NovelToon NovelToon
My Possessive Mafia

My Possessive Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?

Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.

Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.

Apakah Quinn mampu bertahan hidup?

Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?

୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

III. Keluarga Musielak

Begitu aku masuk ke gudang, aku langsung menemukan wajah-wajah muram anak buahku. Di sana-sini ada yang mengangkat dagu atau memberi hormat, tapi kebanyakan cuma diam.

Aku jalan ke belakang, naik tangga ke ruangan tempat Vloo berada, bersama bajingan yang mereka tangkap. Dia berlutut di lantai.

Larron sudah menyiapkan semua alat penyiksaan dan berdiri siap di belakang pria itu.

Aku buka kancing jaket, mengangkat bahu, terus taruh jaket di atas meja. Setelah itu aku buka manset dan menggulung lengan baju.

Tanpa perlu menengok ke arah bajingan itu, aku pun bertanya, “Kamu tahu siapa aku?”

“Braun Baek,” jawabnya tanpa ragu.

Aku jalan ke arah peralatan yang biasa kami pakai buat memaksa orang buka mulut, lalu mengambil sepasang tang.

Buat bikin rasa sakitnya maksimal, aku selalu mulai dari yang kecil dulu, terus pelan-pelan meningkatkan levelnya. Dengan cara ini, rasa sakitnya menumpuk dan meremukkan daya tahannya. Begitu dia mulai kebal sama sakitnya, aku hajar lebih keras.

Lebih kuat.

Membunuh dia bukan prioritas aku. Aku mau semua informasi yang bisa dia kasih.

Saat aku berdiri di depannya, aku bertanya, “Nama kamu siapa?”

“Subianto.”

Suaraku tetap tenang, “Kamu kerja buat siapa?”

Subianto mengangkat bahu. “Siapa saja yang bayar lebih.”

“Siapa yang nyewa kamu buat kerjaan ini?”

“Aku enggak pernah ketemu sama orang yang nyewa aku.” Kepalanya miring sedikit.

Dia menunduk sambil menunjuk ke sakunya.

“Kami cuma komunikasi lewat forum.”

Pandanganku pindah ke Larron. Dia langsung maju, ambil HP dari saku Subianto, lalu menyerahkannya kepadaku.

“Kata sandi,” perintahku.

“Satu. V.”

Aku geser layar, terus angkat alis ke arah Subianto.

“Ikon kedua di bagian atas layar.”

Ikon itu menunjukkan kalau isinya informasi yang dibutuhkan. Begitu aku buka aplikasinya, layar hitam penuh topik langsung bermunculan.

“Ruang obrolannya di pojok kanan bawah,” kata Subianto.

Aku masuk ke ruang obrolan dan buka chat paling atas. Aku baca pesan singkatnya dan langsung yakin kalau Subianto cuma pekerja bayaran. Dia disuruh mengambil pankreas dan mengantarkannya ke rumah sakit di luar kota.

Aku menghela napas pelan.

“Lepasin ikatannya.”

Begitu Larron nurut, Subianto berdiri dan menatap mataku.

“Kamu bisa cari tahu siapa yang nyewa kamu?” tanyaku.

Waktu dia mengangguk, aku lanjut, “Khianatin aku, dan aku bakal bunuh kamu pelan-pelan ... sampai kamu gila karena kesakitan.”

Aku balikkan HPnya. Begitu dia menerimanya, dia bilang, “Aku enggak tahu organ itu milik salah satu anak buahmu. Aku enggak bakal nerima kerjaan ini kalau aku tahu.”

“Kamu bakal komunikasi sama Vloo,” kataku dingin.

“Kamu punya waktu tujuh puluh dua jam buat cari tahu siapa yang nyewa kamu.”

Dia mengangguk, lalu balik melirik Vloo. Begitu mereka keluar ruangan, aku balikkan tang ke meja dan ambil jaketku. Saat aku pakai lagi jaket itu, HP aku bergetar. Aku keluarin dari saku.

Aku terima telepon dari Gustav.

...📞...

“Apa?”

^^^“Aku lagi otw ke gudang. Tunggu aku di sana.”^^^

Waktu aku turun ke lantai bawah, aku lihat Subianto sedang ngobrol sama Vloo.

Aku enggak percaya, aku harus membunuh si pembawa pesan itu, apalagi kalau dia bisa membawaku ke orang atau kelompok yang bertanggung jawab. Tapi begitu semua informasi aku dapat dari Subianto, dia bakal mati karena dia juga punya peran dalam kematian Naveen.

Sambil menunggu Gustav, semua kejadian pagi itu berputar lagi di kepalaku, dan aku dihantam rasa sakit bertubi-tubi sampai hampir membuatku roboh.

Dia sudah pergi.

Naveen sudah pergi.

“Sialan,” desisku sambil menahan nyeri yang menusuk dada.

Aku dengar suara mesin, dan mataku langsung ke arah mobil bedah yang sedang dibawa ke sisi lain gudang.

Enggak lama, Gustav lari ke arahku. Aku berusaha keras menahan rasa sakit itu.

Waktu dia kasih isyarat, aku mengikuti dia. Setelah pintunya tertutup, dia mengeluarkan HPnya dari saku.

“Kasih aku waktu sebentar. Aku bahkan enggak ingat setengah dari apa yang Nabilla temuin.”

Aku menyilangkan tangan di dada. Dia berdiri di sampingku biar aku bisa lihat layar HPnya dan sebuah catatan medis.

“Jadi ginjal itu dikasih ke seorang wanita bernama Quinn Musielak,” kata Gustav.

“Papanya, Tanoko Musielak, yang bayar tagihan rumah sakit, dan jumlahnya gede banget. Orang itu pasti kaya. Operasinya ditangani Dr. Nolan. Aku udah nyuruh orang buat ngawasin mereka semua.”

