Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Di perjalanan menuju rumah pria itu lagi, Tirta terus merapalkan doa agar tidak terjadi masalah seperti kemarin. Ia hanya akan menyerahkan makanan di depan rumah, lalu semuanya selesai. Bu Niki juga sudah mengatakan bahwa makanan itu telah dibayar dan dirinya hanya perlu mengantarkannya.
Jadi tugasnya hanya mengantarkan pesanan lalu pulang.
Itu saja sudah cukup. Tidak perlu ada interaksi lagi. Kemarin saja sudah lebih dari cukup dengan hari yang sangat melelahkan itu. Sesampainya di depan rumah tersebut, harapannya hancur seketika. Terlihat sebuah kertas besar yang ditempel di pintu depan hingga membuat jantungnya berdegup tak karuan.
TIRTA, NANTI MAKANANNYA BAWA SAJA KE RUMAH BELAKANG. BERIKAN LANGSUNG PADA MARCHEL. KAMI SEKELUARGA ADA URUSAN DI LUAR.
Begitulah kira-kira isi tulisan yang membuatnya membeku di tempat.
Apa ini?
Kenapa dirinya diperlakukan seolah-olah sudah menjadi bagian dari keluarga rumah ini? Apa mereka sama sekali tidak merasa khawatir dengan kehadirannya? Ia bisa saja mengambil barang-barang berharga di rumah ini jika memang berniat jahat.
"Memangnya sekaya apa keluarga ini? Sampai tidak mempermasalahkan barang-barang berharganya?" Gerutunya pelan. Meski kesal, ia tetap melangkah masuk agar urusannya cepat selesai. Jangan sampai kesabarannya yang setipis tisu justru membuatnya harus berlama-lama berada di rumah ini. Langkahnya perlahan melewati rumah utama.
Suasana begitu sunyi hingga hanya suara langkah kakinya sendiri yang terdengar. Ia membuka pintu belakang, lalu berjalan melewati taman untuk menuju rumah belakang tempat pria bernama Marchel tinggal. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Tubuhnya pun terasa sangat lelah setelah seharian bekerja.
Tanpa mengetuk pintu, Tirta langsung masuk ke dalam rumah itu. Suasana yang ia rasakan masih sama seperti saat pertama kali datang.
Kosong.
Gelap.
Sunyi.
Rumah itu terasa seperti rumah berhantu. Bedanya, hantu di rumah ini adalah seorang manusia. Sebelum melangkah lebih jauh, Tirta menyalakan senter ponselnya lalu berjalan perlahan. Kini ia masih mengingat kamar tempat Marchel masuk waktu itu. Ia melewati beberapa ruangan yang bahkan tidak ia ketahui fungsinya hingga akhirnya menemukan sebuah kamar di sudut rumah.
"Setajir apa pun kalian, tetap tidak bisa mengalahkan Mr. H itu, kan? Tapi anehnya kalian malah membiarkan orang asing masuk ke rumah tanpa pengawasan. Kalau aku orang jahat, habis sudah semua barang di rumah ini." Gumamnya sambil mengetuk pintu yang ia yakini sebagai kamar Marchel. Rumah ini sangat besar. Bahkan luasnya mungkin melebihi tiga rumah kontrakan yang selama ini ia tinggali.
"Masuk." Sahutan dari dalam membuat Tirta memberanikan diri membuka pintu.
Ceklek...
Keduanya sama-sama terkejut saat saling melihat. Tirta terdiam melihat kamar pria itu yang remang-remang dengan botol-botol minuman keras berserakan di mana-mana. Bau alkohol yang sangat menyengat memenuhi seluruh ruangan. Marchel duduk di atas karpet berbulu sambil masih memegang segelas minuman berwarna cokelat.
Sementara itu, Marchel jauh lebih terkejut. Gadis yang sebelumnya mengatakan tidak ingin bertemu dengannya lagi kini justru berdiri di depan pintu sambil membeku. Dengan pakaian kerja hitam putih, Tirta menggenggam tas biru di tangan kirinya sambil menatap dirinya. Awalnya Marchel mengira Arga yang datang tanpa izin. Biasanya pria itu hanya akan masuk jika dipanggil.
