NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Srek.

Bima meremas kertas perlengkapan dokumen itu hingga menjadi gumpalan kecil di tangannya.

Matanya yang hitam kelam memancarkan aura es yang sangat dingin dan mematikan.

"Mereka berani menggunakan tempat kuliahmu sebagai jaminan ancaman," desis Bima dengan nada rendah.

"Sepertinya peringatanku semalam tidak ditanggapi dengan serius oleh para petinggi mereka."

Clara langsung menggenggam lengan Bima dari samping dengan wajah ketakutan.

"Bima, kamu tidak boleh pergi ke sana," ucap Clara melarang dengan tegas.

"Itu pasti sebuah jebakan yang sudah mereka siapkan khusus untuk membunuhmu."

"Mereka tidak akan mungkin membiarkanmu keluar dari tempat pelelangan itu dalam keadaan hidup."

Pak Herman juga menganggukkan kepalanya dengan cepat menyetujui ucapan putrinya.

"Clara benar, Nak Bima," timpal Pak Herman cemas.

"Lelang Hitam itu dijaga oleh ratusan petarung elit dari berbagai faksi dunia bawah."

"Bahkan polisi pun tidak berani menyentuh wilayah kekuasaan mereka saat acara itu berlangsung."

Bima melepaskan genggaman tangan Clara dengan sangat lembut.

Dia menatap mata gadis itu lekat-lekat untuk memberikan ketenangan.

"Aku mengerti kekhawatiran kalian berdua," kata Bima datar namun meyakinkan.

"Tapi jika aku menolak undangan ini, mereka akan terus meneror tempat-tempat yang kalian datangi."

"Aku tidak bisa membiarkan keselamatanmu dan keselamatan ribuan mahasiswa di kampus terancam setiap hari."

"Aku akan menghadiri pelelangan itu dan mencabut akar masalah ini dari sumbernya langsung."

Clara menggelengkan kepalanya dengan keras tanda tidak setuju.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata gadis cantik itu.

"Tidak mau!" teriak Clara dengan suara bergetar.

"Aku lebih baik berhenti kuliah dan bersembunyi di dalam rumah seumur hidup daripada melihatmu mati di sana!"

"Kamu selalu bertindak nekat sendirian tanpa memikirkan perasaanku sama sekali."

Bima menghela napas pelan menghadapi sifat keras kepala tunangannya ini.

Dia tahu Clara bertingkah seperti ini murni karena sangat peduli padanya.

"Aku tidak bertindak nekat, Clara," jelas Bima dengan sangat sabar.

"Aku sudah memperhitungkan semua kemungkinan yang akan terjadi di sana nanti."

"Lagi pula, aku butuh melihat sendiri seperti apa kekuatan petinggi Asosiasi Medis Gelap itu."

"Jika aku membiarkan mereka, mereka akan terus berkembang menjadi hama yang lebih besar."

Pak Herman yang menyadari tekad kuat di mata Bima hanya bisa menghela napas panjang.

Dia tahu tidak ada seorang pun yang bisa mengubah keputusan pemuda luar biasa ini.

"Jika kamu memang sudah memutuskan untuk pergi, Papa tidak bisa melarangmu," ucap Pak Herman pasrah.

"Tapi kamu tidak boleh pergi dengan tangan kosong ke sarang serigala itu."

"Aku akan mencairkan dana darurat keluarga Herman sebesar satu triliun rupiah hari ini juga."

Bima menatap ayah mertuanya itu dengan tatapan sedikit terkejut.

"Untuk apa uang sebanyak itu, Pak Herman?" tanya Bima heran.

"Kamu membutuhkan modal yang sangat besar untuk bisa masuk dan diakui di Lelang Hitam," jelas pria itu.

"Di sana, uang adalah kekuatan mutlak yang menentukan status seseorang."

"Jika kamu datang sebagai perwakilan keluarga Herman dengan dana tak terbatas, mereka tidak akan berani menyerangmu secara terang-terangan di tengah acara."

Bima terdiam sejenak memikirkan logika dari ucapan pengusaha senior tersebut.

Ucapan Pak Herman memang sangat masuk akal dalam aturan main dunia bisnis bawah tanah.

"Baiklah kalau begitu," Bima akhirnya menyetujui saran tersebut.

