NovelToon NovelToon
Air Mata Shafira

Air Mata Shafira

Status: tamat
Genre:Angst / Keluarga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Tamat
Popularitas:146.8k
Nilai: 4.7
Nama Author: Gentra

Shafira adalah, seorang perempuan yang berusia 25 tahun dan sudah menikah dengan seorang pria berkepribadian keras bernama Erick. Selama menikah, ia kerap kali mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Namun, perempuan itu selalu sabar menghadapi kekasaran dari pria yang dinikahinya itu.

Sikap kejam Erick tidak di situ saja, ia tega selingkuh dengan rekan kerja yang merupakan cinta pertamanya, tanpa sepengetahuan istrinya.
Namun, suatu hari hal naas terjadi saat perselingkuhan itu akhirnya terbongkar.

Akankah Shafira bisa mempertahankan pernikahan mereka setelah semua yang terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

“Kemarilah! Riyan, coba lihat sendiri kalau kamu mungkin bisa masuk dan membawaku ikut serta ke dalam kamar Shafira!” kata Ardan meminta dukungan Riyan

Riyan puny kedudukannya sebagai dokter rumah sakit, tentunya akan diizinkan penjaga untuk masuk. Apalagi pria itu yang bertanggung jawab pada kesembuhan Shafira. Jadi, Ardan sangat berharap agar temannya itu bisa membantunya.

Sesampainya di sana, Riyan segera menemui Ardan yang tampak kacau dengan pakaian yang berantakan. Pria itu menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong penjaga saat ia berusaha masuk.

“Ternyata nyalimu kuat juga melawan mereka!” kata Riyan saat sudah berdiri di depan Ardan. Ia melirik dua pria bertato dan bertubuh besar itu, mereka juga tengah menatapnya penuh kewaspadaan.

“Kalu kamu pasti bisa masuk! Lakukan panggilan video kalau sudah berada di dalam kamar Shafira nanti!”

“Video call sama siapa? Kamu?”

“Iya, lah! Jangan bilang kamu tidak bisa!”

“Baiklah, aku akan melakukannya dan kalau kondisinya seperti ini, aku kira kamu tidak perlu kuatir lagi pada Shafira!”

“Kenapa aku tidak boleh khawatir?”

“Apa kamu tidak berpikir dengan adanya dua penjaga itu artinya Erick mulai cemburu padamu, dan kamu tahu apa artinya itu?”

Ardan mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangannya. Ia mencoba menepis perasaannya sendiri saat terlintas pikiran di otaknya bahwa artinya, Erick sudah mencintai Shafira. Iya tetap saja tidak rela kalau pria itu tetap menjadikan Shafira sebagai istrinya. Selama masih ada Wulan di sisi Erick, maka wanita itu tidak akan pernah nyaman dan tenang dalam hidupnya.

“Itu tidak mungkin? Apa kamu yakin Shafira akan baik-baik saja selama Erick masih mempertahankan Wulan jadi istrinya? Aku pikir tidak dia akan lebih sengsara kalau semakin lama tetap bertahan bersama pria tak tahu diri itu!” katanya.

“Ardan, tenanglah! Dan, percayakan semuanya padaku, aku akan mengawasi Shafira ... perawat yang ada di dalam itu, aku kenal dia dengan baik! Jadi, aku akan menginformasikan perkembangan kesehatannya padamu. Kamu tidak perlu berdebat lagi dengan dua penjaga itu ... lebih baik konsentrasi saja mengurus perusahaanmu, aku dengar, Erick juga berbuat sesuatu yang merugikanmu?”

“Ya, dia melobi beberapa pemegang saham dalam waktu singkat dan menjualnya dengan murah, apa itu wajar? Dia keterlaluan sekali!”

“Kamu tahu orang seperti apa dia, kan? Jadi, kalau kau bertindak lebih jauh, maka akibatnya bukan hanya pada Shafira, tetapi pada perusahaanmu juga, pikirkan itu!”

