Valentina Mahendra Arini terbiasa mengendalikan segalanya. Di menara kendali, suaranya menentukan hidup ratusan penumpang. Di luar sana, hidupnya justru nyaris runtuh: mantan kekasih yang merendahkannya, saudari tiri yang memanipulasi, dan ayah yang memakai ibunya yang koma serta neneknya sebagai alat ancaman.
Malam ketika ia ingin melupakan semuanya, Val bertemu kembali dengan Sebastian Bara, rival masa SMA yang dulu paling ia benci. Satu malam yang seharusnya menjadi kesalahan berubah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit ketika Val mengetahui Sebastian adalah kapten di maskapai yang setiap hari ia pandu dari menara.
Sebastian tidak menawarkan janji manis. Ia hanya muncul, diam-diam menjaga, dan menolak membiarkan Val mengubah luka-lukanya menjadi hal yang bisa dibeli atau disangkal. Di antara frekuensi radio, jadwal penerbangan, rahasia keluarga, dan bahaya yang makin dekat, Val harus memutuskan apakah kendali berarti bertahan sendirian, atau berani membiarkan seseorang berdiri di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VivianMansano, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Kunci Yang Dikembalikan
Val.
Aku tiba di apartemen dengan langkah terseret.
Sif di menara terasa seperti siksaan. Setiap kali frekuensi terbuka, seluruh tubuhku menegang, menunggu suara berat itu berkata, "CA-3576, meminta izin." Itu tidak terjadi. Penerbangannya baru besok, menurut papan jadwal yang kuperiksa tiga kali. Kebetulan sekali.
Kubuka pintu, dan bau piza dingin serta deodoran pria menghantam wajahku sebelum aku sempat menyalakan lampu.
Tidak.
"Sayang!" Lukian Reyhan berbaring di sofaku, dengan remote-ku, menonton televisiku, makan piza di mejaku seolah dia masih tinggal di sini. "Kupikir kamu tidak akan pulang."
"Lukian." Suaraku terdengar datar. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku datang untuk bicara denganmu." Dia bangkit dengan senyum anak baik-baik yang dulu kuanggap manis dan sekarang membuat perutku mual. "Kita belum bicara sejak... kamu tahu. Kesalahpahaman di grup itu."
"Itu bukan kesalahpahaman."
"Tentu saja begitu, sayang. Anak-anak cuma bercanda dan aku ikut main. Begitulah pria kalau sedang dengan teman-temannya. Itu tidak berarti apa-apa."
Aku menatapnya. Lukian Reyhan tampan. Tinggi, kulit terang, rambut cokelat selalu tertata, pakaian mahal. Tipe pria yang akan dipasang majalah di sampul depan. Tapi di balik semua itu tidak ada apa-apa. Seperti membuka hadiah besar dan menemukan kotaknya kosong.
Dan semalam, pria lain menyentuhku seolah setiap sentimeter kulitku layak dihargai. Perbedaan antara ingatan itu dan pria di hadapanku begitu besar sampai aku hampir ingin tertawa.
"Kamu masih punya kunci apartemenku?" tanyaku, menyilangkan tangan.
"Kamu tidak pernah memintanya kembali." Dia mencoba menggenggam tanganku. Aku mundur. "Val, kamu serius mau membuang tiga tahun hanya karena lelucon di grup WhatsApp?"
"Bukan karena lelucon, Lukian. Tapi karena kamu mengatakannya dengan serius." Aku bertahan, meski di dalam tubuhku semuanya gemetar. "Kamu menyebutku gila. Kamu bilang kamu cuma bersamaku karena kontrak dengan ayahku."
"Itu tidak benar, sayang. Aku mencintaimu."
"Oh ya?" Aku tertawa kering. "Karena itu kamu bilang kepada teman-temanmu aku ini 'paket' yang ikut bersama tanda tangan Papa?"
Senyumnya rusak. Selama satu detik, Lukian yang asli muncul. Tatapan dingin seseorang yang selalu menghitung harga dari setiap emosi yang dia pura-purakan.
"Kamu melebih-lebihkan. Seperti biasa." Nadanya berubah. "Ini persis yang kukatakan kepada mereka: kamu selalu mendramatisasi semuanya."
"Kita selesai, Lukian."
"Selesai?" Dia tertawa seolah tidak percaya. "Val, jangan konyol. Kamu tidak bisa mengakhiri hubungan denganku."