"Saya akan menggunakan dana itu sebagai tameng identitas saat masuk ke sana."

Mendengar Bima tetap bersikeras untuk pergi, Clara tiba-tiba menggebrak meja makan dengan kedua tangannya.

Brak.

Gadis itu berdiri dari kursinya dengan raut wajah yang sangat serius.

"Kalau kamu memang harus pergi ke tempat berbahaya itu, maka aku juga akan ikut denganmu!" deklarasi Clara lantang.

Mata Bima dan Pak Herman seketika membelalak lebar mendengar pernyataan gila tersebut.

"Clara! Apa yang kamu katakan?!" tegur Pak Herman dengan nada tinggi.

"Ini bukan acara pesta kampus yang bisa kamu datangi untuk bersenang-senang."

"Ini adalah sarang para pembunuh dan psikopat dari seluruh negeri."

Bima juga langsung menolak keinginan gadis itu dengan nada yang sangat tegas.

"Tidak boleh," ucap Bima dingin.

"Kamu harus tetap berada di rumah selama aku pergi menyelesaikan urusan ini."

"Aku tidak akan bisa fokus bertarung jika harus melindungimu di tempat yang penuh dengan ratusan musuh."

Clara menatap Bima dengan pandangan menantang yang tidak mau mengalah sedikit pun.

"Aku tidak peduli," bantah Clara keras kepala.

"Kamu bilang kamu akan menggunakan nama keluarga Herman sebagai identitasmu kan?"

"Sebagai ahli waris tunggal keluarga ini, aku wajib mendampingimu menghadiri acara formal seperti itu."

"Jika kamu datang sendirian, mereka malah akan curiga dan menganggapmu sebagai ancaman yang harus segera dibunuh."

Bima tertegun mendengar argumen yang dilontarkan oleh tunangannya itu.

Meskipun terdengar konyol, tapi ada benarnya juga ucapan gadis ini dari sudut pandang sosial.

Seorang tabib muda yang tidak dikenal membawa uang triliunan rupiah sendirian pasti akan menjadi target utama di pasar gelap.

Namun jika dia datang sebagai pendamping nona muda keluarga Herman, posisinya akan terlihat lebih masuk akal sebagai utusan bisnis.

"Tolong izinkan aku ikut, Bima," suara Clara tiba-tiba melunak dan berubah menjadi memelas.

Dia meraih tangan Bima dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.

"Aku berjanji tidak akan jauh-jauh darimu sedetik pun."

"Aku hanya ingin memastikan kamu kembali pulang dengan selamat bersamaku."

"Jika aku menunggumu di rumah, aku pasti akan mati karena jantungan memikirkan nasibmu."

Bima menatap mata gadis itu yang kini sudah basah oleh air mata.

Hatinya yang sedingin es kembali mencair menghadapi ketulusan dari Clara.

Dia memalingkan wajahnya dan menatap ke arah Pak Herman untuk meminta pendapat.

Pak Herman memijat pangkal hidungnya karena pusing menghadapi kelakuan putri semata wayangnya itu.

"Clara memang sangat keras kepala sejak kecil," kata Pak Herman menyerah.

"Jika kamu tidak membawanya, dia pasti akan menyelinap keluar rumah dan menyusulmu sendirian ke sana."

"Itu justru akan jauh lebih berbahaya bagi keselamatannya."

Bima menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.

"Baiklah, kamu boleh ikut," putus Bima akhirnya membuat Clara langsung tersenyum cerah.

"Tapi ada satu syarat mutlak yang harus kamu patuhi selama kita berada di sana nanti."

"Apa syaratnya?" tanya Clara bersemangat.

"Kamu tidak boleh melepaskan pegangan tanganmu dariku apa pun yang terjadi," jawab Bima dengan nada sangat serius.

"Bahkan jika langit di tempat itu runtuh, kamu harus tetap berada di belakang punggungku."

"Aku mengerti," Clara mengangguk dengan cepat dan patuh.

"Aku akan menjadi anak yang baik dan menuruti semua perkataanmu di sana nanti."

Suasana di ruang makan kembali tenang setelah perdebatan sengit tersebut.

Bima kembali memakan telur asin buatan Clara meskipun rasanya membuat lidahnya hampir mati rasa.

