Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Pendekatan
Tiga bulan berlalu begitu cepat, masa iddah Alya akhirnya selesai. Tiga bulan yang penuh dengan perjuangan.
Selama tiga bulan itu, Ilham benar-benar menepati janjinya kepada ibunya, Ustadzah Munah. Ia menjaga pandangannya dengan sangat baik. Jika Alya datang ke rumah besar untuk membantu memasak atau mencuci, Ilham hanya menyapa seperlunya sambil menundukkan pandangan, tidak pernah berlama-lama menatap, tidak pernah lagi berduaan dengan alasan apapun.
Ia lebih banyak menghabiskan waktunya bermain dengan Nisa dan Raffi di halaman, mengajari mereka mengaji, mengajari mereka menulis dan membelikan mereka buku-buku cerita baru dari kota. Cintanya kepada Alya ia salurkan lewat kasih sayangnya yang tulus kepada anak-anak Alya.
Alya pun merasakan perubahan itu. Awalnya ia bingung kenapa Mas Ilham yang dulu ramah dan sering mengobrol dengannya kini menjadi lebih pendiam dan terkesan menjaga jarak. Tapi lama-lama ia mengerti setelah Ustadzah Munah berbisik pelan kepadanya suatu malam.
"Nak Alya, jangan merasa sedih dengan perubahan Ilham.Dia hanya sedang menata hatinya,menjaga pandangannya memantapkan niatnya jadi bersikaplah seperti biasa.
Mendengar itu, hati Alya terasa sangat hangat dan terharu.
Pagi itu, tepat di hari terakhir masa iddah Alya, Ustadzah Munah memanggil Alya ke teras rumah besar. Langit pagi sangat cerah, burung-burung berkicau di atas pohon mangga.
"Nak Alya, sini nak duduk didekat ibu." ucap Ustadzah Munah dengan senyum yang penuh dengan kebahagiaan.
Alya duduk dengan sopan.
"Iya Bu ada apa?"
Ustadzah Munah menggenggam tangan Alya dengan erat.
"Nak alya,hari ini masa iddah kamu sudah selesai.Alhamdulillah berati kamu sudah kembali suci dan sudah bebas. Kamu sudah resmi menjadi perempuan yang merdeka sepenuhnya.
Alya mengangguk dengan air mata yang hampir jatuh karena terharu.
"Alhamdulillah Bu,terima kasih banyak ya.Ibu banyak membantu Alya dan anak-anak.Semua ini tak jauh dari campur tangan ibu,ibu selalu memberikan nasehat,petuah dan ibu menjadi satu-satunya tempat saya pulang dan mengadu selain kepada Allah SWT."
Ustadzah Munah tersenyum dan melanjutkan dengan suara yang sedikit berbisik tapi penuh makna.
"Nak alya,ibu mau mengatakan satu hal,selama masa iddah kamu ini, ada satu hati yang terus mendoakan kamu dari jauh.Hati yang menjaga pandangannya karena menghormati kamu,Hati itu adalah hati anak bungsu Ibu.Ilham,iya.ilham selama ini selalu menjagamu dalam setiap untaian doa-doanya."
Alya langsung terkejut dan wajahnya memerah.
"Bu... Maksud Ibu..."
"Iya nak alya." potong Ustadzah Munah dengan lembut. "Ilham itu mengagumimu ,kagum sama kepribadian kamu, kesabaran kamu, kekuatan kamu sebagai seorang ibu. Selama tiga bulan ini dia menahan rasa kagumnya itu dengan cara menjaga pandangan dan mendoakan kamu dalam diam. Dan sekarang, setelah masa iddah kamu selesai Ilham ingin melakukan pendekatan dengan cara yang diridhoi Allah.Bukan dengan pacaran,tapi dengan cara yang terhormat."
Alya menunduk dalam-dalam, jantungnya berdegup sangat kencang. Ia tidak pernah menyangka akan mendengar hal seperti ini lagi setelah pernikahannya yang gagal dengan Arman.
Siang harinya, setelah sholat Dzuhur berjamaah, pendekatan Ilham yang sesungguhnya dimulai.
Pendekatan Ilham setelah masa iddah Alya selesai itu tidak seperti pendekatan laki-laki pada umumnya yang memberikan bunga, memberikan cokelat, atau mengajak jalan-jalan. Pendekatan Ilham sangat santun, sangat indah, dan sangat menyentuh.
Pertama, Ilham mendatangi ibunya secara resmi di ruang tamu, disaksikan oleh Mbak Zahra dan Mas Fikri.
"Bu, Ilham ingin menyampaikan niat Ilham. Setelah masa iddah Mbak Alya selesai hari ini, Ilham ingin meminang Mbak Alya dengan cara yang baik Bu, Ilham ingin menjadikan Mbak Alya sebagai istri Ilham dan menjadikan Nisa dan Raffi sebagai anak-anak Ilham juga. Ilham mohon izin dan restu dari Ibu."ucap Ilham dengan suara yang tegas, mantap, dan penuh dengan keseriusan.
Ustadzah Munah yang mendengar itu langsung menangis haru dan memeluk Ilham.
"Alhamdulillah nak,ibu merestui kalian Ibu sangat merestui.Ibu sudah melihat sendiri bagaimana kamu menjaga hati selama tiga bulan ini,ibu bangga sama kamu Ilham.
Mbak Zahra dan Mas Fikri juga langsung memeluk Ilham.
"Kami dukung kamu ham, Mbak Alya perempuan yang sangat baik. Dia pantas mendapatkan laki-laki sebaik kamu ham."ucap Mbak Zahra.
Kedua, Ilham melakukan pendekatan melalui anak-anak. Sore itu, ia mengajak Nisa dan Raffi duduk di bawah pohon mangga yang besar sambil membawa dua bungkus kue.
