NovelToon NovelToon
Second Mate (Setelah Tujuh Tahun Berpisah)

Second Mate (Setelah Tujuh Tahun Berpisah)

Status: tamat
Genre:Tamat / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Cerai / Angst
Popularitas:457.7k
Nilai: 5
Nama Author: Isma Wati

Salsabillah Khairunnisa Kirani, 25 tahun. Terpaksa harus menikah dengan Adrian Mangku Kusumo, 25 tahun. Karena perjodohan orang tua mereka, padahal mereka sama-sama memiliki kekasih.

Sabillah tak tahu mengapa Adrian selalu menuduhnya menjadi penyebab kehancuran Ajeng, kekasih Adrian.

Hingga di tujuh bulan pernikahan mereka, Sabillah melihat Adrian bersama wanita yang tengah hamil tua, dan wanita itu, kekasih Adrian.

Apakah Adrian sudah mengkhianati pernikahan mereka? Meski mereka sepakat untuk berpisah setelah dua tahun pernikahan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Besar Ajeng

"Tolong, ampuni aku Adrian. Jangan bawa aku ke penjara." Teriak Ajeng memohon dengan air mata berlinang.

"Kamu harus menjalani hukuman ini, Ajeng. Aku tidak menyangka kamu bisa tega melakukan ini pada orang tua ku." Adrian terlihat begitu marah, dengan mata merah menyala.

"Itu karena mereka menghalangi cinta kita untuk bersatu, Adrian. Coba saja kalau mereka merestui hubungan kita, hal ini nggak akan terjadi. Aku diperkosa juga karena mereka menjodohkan mu dengan wanita itu."

"Cepat bawa wanita ini. Hukum dia seberat-beratnya."

Adrian tidak ingin mendengar alasan apapun lagi, tindakan Ajeng sudah keterlaluan sampai menghilangkan nyawa kedua orangtuanya.

"Enggak, Adrian." Ajeng menggeleng kepalanya kuat. "Jangan! Aku nggak mauuu, kamu jahat, Adrian."

"Adrian, kita saling mencintai."

"Aku nggak mau dipenjara."

"Adriannnnn. Lepasin akuuu."

"Mom, Mommy. Mommy bangun, Mom." Tangan mungil itu menggoyang-goyang tubuh sang mama yang menggigil ketakutan dalam tidurnya.

Ajeng dengan keringat dingin disekujur tubuhnya lantas membuka mata dan menegakkan tubuhnya dengan nafas memburu.

"Alief," ucapnya menyadari jika dia hanya mimpi.

"Iya, Mom. Mommy mimpi lagi?" Anak itu berjalan menuju meja sofa, lalu kembali lagi membawakan secangkir air putih, memberikan pada mamanya. Hal ini seperti sudah biasa ia lakukan.

Ajeng menyugar rambut sebahunya yang basah, menatap Alief, kemudian menerima air dari anaknya.

Bohong jika dia tidak membenci Alief, apalagi sikap manis anak ini, Ajeng muak. Melihat wajah Alief mengingatkanya pada malam nahas yang merenggut kesucianya. Setelah tujuh tahun berlalu, pelaku itu baru tertangkap, dan Ajeng jijik mengetahui pelaku yang menggagahinya laki-laki buruk rupa dan buruk pula perilakunya.

Jika bukan karena Adrian, Ajeng sudah membuang anak itu.

"Mommy kenapa suka mimpi seperti itu?" Duduk disebelah mamanya, mendongak, menatap wajah mamanya yang sedang menenggak air darinya.

"Itu cuma mimpi buruk, nggak ada apa-apa." Memberikan kembali cangkir pada Alief. Dengan sabar anak berusia hampir delapan tahun itu mengambilnya, dan meletakkan kembali ketempat semula. Meski Ajeng sering memarahinya, Alief sayang pada Ajeng. Karena Ajeng selalu bilang, jika Alief bisa bersikap baik, Adrian akan kembali pada mereka. Tanpa anak itu ketahui siapa ayahnya sebenarnya.

