NovelToon NovelToon
Menunggu Cincin Di Jari Manis

Menunggu Cincin Di Jari Manis

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:40.1k
Nilai: 5
Nama Author: cietyameyzha

Safia hampir kehilangan kehormatan hanya karena percaya pada lelaki. Kejadian itu menjadi tamparan keras agar Safia berubah jauh lebih baik. Perempuan itu memutuskan berhijab dan fokus memperbaiki diri.
Mengingat manager lama tim keuangan sudah pensiun, pihak perusahaan mengirimkan manager baru yang ditarik dari kantor cabang. Akhmar, pemuda yang sangat menghormati wanita. Bekerja keras untuk kesembuhan sang ibu yang terkena penyakit gagal ginjal. Akhmar bekerja sebagai atasan Safia, mereka sering terlibat interaksi. Terlebih sikap Akhmar yang tegas dan disiplin, sedangkan Safia sering ceroboh dan pelupa.
Bisakah keduanya damai dalam satu atap ketika bekerja?
Bagaimana Safia bisa tahan dengan kedisiplinan dan sikap tegas Akhmar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan Kemanusiaan

Pada akhirnya Safia harus menginap di rumah sakit untuk semalam. Mengingat tak ada keluarga di sini, ia hanya ditemani Maria. Namun, tak menyangka jika Akhmar akan datang selepas salat Magrib.

Akhmar datang tidak sendiri, melainkan dengan ibunya. Mengingat malam itu memang ada jadwal check up sang ibu di rumah sakit yang sama.

Safia terpukau melihat kecantikan ibu Akhmar. Umurnya bisa terbilang hampir menyentuh setengah abad, menurut penuturan Akhmar. Akan tetapi, kecantikan wanita paruh baya itu masih terpancar nyata.

"Ibu baru tau kalau Akhmar memiliki bawahan yang secantik kamu, Nak," puji Bu Kartini pada Safia.

Maria diam, berdiri di samping kanan ranjang rumah sakit. Sementara Akhmar dan Bu Kartini ada di samping kiri.

Safia malu. "Saya wanita biasa, Bu." Tidak menyangka atasannya ternyata lahir dari seorang ibu yang lembut dan penuh cinta. Pantas saja lelaki itu terkadang memperlakukan wanita begitu lembut. Memang peran pengasuhan sejak kecil akan berdampak di waktu besar.

Akhmar diam. Keberadaannya di sini untuk mengecek keadaan Safia, tetapi tidak mungkin meninggalkan ibunya di lantai dasar sendiri.

"Sesekali main ke rumah. Kamu juga, Nak." Bu Kartini beralih pandangan pada Maria. "Ibu pasti senang kalau ada teman atau bawahannya yang datang, apalagi perempuan. Ada teman berbicara."

Maria tersenyum. "Insyaa Allah, Bu." Terharu dengan kelembutan Bu Kartini.

"Bu, mereka ini perempuan. Tidak seharusnya berkunjung ke rumah laki-laki," ucap Akhmar.

Bu Kartini melirik Akhmar. "Di sana kan kamu juga jarang keluar kamar, Nak."

Safia dan Maria saling melempar pandangan.

"Tapi, tetap saja. Sebaiknya perempuan tidak mengunjungi kediaman seorang lelaki, begitu pun sebaiknya. Kecuali memang ada hal darurat. Ibu selalu bilang kalau fitnah itu lebih kejam dari apa pun." Akhmar mengingatkan.

"Astagfirullah." Bu Kartini mengelus dada.

Safia menatap Akhmar sebentar. Wajar saja Akhmar begitu menjaga jarak dengan lawan jenis, rupanya memang Akhmar memiliki prinsip yang kuat.

"Kalau seperti itu, kapan-kapan kita makan bersama di luar saja, ya." Bu Kartini melirik satu per-satu wajah Maria dan Safia. "Ibu dan Akhmar baru pindah ke sini beberapa minggu. Jadi, belum tau banyak tempat ini."

Safia tersenyum kecil. "Insyaa Allah, Bu. Nanti saya ajak ke kedai makanan terenak di kota ini." Entah mengapa Safia merasakan ketertarikan pada Bu Kartini. Bukan tentang cinta, tetapi layaknya seorang anak pada ibu kandung.

Ponsel Maria berbunyi, ada telepon masuk dari keluarganya. Wanita itu pamit ke luar, begitu pun dengan Bu Kartini yang mendadak ingin ke kamar kecil. Kini tinggal Safia dan Akhmar saja. Suasana berubah canggung. Baik Akhmar ataupun Safia saling diam.

Safia sesekali melirik Akhmar. Rasanya belum berterima kasih pada lelaki itu. "Pak Akhmar." Suaranya pelan memanggil Akhmar. Sontak Akhmar menoleh. "Sebelumnya saya minta maaf karena sudah merepotkan Pak Akhmar. Saya juga berterima kasih karena Pak Akhmar sudah mengantarkan saya ke rumah sakit." Safia mengangguk hormat.

