Seorang kakak laki-laki, harusnya menjadi pelindung bagi keluarganya, khususnya adik perempuannya. Tapi, hal itu dilupakan oleh Gildan. Demi mimpinya, Gildan nekat pergi bersama calon istri, seorang tuan muda. Hingga tuan muda itu marah, dan membalas dendam pada adik perempuan Gildan.
Rashita sangat tahu, pernikahan ini adalah awal kegelapan dalam hidupnya, namun dia harus menikah dengan tuan muda itu, demi menyelamatkan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Abi Mundur
Ara segera turun dari taksi, karena dia sudah sampai ditempat tujuannya. Dengan wajah yang penuh amarah, Ara berjalan cepat memasuki villa yang Mark maksud. Ara meraih ponselnya. Dia langsung menelpon Mark.
'Di mana kau?' Tanya Ara begitu sinis.
'Masuk saja beib, nanti pelayan akan mengantar kamu.' Seru Mark.
Ara langsung menutup panggilan teleponnya tanpa basa-basi lagi.
Benar saja, saat dia memasuki bagian dalam villa itu seorang pelayan wanita menyambutnya dan langsung mengantar Ara ke ruangan khusus milik Mark.
"Hallo beib .…" sapa Mark, saat matanya melihat sosok wanitanya itu berjalan ke arahnya.
Wajah Ara masih nampak masam. Sedikitpun tidak ada signal kebahagiaan dari wajah itu.
"Kamu tahu? Aku dapat ide yang barusan, saat aku reunian bersama teman-teman aku, aku teringat salah satu teman aku dulu, dia bunuh diri karena malu di panggil anak koroptor. Apakah temanmu itu juga terjun bebas dari atap gedung sekolah?" Tanya Mark begitu bahagia.
Plakkk!
Tamparan keras dari tangan Ara mendarat telak di wajah Mark.
Mark langsung memegang pipinya yang kena tamparan Ara. "Kenapa kau menamparku?" Senyuman manis dari wajah Mark barusan, berubah jadi tatapan yang sangat tajam.
"Rencana kamu semuanya tidak bermutu! Tidak satupun rencana kamu itu buat keluarga Gildan menderita! Mereka masih bahagia!" Teriak Ara penuh kemarahan.
"Apa maksud kamu?" Mark bingung dengan ucapan Ara.
"Sedikitpun tidakkk! Shita ataupun papa mamanya, tidak menderita karena kasus barusan!" Teriak Ara.
"Wanita macam apa dia?" Gerutu Mark.
"Hehhh! Ternyata? Kau selalu mengambil keuntungan dari tubuhku! Namun kau sama sekali tidak bisa memenuhi ke inginanku yang satu itu!" Ucap Ara sinis.
Mark berjalan mendekati Ara. Ara perlahan berjalan mundur, karena takut melihat rekasi wajah Mark.
"Selamat siang tuang muda!" Teriak Gimar dan abi yang baru saja datang, mengejutkan Mark dan Ara.
"Huuuhhh!" Ara bernafas lega. Tadi dia sangat ketakutan saat Mark berjalan mendekatinya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Ada apa?" Tanya Mark.
"Tuan muda, sebaiknya tuan muda segera menggelontorkan dana yang besar, pada perusahaan yang kita minta menjebak Sammy, karena anak profesor Jecco dan pengacara Sammy, tengah menggali informasi lebih dalam." Seru Gimar.
"Kenapa Jane selalu ikut campur dan menolong gadis kecil itu!" Bentak Mark.
"Apa dia wanita yang menyiramku saat pesta topeng itu?" Tanya Ara.
"Iya," jawab Mark begitu datar.
"Sepertinya Jane harus ku beri peringatan!" Seru Mark.
Perasaan Abi langsung meledak, namun dia berusaha santai.
"Maaf tuan muda, gadis yang bernama Shita itu tidak bersalah pada kalian, kenapa tuan muda begitu bernafsu menghukum dia?" Tanya Abi.
"Aku melakukan apapun yang aku senangi Abi!" Teriak Mark.