"Kamu sudah mandi?" Alief mengangguk sebagai jawaban. "Mommy mau mandi, kamu tunggu disini."

Sebelum beranjak ke kamar mandi, Ajeng mengecek hapenya terlebih dahulu. Tak ada pesan atau panggilan dari Adrian yang menanyakan keadaanya, atau keberadaanya.

"Breeengsek Adrian. Dia sama sekali tidak menghubungi aku." Makinya kesal. "Aku harus cari tahu keberadaan Adrian."

Semakin hari Adrian semakin menghindarinya, dan itu karena Adrian masih mengharapkan kehadiran mantan istrinya, wanita yang telah merebut kebahagiaanya.

* * *

Pagi ini Sabillah sudah diperbolehkan pulang, dia bersyukur tiga kali melahirkan tidak mengamalami kendala apapun, meski tidak ada seorang suami yang mendampinginya. Dua kali melahirkan, Arjuna dalam tugasnya, dan yang sekarang, Arjuna telah meninggalkanya dan anak-anaknya untuk selamanya.

"Apa yang semalam laki-laki itu bicarakan sama kamu, Nak?" tanya pak Sofyan sambil membereskan perlengkapan Sabillah kedalam tas. Sintya membawa kedua cucunya keluar terlebih dahulu untuk sarapan di kantin rumah sakit, karena Eka mengeluh bosan.

"Sabill ngelarang dia buat nemuin Arial lagi, Pa."

"Sebenarnya Papa nggak setuju membiarkan kamu cuma bertemu berdua saja sama dia. Tapi karena itu yang mau kamu bicarakan, Papa izinin."

"Nggak boleh terlalu benci juga, Pa. Adrian juga nggak salah-salah banget dulu. Lagian yang lalu biarlah berlalu. Sabill harap juga setelah ini Adrian tidak akan menemui Arial lagi."

"Papa masih nggak terima dengan sikapnya sama kamu, hati Papa masih sakit," pak Sofyan berhenti mengemasi, menepuk dadanya. "Dulu dia nuduh kamu yang macem-macem, Sabill. Rasa sakit Papa belum hilang waktu dia nuduh kamu hamil dengan laki-laki lain saat kamu ninggalin dia. Banyak hal terjadi setelah kamu pergi." Pak Sofyan menghela nafas. "Datangnya dia ke kehidupan kamu, Papa merasa bahaya mengincar hidup kamu."

"Andai kamu bicarakan yang sejujurnya pada Papa dulu, Papa pasti akan dipihak kamu." Mata tua itu berkaca-kaca menceritakanya, "andai kamu tahu juga. Dialah yang memecat kamu dari pekerjaan kamu."

"Apa, Pa?" Sabillah sampai tak percaya.

"Vania dan Edo yang memberi tahu Papa, mereka tidak sengaja mendengar obrolan Adrian dengan manager kamu waktu itu."

Jahat sekali Adrian. Sabillah mencengkeram kain spreinya. Eh, tapi apa kabar kedua sahabatnya itu sekarang ya? Sabillah jadi merindukan keduanya.

"Sayangnya Mama kamu waktu itu menerima kerja sama dengan Adrian setelah laki-laki itu menyadari kesalahanya, juga untuk menutupi keberadaan kamu."

"Maafkan Sabill, Pa."

"Nggak papa, ini semua bukan salah kamu." Pak Sofyan mengusap bahu anaknya.

* * *

Apes memang tak pernah ada yang tahu, saat akan pulang, mobil taksi yang mereka sewa tiba-tiba kurang angin.

"Maafkan saya, Pak. Jika dipaksakan nanti malah lebih bahaya. Silahkan cari taksi yang lain."

Waktu memang baru pukul sepuluh pagi, tapi matahari sudah mulai menampakkan teriknya, kasihan bayi dan kedua anak Sabill, belum lagi pak Sofyan yang sudah tua itu sering mengalami sakit pinggang.

"Sabill pesan taksi baru aja, Pa." Tapi karena panas, bayi Sabillah menangis.

