Bahaya!
Seorang gadis manis menjual dirinya sendiri pada kakak iparnya. Kirana namanya dia mendapat perlakuan sadis dari sang suami yang menyuruhnya menjadi wanita malam.
Kirana tidak pernah di sentuh oleh suaminya, sehingga hubungan terlarang antara dirinya dan kakak iparnya perlahan menjadi sebuah kerangka cinta.
Mampukah cinta mereka meruntuhkan norma, dan membebaskan Kirana dari cengkeraman suaminya?
Simak kisah lengkapnya dalam Novel Pelacur tapi Perawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana bulan madu
Siang itu kegiatan Alvin berjalan seperti layaknya suami idaman, dia selalu memberi apapun yang di inginkan oleh Kirana.
Setelah satu bulan pernikahannya, Alvin dan Kirana hidup bahagia meski di luar Alvin terkesan cuek dan dingin namun di dalam kamar Alvin adalah sosok pria pemuas yang memuaskan dan sangat luar biasa hot.
Suatu hari sebuah rencana terbersit dalam kepala jahil Keenan, saat itu sepulang sekolah dia mampir ke perusahaan kakak iparnya, selain untuk mengganggu pekerjaannya tentu saja tidak ada yang lain.
"Hai kak, lagi apa?" Keenan masuk ke dalam sebuah ruangan mewah di mana Alvin nampak tengah fokus menghadapi komputer dan pekerjaannya.
"Aku sedang memancing." Ucap Alvin sebal, sudah tahu lagi kerja malah di tanya sedang apa ya jelas Alvin geram.
"Heheh.. jangan judes gitu dong kakak ipar, aku punya sebuah ide nih." Keenan duduk di sofa di dekat sang kakak seraya membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya.
"Semua ide mu itu gak ada yang berhasil dan semuanya pasti berakhir menyesatkan." Ucap Alvin memutar bola matanya malas.
"Suer deh kali ini pasti berhasil, soalnya kemarin aku denger kak Kirana bilang sesuatu." Keenan membuka mesin pencarian dalam ponselnya.
"Bilang apa?" Alvin kini nampak tertarik dan menghentikan tangannya yang tengah mengetik menatap Keenan dengan serius.
"Dia bilang kalo dia kangen kampung." Keenan memasang wajah sedih dan terpuruk seperti habis di tindas.
"Kampung?" Alvin nampak berpikir dan mengingat memang dulu Kirana tinggal di kampung?
"Iya kak, sebelum kak Kirana masuk kuliah kita sebenarnya tinggal di kampung, kami selalu menghabiskan waktu seru di sana, dan sepertinya sekarang kakak sedih dan merindukan masa masa itu." Keenan menjelaskan pengalamannya ya meski agaknya dia sendiri juga tidak ingat saat saat itu.
"Lantas?" Alvin akhirnya kembali membuka mulut, meski dirinya berpikir bila itu adalah jebakan namun bila di pikir ulang entah jebakan apa yang akan di lakukan Keenan sekarang.
"Kok Lantas? Ya kakak ajak kak Kirana ke darah pedesaan, nih kaya ini dan ini nih, kan keren sekalian bulan madu. Kalian bulan madu cuma di kamar aja gak bosen apa?" Keenan kini terlihat seperti pakar cinta yang profesional. Dia juga memperlihatkan beberapa gambar dari mesin pencarian seperti tempat menginap ala ala desa.
"Heh bocah tengil, jangan ikut campur masalah kami yang seperti itu sekarang pulang saja sana dan jangan ganggu aku bekerja. Cepat besar biar bisa bantu aku!" Alvin mengibaskan tangannya dengan seringai tipis di bibirnya.
"Iya iya, cih dasar kakak ipar laknat!" Keenan menggerutu kesal dan akhirnya keluar ruangan sang kakak dengan wajah sebal. Alvin yang masih berada di ruangan akhirnya berpikir, bila benar apa yang di katakan oleh Keenan mungkin dia juga akan untung banyak, lagi pula dia tidak pernah bulan madu dengan Kirana selama ini.
"Yesi." Alvin memanggil sekretarisnya, hingga nampak sosok wanita cantik dengan dandanan elegan tidak mencolok.
"Iya Bos?" Yesi melangkahkan kakinya ke hadapan meja Bosnya.
"Tolong kosongkan jadwal satu minggu ke depan." Yesi mengerutkan keningnya, kini dia agaknya akan jadi tumbal lagi atas kekacauan perusahaan akibat Bosnya yang hobi menghilang.