"Tuan muda, kenapa anda dan Ara tidak menikah saja?" Seru Gimar.
Mark langsung menatap tajam kearah Ara, Mark dan Ara beradu pandangan. Ara langsung mengubah arah pandangannya ke arah Gimar.
"Aku sudah tanda tangani kontrak fashoin, walaupun aku tidak bermasalah membatalkan semua kontrak, karena adanya kuasa Mark. Tapi aku tetap tidak mau menikah denganmu Mark." Ucap Ara begitu lantang.
"Di luar sana, banyak wanita yang mengemis agar bisa tidur bersama Mark, tapi kau malah menolak menikah dengan Mark?" Gimar menyeringai memandang Ara.
"Aku ingin konsisten dan profesional dalam pekerjaan. Bukan cuma itu, menjadi istri Mark hanya sebuah becana yang tiada akhirnya. Dalam ikatan pernikahan bukan s*ks semata, tapi bermacam ikrar dan hal lainnya. Maaf Mark, aku suka padamu sebagai teman kencan, tapi untuk menjadikanmu suami? Aku tidak berminat!" Seru Ara.
"Derita tiada akhir?" Mark berjalan mendekati Ara dan langsung mencengkram rahang Ara begitu kuat, membuat gadis itu nampak kesakitan karena perbuatan Mark.
"Perkataanmu barusan membuatku mendapatkan ide!" Wajah Mark seketika mengukir senyuman yang sangat lebar.
"Gimar! Atur rencana baru! Buat gadis salju itu mau menikah denganku!" Teriak Mark begitu lantang.
"Tuan muda, wanita itu begitu penakut! dia melihat wajahku saja pingsan!" seru Gimar. Dia teringat saat Shita pingsan di rumah sakit saat bertemu dengannya kala itu.
"Waw, penakut? berati aku sangat mudah menyiksa dia lahir batin!" Ucap Mark begitu semanfat.
"Menikahi Shita?" Ara menautkan kedua alisnya, dia sangat tidak percaya hal yang barusan dia dengari.
"Aku akan menyiksa dia secara perlahan, kau bilang barusan, menjadi istriku hanya merasakan derita yang tiada akhir bukan?" Seru Mark dengan seringai liciknya.
"Waw, rencanamu ini luar biasa, karena setahuku, Shita sangat benci laki-laki seperti kamu, waw, aku sangat bahagia melihat penderitaannya nanti," seru Ara dengan mata yang berbinar.
"Hidup dengan orang yang kamu benci dan membeci kamu, itu hal yang sangat menyiksa bukan?" Seru Mark.
"Apalagi ... dia sangat penakut, melihat Gimar saja pingsang, bagaimana nanti jika dia bersamaku?" Seru Mark.
Abi merasa kehidupan Shita, gadis yang selama ini di lindungi oleh kekasihnya Jane akan terancam. Abi memberanikan diri buka suara. "Tuan, tolong jangan nodai sumpah pernikahan!" Pinta Abi tegas tanpa mengurangi rasa hormatnya pada tuan mudanya itu.
"Abi! Jangan menentang kemauanku!" Bentak Mark.
"Tuan muda, andai tuan besar masih hidup sekarang, dia akan sangat malu memiliki putra seperti anda, anda tidak pernah menghargai wanita, sekarang anda ingin menyiksa seorang gadis yang tidak bersalah dalam ikatan pernikahan? Tuan muda ... sumpah pernikahan itu hal yang suci dan sakral." Ucap Abi.
"Karena kau berkata demikian, kau kutugaskan untuk menjebak Jane dan wanita zaman es itu!" Seru Mark. Wajahnya penuh kemarahan. Selama ini Abi sangat patuh, sedikitpun tidak pernah komplean dan menentang rencananya.
"Maaf tuan muda, aku tidak bisa!" Ucap Abi, dia melepaskan pin emas yang selalu menancap di bagian dada jas yang dia kenakan.
