“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”
Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?
Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIP19
Abirama dan Dinda berjalan berdampingan, punggung tangan mereka bersisian dan tak sengaja saling bersentuhan. Keduanya mengulum bibir, sama-sama tampak malu, meskipun beberapa saat lalu sudah saling bercumbu mesra di bawah hujan.
Abirama meraih tangan Dinda, menatap intens. “Kalau ingat pertemuan pertama kita, kamu bakal nyangka nggak sih kalau akhirnya kita bisa ciuman kayak tadi?”
Pipi Dinda langsung merona. “Ih, jangan dibahas ah, Maspol. Bikin malu.”
Abirama terkekeh sambil mengacak pelan rambut Dinda.
“Kamu jangan panggil Maspol terus dong,” protesnya.
Dinda menggigit bibir, berpikir sejenak. “Terus apa? Mas Rama?”
“Cayang,” jawab Abirama sambil meninju angin sangking salting dan girang.
“Apaan sih, lebay banget om-om satu ini,” omel Dinda, padahal hatinya sendiri sedang berbunga-bunga.
Mereka kembali berjalan berdampingan dengan langkah seirama. Langit di ufuk timur perlahan memudar dari hitam ke kelabu pucat, hujan pun tinggal rintik terakhir.
Sesekali Abirama memperlambat langkah, jemarinya merogoh ponsel dan kembali mencoba menghubungi nomor Bella—sekali, dua kali, tetapi tak membuahkan hasil.
‘Kamu di mana, Bell?’ gumamnya dalam hati.
Sehebat apa pun Bella yang ia kenal, setangguh dan setajam apa pun insting serta keberaniannya di medan bahaya — bagi Abirama, Bella tetaplah seorang perempuan. Memikirkan Bella melawan bandit-bandit di Pulau Darasila yang tak diketahui jumlahnya, cukup membuat dada pria itu diremas cemas.
Tanpa banyak pikir, ia berinisiatif membagikan lokasi terkini mereka, fitur pelacak GPS yang akan aktif selama satu jam penuh, memastikan Bella bisa mengetahui posisi, arah pergerakan, dan jarak mereka bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Setelah ikon terkirim muncul, Abirama mengunci layar, menyimpan ponsel ke dalam tas, lalu menatap ke depan dengan waspada, langkahnya kembali menyatu dengan langkah Dinda.
“Maspol nelfon siapa, sih? Dari tadi kayaknya sibuk banget sama hape.” Dinda bertanya dengan wajah cemberut.
“Bu Niken,” jawab Abirama jujur.
“Oh ....” Dinda tersenyum kecut. “Kalian udah lama kenal? Kok, kayak akrab banget aku liatnya.”
“Udah dari zaman aku masih kemasan sachet, Din. Kenapa? Kok nadanya kayak orang cemburu?” tanya Abirama usil.
Mata Dinda mengerjap lucu. Telunjuknya mengacung ke dadanya sendiri. “Aku? Cemburu? Nggak ada sejarahnya,” sangkalnya cepat. “Terus, kalau mas-mas gila yang nenteng kepala orang tadi, siapa?”
“Suamimya Bu Niken,” jawab Abirama.
“Hah? Serius? Kok bisa?” Dinda tak percaya. “Maksudku, Bu Niken kan dosen, kok mau-maunya nikah sama cowok serem kayak gitu?”
“Namanya udah kecintaan, Din. Tai ayam juga rasa coklat,” sahut Abirama santai. “Tapi kamu jangan remeh gitu. Cowok serem yang kamu maksud itu seorang dokter loh.”
“Ah, masa? Nggak percaya aku. Kayak cowok mokondo gitu.” Dinda menggeleng cepat, jelas-jelas tak mau percaya.
Abirama tergelak mendengar Dinda mengatai Edwin mokondo.
“Dinda ... Dinda ... bahkan kalau pulau ini beserta isinya dijual — cowok yang kamu katain mokondo itu sanggup beli lho.”
“Nggak per-ca-ya,” sahut Dinda sambil menekan setiap suku kata, sungguh sangat denial.
Melihat betapa keras kepalanya Dinda, Abirama hanya tersenyum kecil sambil terus menggenggam jemari gadis muda itu. Namun, tak lama, senyum pria itu memudar — berganti raut tegang.