"Tapi Bos, beberapa rapat penting akan di adakan minggu ini." Yesi nampak berusaha menjelaskan agar pria itu bisa tetap bekerja.
"Aku akan pergi bulan madu, hubungi Jack dan dia akan membantu mu seperti biasa." Alvin mengatakan itu nampak tanpa rasa berdosa membuat Yesi memutar bola matanya malas.
Aku selalu saja jadi tumbal atas kebucinan mu Bos, kau ini jadi budak cinta juga jangan pakek tumbal ngapa, hadeh. Gerutu Yesi dalam hatinya, memang selama ini Yesi selalu menjadi tumbal atas kegalauan Alvin.
Saat Alvin mencari Kirana saat itu dirinyalah yang menghendel pekerjaan Alvin, meski Alvin sendiri sering membantunya dalam beberapa data yang penting. Jack juga sama dia juga selalu jadi tumbal mahluk gila itu saat Alvin sudah bersangkutan dengan Kirana.
Namun, meski begitu mereka juga cukup senang karena kehadiran Kirana juga membuat mood Bos besar itu berubah, dia jadi tidak gampang marah dan selalu bersikap bijaksana.
"Baik Bos, apa ada yang lain yang harus saya kerjakan?" Yesi bertanya meski dalam hati menggerutu amat kesal.
"Tidak, tidak ada lagi yang perlu kamu kerjakan, kamu sudah berkorban banyak dan sekarang kamu pasti sedang menyumpahi saya dalam hatikan?" Alvin berbicara menusuk tepat di hati Yesi.
"Tidak Bos, saya tidak berani. Bila demikian saya akan langsung membatalkan beberapa pertemuan dan menyelesaikan segalanya." Yesi pamitan dan mengundurkan diri dari hadapan alvin.
Alvin yang berada di ruangan itu buru buru membuka leptopnya dan mencari tempat yang cocok hingga pilihannya jatuh pada sebuah tempat dengan nuansa pedesaan yang berada di Bali, tempat itu nampaknya sangat tenang dan nyaman, fasilitas di sana juga nampaknya cukup mumpuni dan aman untuk berbulan madu.
Alvin menyeringai penuh arti hingga akhirnya dia menghubungi salah satu sahabatnya saat kuliah dulu, Galuh. Dia berencana akan berlibur selama dua minggu di dua tempat yaitu di puncak, dan di Bali.
Setelah begitu banyak persiapan akhirnya sore itu Alvin pulang dengan wajah berseri seri, saat di rumah tiga orang manusia nampak berada di dapur tengah melakukan gotong royong demi mengisi perut mereka.
"Sore." Sapa Alvin hingga ketiganya berbalik menatap Alvin dan Momy juga nampaknya menggeleng saat melihat kepulangan Alvin, wajah Kirana juga nampak masam namun wajah Keenan nampak berseri seri penuh kemenangan seperti habis mendapatkan lotere.
"Sayang kok gak sambut suami pulang si." Alvin memeluk Kirana dari belakang hingga segudang sampah serapah terdengar dari bibir Kirana.
"Dasar tidak peka, gak punya perasaan." Kirana terus menggerutu dengan wajah yang masam.
"Kenapa sayang kok ngatain aku kaya gitu si? Aku capek loh baru pulang kerja." Alvin kini memasang wajah latihannya membuat Kirana kian tak perduli sedangkan Momy dan Keenan langsung menyiapkan makanan yang baru saja mereka buat.
Di depan meja makan mereka tidak berbicara seperti biasanya, bahkan mereka nampaknya acuh tak acuh dengan keberadaan Alvin, Alvin semakin bingung dengan apa yang terjadi.
Setelah makan mereka akhirnya masuk ke kamar masing masing, kecuali Keenan yang langsung datang ke pos para penjaga dan bermain catur bersama para penjaga yang tidak ikut patroli.
Alvin nampak gelagapan saat Kirana semakin marah di dalam kamar dia terus menyumpahinya tidak peka dan tidak punya perasaaan, namun Alvin tidak merasa seperti itu. Kenapa sebenarnya dengan Kirana? dan apa yang di lakukan Keenan hingga wajah wanitanya itu masam seperti itu? Lalu bagaiamana sekarang dengan rencana bulan madu yang sudah dia persiapkan?
Mbak baru mau maraton lagi dikarya kak Nuah yang sudah tamat
ceritanya bagus👍👍