Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA TAMPARAN UNTUK PENGKHIANAT
Sore harinya, Yulia kini telah kembali ke rumah setelah menuntaskan pekerjaan nya di rumah lurah.
Sejak kejadian siang tadi, ia berusaha bersikap biasa saja, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Ia bahkan tak lagi membahas perkataan Damar yang menyakitkan hatinya.
Langkah Yulia terhenti ketika tiba di depan rumah. Tatapannya terhenti pada gembok rumah yang kini telah terbuka.
“Apa Damar sudah pulang?” gumamnya.
Yulia lalu melangkah perlahan sembari mendorong pintu yang sedikit terbuka.
“Damar?” panggilnya yang kini telah berada di ambang pintu.
Tak ada jawaban.
Yulia hendak menutup pintu ketika suara dari arah kamar membuat langkahnya terhenti.
“Mas Damar, pelan-pelan, sayang. Aku cinta sama kamu.”
“Mas juga, Ras. Kamu sangat cantik kalau ada di bawah Mas.”
Kening Yulia berkerut. “Suara siapa itu?” gumamnya.
Yulia meletakkan tasnya di atas meja. Rasa penasaran bercampur curiga mendorongnya untuk berjalan mendekati kamar yang selama ini ia tempati bersama Damar.
Semakin dekat, semakin jelas suara desahan yang terdengar dari balik pintu. Jantung Yulia mulai berdegup tak beraturan.
Ia berhenti tepat di depan pintu yang sedikit terbuka, lalu perlahan mendorongnya.
Pemandangan di dalam kamar seketika membuat tubuhnya membeku.
Damar sedang melakukan hubungan yang tak pantas oleh seorang wanita yang tak lain ternyata adalah Laras.
Mata Yulia terbelalak. Tangannya gemetar.
Brak!
Yulia mendorong pintu dengan kasar sehingga terbuka lebar.
“Apa yang kalian lakukan?!”
Damar dan Laras sontak menoleh. Wajah Damar terlihat berubah tegang, sedangkan Laras buru-buru mendorong tubuh Damar dari atasnya.
Tanpa berpikir panjang, Yulia melangkah cepat dan menerjang wanita itu.
“Dasar pelakor!”
“Akh! Lepasin! Sakit!” Laras menjerit sambil berusaha melepaskan tangan Yulia. “Mas Damar, tolong!”
“Yulia! Lepaskan tanganmu!” bentak Damar sembari bangkit dari tempat tidur.
Namun, Yulia tak menghiraukannya apalagi tubuh wanita itu yang tak memakai sehelai kain pun. Bahkan suara Damar terus memanggilnya. Tapi dirinya tak peduli.
Ia tetap menarik Laras keluar dari kamar, membuat wanita itu terpaksa mengikuti langkahnya sambil terus merintih kesakitan.
“Mentang-mentang anak lurah, kamu pikir bisa seenaknya merebut suamiku? Sini kamu!”
Dan setibanya di depan rumah. Yulia melepaskan tarikan tangannya dari rambut Laras, hingga wanita itu terjerembab ke tanah.
Dirinya tak peduli dengan lekuk tubuh wanita itu yang kini sangat jelas.
“SEMUANYA! LIHAT INI!” tunjuk Yulia ke arah Ke Laras. “GAK TAHU MALU SUDAH BERHUBUNGAN BADAN DENGAN SUAMIKU, DAMAR!”
Bahkan teriakannya berhasil membuat semua orang keluar dari rumah mereka masing-masing.
Napas Yulia tak beraturan. Hingga tepat saat itu, suara Damar dari dalam rumah Terdengar.
“Laras, kamu gak papa?”
Lagi dan lagi, Damar, suaminya—berlari ke arah Laras dan menyelimuti tubuh wanita itu.
“Aku malu, Mas. Apa benar wanita ini istrimu?”
Tatapan Damar kini beralih, menatap ke arah Yulia dengan tajam dan dingin.
“Bukan,” jawab Damar datar. “Dia pembantuku. Dia wanita stres dan menganggapku suaminya karena sakit jiwa.”
Yulia terpaku saat mendengar ucapan yang sama dari mulut suaminya.
“Damar!” panggilnya dengan nada tak percaya, suaranya parau. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari gemetar. “Aku istrimu, kamu lupa malam itu warga nikahin kita? Aku juga hamil anak kandungmu!” klaimnya putus asa, berharap fakta itu bisa menyadarkan pria dungu di hadapannya.
Namun, Damar justru tertawa sinis. Ia melangkah mendekat, menatap kearahnya dari atas ke bawah dengan jijik.
“Itu bukan anakku!” seru Damar tegas.
Sebelum Yulia sempat bereaksi, bahunya didorong kasar oleh Damar. Keseimbangannya goyah, dan ia hampir saja tersungkur ke tanah jika tidak segera menegakkan kakinya.
“Sekali lagi kamu bilang ini bukan anakku, akan ku buat wanita rendahan ini telanjang bulat-bulat di depan umum!” ancam Yulia, suaranya rendah namun penuh ancaman nyata.
