NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Penglihatan magis

Arya mendengarkan analisis polisi itu diam-diam sambil tangannya mulai bekerja membasuh darah kering dari leher dan dada almarhum menggunakan spons basah. Aerasi air bercampur disinfektan mengalir pelan membawa lapisan darah merah pekat menuju saluran pembuangan di bawah meja.

Selama satu setengah jam, Arya dan Teguh bekerja dengan sangat teliti dan hati-hati. Mereka membantu tim forensik mengambil sampel swab di bawah kuku almarhum, mengukur kedalaman luka tusuk, serta membersihkan seluruh tubuh Rendra hingga layak dan rapi sebelum dilanjutkan ke proses autopsi organ dalam oleh Dr. Reisa.

Pukul 17.00 WIB, seluruh rangkaian pembersihan luar dan pengambilan sampel bukti fisik oleh tim forensik selesai.

Dr. Reisa dan asistennya melangkah keluar menuju laboratorium untuk menguji sampel darah dan tisu luka, sementara Iptu Farhan masih berada di sudut ruangan, berdiskusi pelan melalui telepon genggamnya dengan tim olah TKP.

"Pekerjaan bagus, Ya," puji Teguh sambil melepas masker dan apron plastik kedap airnya. "Tinggal kita pasang kain penutup sementara di atas brankar sebelum dipindahkan ke ruang autopsi dalam malam ini."

"Iya, Mas Teguh. Biar aku yang rapikan kain penutupnya," balas Arya.

Arya melangkah menuju tempat pembuangan limbah medis. Ia melepas dua lapis sarung tangan latex nya yang bernoda darah, membuangnya ke dalam tong sampah medis berwarna kuning, lalu mencuci tangannya dengan sabun antiseptik di wastafel.

Dengan tangan telanjang yang masih agak basah, Arya mengambil lembaran kain penutup putih dari lemari penyimpanan. Ia berjalan kembali ke samping brankar tempat jasad Rendra Prakasa terbaring.

Arya membentangkan kain putih itu dari arah kaki hingga ke dada korban. Namun, saat ia membetulkan lipatan kain di area bahu kiri almarhum agar menutup rapat bagian leher yang terluka, ujung kain menyangkut di sudut stainless steel brankar.

Secara refleks, Arya menjulurkan tangan kanannya untuk melepaskan kain yang tersangkut. Kulit ibu jari dan telapak tangan telanjang Arya yang tak terlindungi sarung tangan secara tidak sengaja bersentuhan langsung dengan kulit dingin di atas tulang selangka almarhum Rendra.

BZZZZZZT!

Sengatan dahsyat yang jauh lebih hebat dari sebelum-sebelumnya menghantam saraf Arya!

Rasa dingin yang membekukan seolah disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah otaknya. Udara di sekitar Arya seperti tersedot habis. Suara dengung pendingin ruangan dan bisikan Iptu Farhan di ujung telepon seketika lenyap, digantikan oleh suara petir dan teriakan histeris di dalam kepalanya!

Pandangan Arya memutih mendadak, lalu ditarik paksa masuk ke dalam lorong waktu yang seolah memproyeksikan kejadian beberapa jam lalu langsung ke dalam kesadarannya.

Dalam bayangan penglihatan magis itu...

Arya kini berdiri di dalam sebuah ruang tamu mewah berlantai marmer berkilau. Suasana rumah sangat hening, hanya terdengar suara rintik hujan deras yang menghantam jendela kaca tebal. Jam dinding megah menunjukkan pukul 23.15 WIB.

Melalui sudut pandang mata Rendra Prakasa, Arya merasakan tubuhnya sangat lelah. Rendra baru saja melangkah masuk setelah membuka pintu depan, melonggarkan ikatan dasinya, dan meletakkan tas kerja di atas meja sofa.

Tiba-tiba, dari arah dapur, melangkah seorang wanita muda bergaya anggun. Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna biru tua.