Gustav buka Google dan mengetik nama Tanoko Musielak. Artikel demi artikel bermunculan. Dia tokoh besar di sektor keuangan dan masuk daftar Crazy Rich di Jakarta.

Musielak kehilangan istrinya dalam kecelakaan mobil, dan putrinya menderita. Di kecelakaan yang sama, ginjalnya rusak. Karena waktunya mepet, Tanoko beli ginjal di pasar gelap.

Mataku langsung ke Gustav. “Kenapa Naveen?”

“Naveen dan Quinn Musielak sama-sama golongan darah O-negatif.” Dia lempar sesuatu ke arahku, tatapannya penuh tanya. “Apa Naveen pernah donor darah? Nabilla mikir mereka dapat datanya dari bank darah, terus dicocokin sama Quinn Musielak.”

Iya.

Naveen pacaran sama cewek yang kerja di unit transfusi darah. Dia donor cuma buat bikin cewek itu terkesan.

Aku hampir ketawa, tapi kesadaran soal kematian Naveen langsung menabrakku lagi.

“Saran aku, kita cari Tanoko dan dokter itu, cari tahu ginjal itu milik siapa,” kata Gustav. “Nyari siapa yang jual informasi di bank darah itu, kayak nyari jarum di tumpukan jerami.”

Adik laki-laki aku dibunuh dan organnya diambil cuma karena golongan darahnya.

Naveen seharusnya ditakdirkan buat hal-hal yang jauh lebih besar dari ini.

Aku jalan ke sofa, terus jatuh terduduk dan mulai mengusap telapak tangan ke wajah. Rasa sakitnya enggak ketahan. Nyeri itu meluap, berat, dan bikin dadaku sesak.

“Kamu mau ngapain?” tanya Gustav.

Karena aku tahu aku bisa jujur sama tangan kananku, aku pun bergumam, “Aku enggak tahu. Kepalaku kacau.” Aku ngusap dada, menunduk, dan menutup mata. “Naveen udah enggak ada.” Suaraku serak. “Dia udah mati.”

Gustav duduk di sampingku dan taruh tangannya di bahuku. “Kita semua merasa kehilangan. Aku bakal kangen suara ketawa dia.”

Sambil menggeleng, aku berusaha buat tetap tenang. Naveen sudah mati, dan aku enggak punya waktu buat tenggelam dalam duka. Aku harus mengejar setiap petunjuk selagi masih hangat.

Aku harus bangkit dan menjadi Big Boss yang mewakili dari keluarga Baek untuk Marunda, yang ditakuti semua orang.

Begitu semua orang yang terlibat sudah mati, barulah aku bisa menjadi saudara Naveen dan menangisi kehilangannya.

Aku tarik napas dalam-dalam, mengangkat kepala, dan bilang, “Urus pemakamannya. Suruh orang-orang nyisir rumah sakit dan bank darah buat cari informasi. Jangan bikin Musielak atau dokter itu curiga. Biarin orang kita terus ngawasin mereka sampai aku mutusin langkah selanjutnya. Aku enggak mau tersebar kabar kalau aku lagi nyari bajingan-bajingan perdagangan organ itu.”

Saat aku berdiri, Gustav bertanya, “Terus kamu mau ngapain?”

“Aku mau ke rumah sakit.”

1
sleepyhead
Dan akhirnya A death pact with the Grim Reaper
sleepyhead
( -̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷄◞ω◟-̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷅ )
Adellia❤
jadi intinya q enggak bisa siksa Quin sampe 6 bulan kedepan??? setan .... hahahaha... ngakak pollll😂😂
Lisa Halik
kesianlah quiin klu dia pun di siksa
Rainn Dirgantara
Lanjut kak
Rainn Dirgantara
Cinta sma siapa, dia siapa? Salfok
Rainn Dirgantara
Emang, dokter apaan kek gitu
Rainn Dirgantara
Diem deh nolan, etdah santai bgt tuh org
Rainn Dirgantara
Lah enak pake bg lah quin ngapain polisi 😏
Adellia❤
dan dy bisa bunuh km kapanpun..
Rainn Dirgantara
Aduhh 💔😭
Rainn Dirgantara
Ga sepenuhnya salah quin juga, kalo dia tau dapet ginjal nya dngn cara gitu pasti dia gamau 🥺
Rainn Dirgantara
Naikin aja dulu harga awalnya, abis itu kalo masih minta diskon lagi tinggal kasih wkwk
Adellia❤
detak jantungnya enggak akan meningkat hanya karna bunuh orang Quin tapi suatu hari nanti km yg bikin dy jantungan..
Adellia❤
AK, PDW apa itu thorrr???
Adellia❤: oke👌 AK yg kayak di pake pasukan BRIMOB kali yak..
total 2 replies
Adellia❤
Quinn... 😭😭😭😭 sumpah ini sedih bangett kalo dari awal tau Quinn pasti enggak mau transplantasi ginjal 😭😭😭😭 seseorang harus bertanggung jawab bukan km Quinn😭😭😭
Adellia❤
sumpah serem bangett kalo q yg di posisi Quin udah ngompol berkali" terus enggak sadarkan diri..
Adellia❤
woyyy cover kenapa jadi CEO gitu enggak cocok sama bang braun 😭😭😭
Adellia❤: hah ??? serius thorrr tuh cover berubah sendiri ??? bukan km yg ganti??? udah kayak siluman tuh cover bisa ganti wujud..
total 2 replies
Adellia❤
kasian km Quin pasti bingung bangett takut juga..
Adellia❤
sayangnya dy kebal polisi Quin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!