"Mama aja yang pesankan, Bill. Sini." Meminta ponsel Sabillah.

"Om, Adrian. Ommmm." Teriak Arial memanggil Adrian, membuat Sabillah dan kedua orangtuanya menoleh kearah dimana Arial memanggil nama itu. Diseberang jalan sana, Adrian melintas dengan kacamobilnya yang terbuka. Laki-laki gagah dan tampan itu melambai kearah Arial.

Sial, Sabillah lupa berpesan kepada anaknya untuk tidak menyapa Adrian.

"Arial, nggak boleh teriak seperti itu. Memang kamu tahu siapa orang itu?"

"Om itu teman Bapak, kan. Pasti orang baik."

"Bill, Arial hanya anak kecil." Sintya membela Arial. Sabillah dan pak Sofyan saling pandang jengah. Semua tindakan buruk Adrian tidak membuka mata hati Sintya. Adrian tetap unggul dimatanya.

"Kalian mau pulang?" tanya Adrian ketika mobilnya sampai didepan Sabillah dan keluarganya. "Bill, anak kamu nangis?" tanyanya begitu khawatir tak dibuat-buat, melihat wajah merah bayi Sabillah. Adrian turun dari mobilnya.

Baik Sabillah dan Pak Sofyan tak menyahut dan tak menghiraukan keberadaan Adrian.

"Mama udah pesen taksinya kan?" Malah bertanya pada mamanya.

"Belum sempet, Mama keder kamu dari tadi ngomong terus."

Sabillah menghela nafas sambil menimang bayi digendonganya agar anaknya diam.

"Bill, naik ke mobil aku saja. Kamu kelihatan pucat." Ini juga Adrian tidak berbohong, "kamu masih dalam pemulihan, nanti kenapa-kenapa. Cuaca panas."

"Arial mau ikut Om." Arial yang menyahut, mendongak menatap Adrian.

"Tapi Kakak nggak mau, ya." Eka sebaliknya menolak.

Adrian tersenyum pada anak sulung Sabillah. "Udah Bill, jangan keras kepala, kasihan Papa sama anak-anak kamu." Tanpa permisi Adrian menarik tangan Sabillah.

Sabillah sebenarnya terkejut, atas tindakan Adrian, karena anaknya terus menangis, Sabillah tak bisa menolak. Menurut saja saat Adrian membukakan pintu bagian tengah, mempersilahkan dulu pak Sofyan dan bu Sintya masuk untuk duduk dibangku belakang. Sabillah dan Eka ditengah, Arial Adrian duduk didepan dengan Arial berada dipangkuanya.

Pak Sofyan sebenarnya ingin menolak, tapi dia memikirkan Sabillah yang baru melahirkan, juga kasihan pada ketiga cucunya, jadi dia ikut masuk kedalam mobil Adrian.

Setelah di dalam mobil, ajaibnya bayi Sabillah langsung berhenti menangis, merasakan kenyamanan mobil mewah Adrian.

Selama diperjalanan, hanya terdengar celotehan Arial yang menanyakan hal tentang mobil dan bagian interior mobil Adrian yang membuatnya takjub. Dengan sabar, Adrian menjawabnya satu persatu.

Tidak ada yang menyadari, Eka yang mengusap tangan Sabillah dengan tisssu basah bekas tangan Adrian, karena wajah anak itu berpaling ke luar jendela, Eka tak suka siapa saja yang coba mendekati umaknya.

Sabillah dan pak Sofyan sendiri merasa sulit bernafas, berat hati naik mobil Adrian.

* * *

"Kenapa kamu yang kesini, Arthur? Jika Adrian memang sibuk sama kerjaanya, seharusnya kamu selalu bersamanya."

Adrian memang meminta Arthur yang menemui Ajeng, dia menyewa supir Jimmy untuk mengantarkanya ke rumah sakit, Adrian tak lepas tanggung jawab dengan keberadaan Ajeng disini.

