Alana Adhisty dan Darel Arya adalah dua siswa terpintar di SMA Angkasa yang selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik. Alana, gadis ambisius yang tak pernah kalah, merasa dunianya jungkir balik ketika Darel akhirnya merebut posisi peringkat satu darinya. Persaingan mereka semakin memanas ketika keduanya dipaksa bekerja sama dalam sebuah proyek sekolah.
Di balik gengsi dan sikap saling menantang, Alana mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam hubungannya dengan Darel. Apakah ini masih tentang persaingan, atau ada perasaan lain yang diam-diam tumbuh di antara mereka?
Saat gengsi bertarung dengan cinta, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my pinkys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pacar rahasia
Hari pertama kembali ke sekolah setelah absen selama seminggu membuat hari ini terasa lebih panjang dari biasanya bagi Alana. Meskipun banyak tatapan dan bisikan di sekelilingnya, dia tetap berusaha bersikap biasa dan cuek.
Saat istirahat tiba, Alana dan Shasa berjalan menuju kantin. Namun, sebelum mereka sampai di sana, sebuah suara menghentikan langkah mereka.
“Alana!”
Mereka berdua menoleh dan melihat Larissa berjalan mendekat dengan beberapa teman gengnya.
Shasa langsung melipat tangannya di dada. “Apa lagi, sih mak lampir?”
Larissa menatap Alana dengan sinis. “Jadi, tadi pagi lo beneran berangkat bareng Darel?”
Alana menghela napas pelan. “Dan kalau iya kenapa?”
Seperti yang sudah diduga, Larissa tertawa kecil sebelum menjawab dengan nada mengejek, “Gila ya, lo cepat banget naik status.”
Shasa mendengus. “Maksud lo apa? Mak Lampir....”
Larissa menyeringai. “Dari yang tadinya cuma cewek biasa, sekarang tiba-tiba jadi dekat sama Darel. Jangan-jangan, lo sengaja cari simpati biar bisa deket Darel ya?”
"Atau...gara-gara peringkat lo turun jadi lo deketin Darel? " ucap Larissa mengejek.
Ucapan itu membuat Alana mengepalkan tangannya. Namun, sebelum dia sempat membalas, sebuah suara lain terdengar dari belakang mereka.
“Ada masalah?”
Semua orang menoleh. Darel berdiri di sana dengan tatapan dingin. Bersamanya, ada anggota gengnya—Rio, Andra, Juno, dan Kevin.
Larissa tampak sedikit canggung. “Nggak ada. Aku cuma ngobrol sama Alana.”
Darel melangkah mendekat. Lo pikir gue nggak tahu apa yang lo lakukin?”
Larissa menegang.
“Jangan pernah mengganggu Alana lagi,” lanjut Darel, suaranya rendah namun tajam.
Larissa menggigit bibirnya, lalu berbalik dan pergi bersama gengnya.
Shasa terkekeh. “Nah, itu baru seru.”
"Dasar mak Lampir! "teriak Shasa.
Alana menoleh ke arah Darel. “Makasih.”
Darel tersenyum kecil. “Gue nggak akan biarin siapa pun mengusik lo,mulai sekarang.”
Alana tersenyum tipis sebelum Shasa mengajak Alana untuk mencari bangku kosong di kantin.
___
Sesampainya di kantin sekolah,bisa Alana dan Shsa lihat,siang iniknatin sudah sangat penuh dan sesak. Meja-meja sudah terisi, beberapa siswa bahkan terpaksa berdiri sambil membawa nampan makanan mereka, menunggu giliran siswa yang lain selesai makan. Alana dan Shasa berdiri di tengah keramaian, mencari tempat kosong.
“Nggak ada tempat nih Lana,” gumam Shasa sambil mengedarkan pandangan.
Alana juga mencari ke sekeliling, berharap ada meja kosong, tapi semuanya sudah teris,tak ada yang kosong kecuali meja yang di tempati genk nya Darel,.
“Woy micin! sini,” sebuah suara berat terdengar dari belakang mereka berteriak keras, itu suara Rio.
"Dasar Riopet"gerutu Shasa kesal.
" Riopet siapa? "tanya Alana pada Shasa.
Shasa menatap Alana dan menjawab" Riopet itu Rio si playboy kelas kakap"
"Ooh aku kira siapa"Alana manggut-manggut.
Keduanya berjalan menghampiri tempat di mana genk nya Darel berada dan melihat Darel berdiri dengan ekspresi santai. Di belakangnya, gengnya sudah duduk di meja mereka yang masih memiliki dua kursi kosong.
Shasa langsung tersenyum, tetapi melirik Alana seolah meminta persetujuan. Alana menelan ludahnya. Duduk bersama geng Darel berarti menarik perhatian banyak orang.
