dari yang ia kenal.
Pandangan Meira jatuh pada pakaian berwarna kuning. Simple dengan kerah lebar. Ia pun mengambil gunting dan menggunting Renda yang penuh dengan permata.
"Taraaa....Seperti ini lebih simpel. Aku pasti akan nyaman menggunakan ini." gumam Meira.
Rodiah membelalakan matanya. Bagaimana tidak? jarang seorang ratu mau memakai baju gadis jelata. Yang ada Meira akan diremehkan oleh kaum angkuh berkalung berlian.
"Rodiah kau bisa tunggu di luar. Aku akan segera menghampirimu," Meira membawa baju itu untuk dipakai.
"Baik, Yang Mulia."
Meira memakainya dan memoleskan sedikit bedak tabur. Tidak lupa ia memakai wewangian yang sangat manual. Tanpa botol parfum yang dulu sering ia pakai.
***
"Wah, ramai juga. Kenapa bisa sangat ramai?" Meira dan Rodiah menyelusuri pasar yang ada. Mereka berhenti ketika melihat kerumunan orang.
"Sepertinya ada festival," Rodiah menduga duga, juga Meira.
Mereka pun ikut bergabung dalam kerumunan itu. mengapa tidak? mereka kan penasaran!.
"Arhhhh...."
Meira terjatuh . Seorang Pria menyenggolnya. Dengan khawatir Rodiah membantu Meira berdiri. Meira yang terjatuh menatap pria dengan pakaian bangsawannya.
"Dasar kau, keparat!!!" Murka Meira.
Pria itu pun memandang Meira mengejek. Mata sinis serta alis yang naik. Jangan lupakan bibir miring nya. Itu cukup membuat Meira kesal.
"Kau apa, Huh?!" sergah pria itu.
Rodiah yang belum sempat membuat Meira berdiri pun mendapat senggolan keras dari Pria tadi.
"Arghhh" jerit Meira.
Pria itu pun berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Meira. Ia menyentil kening Meira dengan santainya.
"Hentikan tangan kotormu, bung!" Peringat Meira.
"Seperti ini, hah, seperti ini?!!" Seakan belum puas, Pria itu malah menampar pelan pipi Meira. Dengan berulang.
"Kau tak bisa diperingatkan rupanya?!" dengan sigap Meira berdiri. Ia menepuk pelan rok nya agar tanah yang menempel pada roknya jatuh.
"Hmm, kau menantangku?" Tanya Meira dengan tersenyum. Pria itu masih menatapnya dengan pandangan tadi. Iya, yang itu. Yang bibirnya miring, alisnya keatas, dan matanya pun sinis.
"Dasar rakyat jelata," Ejek pria itu.
"Oh. jadi rakyat jelata, ya?" Meira mendekati pria itu.
"Dasar bangsawan korup!!! TERIMA INI!"
***
Siapa hayo yang penasaran
kurang menghargai karyanya sendiri dan pembacanya ..hmm..chayoooo..