"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinyal dari Reruntuhan
"Cih! Gertakan murahan!" dengus Nio tajam.
Tanpa ragu satu detik pun, Nio menyambar drive fisik bernoda jelaga itu dari dekapan jemari Nora yang bergetar.
"N-Nio...!! Jangan dipegang!! Nanti ingatan kamu—" jerit Nora panik, mencoba menahan lengan Nio.
"Tutup mulutmu dan perhatikan baik-baik!" potong Nio penuh dominasi.
Srrrt!
Nio menarik pisau lipat taktis dari balik lipatan celananya, menyisipkan ujung bilah baja itu ke sela-sela penutup drive.
Prak!
Penutup serat karbon drive tersebut terbelah paksa, menyingkap jajaran sirkuit mikro dan modul pemancar frekuensi yang berkedip merah.
'Bocah ingusan kayak Zero mana paham peretasan fisik?! Dia cuma masang modul pelacak sederhana sama pemancar pulsa elektromagnetik!' batin Nio mengejek.
Nio mencungkil chip mikro berwarna hitam di pojok kanan sirkuit, lalu menginjak chip itu hingga hancur berkeping-keping di lantai.
Klik!
Kedipan lampu merah pada drive itu seketika mati, tersisa pendar biru stabil yang memancarkan data mentah.
"D-drive-nya... tidak meledak...?" bisik Nora melongo, mengusap air mata di pipinya yang mulus.
"Zero cuma mau nakut-nakuti mental lu yang lembek. Ini drive asli berisi residu data Milo," pangkas Nio datar.
"Hah... Nio... kamu benar-benar gila... t-tapi aku bersyukur kamu ada di sini..." rintih Nora lega, menyandarkan keningnya di dada tegap Nio.
Nio menarik tengkuk Nora dengan jemarinya yang kokoh, mengunci pandangan wanita itu agar menatap lurus ke matanya.
"Gue udah bilang, selama lu penurut dan ikuti perintah gue, eksistensi lu gak bakal tereliminasi dari dunia ini," tegas Nio membisikkan intimidasi halus.
"I-iya, Nio... aku patuh... aku pasrahkan semuanya sama kamu..." desah Nora tunduk total, rona merah tipis terbit di pipinya yang pucat.
Nio melepaskan cengkeramannya, meraba tekstur selembar kertas kosong di sakunya untuk mengendapkan letupan adrenalinya.
Kertas polos tanpa wujud tinta itu memberikan ketenangan instan, menyadarkan Nio bahwa perburuan sebenarnya baru saja dimulai.
"Ayo berdiri. Kita harus keluar dari rute stasiun ini sebelum pasukan Kael menjebol pintu pembuangan," perintah Nio.
Nio merengkuh pinggang Nora, memandu langkah wanita itu menembus lorong bawah tanah yang senyap dan lembap.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di markas tersembunyi Nio yang terletak di basement bangunan tua tak terpakai.
Ruangan sempit itu hanya diterangi pendar redup dari tiga monitor komputer peretas yang berderet di atas meja kayu.
Nio mendudukkan Nora di kursi busa kumal, lalu mencolokkan drive milik Milo ke soket pemindai sinyal mentah.
Bip! Bip! Bip!
Layar monitor utama Nio langsung dipenuhi deretan baris kode hijau yang berkecepatan tinggi melintasi sistem.
"Apakah data Milo bisa dibaca sekarang, Nio...?" tanya Nora ragu-ranhu, mendekatkan posisinya di samping bahu Nio.
"Data ini dikunci memakai enkripsi multilayer. Tapi ada anomali menarik di dalam sisa sinyal pemancarnya," jawab Nio.
Nio menekan kombinasi tombol keyboard dengan gerakan jemari yang terampil dan terukur.
"Anomali apa...?" selidik Nora penasaran.
"Sinyal hop dari drive ini pernah melakukan transmisi balik ke satu titik koordinat tetap sebelum Kael menyitanya di stasiun," cetus Nio.
Layar monitor Nio menampilkan peta wilayah pinggiran kota, memunculkan satu titik merah yang berkedip di kawasan terisolasi.
'Ketemu lu, Bangsat! Lu pikir lu bisa sembunyi di balik jaringan amorf?!' batin Nio menyeringai puas.
"T-titik merah itu... lokasi apa, Nio...?" tanya Nora, menunjuk peta yang bergetar di layar.
"Sebuah fasilitas riset medis tua yang sudah terbengkalai lima belas tahun lalu di luar batas kota," pangkas Nio dingin.
"Fasilitas riset medis...?! Apa hubungannya tempat itu sama adikku... sama identitas Milo yang tereliminasi?!" seru Nora kaget.
Nio memutar kursinya, menatap Nora yang sedang memeluk erat kedua lututnya di atas kursi.
"Di tempat itulah proyek tabula rasa pertama kali dijalankan. Preseden sejarah gue dan Milo diikat di sana," jelas Nio datar.