“Jangan main-main! Kamu tahu Laras siapa?”
“Aku gak peduli dia siapa, Damar!” serunya balik. “Memangnya, kamu pikir aku sama seperti Nafisa yang pasrah kita mengkhianatinya?” tanyanya.
Yulia menggeleng sembari tersenyum kecut. “Enggak, Damar. Aku bukan dia.”
Lalu, ia mengalihkan pandangannya ke arah Laras yang masih terduduk di tanah, terlihat lemah dan tak berdaya. Yulia mendekat dengan langkah berat, dan tanpa ampun, ia melayangkan beberapa tamparan berturut-turut ke pipi wanita itu.
“Jalang!” seru Yulia setiap kali tangannya mendarat.
“Ampun! Ampun, Mbak!” rintih Laras.
“Hentikan!” teriak Damar panik.
Sekali lagi, bahu Yulia ditarik mundur kuat-kuat oleh Damar. Kali ini, tarikan itu terlalu kuat dan tiba-tiba. Yulia tak dapat menjaga keseimbangannya, tubuhnya terhuyung ke belakang, siap untuk jatuh menghantam tanah.
Namun, sebelum tubuhnya menyentuh tanah, sepasang tangan tiba-tiba menangkapnya.
Yulia tertegun. Sesaat pandangannya terangkat dan bertemu dengan wajah seorang pria yang berdiri tepat di hadapannya.
Rahangnya tegas, alisnya sedikit tebal, sementara hidungnya mancung.
Bahkan suara keributan di sekitarnya seakan menjauh, berganti dengan detak jantungnya sendiri yang mendadak berdegup kencang.
“Ibu tidak apa-apa?”
Suara berat itu seketika menyadarkannya dari lamunannya.
Ia buru-buru meluruskan tubuh dan menjauh sedikit dari pria tersebut.
“E-enggak apa-apa,” jawabnya gugup.
“Bu, ada apa ini?”
Suara yang begitu dikenalnya membuat Yulia spontan menoleh.
Nafisa!
Putrinya itu berdiri tidak jauh dari pria yang baru saja menolongnya. Yulia mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa ia tidak salah melihat.
“Nafisa?” panggilnya pelan.
“Iya, Bu.” Nafisa menghampirinya dengan wajah cemas. “Aku datang buat menjemput Ibu. Aku khawatir dan gak tenang juga, makanya aku ke sini.”
Yulia terdiam. Tak percaya dengan sikap putrinya meski perna disakiti olehnya.
“Ayah!”
Suara Laras terdengar gemetar membuat Yulia menoleh ke arah jalan, dimana seorang pria yang ia kenal, Pak Adi. Yang kini berjalan mendekat.
“Laras? Kenapa kamu bisa begini?”
Perlahan tangan Laras menunjuk kearahnya dengan tangan gemetar.
“Wanita ini, Ayah! Dia menuduhku sebagai pelakor dan mempermalukanku di depan semua orang!”
Yulia mengepalkan tangannya saat Pak Adi mengalihkan tatapan kepadanya. Sorot matanya tajam.
“Bu Yulia, apa yang telah kamu lakukan pada putriku, Laras.”
“Sekali lagi, saya istrinya Damar.”
“Bohong!” bantah Damar langsung. “Kamu hanya wanita stres yang di tinggal suamimu!”
Yulia menatap Damar tak percaya. Lagi-lagi, laki-laki itu menyangkalnya. Yulia menarik napas dalam-dalam. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.
Melihat keributan yang terjadi, Nafisa masih berusaha memahami apa yang terjadi.
Netranya terus menatap wajah di hadapannya hingga akhirnya terhenti pada wanita yang terduduk dengan balutan selimut.
Melihat itu, akhirnya ia mengerti. Nafisa kemudian mengalihkan pandangan kepada Damar.
Nafisa mengembuskan napas pelan. Ia tak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum mendengar penjelasan dari ibunya.
Ia pun berbalik menghadap Yulia, lalu menyentuh lengan perempuan itu dengan lembut.
“Bu, katakan sama aku, apa yang sebenarnya terjadi?”
Yulia menoleh. Tatapannya yang semula penuh kemarahan perlahan meredup.
“Nafisa...” Suaranya terdengar lirih. “Damar gak mau mengakui Ibu sebagai istrinya. Dia malah membawa perempuan lain ke rumah dan berhubungan badan dengannya di kamar kami.”
Nafisa masih menatap ibunya yang terlihat kecewa.
“Bahkan, dia juga gak mau mengakui anak yang Ibu kandung sebagai anaknya. Dia bilang Ibu wanita stres yang ditinggalkan ayahmu.”
Mendengar ucapan Ibunya. Perlahan, ingatannya kembali pada kejadian yang pernah menghancurkan hidupnya.
Dan sekarang, ibunya justru mengalami pengalaman yang hampir serupa.
Nafisa menunduk sesaat.
Apakah dirinya harus merasa senang karena ibunya akhirnya merasakan sakit yang sama?
Atau justru bersedih melihat wanita yang melahirkannya itu terluka?