"Nisa, Raffi, Om Ilham mau tanya sesuatu boleh nak?"tanya Ilham dengan lembut.
"Boleh om Ilham!" jawab Nisa dan Raffi serempak.
"Kalau seandainya Om Ilham jadi ayah baru buat Nisa dan Raffi, Nisa dan Raffi mau tidak Nak? Om Ilham janji akan sayang sama Nisa dan Raffi seperti anak Om Ilham sendiri. Om Ilham akan sekolahkan Nisa dan Raffi, Om Ilham akan menjaga Mama Alya juga.
Nisa dan Raffi saling bertatapan, lalu Nisa menjawab dengan polos tapi mengena di hati.
"Mau Om Ilham,Nisa mau om. Om Ilham baik sekali sama Nisa dan Raffi.Om Ilham tidak pernah marah-marah seperti Ayah Arman dulu.
Raffi juga mengangguk dengan cepat sambil memeluk kaki Ilham.
"Raffi juga mau, Om Ilham jadi ayah Raffi!"
Mendengar itu, air mata Ilham hampir jatuh. Ia memeluk kedua anak itu dengan erat.
Ketiga dan ini yang paling penting, Ilham melakukan pendekatan langsung kepada Alya dengan cara yang paling terhormat. Tidak berduaan, tidak di tempat sepi, tapi di teras rumah besar, disaksikan langsung oleh Ustadzah Munah dari jauh.
Sore itu, Alya sedang menjemur pakaian. Ilham datang dengan langkah yang mantap, memakai baju koko putih bersih dan peci hitam, wajahnya terlihat sangat tampan dan teduh.
"Assalamualaikum mba Alya, sapa Ilham dengan suara yang pelan tapi tegas sambil menundukkan pandangan.
"Waalaikumsalam, Mas Ilham," jawab Alya dengan gugup, tangannya gemetar memegang jemuran.
Ilham menarik napas panjang, lalu berkata dengan kalimat yang sudah ia hafalkan selama tiga bulan.
"Mbak Alya, maafkan saya jika saya lancang.Saya tahu Mbak baru saja selesai masa iddah hari ini. Dan saya tau benar mungkin mba masih berusaha menata hati,luka mba belum sepenuhnya sembuh tapi saya tidak ingin berlama-lama lagi Mbak. Saya ingin menyampaikan niat saya secara langsung kepada Mbak,dengan disaksikan Ibu dari jauh.
Alya terdiam dan menunduk, jantungnya berdegup sangat kencang.
"Mbak Alya, selama tiga bulan ini saya mengagumi Mbak,Saya kagum dengan kesabaran Mbak, keteguhan hati Mbak, kepribadian mbak dan kasih sayang Mbak kepada Nisa dan Raffi. Saya tidak pernah melihat perempuan sekuat Mbak, Oleh karena itu, jika Mbak berkenan saya Ilham bin Haji Mahmud, ingin meminang Mbak Alya binti Harun untuk menjadi istri saya.Saya ingin menjaga Mbak, Nisa, dan Raffi dengan cara yang diridhoi Allah.Saya ingin menikahi Mbak, memiliki ikatan yang suci dengan mbak."
Setiap kata yang keluar dari mulut Ilham terdengar sangat santun, sangat tulus, sangat tegas dan sangat mengena di hati.
Alya yang mendengar itu langsung menangis pelan. Air matanya jatuh membasahi kerudung cokelat mudanya. Bukan karena sedih, tapi karena terharu. Baru pertama kali dalam hidupnya ada seorang laki-laki yang meminangnya dengan cara yang begitu terhormat, begitu menjaga dan begitu tulus, tanpa pernah menyentuhnya, tanpa pernah merayunya.
"Mas Ilham..." ucap Alya dengan suara yang bergetar. "Saya,saya tidak tahu harus menjawab apa, Mas. Saya ini hanya seorang janda miskin dengan dua anak, saya merasa saya tidak pantas untuk Mas Ilham yang masih bujang, pintar dan sholeh.Mas Ilham pantas mendapatkan yang lebih baik dari Alya.
Ilham menggeleng dengan cepat.
"Mbak Alya, jangan berkata seperti itu. Di mata saya, Mbak Alya adalah perempuan yang paling baik dan paling pantas. Status janda bukan aib Mbak. Punya anak bukan kekurangan, Justru itu kemuliaan Mbak. Saya ingin pahala besar dengan menyayangi Nisa dan Raffi mba."
Alya menangis semakin deras.
"Berikan saya waktu untuk istikharah lagi ya, Alya ingin minta petunjuk sama Allah lagi ya, saya ingin memantapkan hati saya mas,saya ingin meminta petunjuk dari Allah untuk langkah besar yang harus saya ambil.
Ilham tersenyum dengan senyum yang sangat teduh.
"Tentu mba, Saya akan menunggu jawaban Mbak Alya. Saya akan menunggu selama apapun. Saya juga akan mendoakan mba.
Di teras rumah besar, Ustadzah Munah yang melihat pendekatan Ilham yang begitu santun dan indah itu hanya bisa mengusap air matanya dengan penuh haru.
Ia tahu, pendekatan Ilham setelah masa iddah Alya selesai ini adalah pendekatan yang paling indah yang pernah ia lihat. Bukan dengan rayuan, tapi dengan lamaran. Bukan dengan sentuhan, tapi dengan penjagaan pandangan. Bukan dengan janji manis, tapi dengan niat ibadah.
Dan di bawah pohon mangga sore itu, Alya kembali mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat istikharah keempat dalam hidupnya, istikharah untuk menentukan apakah Ilham adalah jodoh yang Allah kirimkan untuk menggantikan luka lamanya dengan kebahagiaan baru.
Bersambung...