NovelToon NovelToon
Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Reinkarnasi / Dunia Lain
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.

Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.

Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 - SATU IKAT UNTUK DIUJI

Lin datang saat toko belum dibuka. Ia menyapu daun kering yang tertiup masuk dari ambang pintu, lalu menyusun tiga catatan di atas meja: label lama dari kotak sampel, keterangan Shen, dan catatan kiriman yang kainnya lembap. Di sisi halaman, ia menggambar tiga kotak kecil untuk menandai sampel yang belum diperiksa.

Mo muncul dari ruang belakang sambil membawa cerek. “Kau sudah mulai sebelum aku membuka pintu.”

“Saya ingin memisahkan catatan berdasarkan asal, bukan hanya berdasarkan nama.”

“Kalau begitu jangan sampai semua daun dari utara masuk ke satu kotak.” Mo menuangkan air ke cangkir. “Kau punya bukti bahwa semuanya dari tempat yang sama?”

Lin melihat halaman yang dibuatnya. Ia mencoret garis yang menghubungkan dua catatan. “Belum. Saya akan menulisnya sebagai dua sumber yang mungkin berdekatan, bukan satu sumber.”

Mo menyodorkan lap untuk meja. “Bagus. Orang sering mengubah dugaan menjadi fakta hanya karena dua hal terlihat cocok.”

Belum lama toko dibuka, pemuda yang datang kemarin muncul bersama seorang perempuan yang lebih tua darinya. Kali ini mereka membawa keranjang lebih kecil dan dua bungkusan terpisah yang dibalut kain kering.

“Ini kakakku, Wei Lian,” kata pemuda itu. “Aku Wei Jun. Kami memetiknya bersama.”

Wei Lian menyapa Mo lebih dulu, lalu memandang Lin. “Kau yang meminta kami menunjukkan tempatnya dan membawa sampel terpisah?”

Lin mengangguk. “Kalau memang itu yang dipetik kemarin. Saya perlu tahu mana yang berasal dari bagian lereng yang sama.”

“Kami tidak memetik di tempat yang sama,” katanya. “Yang ini dekat batu putih. Yang satunya di jalur turun menuju sungai.” Ia menunjuk dua bungkusan kecil. “Kami mengikatnya terpisah sebelum berangkat. Keranjang besar itu campuran dari dua tempat.”

Wei Jun menarik napas. “Aku sudah bilang jangan dicampur.”

“Kalau kubawa dua keranjang, kita membayar ongkos angkut dua kali,” jawab kakaknya. “Dan kau yang bilang semua daun itu sama.”

“Aku bilang bentuknya mirip.”

“Tidak. Kau bilang sama.”

Lin menunduk pada catatannya, pura-pura tidak mendengar. Namun pertengkaran itu menjelaskan kenapa keranjang besar tak memiliki pembagian asal. Ia bertanya berapa lama daun berada dalam bungkusan kecil.

“Yang dekat batu putih dipetik kemarin pagi,” jawab Wei Lian. “Yang dekat sungai kami ambil setelah tengah hari. Keduanya dibawa pulang terpisah. Keranjang besar sudah berisi daun dari beberapa hari sebelumnya.”

“Bagaimana kalian tahu tanggalnya?”

“Aku menandai hari di tali ikat.” Ia menunjukkan simpul berbeda pada tiap bungkusan. “Satu simpul berarti kemarin pagi. Dua simpul berarti kemarin sore. Ibu kami mengajari cara itu supaya daun yang lebih dulu dipetik tidak tertinggal di dasar keranjang.”

Lin menulis cara penandaan tersebut. Itu bukan catatan tertulis, tetapi masih mungkin diperiksa dari bungkusan yang mereka bawa. Ia meminta izin melihat simpul sebelum kain dibuka.

Mo membawa timbangan ke meja. “Kita periksa bungkusan kecil dulu. Keranjang campuran tetap di luar.”

Wei Jun mengernyit. “Tapi bagian paling banyak ada di keranjang.”

“Justru karena itu kita tidak akan menimbangnya sebagai satu jenis,” kata Mo. “Kalau sampel menunjukkan ada dua kelompok, keranjang itu harus dipisahkan sebelum dibeli.”