Tapi daripada berdiri membawa nampan makanan, dia akhirnya mengangguk kecil.
Shasa tanpa ragu menarik tangan Alana dan berjalan ke meja geng Darel. “Kita gabung nih ya,"
Alana duduk di samping Shasa, tepat di seberang Darel.
“Wah, akhirnya meja kita ada bidadarinya juga,” celetuk Rio dengan senyum jahil.
Shasa mendengus, “Jangan mulai, Riopet.”
Darel tetap tenang, menyendok makanannya dengan santai. “Jangan ganggu mereka.”
Alana melirik Darel sekilas. Dari luar, dia terlihat biasa saja, sama seperti sebelum mereka mulai dekat. Tidak ada tatapan lembut, tidak ada sentuhan kecil yang mungkin mencurigakan. Seolah hubungan mereka memang tak ada apa-apanya.
Dan memang harus begitu.
Tidak ada yang boleh tahu kalau dia sekarang tinggal di apartemen Darel. Tidak ada yang boleh tahu kalau mereka diam-diam sudah berpacaran.
Shasa satu-satunya orang yang tahu, dan sahabatnya itu sudah berjanji untuk merahasiakan semuanya.
Andra menatap Alana dengan sedikit penasaran. “Lana, gue mau tanya deh sama lo"ujar Andra.
"Tanya apa?"
"Lo kemarin pas ngerjain ujian lagi ngantuk ya, makanya si bos jadi peringkat pertama"
Alana terdiam sejenak sebelum mengangguk. “Gue ngak ngantuk,cuma kemarin lagi pengin rasain jadi peringkat dua aja.”
Kevin, yang biasanya pendiam, akhirnya ikut bicara. “Alasannya cuma itu?”
Alana menggigit bibirnya, merasa perih setiap kali mengingat rumah yang dulu ia tinggali. Tapi dia mengangguk kecil. “Ya.”
Juno tersenyum kecil"Buset dah, orang pinter emang beda.”
Alana melirik mereka satu per satu. Mungkin ini pertama kalinya dia merasa punya orang-orang yang peduli padanya, banyak bertanya pada nya membuat ia sedikit melupakan rasa sedih nya.
Namun, saat dia menoleh ke arah Darel, cowok itu hanya menunduk, fokus pada makanannya.
Seolah tidak ada perasaan khusus di antara mereka.
Padahal tadi pagi…
---
FLASHBACK – PAGI DI APARTEMEN DAREL
Alana berdiri di depan cermin, merapikan seragamnya sebelum menyambar sweater oversized pink-nya. Setelah memastikan lukanya tertutup, dia mengambil tasnya dan berbalik menatap penampilannya lagi di cermin tanpa sadar sedari tadi ada yang memperhatikan nya.
Darel berdiri di depan pintu kamar, bersandar santai dengan tangan terlipat di dada. “Udah siap cantik?”
Alana salah tingkah karna perkataan Darel“Apaan sih Darel.”
Mereka berjalan keluar apartemen. Saat mereka menunggu lift, Darel melirik Alana sekilas.
“Nanti di sekolah kita biasa aja, oke?” katanya.
Alana tersenyum kecil. “Aku tahu Darell.”
Darel menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menarik Alana ke dalam pelukannya. “Tapi begitu kita sampai di sini lagi, kamu tetap pacarku.”
Alana terkekeh kecil. “Iya, iya.”
Darel mengecup puncak kepalanya sebelum pintu lift terbuka. Begitu mereka masuk ke dalam lift, keduanya kembali menjaga jarak, kembali ke mode ‘tidak ada apa-apa di antara mereka’.
---
>>KEMBALI KE KANTIN<<
Alana menatap makanannya, berusaha tidak terlihat aneh di depan Shasa dan Teman-teman Darel. Dia dan Darel harus tetap bersikap seperti ini.
Tidak ada yang boleh tahu.
Tidak ada yang boleh tahu.
Tidak sekarang.
Dan itu adalah tantangan terbesar mereka.
___
Trenggg
Trenggg
Trenggg
Suasana sekolah seketika ramai saat bel pulang berbunyi. Siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas, bersiap untuk pulang atau sekadar nongkrong sebentar sebelum pergi. Alana menutup bukunya dengan hati-hati sebelum memasukkannya ke dalam tas.
Shasa yang duduk di sebelahnya menepuk bahu Alana. “Lana, pulang bareng, kan?”
Alana mengangguk cepat. “Iya.”
Di sisi lain, Darel yang juga baru selesai membereskan barang-barangnya melirik ke arah Alana. Ada sedikit ketidaksukaan di wajahnya, tapi dia tahu ini bagian dari rencana mereka.