Wajahnya cantik dengan riasan tipis, namun matanya memancarkan rasa dingin yang membekukan. Ia adalah Siska, istri sah Rendra yang baru dinikahinya dua tahun lalu, wanita yang pernah mengucapkan janji suci sehidup semati di hadapan altar.

Siska memegang segelas air putih dan menyerahkannya pada Rendra.

"Mas baru pulang?" tanyanya dengan suara lembut yang terdengar manis, namun ada getir tersembunyi di dalamnya.

"Iya, sayang. Pekerjaan di kantor menumpuk," sahut Rendra sambil tersenyum lesu dan meraih gelas itu, dan meminumnya hingga habis. "Kenapa belum tidur?"

"Aku menunggumu... dan menantikan saat ini," bisik Siska pelan.

Hanya dalam hitungan detik setelah meminum air itu, Rendra mendadak mencengkeram tenggorokannya. Prangg! Gelas kaca terlepas dari tangannya, jatuh menghantam lantai marmer dan pecah berantakan.

Rendra jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal parah. Racun pelumpuh saraf dosis ringan yang dicampurkan ke dalam air mulai merobohkan daya tahan tubuhnya.

"Siska... kamu... campur apa...?" bisik Rendra dengan suara tercekat dan mata terbelalak ketakutan.

Siska tidak menjawab dengan kata-kata. Dari balik lipatan gaun malamnya, wanita itu menarik keluar sebilah pisau dapur daging berukuran tebal dengan mata pisau yang sangat tajam.

Wajah anggunnya seketika berubah menjadi topeng monster yang dipenuhi dendam dan kegilaan.

"Kamu pikir aku tidak tahu, Mas?!" jerit Siska dengan nada histeris yang tertahan. "Kamu mau menceraikan aku dan menyerahkan seluruh harta perusahaanmu kepada wanita simpananmu itu?! Kamu mau mendepakku tanpa membawa apa-apa setelah semua yang kulakukan untukmu?!"

"Siska... tidak... dengarkan aku..." Rendra mencoba merangkak mundur dengan gemetar.

"Mati kamu, Rendra! Mati!"

Siska melompat menerjang Rendra yang sudah tak berdaya akibat racun pelumpuh!

Bilah pisau itu pun menghantam dada Rendra! JLEB!

"Aaargghhh!!!"

Rendra menjerit kesakitan, dan mencoba menangkis dengan telapak tangannya, namun Siska seperti kesetanan. Wanita itu mencabut pisau dan menikamkannya kembali berkali-kali tanpa henti.

Jleb! Jleb! Jleb! Da*ah memercik ke wajah Siska, membasahi gaun malam biru tuanya, dan mengotori dinding marmer putih di belakang mereka.

Rendra terbaring telentang di atas genangan darahnya sendiri, matanya menatap wanita yang dicintainya itu dengan rasa terkejut, kehancuran batin, dan keputusasaan yang tak terbayangkan.

Mengapa orang yang paling ia percayai dan yang berjanji menemaninya hingga tua menjadi eksekutor pencabut nyawanya?

Setelah Rendra tak lagi bergerak dan napasnya terhenti, Siska berdiri dengan gemetar, sembari menyapu napasnya yang memburu.

Dengan dingin dan terencana, Siska melepas gaun malamnya yang berdarah, memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam, lalu berjalan ke arah brankas di kamar utama.

Siska membuka brankas menggunakan pin yang sudah ia ketahui, mengambil sebagian perhiasan untuk merekayasa seolah-olah terjadi perampokan, lalu menyisipkan plastik berisi gaun berdarah dan pisau pemotong ke dalam cerobong saluran udara tua yang tersembunyi di balik lemari pakaian kamar tamu.

Sebelum melangkah keluar rumah melalui pintu belakang untuk membuat alibi bahwa ia sedang berada di luar kota bersama teman-temannya, Siska berdiri di ambang pintu, dan menatap jasad suaminya dengan senyum dingin.

"Perampok yang melakukannya, Mas... bukan aku," bisiknya.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!