Riyan melangkah ke kamar Shafira dan meninggalkan Ardan seorang diri duduk di kursi besi yang ada di lorong rumah sakit. Ia terpekur ke lantai, dan berpikir, ternyata tidak mudah mencintai istri orang.  

Walaupun, kasih sayangnya murni sebagai sahabat, lama-lama menjadi cinta antara laki-laki dan wanita. Meskipun begitu, ia tidak bermaksud mengganggu rumah tangga Sgafira. Ia tidak menduga jika tantangan sebesar ini harus dihadapinya. Di mana ia diuji dalam mengurus perusahaannya. Ia sudah melakukan segalanya dengan baik dan baru kali ini, ia mendapatkan masalah yang begitu besar hanya dalam waktu satu hari.

Tak lama setelah itu, Riyan yang sudah berada di dalam kamar Shafira, melakukan panggilan video kepada dirinya. Tentu saja Riyan bisa masuk dengan mudah, karena ia dokter yang bertanggung jawab pada Shafira dan tidak termasuk dalam daftar orang, yang dicegah oleh penjaga.

“Hai, Ardan!” kata shafira begitu wajahnya tampil di layar smartphone milik Ardan, pria itu pun tersenyum padanya.

“Maafkan aku Ardan, kita nggak bisa ketemu!” kata Shafira lagi, ia memegang telepon genggam milik Riyan.

“Tidak masalah, yang penting kamu baik-baik saja!” kata Ardan seraya menahan perasaannya.

“Tapi, tetap saja kamu harus maafkan aku, karena sudah merepotkanmu ... gara-gara aku, perusahaanmu mendapatkan masalah!”

“Itu tidak benar, dari mana kamu tahu soal seperti itu?” tanya Ardan heran.

“Erick sendiri yang bilang padaku, dia mengancam akan berbuat lebih banyak lagi kalau kamu, berani menemuiku atau aku menemuimu!”

Ardan termenung sejenak, ia pikir memang Erick mah mampu melakukan semua itu, mengingat kedudukan dan posisi perusahaan yang jauh lebih besar dari dirinya.

“Oh, jadi begitu ... tidak usah dipikirkan, aku baik-baik saja dan aku bisa mengatasinya! Masih banyak pemegang saham dan para investor yang bersedia menanamkan sahamnya di perusahaanku, jadi jangan pikirkan aku, Shafira ... tetap konsentrasi benda kesembuhanmu, ya!”

“Ardan, aku tetap tidak enak padamu, walau kamu bisa melakukan perbaikan pada perusahaanmu, tetap saja ada kerugian, kan? Jadi, maafkan aku!”

“Kamu tidak salah, Shafira, kenapa harus minta maaf?”

Tampak di layar kaca Shafira mengusap air matanya yang menetes, ia begitu simpati pada sahabatnya itu tetapi ia tidak berdaya. Ia juga tidak bisa membantu, biar bagaimanapun, kekuasaan Erick jauh melebihi dirinya dan juga perusahaan Ardan di kota itu.

Sambungan telepon berakhir, setelah mereka membuat kesepakatan, untuk sementara tidak akan bertemu. Ardan akan konsentrasi membereskan perusahaannya dan Shafira akan konsentrasi pada kesembuhannya. Kesepakatan itu, pun didukung penuh oleh Riyan. Pria itu akan memberikan informasi sekecil apa pun mengenai Shafira kepada Ardan.

“Terima kasih, Dokter!” kata Shafira saat mengembalikan smartphone milik Riyan.

Pria itu mengangguk dan menatap Shafira dengan tatapan yang rumit. Ia merasakan sesuatu yang aneh setiap kali melihat senyuman di bibir Shafira. Namun, ia menepis perasaannya sendiri, mengingat ia tidak ingin terobsesi dengan mendiang istrinya pada wanita lain.

Kalau kelak ia mencintai seorang wanita, maka perasaannya harus tulus, bukan karena obsesi semata.  

“Aku pergi dulu, kamu harus semangat untuk sembuh, sepertinya, besok kamu sudah boleh pulang!” kata Riyan seraya menepuk bahu Shafira lembut.  

