NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Obsesi / Bad Boy / Antagonis / Enemy to Lovers / Playboy
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Clash of Two Worlds

Lampu aula terbuka kampus berpendar terang. Every berdiri di tengah kerumunan mahasiswa dengan busana formal yang elegan namun tegas. Ia tampak seperti seorang ratu yang sedang meninjau wilayahnya.

Di depannya, kotak donasi transparan sudah mulai terisi penuh dengan cek dan uang tunai dari para relasi bisnis keluarganya, dan beberapa tamu terhormat anggota BEM dengan status sosial atas yang sengaja di undang.

"Jangan hanya berdiri dan memegang kotak itu seperti patung, bodoh," desis Every tajam pada salah satu anggota BEM yang tampak grogi di sampingnya. "Sapa para donatur, pastikan nama mereka tercatat dengan benar. Gue nggak mau ada kesalahan administratif sekecil apa pun dalam laporan dana bencana ini."

Di sudut ruangan yang lebih privat, Every sedang memeriksa daftar donatur melalui iPad-nya. Keheningan itu terusik oleh aroma parfum sandalwood yang mahal dan familiar.

"Acara yang luar biasa, Every. Aku selalu tahu, tangan dingin mu bisa mengubah kekacauan menjadi emas."

Every tidak perlu mendongak untuk tahu siapa itu. Axel Ammerson, Sahabat masa kecil River yang memiliki reputasi sebagai 'Golden Boy' di kalangan pengusaha muda. Axel melangkah mendekat dengan setelan jas slim-fit abu-abu, senyumnya ramah dan terlihat sangat menyenangkan bagi siapa pun yang melihatnya.

Axel adalah kontras dari River; jika River adalah air yang liar, Axel adalah kristal yang dipoles rapi.

"Terima kasih, Axel," jawab Every tanpa ekspresi, matanya tetap terpaku pada layar. "Tapi kalau kau di sini hanya untuk membuang waktuku dengan basa-basi, pintu keluar masih terbuka lebar."

Axel terkekeh lembut, sebuah suara yang terdengar sangat tulus namun Every tahu ada ambisi besar di baliknya. Axel tidak pernah menyembunyikan niatnya untuk 'menaklukkan' Every Riana—bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena Every adalah aset politik dan bisnis paling berharga di Asia Tenggara.

"Kau selalu setajam duri mawar," Axel mengeluarkan sebuah map elegan dari balik jasnya. "Keluarga Ammerson sudah mentransfer dana donasi yang cukup untuk membangun kembali satu desa. Aku juga sudah mengatur agar tim medis pribadi keluarga kami ikut dalam konvoi besok. Semuanya atas namamu, Every."

Every akhirnya mendongak, menatap Axel dengan tatapan menyelidik. "Atas namaku? Kau sedang mencoba menyuapku dengan kebaikan, Axel?"

"Aku menyebutnya investasi," Axel maju selangkah, suaranya merendah menjadi lebih hangat namun tetap formal. "Investasi pada hubungan kita. Kau butuh sekutu yang setara, Every. Bukan sekadar anak yang lebih senang di jalanan yang hanya bisa membuat kekacauan di kampus ini."

Axel mengulurkan tangan, mencoba menyentuh ujung jemari Every dengan sopan. "Biarkan aku yang menemanimu besok. Kau tidak seharusnya berada di antara orang-orang kasar seperti River dan kelompoknya. Mereka tidak akan pernah mengerti cara memperlakukan wanita seperti—"

"Wanita seperti apa?" Every memotong, menarik tangannya sebelum Axel sempat menyentuhnya. "Wanita yang butuh dilindungi? Kau salah orang, Axel. Simpan bantuanmu, aku akan menerimanya sebagai donatur profesional, tapi jangan harap itu memberimu kursi di sebelahku."

Axel tetap tersenyum, meski ada kilatan tipis persaingan di matanya. "Kita lihat saja. Kadang, pria yang terlihat menyenangkan justru lebih berbahaya daripada yang terlihat pemberontak, bukan?"

Tepat saat Axel hendak melanjutkan kalimat manisnya, suara raungan knalpot motor yang memekakkan telinga merobek suasana elegan tersebut. Tanpa perlu menoleh, Every sudah tahu siapa yang datang merusak ketenangan acaranya.

Belum sempat Axel membalas penolakan Every, pintu ganda aula terbuka dengan dentuman kasar. Raungan mesin motor di luar sana seolah menjadi musik pengiring bagi kedatangan sang pemberontak.