Kring kring kring.

Suara nada dering ponsel berbunyi memecah keheningan dari dalam saku celana Bima.

Bima mengambil ponselnya dan melihat nama Dokter Hendra tertera di layar panggilannya.

Dia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, ada apa Dokter Hendra?" sapa Bima datar.

"Tuan Bima! Syukurlah Anda mengangkat telepon saya," suara Dokter Hendra terdengar sangat panik dari seberang sana.

"Apakah terjadi sesuatu dengan para pasien di rumah sakit?" tanya Bima mulai waspada.

"Tidak, para pasien semuanya baik-baik saja dan sudah diperbolehkan pulang hari ini," jawab dokter itu cepat.

"Ini tentang kolega-kolega saya di komunitas medis ibukota."

"Ada apa dengan mereka?" tanya Bima lagi.

"Beberapa profesor bedah dan ahli racun senior dikabarkan menghilang sejak tadi malam," lapor Dokter Hendra dengan suara bergetar.

"Keluarga mereka mengatakan bahwa mereka diculik oleh sekelompok orang berpakaian hitam."

Mata Bima menyipit mendengar informasi penting tersebut.

"Apakah para dokter yang hilang itu pernah menentang monopoli obat dari perusahaan farmasi tertentu?" tebak Bima tepat sasaran.

"Benar sekali, Tuan Bima!" seru Dokter Hendra terkejut.

"Bagaimana Anda bisa tahu?"

"Mereka semua adalah dokter jujur yang sering menolak menggunakan obat impor dari perusahaan yang tidak jelas."

Bima menganggukkan kepalanya pelan seolah sudah bisa menyusun seluruh potongan puzzle kejadian ini.

"Asosiasi Medis Gelap sedang mengumpulkan para ahli medis yang menentang mereka," gumam Bima pelan agar tidak terdengar oleh Clara.

"Mereka pasti akan menjadikan dokter-dokter itu sebagai barang lelang atau bahan eksperimen lusa malam."

"Tuan Bima bilang apa tadi? Saya kurang mendengarnya," tanya Dokter Hendra.

"Tidak ada apa-apa," jawab Bima cepat mengubah topik.

"Terima kasih atas informasinya, Dokter Hendra."

"Beritahu semua staf medis di rumah sakit untuk tidak pulang sendirian malam ini."

"Baik, Tuan Bima," jawab Dokter Hendra patuh sebelum panggilan itu diakhiri.

Bima memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.

Dia menatap Clara yang sedang asyik meminum susu cokelatnya dengan santai.

Gadis ini sama sekali tidak menyadari betapa gelap dan kejamnya dunia yang akan mereka masuki besok lusa.

"Kita akan pergi berbelanja pakaian formal siang ini," ucap Bima tiba-tiba.

"Kamu bilang ini acara resmi bawah tanah kan?"

"Kita harus tampil meyakinkan sebagai perwakilan utama keluarga Herman."

Clara langsung meletakkan gelas susunya dengan mata berbinar-binar.

"Berbelanja pakaian bersamamu?" tanya Clara dengan nada suara meninggi karena senang.

"Ini kencan pertama kita ke pusat perbelanjaan sejak kita resmi bertunangan!"

"Ini bukan kencan," ralat Bima datar.

"Ini adalah persiapan strategis sebelum memasuki medan pertempuran."

"Terserah apa katamu," balas Clara tidak peduli.

"Bagiku pergi berdua denganmu ke mal adalah sebuah kencan yang romantis."

"Aku akan bersiap-siap sekarang juga dan memakai riasan yang paling cantik."

Gadis itu segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya dengan sangat antusias.

Meninggalkan Bima dan Pak Herman yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya.

Pagi itu menjadi saksi dimulainya langkah pertama sang naga memasuki badai kegelapan ibukota.

Dia tidak lagi hanya menunggu musuh datang menyerang rumahnya.

Kali ini, Bima akan mendatangi sarang mereka dan menghancurkan semua kebusukan itu dari dalam.

Dunia medis bawah tanah akan segera mengetahui bahwa ada penyakit mematikan yang tidak bisa mereka sembuhkan.

Dan penyakit itu bernama amarah dari seorang Tabib Dewa.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!