Lin membuka bungkusan pertama. Daunnya lebih tipis daripada contoh dari kotak lama, dengan tepi yang sebagian bergerigi. Bungkusan kedua berisi daun lebih lebar dan beberapa batang berwarna pucat. Lin membandingkan keduanya di atas kertas, mencatat ukuran kasar, warna, dan keadaan batang. Ia tidak mencium atau meremasnya kuat-kuat tanpa izin Mo.

“Yang ini mirip sampel berlabel lereng sungai,” katanya sambil menunjuk daun tipis. “Tapi sampel lama tidak punya tanggal petik. Saya tidak bisa memastikan keduanya berasal dari tanaman yang sama.”

Wei Lian menatapnya. “Kami tidak menjual cerita. Kami menjual daun. Kalau kau tidak tahu namanya, bagaimana bisa membelinya?”

“Dengan menulis apa yang bisa kami pastikan lebih dulu,” jawab Lin. “Kalian menunjukkan dua tempat dan memisahkan hasil petikan. Itu membuat kami bisa membandingkan tiap bungkusan.”

“Lalu kami dibayar untuk dua ikat kecil sementara seluruh keranjang kami tidak laku?”

Lin tidak punya jawaban yang adil. Mo mengambil alih. “Aku bisa membeli dua bungkusan kecil sebagai sampel dengan harga bahan yang belum terdaftar. Untuk keranjang besar, aku tidak akan membayar sebelum kalian memisahkan isinya. Kalian bisa membawa pulang semuanya atau meninggalkan keranjang di sini sampai besok untuk dibicarakan lagi.”

Wei Jun mulai membantah, tetapi Wei Lian mengangkat tangan. Ia bertanya berapa harga sampel dan berapa lama toko akan menyimpan sisanya. Mo menyebut harga kecil untuk kedua bungkusan dan berjanji memeriksa keranjang campuran sebelum tengah hari keesokan hari. Tidak ada jaminan bahwa seluruh isinya akan dibeli.

Perempuan itu berpikir cukup lama. “Kami butuh uang untuk memperbaiki roda gerobak. Kalau kami meninggalkan keranjang, kami perlu membawa pulang sebagian hari ini.”

“Ambil setengahnya,” kata Mo. “Sisanya bisa ditinggal sebagai titipan untuk dipilah. Kalau kau tidak setuju dengan hasil timbanganku besok, kau boleh mengambilnya kembali.”

Wei Lian menoleh kepada adiknya. “Kau bisa memisahkan bagian yang kamu petik sendiri?”

“Aku ingat.”

“Tidak cukup. Tunjukkan ikatan dan bagian keranjang yang kau masukkan.”

Mereka menghabiskan beberapa saat memilih daun di meja. Wei Jun menandai bagian yang berasal dari lereng dengan satu simpul tambahan. Kakaknya memisahkan daun yang ia petik di jalur sungai. Sebagian tidak dapat mereka sepakati, sehingga Mo menyuruh mereka menyimpannya di kantong ketiga yang diberi tanda “asal campuran”.

Lin membantu menulis label. Pada dua bungkusan sampel, ia mencatat lokasi menurut penjelasan Wei Lian, waktu petik menurut simpul, nama pemetik, dan tanggal mereka membawa bahan ke toko. Pada kantong ketiga, ia menulis bahwa asal per helai tidak dapat dipastikan.

“Kenapa mencatat nama kami?” tanya Wei Jun.

“Supaya kalau ada yang perlu ditanyakan lagi, toko tahu siapa yang membawa bahan ini.”

“Kalau nama kami dicatat, apa itu berarti kami disalahkan kalau ada yang salah?”

Lin berhenti menulis. “Catatan itu bukan bukti kalian bersalah. Itu hanya menyebut sumber keterangan. Kalau kami keliru menilai, toko juga harus mencatat siapa yang memeriksa.”

Mo mengambil pena dan menambahkan namanya sendiri di bawah nama Lin. “Aku yang menyetujui pembelian. Kalau ada masalah, aku ikut bertanggung jawab.”