"J-jadi... Milo ada di sana?! Adikku masih hidup di tempat penampungan itu?!" tangis Nora kembali pecah oleh dorongan harapan.
"Gue gak bisa janji dia masih bernapas. Tapi eksekutor tangan kanan Zero pasti mengendalikan server penghapus dari sana," balas Nio.
"Nio... tolong bawa aku ikut!! Aku mohon!! Aku mau cari Milo!!" jerit Nora histeris seraya berlutut di depan Nio.
Jemari Nora mencengkeram erat paha tegap Nio, menatap pria itu dengan pandangan mata yang memohon kepasrahan penuh.
"N-Nio... aku gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini... identitasku sudah hilang... aku cuma punya kamu..." rintih Nora memohon.
Nio menatap wanita anggun yang kini bertekuk lutut di bawah kakinya, menikmati posisi dominansi jantannya yang mutlak.
Nio memegang dagu Nora, mengangkat wajah wanita itu agar menatap tepat ke iris matanya yang tajam dan tak tersentuh.
"Lu mau ikut ke sarang monster? Lu harus siap patuh tanpa pernah membantah sepatah kata pun!" gertak Nio dingin.
"I-iya!! Aku janji!! Aku bakal turuti semua perintah kamu, Nio... asal kamu jangan tinggalkan aku..." bisik Nora pasrah.
"Bagus. Berdiri dan kemasi barang dasar yang lu butuhkan," titah Nio melepaskan cengkeramannya.
'Cewek ini beneran udah tidak punya arah. Kalau gue lepas sebentar saja, dia pasti bakal hancur digilas sistem Zero,' batin Nio menggelengkan kepala.
Nio bangkit dari kursinya, berjalan menuju lemari besi di sudut ruangan untuk mengambil perlengkapan tempurnya.
Dia menyisipkan dua senapan pendek taktis ke balik jaket kulit hitamnya, serta membawa beberapa granat pemutus sinyal.
Nio meraba tekstur selembar kertas kosong di sakunya, merasakan permukaan tipis itu menguatkan tekad baja di dadanya.
"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata," gumam Nio pelan dengan nada dingin.
"Nio... kamu bicara apa...?" tanya Nora yang baru selesai merapikan tasnya.
"Bukan apa-apa. Cuma pengingat kalau eksistensi gue bukan sekadar angka yang bisa dihapus Zero," jawab Nio tegas.
Nio melangkah menuju pintu keluar markas dengan gestur tubuh yang dominan dan percaya diri.
Nora berjalan tergesa-gesa di belakangnya, mengekor merapat bagai bayangan yang tak berani jauh dari tempat perlindungannya.
Mereka menaiki mobil jeep hitam tanpa plat nomor yang terparkir di dalam lorong tersembunyi basement.
Nio menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat derum mesin tua itu meraung membelah malam yang senyap.
Satu jam perjalanan menembus kegelapan malam, kendaraan Nio mulai memasuki kawasan hutan buatan yang mati dan gersang.
Di ujung jalan berbatu, membentang reruntuhan bangunan beton bertingkat dengan pagar kawat duri yang sudah berkarat.
Gedung riset medis tua itu berdiri megah bagai bangkai raksasa di tengah kegelapan yang menekan.
Hanya pendar merah redup dari menara pemancar utama yang menandakan bahwa tempat terasing itu masih dialiri listrik rahasia.
"K-kita sudah sampai, Nio...?" bisik Nora menahan napas, bulu kuduknya berdiri melihat keangkeran lokasi tersebut.
"Turun. Pakai kacamata peredam intensitas cahaya ini," pangkas Nio seraya melempar sebuah kacamata taktis ke pangkuan Nora.
Nio melangkah keluar dari jeep, memasang peredam suara pada moncong senjatanya dengan gerakan yang cepat dan terbiasa.
Dia meraba tekstur kertas kosong di sakunya untuk terakhir kali, lalu tatapan matanya berubah menjadi sangat dingin dan mematikan.
Nio melangkah maju memimpin perburuan langsung terhadap eksekutor Zero di dalam fasilitas berhantu itu.
Srekk!
Baru lima langkah Nio memasuki pelataran fasilitas tua itu, lantai beton yang dipijaknya mendadak bergetar hebat.
Sistem pertahanan otomatis reruntuhan itu mendadak aktif, memancarkan pendar lampu sorot merah yang menyilaukan mata.
Bip! Bip! Bip!
Sebuah suara sintetis berat berkumandang dari speaker koridor luar, menggema memecah keheningan malam.
"Peringatan! Subjek 0 dan Subjek Nirnama terdeteksi di area pembantaian. Protokol pembersihan ingatan tingkat akhir dimulai dalam tiga menit!"
Nio menyipitkan matanya, mengarahkan moncong senjatanya lurus ke arah pintu utama fasilitas riset yang perlahan terbuka sendiri.
Dari dalam kegelapan pintu tersebut, terdengar derap langkah kaki logam bertempo konstan yang mendekat tajam.