"Selama ini aku patuh pada tuan semata karena tuan besar, aku janji pada tuan besar untuk mengabdi pada anda, satu hal yang membuatku bebas dari janjiku pada anda tuan muda, dulu tuan besar berkata padaku, jika tuan muda memerintahku pada kejahatan, maka aku boleh menolak dan mundur dari jabatan yang aku emban."
Abi berjalan mendekati Mark. "Maafkan aku tuan muda, aku Mundur!" Ucap Abi sambil meraih tangan Mark dan memberikan pin emas yang melambangkan pegawai tertinggi Emanuel Group.
Mark terdiam menatap lelat pin yang ada ditelapak tangan kanannya.
"Shita tidak bersalah pada anda maupun nona Ara. Jane … dia hanya wanita yang suka menolong! Apa salah kedua wanita itu hingga aku harus memberi mereka suatu hal yang buruk! Maaf tuan muda, aku mundur dari tahta ku," ucap Abi. Dia langsung pergi dari ruangan itu.
Gimar merasa terancam jika Abi pergi dari Emanuel Group, kapasitasnya berpikir tidak seperti Abi, tugas Gimar seperti tukang jag*l Mark saja, urusan berpikir tentu Abi yang sangat handal. "Maaf tuan muda, saya ingin mengejar Abi." Ucap Gimar. Dia langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Mark.
Gimar terus berlari mengejar Abi, untung saja mobi Abi belum melaju, Gimar langsung masuk kedalam mobil Abi tanpa berkata apapun.
"Mau apa kau?" Tanya Abi begitu santai.
"Nanti saja bertanya, ayo kita pergi dulu," seru Gimar.
Abi menghidupkan mesin mobilnya, mobil itu mulai melaju meninggalkan villa mewah milik Mark tersebut. Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang memecah jalanan yang sepi.
"Abi, aku mohon, jangan mundur dari Emanuel Group!" Pinta Gimar yang langsung saja berbicara.
"Aku tidak suka kalau tuan Muda menyakiti orang Mar, selama ini aku diam melihat tuan muda semena-mena, tapi kali ini tuan muda menghukum orang yang salah, ini kesempatanku untuk mundur!"
"Saat menjebak Ara aku mau, karena Ara wanita yang mau dan rela melakukan apa saja, beda dengan Shita dan Jane," ucap Abi lagi.
"Abi … Emanuel Group dalam masalah, kalau tidak di handle oleh orang yang memiliki otak cerdas seperti kamu, tuan muda kita memang cerdas, tapi kecerdasannya terhalang oleh hal lain, sehingga pikirannya tidak jauh dari hal yang ada di antara dua paha wanita." Gerutu Gimar.
"Aku akan membantu Emanuel Group! Tapi bukan pegawai Emanuel Group! Aku pegawai lepasmu." Jawab Abi tanpa sedikitpun menoleh ke arah Gimar. Matanya fokus dengan jalanan yang didepannya.
"Maksudmu?" Gimar masih heran.
"Aku bekerja melakukan pekerjaan seperti biasa, tapi kau yang menggajihku, kurasa gajihmu akan naik jika pekerjaanmu dobel." Seru Abi.
"Okey, aku baru mengerti, kau tetap melakukan pekerjaan seperti biasa, tapi pegawai lepas ku? Hem … aku setuju!" Seru Gimar.
"Dengan dua syarat!" Seru Abi.
"Apalagi ini?" Gimar nampak tidak senang.
"Jangan pernah menyentuh Jane atau keluarganya, juga jangan pernah katakan pada Mark kalau aku masih membantunya!" Seru Abi.
"Hanya itu?" Gimar tersenyum kecut.
"Aku sangat menghormati profesor Jecco, aku tidak ingin utusan Emanuel Group mengganggu keluarga mereka!" Ucap Abi penuh penekanan.
"Aku setuju! Ayo antar aku ke gedung Emanuel Group dulu!" Seru Gimar.
Abi menambah kecepatan laju mobilnya menuju gedung tersebut untuk mengantar Gimar.
oneng kau mark...bayi disitu lahir hrs menangis
aura pembunuh Gimar membuat Shita mau muntah...kecian calon anak Mark