Selama masa berkabungnya, tidak ada seorang pun yang diperbolehkan memasuki rumah ini. Namun ternyata yang datang adalah Tirta.
Lalu...
Haruskah ia marah?
Entah kenapa, ucapan kasar yang biasanya mudah keluar kini justru tertahan begitu saja.
"Masuklah. Apa sekarang kamu sedang bertugas menjaga pintu?" Tanya Marchel memulai percakapan. Tirta perlahan masuk sambil menahan aroma alkohol yang menusuk penciumannya. Marchel tetap diam menunggu gadis itu menyerahkan makanan yang dibawanya.
"Aku datang mengantarkan makanan yang dipesan pemilik rumah ini." Ucap Tirta sambil meletakkan kotak makanan di samping tumpukan botol minuman. Botol-botol itu bukan hanya berada di dekat Marchel, tetapi juga memenuhi sudut ruangan hingga sisi ranjangnya.
"Hmm..." Sahut Marchel singkat. Ia kembali meneguk minuman di tangannya. Setelah meletakkan makanan itu, Tirta berniat berbalik untuk pulang.
Namun entah kenapa langkahnya terhenti. Tanpa diminta siapa pun, ia malah berbalik lalu duduk tepat di depan pria yang sedang duduk selonjoran itu. Marchel tetap diam tanpa menunjukkan ekspresi. Keduanya saling membisu selama beberapa saat.
"Ke mana Kak Arga dan yang lainnya?" Tanya Tirta akhirnya memecah keheningan.
"Kamu sedang bicara denganku?" Kalau tidak mengeluarkan ucapan yang menjengkelkan, rasanya bukan Marchel namanya.
"Tentu saja. Memangnya ada manusia lain di sini? Kamu pikir aku bisa mengobrol dengan hantu?" Balas Tirta sinis. Marchel justru terlihat santai.
"Siapa tahu. Rumah ini sudah lama sekali tidak mendengar suara manusia. Mungkin banyak hantu yang berkeliaran di sini." Nada bicaranya terdengar begitu serius. Mendengar itu, Tirta langsung menggeser tubuhnya mendekat hingga kini duduk tepat di samping kaki Marchel. Melihat reaksi itu membuat Marchel semakin ingin menggodanya.
"Tidak jadi pulang? Aku tidak bisa mengantarmu. Kamu tahu sendiri kalau aku lumpuh." Godanya.
Tirta langsung menggeleng cepat. Dirinya memutuskan akan menunggu Arga datang menjemputnya di kamar ini.
"Aku akan menunggu Kak Arga saja. Tolong hubungi dia untuk menjemputku di sini." Pintanya sambil memasang wajah memohon. Marchel tampak tidak menyukai permintaan itu, meski sama sekali tidak memperlihatkannya. Pria itu menyalakan ponselnya sekilas hanya untuk melihat jam.
"Dia baru datang malam nanti." Lirihnya di akhir kalimat. Padahal hanya dengan satu pesan singkat saja, Arga pasti akan segera datang. Sayangnya, Marchel sengaja berbohong. Ia belum puas mengerjai gadis pemberani di depannya.
Pemberani?
Ya.
Karena gadis itu sudah berani masuk ke rumahnya tanpa izin. Bahkan sekarang duduk santai di dalam kamar yang tidak sembarang orang boleh masuki.
"Marchel... aku diam di sini saja, ya? Nanti aku pulang setelah Kak Arga datang." Tirta kembali memohon sambil tersenyum manis. Senyum yang tanpa sadar membuat sudut bibir Marchel ikut terangkat tipis.
"Aku bahkan belum pernah memperkenalkan diri. Tapi kamu sudah tahu namaku. Apa itu termasuk sikap yang sopan?"
"Baiklah, kita kenalan dulu. Aku Tirta. Salam kenal, ya." Ucap gadis itu cepat. Yang penting ia tidak diusir dari kamar ini. Marchel hampir saja tertawa saat suara perut Tirta tiba-tiba berbunyi.
Kruuukk...
"Hehehe... ternyata suara perutku..." Tirta tersenyum malu.
"Aku lapar..." Ucapnya lirih.
Entah kenapa, kalimat sederhana itu terdengar begitu menggemaskan di telinga seorang Marchel.
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