Nafisa kembali mengangkat wajah. Ia menatap ibunya yang masih berusaha menahan tangis, lalu menggenggam tangannya.
“Sudah, Bu. Tenangkan diri dulu,” ucap Nafisa pelan.
Tatapan Nafisa mengalihkan pandangan kepada Damar. Pria yang pernah singgah di dalam hidupnya.
“Mas Damar,” panggil Nafisa.
“Apa?” sahutnya ketus.
Nafisa menatapnya lekat-lekat. “Kamu gak lupa apa yang pernah kukatakan, kan?”
Damar mengernyit. “Apa maksudmu?”
Nafisa tak menjawab. Ia justru melangkah mendekat, sementara kedua tangannya perlahan mengepal di sisi tubuh. Damar belum sempat bereaksi ketika sebuah tamparan mendarat telak di pipinya.
Plak!
“Tamparan pertama buat kamu. karena kamu sudah mengkhianatiku!”
Namun, Nafisa belum selesai.
Plak!
“Tamparan kedua ini, karena kamu juga sudah mengkhianati ibuku!”
Sekali lagi, tangannya terayun. Kali ini, Damar sampai terhuyung setengah langkah akibat tamparan tersebut.
Plak!
“Dan yang terakhir, anggap saja ini karena kamu sudah menyakiti kami berdua dan gak mengakui bayi yang ada di dalam kandungan ibuku adalah anakmu!”
Suasana mendadak hening. Warga yang menyaksikan kejadian itu saling pandang.
Nafisa menarik napas panjang. Kemudian ia beralih kepada Dewangga. Pria itu berdiri tak jauh darinya dan memberikan anggukan kecil.
Nafisa membalasnya sekilas sebelum kembali menatap sang ibu.
“Ayo, Bu. Kita pulang ke rumah kita.”
Ibunya terlihat tampak ragu. Matanya beralih kepada Damar, lalu kembali menatap putrinya.
“Naf, tapi—”
“Jangan pedulikan pria sakit seperti dia, Bu.” Nafisa menggenggam tangan ibunya. “Ayo, aku bantu Ibu bereskan baju-baju Ibu.”
Ia pun mengajak ibunya masuk ke dalam rumah. Namun, baru beberapa langkah melewati ambang pintu, suara lantang Pak Adi menghentikan mereka.
“Tunggu!”
Nafisa menoleh. Dan melihat pria itu menatap kearahnya mereka berdua dengan tatapan tajam.
“Yulia, kamu harus menerima pelajaran karena sudah menyakiti dan mempermalukan putriku di depan banyak orang!”
Nafisa yang belum sempat ia menjawab, Dewangga sudah bergerak maju dan berdiri di antara mereka.
“Langkahi mayat saya terlebih dahulu, Pak Adi.”
Suara Dewangga terdengar tenang.
“Kamu—”
“Perkenalkan, saya Dewangga,” potongnya tanpa memberi kesempatan Pak Adi melanjutkan perkataan. “Cucu Oma Rima sekaligus calon suami dari wanita yang dahulu pernah menjadi istri pria bernama Damar.”
Mata Pak Adi membelalak. Ia menatap Dewangga dengan raut tak percaya.
“A-apa? Calon suami?”
Damar pun terlihat terkejut. Ia menoleh cepat ke arahnya, kemudian kembali memandang Dewangga.
“Pak Adi, Anda masih ingat Oma saya, bukan? Wanita yang pernah berjasa membuka lapangan pekerjaan demi meningkatkan perekonomian desa ini.”
Pak Adi menelan ludah. “A-Anda ....”
“Kalau Anda berani memberi pelajaran kepada calon mertua saya hanya karena dia mempermalukan putri Anda, saya akan mencabut jabatan Anda sebagai lurah.”
Ucapan itu membuat suasana semakin sunyi. Tak seorang pun berani menyela. Pria bernama Pak Adi bahkan tak lagi bisa menyembunyikan kegugupannya di hadapan Dewangga.
Nafisa mengembuskan napas pelan. Ia tak menyangka Dewangga akan turun tangan sejauh itu demi melindungi ibunya.
Namun, sebelum ia sempat mengatakan apa pun, ibunya sudah lebih dahulu menoleh kepadanya dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Naf, pria itu calon suamimu?”
Nafisa terdiam sesaat. Ia lalu mengangguk.
“Iya, Bu.” Nafisa segera menggenggam tangannya dan mengajaknya masuk. “Sudah, ayo. Jangan pedulikan mereka lagi.”
Yulia mengangguk pelan. Namun, baru beberapa langkah melewati ambang pintu, Yulia menyempatkan diri menoleh.
Pandangannya jatuh pada Dewangga yang masih berdiri menghadapi Pak Adi.
Yulia memperhatikan wajah calon suami putrinya itu sesaat. Rahangnya tegas, sorot matanya berwibawa.
Kedua sudut bibirnya terangkat tipis.
kasih kaca yg gede emakmu Nafisah, perut dah gede gitu ..dah tua juga, masih ga insaf juga...
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.