Langkahnya mendadak berhenti. Abirama merasa, ada yang mengawasi mereka. Sorot mata lembut pun berubah waspada. Ia menarik Dinda ke belakang tubuhnya, sifat protektif terbentuk begitu saja.
Dinda mengernyit heran di belakang. “Maspol?”
“Ssshh! Diam sebentar.” Pandangan pria itu menyapu sekitar.
Pepohonan yang basah, dedaunan diterpa angin, tak ada yang tampak ganjil. Sampai akhirnya, suara ranting diinjak membuat keduanya tegang.
Krak!
“Sial!”
Tanpa perlu aba-aba, Abirama dan Dinda bergerak saling membelakangi. Punggung mereka bersentuhan, membentuk poros pertahanan seadanya. Abirama sudah mengangkat pistol, moncongnya mengikuti arah suara dengan jemari siaga di pelatuk. Di sisi lain, Dinda menggenggam tongkat bisbol erat-erat dengan kaki nyaris lemas.
Angin berembus cukup kencang, membuat dedaunan kembali bergoyang. Detik-detik terasa memanjang, hingga sekelompok pria bertato serupa serentak keluar dari balik pepohonan.
“Dasar menyusahkan!”
“Bikin banyak kerjaan kita-kita aja.”
“Percuma kalian berusaha kabur dan menyelamatkan diri. Siapapun yang masuk ke pulau ini, nggak akan bisa keluar dengan selamat, hahaha!”
Gelak tawa bersahut-sahutan.
‘Satu ... dua ... tiga ....’ Abirama menghitung dalam hati. ‘Sial, mereka banyak sekali!’
Tujuh musuh kini berdiri di depan mata, sementara sisa peluru di pistolnya tinggal tiga. Belum lagi lengannya masih terluka, nyeri berdenyut setiap kali ia mengencangkan genggaman.
Abirama tak peduli dengan nyawanya, yang memenuhi pikirannya kini keselamatan Dinda. Gadis itu harus selamat.
“Maspol ... kita harus gimana?” lirih Dinda dengan tubuh gemetar.
“Seberapa cepat kamu bisa lari, Din?” tanya Abirama setengah berbisik, tanpa mengalihkan pandangan.
“A-aku nggak tau ...,” suara Dinda bergetar, ia hampir menangis.
Abirama menatap tajam, tatapannya terkunci pada tiga pria yang berdiri menghalangi jalur keluar, senjata tajam mereka sudah setengah terangkat.
‘Aku nggak punya waktu lagi,’ batinnya.
Dengan penuh keyakinan, Abirama mengarahkan senjata.
DOR!
DOR!
DOR!
Tiga lawan ambruk.
“Sekarang!” teriaknya.
Abirama menarik tangan Dinda kuat-kuat. Mereka berlari kencang menerobos semak, hujan sisa subuh tadi membuat tanah licin.
“Kejar!”
Abirama dan Dinda bak dikejar anjing pemburu, napas mereka tersengal, langkah mereka semakin tak beraturan.
Brugh!
Kaki Dinda tersangkut akar pohon yang mencuat. Tubuhnya terpelanting ke depan, menghantam tanah dengan keras.
“Aakkhh!”
“Dinda!” Abirama berbalik, langsung mengulurkan tangan.
Jari-jari mereka hampir bersentuhan. Namun, sesuatu yang keras menghantam kepala pria itu dari belakang—
BUGH!
Abirama tersungkur, darah segar mengalir membasahi belakang telinga. Dapat ia lihat, Galih — sekdes mesum yang mengantar ia dan Bella ke rumah Andika, kini menyeringai sambil menggenggam balok besar di tangan.
“Bajingan!” desis Abirama di sisa-sisa kesadarannya.
Galih mendekati Dinda yang sudah berdiri dengan tongkat bisbol tergenggam erat di tangannya.
“Gadis cantik sepertimu untuk apa membawa benda-benda berbahaya seperti itu?” tanya Galih sambil menjilati bibirnya sendiri. Tatapannya kotor, pikirannya sudah dipenuhi niat menjijikkan.
“Menjauh kau!” bentak Dinda.
Ia mengayun-ayunkan tongkat itu dengan wajah garang, berusaha menahan gentar yang merayap di dadanya. Namun Galih dan komplotannya justru tertawa remeh.
“Tangkap dia,” perintah Galih santai pada anak buah yang tersisa. “Mumpung para elit belum ada yang membelinya, biar aku dulu yang mencicipi tubuhnya.”