River Armani melangkah masuk, membelah kerumunan dengan keangkuhan yang alami. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap pemandangan di sudut ruangan: Every yang tampak terpojok oleh sosok Axel yang terlalu rapi.

River menyeringai, namun matanya tidak tertawa.

"Wah, lihat siapa yang sedang mencoba jadi pahlawan kesiangan," suara River menggema, santai namun mengandung ancaman yang kental. Ia berjalan mendekat, menepis jarak antara Every dan Axel tanpa permisi.

Axel tidak bergeming. Ia hanya merapikan kerah jasnya sambil tersenyum tenang. "Kau terlambat, River. Seperti biasa, kau lebih suka membuat kebisingan daripada memberikan solusi."

River berdiri tepat di sisi Every, tangannya yang kotor karena oli sengaja ia letakkan di pinggiran iPad mahal Every. "Gue nggak butuh kemeja mahal buat kasih bantuan, Xel. Gue kasih tenaga, bukan cuma cek yang ditanda tangan asisten."

"River! Jauhkan tangan kotor lo dari barang gue!" Every mendesis, matanya berkilat marah. "Dan lo, Axel, gue rasa urusan kita sudah selesai."

River tertawa rendah, lalu menoleh pada Every dengan tatapan yang selalu berhasil membakar emosi gadis itu. "Jangan galak-galak, Eve. Kasihan Axel, dia sudah dandan rapi begini cuma buat ditolak sama 'malaikat' kaku kayak lo."

"Gue bilang jangan panggil gue dengan nama itu!" Every menunjuk dada River dengan jari telunjuknya, melupakan sejenak keberadaan Axel.

River justru menangkap jari Every, menahannya di sana selama beberapa detik. "Kenapa? Karena kedengarannya terlalu jujur buat lo? Lo benci disebut malaikat karena lo lebih suka dianggap monster yang nggak punya perasaan, kan?"

Axel melangkah maju, mencoba menengahi dengan gaya protektif yang dipaksakan. "Lepaskan dia, River. Lo kasar banget. Every sedang menjalankan acara penting, jangan hancurkan dengan cara kerja jalanan."

River melepaskan tangan Every, lalu beralih menatap Axel dengan tatapan dingin yang mematikan. "Jangan sok jadi tameng, Xel. Lo berdua emang kelihatan cocok di foto majalah bisnis, tapi lo nggak tahu apa-apa soal apa yang dia butuhin di lapangan besok. Dia nggak butuh sekutu yang cuma bisa senyum manis di depan kamera."

River kembali menatap Every, senyum miringnya kembali muncul. "Berapa yang si Golden Boy ini kasih buat lo, Eve? Biar gue tebak, dia pasti kasih 'investasi' buat masa depan? Kalau gue, gue cuma bawa apa yang rakyat lo butuhin sekarang. Sepuluh truk logistik sudah ada di parkiran belakang. Lo mau periksa sendiri, atau mau lanjut pacaran sama patung pajangan ini?"

Every menarik napas panjang, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap. Ia merasa muak berada di antara dua pria yang mencoba mendominasi situasinya.

"Dengar, kalian berdua," suara Every kembali tajam dan berwibawa, mematikan perdebatan mereka seketika. "Axel, terima kasih atas donasinya. Silakan hubungi sekretaris gue untuk laporan pajaknya. Dan River... kalau ada satu saja barang yang rusak atau hilang dari truk lo, gue bakal tuntut lo sampai perusahaan sparepart bokap lo bangkrut."

Every menatap mereka berdua secara bergantian dengan tatapan meremehkan. "Sekarang, minggir. Gue punya pekerjaan nyata yang harus diselesaikan, bukan cuma dengerin adu ego dua anak kecil yang nggak tahu tempat."

Every berlalu pergi dengan kepala tegak, meninggalkan Axel yang mencoba menjaga harga dirinya dan River yang menatap punggung Every dengan kilatan rasa penasaran yang semakin dalam.

"Dia keras kepala banget, kan?" gumam Axel, menahan geram.

River hanya terkekeh pelan sambil merogoh kunci motor di sakunya. "Itu karena lo belum ketemu arus yang cukup kuat buat nenggelamin dia, Xel. Dan gue nggak sabar buat lihat dia basah kuyup besok."

"gue tahu kita berasal dari kelas yang sama, walau jelas lo lebih suka tempat yang kotor." ketus Axel sebelum menatap River. "tapi untuk Every, bersaing lah secara bersih. Gue bahkan sudah hapal isi pikiran kotor lo."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!