Sejak Alana tinggal di apartemen Darel, mereka sepakat untuk tidak menunjukkan hubungan mereka di depan umum. Tidak ada yang boleh tahu kalau mereka sudah pacaran, kecuali Shasa dan mungkin teman-teman Darel nanti.
Darel berjalan mendekat dengan santai. “Pulang bareng siapa?” tanyanya, meski dia sudah tahu jawabannya.
Shasa yang menjawab lebih dulu. “Sama gue dong, kayak biasa.”
Darel mengangkat alis, lalu mengangguk kecil. “Oh.”
Alana tersenyum tipis, berusaha menahan rasa bersalah karena harus berpura-pura.
Rio, salah satu anggota geng Darel, menepuk bahu cowok itu sambil tertawa. “Lo kenapa? Biasanya cuek, kok sekarang nanya siapa yang pulang bareng siapa?”
Darel mendelik. “Nggak boleh nanya?”
Rio tertawa lebih keras. “Boleh banget, cuma heran aja,nggak kaya biasa nya.”
Andra ikut menimpali. “Atau lo mau nawarin diri buat nganterin Alana?”
Shasa langsung memasang ekspresi bercanda. “Wah, Darel sekarang jadi gentleman ya?”
Darel mendengus. “Lagian, dia udah ada yang nganterin.”
Alana buru-buru meraih tangan Shasa dan menariknya pergi sebelum ada pembicaraan lebih lanjut. “Ayo, Sha.”
Shasa yang ditarik hanya terkekeh. “Santai, Lana. Nggak usah panik gitu.”
Darel hanya bisa menatap punggung Alana yang menjauh bersama Shasa. Rio dan Andra saling pandang sebelum tertawa kecil.
“Kok gue ngerasa ada yang aneh, ya?” gumam Rio.
Andra mengangguk setuju. “Kayaknya mereka ada sesuatu yang nggak kita tahu.”
Darel tetap memasang wajah datar. “Kalian aja yang terlalu curiga.”
Namun, jauh di dalam hatinya, dia sebenarnya tidak suka harus berpura-pura seperti ini. Tapi untuk sementara waktu, ini adalah satu-satunya cara agar mereka bisa menjalani hubungan tanpa gangguan.
—*
Di perjalanan pulang, Shasa menatap Alana dengan tatapan menyelidik.
“Jujur aja, Lana. Lo beneran nggak ada rasa ke Darel?” tanyanya tiba-tiba.
Alana terbatuk kecil sebelum menjawab, “Kenapa lo tiba-tiba nanya gitu sih?”
Shasa menghela napas. “Karena lo kelihatan beda.”
Alana meneguk ludahnya gugup. “Beda gimana?”
Shasa melipat tangan di dada. “Biasanya lo cuek kalau ada yang ngegodain lo. Tapi kalau udah nyangkut Darel, lo jadi agak panik.”
Alana tertawa kecil, berusaha menutupi kegugupannya. “Mungkin gue cuma masih belum terbiasa digodain.”
Shasa mengangkat bahu. “Oke, kalau lo bilang gitu.”
Sesampainya di depan rumah Shasa, Alana berpamitan dengan alasan masih ingin jalan-jalan sebentar sebelum pulang. Setelah memastikan Shasa sudah masuk rumah, dia langsung bergegas menuju tempat di mana Darel menunggunya—di sebuah gang kecil yang tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan Shasa.
Darel bersandar di motor dengan ekspresi bosan. “Lama.”
Alana memasang wajah bersalah. “Maaf, tadi Shasa banyak nanya Darel.”
Darel mengangkat alis. “Tentang kita?”
Alana mengangguk pelan. “Tapi aku ngak jawab kalo kita pacar an untuk....sekarang,nggak tau nnati.”
Darel menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Bagus.”
Dia lalu menyodorkan helm ke Alana. “Ayo pulang.”
Alana mengambil helm itu dan segera naik ke motor. Begitu Darel mulai melajukan kendaraan, dia merasakan angin malam yang menyentuh wajahnya, membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba Alana tertawa pelan, membuat Darel heran.
"Kamu kenapa? ada yang lucu" tanya Darel menatap spion.
"Ngak ada yang lucu! tapi kita lucu Darel, kaya maling yang lagi sembunyi biar ngak ke tangkap! " pekik Alana sedikit keras karna saat ini Darel mengendarai motor nya sedikit kencang.
"Iya juga ya," ucap Darel membenarkan.
Di tengah semua kepura-puraan ini, hanya ada satu hal yang pasti—dia dan Darel sedang menyembunyikan sesuatu yang bisa mengubah segalanya jika ketahuan.
Dan itu adalah hubungan mereka.
Lucu! mereka kaya maling yang lagi sembunyi biar ngak ke tangkap.
To be continued…
padahal bagus loh karyanya