"Saya harus memastikan jika Anda baik-baik saja, Nyonya. Dan tuan meminta saya mengantar Anda jalan-jalan ke tempat wisata di sini. Karena Tuan sangat sibuk."

"Biarkan aku menunggunya sampai tidak sibuk. Pergi dan bantulah pekerjaanya agar cepat selesai." Perintah Ajeng.

"Saya hanya akan menuruti jika itu perintah dari Tuan." Ajeng menatap tajam Arthur. Tapi asisten pribadi Adrian itu malah menanggapi dengan senyuman.

"Menyebalkan."

"Sebaiknya Anda menurut saja, Nyonya. Jika ingin rahasia terbesar Anda tetap aman."

"Apa maksud kamu?" Ajeng membulatkan mata terkejut, apa yang Arthur tahu? "Jangan sok paling merasa tahu rahasia ku."

"Bekerja samalah, jangan mempersulit saya."

"Aku ingin tetap disini. Jangan urusi aku, aku hanya ingin Adrian menemui ku."

Arthur melempar obat pada Ajeng, dan itu membuat mampu membuat Ajeng bungkam.

* * *

Tidak ada ucapan terima kasih dari Sabillah setelah Adrian mengantarkanya pulang, bahkan tak ada tawaran air putih untuknya. Ah jangankan air putih, dipersilahkan duduk saja Adrian tidak.

"Maaf, Ma. Apa ada air putih, Adrian haus." Adrian sendiri yang meminta, tanganya mengusap lehernya yang terasa kering. Dia tadi juga membantu menurunkan barang-barang Sabillah.

"Astaga Adrian. Maaf Mama lupa, tunggu disini, Mama ambilkan air minum." Sintya berjalan kedapur untuk mengambilkan Adrian minum.

"Pulanglah, jika memang niatmu membantu, tidak perlu mengharap apa-apa. Dijalan banyak warung untuk mu membeli air putih." Tapi pak Sofyan datang dan mengusirnya saat Adrian baru mau menjatuhkan pantatnya di kursi tamu.

"Tidak ada yang kebetulan kan, Adrian. Saat supir taksi mobilnya kempes, dan kamu datang diwaktu yang bersamaan?" ucap pria paruh baya itu yang mana membuat Adrian salah tingkah. "Jangan menggunakan cara licik dan murahan. Jangan menutup kesalahan kamu yang dulu, dengan melakukan kesalahan yang baru."

Adrian menggaruk tengkuknya, cara ini memang sangat murahan, hingga bisa terbaca oleh pak Sofyan, tapi apapun akan dia lakukan demi bisa mendekati Sabillah. Karena dia tidak tahu harus melakukan apalagi?

1
Endah Lestary
Luar biasa
Khairul Azam
baru ingat aku, aku udah pernah baca novel ini, klo gak salah nanti arjun meninggal dan salbila kembali sama adrian
Jessica
Luar biasa
Maizaton Othman
pasion
Maizaton Othman
bed rest,thor
Maizaton Othman
by the way
Maizaton Othman
naluri
Maizaton Othman
bukan kah adiknya nama Azalea
Maizaton Othman
ada sedikit kelainan dlm novel ini,jalan cerita & karektor berbeza dari biasanya,saya suka
Maizaton Othman
dgn Adrian- typo
Mhyta
aku sih smga sm si reyhan jodohnya kembali
Mhyta
astaga lucunya🤣🤣
Mhyta
maaf br sempat koment.. izin mampir lg yah thor
Taty Hartaty
Lumayan
Taty Hartaty
Luar biasa
☕/arsenlemuel/argyatristan☕
gilak ini sih permintaan nya edo... jgn mau terima vania
☕/arsenlemuel/argyatristan☕
surprise yg mengharu biru
☕/arsenlemuel/argyatristan☕
kehilangan kan lo sabil
☕/arsenlemuel/argyatristan☕
reyhan laki2 yg bijak ternyata
☕/arsenlemuel/argyatristan☕
🤭🤭🤭kocak habes Adrian.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!