Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI TIGA RUMAH BERBEDA
Setibanya di rumahnya yang luas dan megah, Alex disambut oleh kedua orang tuanya yang sedang duduk bersama di ruang tamu yang nyaman dan mewah. Ayahnya menatapnya dengan tatapan yang tidak ramah, lalu langsung menyindirnya dengan nada yang penuh ketidaksukaan seakan ia baru saja melakukan kesalahan besar.
"Nah, akhirnya jagoan kita pulang juga," ucap ayahnya dengan nada yang terdengar dingin dan menekan. "Sudah bosan berbuat onar di luar sana, lalu kembali ke sini sesuka hati begitu saja? Kau pikir rumah ini sekadar tempat yang bisa kau masuki dan kau tinggalkan kapan saja tanpa mempedulikan perasaan kami yang menunggumu di sini?"
Alex mendengus pelan, wajahnya tampak lelah dan kesal sepanjang hari di kampus. Ia menjawab dengan nada yang terasa malas dan enggan berdebat lebih lama lagi.
"Jangan memaksa aku berdebat, Yah. Suasana hatiku sedang tidak baik sekali hari ini," ucapnya singkat. "Ada seseorang yang berani mencari masalah denganku di kampus. Aku berniat memberinya pelajaran yang pantas agar ia tahu betul siapa yang sedang ia hadapi."
Ibunya yang duduk di samping suaminya segera menanggapi dengan wajah penuh perhatian dan perlindungan yang mendalam.
"Siapa orang yang berani berbuat begitu padamu, Alex? Ceritakanlah kepada kami dengan jelas, agar orang-orang kepercayaan ayahmu yang mengurusnya. Kau tidak perlu repot-repot melakukannya sendiri, Nak," saran ibunya dengan lembut namun tegas, seakan tidak akan membiarkan putranya terluka atau dipermalukan oleh siapa pun.
Ayahnya mengangkat tangannya perlahan, menghentikan pembicaraan itu sejenak. "Sudahlah, Ma. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri dulu. Bagaimana kelak dia akan mampu mengurus bisnis besar ini, jika dia bahkan belum mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri? Dan satu hal lagi yang harus kau ingat — kau wajib ikut Ayah dan Ibu pergi ke rumah Papa Rey hari Sabtu malam. Kami akan mengenalkanmu kepada rekan-rekan bisnis Ayah yang penting. Di sana kau akan belajar cara bergaul, berbicara, dan bersikap di hadapan orang-orang yang berpengaruh."
Alex mengangguk pelan, meski hatinya masih terasa berat dan panas karena kejadian yang baru saja ia alami sore tadi. "Mengerti, Yah. Nanti malam aku pergi sebentar ke tempat Billy saja. Aku dan Rey sudah berjanji akan bertemu di sana," ucap Alex memohon izin dengan sopan.
"Baiklah, boleh kau pergi. Tapi ingat pesan Ayah — jangan sampai lupa ikut kami ke rumah Rey malam Sabtu nanti," tegas ayahnya sekali lagi.
"Siap, Yah. Aku mandi dulu, gerah sekali seharian berada di kampus sepanjang hari," jawab Alex, lalu segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya yang luas di lantai atas.
Di waktu yang hampir bersamaan, di sisi lain kota yang agak jauh, Billy mengendarai mobilnya menuju kediamannya yang jauh lebih besar dan mewah dibandingkan rumah siapa pun. Ia menurunkan kaca jendela mobilnya lalu menekan klakson perlahan, memberi tanda agar penjaga segera membuka gerbang tinggi yang tertutup rapat di depannya. Tak lama kemudian, seorang lelaki berpakaian rapi dan sopan bergegas keluar dan membukakan pintu gerbang yang lebar itu dengan sigap.
Billy melaju perlahan, lalu berhenti sejenak tepat di samping lelaki tersebut.
"Apakah Mama sudah pulang?" tanyanya singkat dan langsung pada intinya.
"Sudah, Tuan Muda. Nyonya sudah kembali dari perjalanan ke luar kota sejak siang tadi," jawab lelaki itu dengan penuh hormat.
Billy hanya mengangguk pelan tanpa berkata-kata lagi, lalu melajukan mobilnya melewati gerbang yang luas itu, melintasi halaman taman yang sangat luas, tertata rapi dan penuh bunga yang indah, hingga berhenti tepat di depan rumah besar dan megah yang menjadi tempat tinggalnya sejak lahir.
Ia turun dari mobil dengan tenang. Di dekat pintu utama, terlihat sepuluh orang berpakaian seragam rapi berdiri berbaris tegak menjaga kedatangan. Melihat Billy turun dan berjalan mendekat, mereka serentak menundukkan kepala dengan hormat.