Dua pria bertubuh besar segera maju. Dinda berusaha melawan, mengayunkan tongkat ke arah mereka secara membabi buta. Namun satu tangan kasar berhasil menangkapnya, memelintir, lalu melemparkan tongkat itu jauh ke tanah.
“Ah!” Dinda meringis ketika kedua lengannya ditarik paksa, cengkeraman mereka menyakitkan.
“Singkirkan tangan kalian, Bajingan!” suara Abirama menggelegar.
Abirama berusaha bangkit, menopang tubuhnya dengan satu tangan. Namun belum sempat berdiri, sebuah sepatu menghantam lengannya yang masih terbalut perban.
“AAARGH!” jerit Abirama kesakitan. Rasa nyeri itu menjalar, membuat penglihatannya semakin berkunang.
“Maspol!” teriak Dinda histeris.
Melihat Abirama tak berdaya, Dinda meronta semakin keras. Dalam kepanikan dan naluri bertahan hidup, ia menundukkan kepala—lalu menggigit dada pria yang mencengkeram lengannya sekuat hati.
“AAASU!” Pria itu mengumpat kesakitan. Darah langsung merembes dari bekas gigitan.
Ia mengintip di balik kaos, pu-tingnya nyaris copot.
“Perempuan sialan!” Ia menjambak rambut Dinda dengan geram, sementara tangannya yang lain mengeluarkan sebilah pisau.
Srettt!
Pisau itu menyayat leher Dinda.
Darah menyembur hangat, membasahi tangan dan pakaian gadis itu. Tubuhnya limbung, napasnya tercekik di tenggorokan.
“Dindaaaaaaaa!” jerit Abirama histeris.
“Sial!” umpat Galih kasar pada anak buahnya. “Kenapa kau harus menusuknya?! Dasar tolol!”
Pria itu sangat jijik dengan darah, melihat kondisi Dinda saat ini berlumur merah pekat, hawa birahi yang sempat membakar kepalanya lenyap seketika.
Galih meraup wajah sambil mendengus kasar. “Bawa dia,” perintahnya dingin sambil menunjuk Abirama.
Dua anak buah segera menarik tubuh Abirama yang masih berusaha bangkit, meski lengannya kembali diinjak tanpa ampun.
“Para elit sebentar lagi tiba,” lanjut Galih. “Tinggalin aja barang-barangnya di sini. Senjata, tas—biar yang lain yang beresin nanti.”
Tatapannya melirik sekilas ke arah Dinda yang tergeletak bersimbah darah, lalu berpaling tanpa ragu.
“Gadis itu biarkan aja. Nanti kalau udah mampus baru di urus. Kita nggak punya waktu.”
Mereka menyeret Abirama menjauh dari lokasi itu, pria itu meronta sia-sia, teriakan Dinda masih menggema di kepalanya. Sedikit kewalahan, salah satu dari mereka menyuntikkan sesuatu ke tubuh Abirama. Cairan itu bekerja cepat—otot-ototnya melemas, pandangannya mengabur, tubuhnya kian tak berdaya. Sementara itu, Galih berbelok menuju arah berbeda, meninggalkan kekacauan di belakang seolah semua itu bukan lagi urusannya.
Melihat punggung Galih menghilang di balik semak, salah satu dari mereka pun berbicara.
“Weyy, kalian bawak lah dulu dia ke markas, aku mau ngurus cewek tadi. Kasian kali.”
“Alah, kasian kasian, bilang aja kau mau berbagi lendir sama calon bangkai itu, hahaha!”
“Tau aja kau niatku, hahaha. Gimana lah ya, kan, gede gitu. Macam mana tak tergiur awak.”
“Yaudah, kau cepat sana. Mumpung belum mati itu perempuan. Biar masih ada kedutannya. Hahaha!”
Sementara itu, di atas tanah berlumpur —Dinda dibiarkan tergeletak sendirian, darah masih mengalir dari lehernya, napasnya terputus-putus di antara rintik hujan yang kembali turun.
Dengan penglihatannya yang nyaris mengabur tertutup air mata, Dinda menatap siluet seseorang berdiri di bawah kakinya. Seseorang yang menatapnya dingin dengan seringai mengerikan. Dinda memejamkan mata, memasrahkan takdirnya pada Tuhan.
*
*
*
k dehwa lekas sembuh 😩