Hari itu, Ia sudah menemui Shafira sebanyak dua kali, pagi hari di saat ia harus mengontrol kesehatannya dan saat ini ketika Ardan memanggilnya.

“Baik, Dokter, terima kasih!” kata Shafira ketika Riyan membuka pintu untuk keluar kamar dan menutupnya kembali.

Sementara itu di villa kediaman Erick, Wulan tengah bersedih di hadapan Mirna Ibu mertuanya. Dua wanita itu duduk saling berdampingan di sofa ruang tengah yang cukup besar.  

Wulan mengeluhkan sikap Erick yang berubah padanya, laki-laki itu sudah tega menampar pipinya hanya karena membela Shafira.

“Apa? Erick berani menamparmu?” tanya Mirna antusias. Ia menjadi serba salah dan tidak mengira kalau Erick juga bisa berbuat kasar pada Wulan, padahal selama ini anak laki-lakinya itu selalu bersikap lemah lembut di hadapannya.

Mirna tidak masalah kalau Erick berbuat kasar pada Shafira, tetapi ia tidak setuju kalau laki-laki itu juga melakukannya pada Wulan, menantu kesayangannya.

“Iya, Ma ...! Apa Mama tidak melihat masih ada bekas merah di pipiku ... ini sakit sekali, Ma!” kata Wulan, seraya menitikan air mata dan mengusap-usap pipinya yang sedikit bengkak.

Mirna melihatnya dan ia merasa kasihan. Namun, Ia juga tidak mungkin memarahi Erick begitu saja, karena ia pikir anaknya pasti mempunyai alasan sampai tega melakukannya pada Wulan.

Lalu, Wulan menceritakan kronologi kejadian, sampai ia mendapatkan tamparan dari suaminya. Ia bercerita sambil menangis.

Di saat yang sama, terdengar suara pintu ruang tamu dibuka, dua wanita itu menoleh dan terlihat Erik memasuki rumahnya dengan langkah berat. Ia melihat dengan enggan pada ibu dan juga istri keduanya itu.

“Erick! Mama mau bicara!”

1
Rusmiati Eyus
ceritany bgs dn sngt menarik
💞®²👸ᖽᐸ🅤ᘉᎿ🅘💞: Terimakasih kk🙏
total 1 replies
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya indah nya
sungguh mantap sekali ✌️ 🌹🌹🌹
terus berkarya dan sehat selalu 😘😘
Yunerty Blessa: Sama² kak thor....karya yang baik
dan yang penting tetap semangat kak thor ✌️
total 2 replies
Yunerty Blessa
cerita yang menarik....ada sebahagian bisa dijadikan pelajaran..
syabas kak thor
Yunerty Blessa
sabar bu Renata... mereka adalah tamu kalian...
Yunerty Blessa
ibu mertua yang baik dan perhatian sekali....
Yunerty Blessa
tahniah buat kelahiran baby boy kalian...
Yunerty Blessa
aduh lucunya 🤣🤣
Yunerty Blessa
akhirnya Riyan dan Shafira bisa hidup bahagia lagi.... tahniah buat pernikahan kalian....
Yunerty Blessa
menyesal kan
Yunerty Blessa
maka nya isteri itu disayangi bukan disyaki
Yunerty Blessa
apa sudah jadi dengan Erick....
Yunerty Blessa
akhirnya Shafira menerima Riyan juga...
Yunerty Blessa
syabas Riyan
Yunerty Blessa
salah satu nya wasiat kedua orang tua Shafira tidak ditetapi oleh Erick 😏
Yunerty Blessa
takut pilihan nya dibeli oleh calon Ardan....
Yunerty Blessa
terima lah Shafira...
Yunerty Blessa
itulah balasan buat Erick kerana terlalu jahat sama Shafira
Yunerty Blessa
seorang anak haus akan kasih sayang seorang ibu
Yunerty Blessa
kalau memang kau tidak mahu kehilangan Shafira lagi.....nikahi dia Riyan....
Yunerty Blessa
berarti Riyan juga suka dengan Shafira....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!