"Selamat sore, Tuan Muda," ucap mereka bersama dengan suara yang berirama dan serempak.
Billy tidak menyapa balik sedikit pun, melainkan berjalan cepat masuk ke dalam rumah yang luas dan sepi itu. Tujuannya sudah jelas — menemui ibunya secepat mungkin.
Sesampainya di ruang makan yang luas dan terang benderang, ibunya sedang menikmati makan malam sendirian dengan tenang. Saat melihat putra satu-satunya datang, ia segera meletakkan alat makannya dan tersenyum lembut serta ramah.
"Bagaimana kuliahmu hari ini, Bil? Apakah ada hal yang menyulitkan atau mengganggumu?" tanya ibunya sambil menatapnya penuh kasih sayang yang tulus.
Billy duduk di hadapannya dengan wajah yang masih menyimpan kekesalan yang belum hilang. "Aku butuh bantuan Anton, Ma. Tadi ada orang yang berani mencari masalah denganku di kampus. Aku ingin Anton segera melacak semua informasi tentangnya — siapa namanya, dari mana asalnya, keluarganya siapa, dan apa saja yang ia miliki," ucapnya dengan nada tegas dan serius.
Ibunya meletakkan sendoknya perlahan di atas meja. "Anton sedang pergi ke luar kota bersama Ayahmu untuk urusan penting, Sayang. Jika masalahmu tidak terlalu besar, aku yakin kau bisa menyelesaikannya dengan tenang dan bijaksana. Sekarang makanlah dulu agar tubuhmu tetap kuat," bujuknya lembut.
"Tapi janjilah padaku, Ma — begitu Ayah pulang, suruh Anton segera mencari tahu segala hal tentang pemuda bernama Joe itu," desak Billy dengan suara rendah namun terdengar berat dan penuh tekad. "Aku tidak akan tenang sejenak pun sebelum dia mendapat pelajaran yang pantas."
"Baik, Mama janji," jawab ibunya sambil tersenyum lembut menenangkan. "Sekarang makanlah dulu dengan lahap. Setelah selesai, bersiaplah — kita pergi ke klub milik keluarga kita malam ini. Ada urusan penting yang harus Mama selesaikan di sana."
Mendengar itu, Billy langsung bersemangat kembali. "Kebetulan sekali, Ma. Aku juga sudah berjanji bertemu dengan Alex dan Rey di sana malam ini. Baiklah, aku makan dulu lalu langsung bersiap-siap."
Ibunya tersenyum bahagia melihat putranya kembali ceria, lalu mereka pun melanjutkan makan malam bersama dengan tenang di ruangan yang mewah itu.
Sementara itu, Rey tiba di rumahnya yang besar, megah, namun terasa sepi dan sunyi. Tidak ada siapa-siapa yang menyambutnya di ruang tengah — hanya lampu-lampu yang menyala terang tanpa suara, menandakan ayahnya belum pulang dari kantor. Rey segera menelepon ayahnya. Saat panggilan tersambung, ia langsung bertanya dengan sopan.
"Di mana, Yah? Nanti malam aku mau pergi sebentar bersama Alex dan Billy," ucapnya pelan.
Suara ayahnya terdengar sibuk namun tetap lembut di seberang telepon. "Ayah masih di kantor, sedang menyiapkan segala keperluan untuk acara besar malam minggu nanti. Kamu sudah makan? Kalau belum, suruh Bi Ati menyiapkan makanan — tadi Ayah sudah berpesan agar dia memasak makanan kesukaanmu."
"Aku belum selera makan, Yah. Nanti saja sebelum berangkat aku makan. Oke deh, Yah — semoga lancar segala persiapannya. Aku tutup teleponnya ya," jawab Rey singkat.
"Baiklah, Nak. Hati-hati di jalan nanti," pesan ayahnya sebelum sambungan telepon terputus.
Rey segera membuka ponselnya dan mengirim pesan singkat ke dalam grup yang hanya berisi dirinya, Alex, dan Billy.
Rey: Jam berapa kita berkumpul di tempatmu nanti malam, Bil?
Tak lama berlalu, pesan balasan dari Billy muncul di layar ponselnya.
Billy: Jam sepuluh malam saja. Aku berangkat bersama Mamaku — katanya ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan di sana juga.
Alex dan Rey yang sudah membaca pesan itu langsung membalas serentak dengan singkat:
Alex: Oke, Bil.
Rey: Oke.
Mereka bertiga — di rumah yang berbeda, dengan keadaan yang berbeda pula — semuanya menantikan waktu sepuluh malam tiba untuk bertemu kembali di tempat yang disepakati.