"Baru saja kulakukan."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sendirian?" Dia menyilangkan tangan. Menatapku dengan ejekan dan sesuatu yang lebih buruk. "Kamu tidak punya siapa-siapa. Ayahmu bahkan tidak bicara denganmu. Adikmu membencimu. Ibumu sudah sepuluh tahun koma. Nenekmu ada di klinik di kota lain. Siapa yang akan tahan denganmu kalau bukan aku?"
Setiap kalimat adalah pukulan. Tepat ke tempat yang dia tahu paling sakit.
Karena dia benar. Di setiap titik, bajingan itu benar.
Ayahku memperlakukanku seperti gangguan. Kamila membenciku dengan sepenuh hati. Ibuku berada di Klinik Santa Lucia, tertidur sejak aku berusia tujuh belas tahun. Dan Nenek, satu-satunya hal baik yang masih kumiliki, jauh dariku dan kian rapuh.
Aku sendirian.
Tapi aku lebih memilih sendirian daripada bersama seseorang yang membuatku merasa tidak bernilai. Semalam seseorang menatapku seolah aku bernilai segalanya, dan meski itu hanya kesalahan semalam, setidaknya kini aku tahu seperti apa rasanya.
"Taruh kuncinya di meja dan pergi," kataku. Suaraku tidak gemetar. Aku tidak tahu dari mana mendapatkannya, tapi suaraku tidak gemetar.
Dia mengamatiku beberapa saat. Menghitung ulang. Lalu berjalan ke meja, menjatuhkan kunci dengan bunyi logam, dan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, dia berhenti. Dan ucapannya tidak terdengar seperti perpisahan.
"Kamu akan kembali, Valentina. Kamu selalu kembali." Suaranya lembut, nyaris manis. Matanya dingin. "Tanpaku, kamu tidak akan bisa hidup. Dan saat kamu sadar nanti, aku akan ada di sini menunggumu."
Pintu tertutup.
Aku tetap berdiri di ruang tamu. Jantungku menghantam tulang rusuk. Ini bukan kesedihan. Ini gema dari semua kali aku diberi tahu bahwa aku tidak cukup, bahwa aku rusak, bahwa aku seharusnya bersyukur masih ada seseorang yang mau tinggal bersamaku.
Ponselku bergetar. Kamila.
"Adikku, aku dengar kamu putus dengan Luki. Aduh, kasihan. Tapi jangan khawatir, aku yang akan menghiburnya untukmu 😘"
Kubaca tiga kali. Setiap kali, sakitnya berkurang. Bukan karena aku terbiasa, melainkan karena sesuatu di dalam diriku mulai mengeras. Seperti kulit baru di atas luka. Belum sembuh, tapi setidaknya berhenti berdarah.
Kuhapus pesan itu.
Aku pergi ke dapur. Kubuang piza Lukian ke tempat sampah. Kutuan segelas air dan duduk di lantai, punggung menempel pada kulkas.
Kupejamkan mata. Aku tidak memikirkan Lukian, Kamila, ayahku, atau sepuluh tahun hidup brengsek yang kupikul.
Aku memikirkan sebuah bar gelap. Sebuah tawa. Suara yang berkata, "Dulu pun aku tidak menyukaimu, tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti memandangimu." Tangan yang menjelajahiku seolah punya seluruh waktu di dunia. Cara dia mengucapkan namaku di leherku, serak, setengah tercekat, tepat sebelum mencapai puncak.
Kubuka mata dan menampar diriku sendiri dalam pikiran.
Tidak, Valentina. Kamu tidak akan memikirkan Sebastian Bara. Tidak senyumnya, tidak tangannya, tidak rasanya saat dia berada di atasmu, tidak hal yang dia lakukan dengan mulutnya hingga kakimu masih gemetar saat mengingatnya.
Dia kesalahan. Lukian masa lalu. Dan besok kamu harus bangun pukul lima untuk memandu pesawat.
Aku mandi. Lalu masuk ke ranjang.
Sebelum tidur, kubuka ponsel untuk terakhir kali.
Tiga puluh tujuh pesan dari Lukian. "Maafkan aku." "Aku cuma bercanda." "Kamu hal terpenting dalam hidupku."
Tidak satu pun kujawab.
Tapi yang tidak bisa kuabaikan adalah pesan terakhir. Dari nomor tidak dikenal.
"Aku menemukan tanda pengenal bandaramu di jaketku. Kurasa kamu membutuhkannya untuk bekerja. Mau kukembalikan, atau kamu lebih suka membayarku Rp100 juta agar aku melupakannya?"
Aku menggigit bibir.
Dasar Bara sialan.