Akhmar tenang. "Saya melakukannya karena kemanusiaan." Lelaki itu mencoba mengalihkan pandangan ke mana pun.

Sudah Safia duga. Tidak ada alasan kuat untuk Akhmar menolongnya selain itu. "Ah, saya tau itu. Sekali lagi terima kasih."

Akhmar melirik ke kamar mandi. Ibunya belum terlihat kembali. Kemudian, beralih melihat Safia. "Saya cuma minta satu hal dari kamu. Semoga saja kamu bisa paham."

Safia mendongkakan kepala seraya berkata, "Apa itu, Pak."

"Jangan menangis lagi di depan saya."

Safia tertegun.

"Seperti apa yang saya katakan tadi siang, saya tidak punya hak menghapus air matamu. Lebih tepatnya, saya tidak bisa menyentuhmu." Akhmar menjelaskan lebih detail.

"Kenapa?" Safia seolah tidak sadar mengatakan itu. Wajah Akhmar seakan menghipnotis dirinya.

Akhmar tertegun sejenak. Pertanyaan yang dirasa memiliki jawaban yang sudah pasti. Seharusnya Safia tidak perlu menanyakan itu kembali.

"Padahal saya ini wanita yang dicap gampangan. Penampilan saya mungkin berubah, tapi jejak digital saya tidak pernah hilang. Seharusnya Pak Akhmar biasa saja," ujar Safia.

Akhmar kaget, langsung menangkap dua bola mata Safia dengan manik-maniknya. "Bagi saya, perempuan itu harus dihormati. Tidak peduli di masa lalu dia seperti apa, semua tetap punya kehormatan."

Maria selesai menerima telepon, hendak masuk kembali. Namun, kedua kakinya tertahan ketika melihat interaksi antara Akhmar dan Safia.

"Kamu mau berubah, kan? Kamu mau lebih baik?" tanya Akhmar.

Safia mengangguk pelan. "Ya, Pak."

"Jangan dengarkan apa kata orang. Anggap masa lalumu itu sebagai pelajaran. Yang terpenting, jangan berubah karena manusia karena sejatinya manusia itu tempat kecewa. Niatkan semua karena Allah."

Safia bergeming. Sekali lagi sebuah nasihat di dapatkannya. "Pak Akhmar." Dengan lembut Safia memanggil nama atasannya. "Selain alasan kemanusiaan. Apa ada lagi alasan Pak Akhmar begitu menggebu-gebu menolong saya? Ini terlalu berlebihan, makanya saya sedikit penasaran."

1
citra marwah
perasaan tadi berangkat nya ke bioskop beriringan mobil parkir bareng2 bersisian...gmna sih ini thor. konsep nya masih satu hari satu waktu udh beda haluan,
Hearty 💕
Kenapa Msria?
Tatik R
Gak nyangka klo maria
Tatik R
knp mereka pada ngumpul, ada apa
Tatik R
semoga cepat ketemu pelakunya
Ciety Ameyzha: Aamin
total 1 replies
abdan syakura
Astaghfirullah....
Kerjaan siapa la ini?(ya Author laa🤭🤣)🙏
Buat Babangku mumet aja...
Lanjutttt Kak Semungut!!🥰💪
abdan syakura: 🤗😂🤣🤣🤺
total 2 replies
Hearty 💕
Safia.. semangat deg degan terus deket² boss
Tatik R
paling kerjaan mantan nyà safia tegar fitnah
abdan syakura
Akhmar....Akhmar...
Dengar gak???😂😂🤣
Sing sabar yoooo
Lanjutttt kak.....😘🥰💪
Sumi
ko lm up ny Thor ??? sehat trus Thor 💪💪💪💪 . di up selanjutnya
Ciety Ameyzha: Aamiin. Terima kasih
total 1 replies
Tatik R
jadi ambigu kan, masuk ke mana🤭
akhirnya up lagi😍 next
Tatik R: penjelasan di bab berikutnya ✌😂
total 2 replies
abdan syakura
Apa kbr kak Ciety?
Kpn up nya nih???
Kangen Akhmar.....
Eka Widya
mau. mau..mau banget malah😃😃😃
Adi Nugroho
gercep gk buang" waktu Amarnya🥰🥰🥰💪
abdan syakura
Akhmaar...
Jgn marah marah mulu..
Nnti cpt tuiirrrr.. 😊💪
abdan syakura
ahhhhh
Akhmar terlalu dalam.....🤔🤕
Lanjuttttt Thor 💪🏃
La
Tatik R
pal Akhmar lagi curhat
Tatik R
sat set si Akhmar, gercep dianya
Hearty 💕
Apa nih maksudnya Pak
abdan syakura
cieeeeeeee cieeeee
MaasyaAllah Akhmar...
Gentle Kerreeenn......
😍😍🌹💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!