Wei Jun melihat baris itu, kemudian kembali ke keranjang. Ia akhirnya setuju membawa pulang separuh isinya dan meninggalkan sisanya sampai besok. Mo membayar dua bungkusan kecil dari uang toko dan menuliskan jumlahnya di buku kas. Lin mencocokkan uang yang keluar dengan catatan, lalu menyerahkan salinan tanda terima kepada Wei Lian.

Sebelum pergi, perempuan itu bertanya apakah toko akan membeli sampel tersebut besok.

“Kami akan memeriksa kondisinya setelah disimpan dan membandingkannya dengan sampel lama,” jawab Mo. “Kalau hasilnya belum cukup, kami tetap belum tahu nama atau kegunaannya. Tapi kalian akan mendapatkan jawaban tentang apa yang kami periksa.”

Wei Lian menerima tanda terima dan memasukkannya ke kantong. “Itu lebih jelas daripada hanya disuruh menunggu.”

Setelah mereka pergi, Lin menimbang ulang kedua bungkusan, lalu menyimpannya terpisah di rak pemeriksaan. Ia tidak mencampurnya dengan stok jual. Mo menyuruhnya meletakkan kain pembungkus yang basah di dekat jendela agar kering, tetapi menjaga sampel tetap tertutup dari debu.

“Kenapa membeli bahan yang belum kita kenal?” tanya Lin.

“Karena sampelnya kecil, asalnya dicatat, dan aku tahu berapa yang kubayar. Kita tidak membayar untuk khasiat yang belum terbukti. Kita membayar kesempatan memeriksa bahan.”

“Kalau ternyata tidak berguna?”

“Berarti kita kehilangan sedikit uang untuk mendapat sedikit pengetahuan.” Mo menutup buku kas. “Tapi kalau kau membeli keranjang besar karena merasa nama itu cocok dengan resep game, kita bisa kehilangan banyak uang dan membuat pelanggan menerima barang yang salah.”

Lin mencatat kalimat itu. Bukan sebagai aturan alkimia, melainkan sebagai keputusan dagang Mo yang bisa ia pahami.

Sisa hari diisi pekerjaan rutin. Lin memeriksa bunga abu dan akar pahit yang dibeli sebelumnya, lalu menyalin angka stok ke buku inventaris. Sekali ia hampir menulis daun sampel sebagai persediaan siap jual, tetapi berhenti ketika melihat label “uji”. Ia mencoret garis awal dan menulis ulang pada halaman pemeriksaan, mempertahankan bekas koreksinya.

Mo memeriksa catatan sebelum makan siang. Ia menemukan satu tempat yang seharusnya mencantumkan siapa yang membuka bungkusan, bukan hanya siapa yang membawa. Lin menambahkan namanya sendiri. Kesalahan itu kecil, tetapi akan menyulitkan mereka bila sampel berubah setelah disimpan.

Menjelang sore, Mo memberi Lin satu keping tembaga. Makan malam disediakan di toko. Lin menyimpan uang itu untuk tempat tidur dan menambahkan dua catatan baru ke buku pribadinya: “Nama pemasok bukan bukti identitas tanaman” dan “sampel yang dapat ditelusuri bisa dibeli untuk diperiksa, jika jumlah dan risikonya dibatasi.”

Bai belum memberi kabar. Rombongannya mungkin sudah tiba di pos dagang, atau masih memeriksa jalan. Lin tidak menulis dugaan apa pun tentang perjalanan itu. Ia hanya meninggalkan satu baris kosong di bawah nama Bai, untuk kabar yang belum datang.

Sebelum berangkat ke penginapan, ia melihat dua bungkusan sampel di rak. Untuk pertama kalinya, sebuah bahan yang belum dikenalnya berada di toko bukan karena orang mengklaimnya berharga, tetapi karena mereka memiliki cara untuk menguji sebagian kecilnya.

Besok mereka mungkin tetap tidak akan tahu namanya. Namun setidaknya mereka akan tahu dari mana pertanyaan itu bermula.

1
Uranenantios
Enaknya sehari up berapa bab ya?
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!