Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Pukul sembilan pagi, ponsel di saku Baskara berdering.
Asisten pribadinya melaporkan adanya urusan mendesak di kantor pusat yang memerlukan tanda tangannya secara langsung terkait audit tahunan perusahaan.
Baskara menoleh ke arah Alena yang sedang menikmati teh hangat di meja makan.
Ia tahu ia tidak boleh berlama-lama meninggalkan penthouse, namun keamanan istrinya adalah prioritas mutlak.
"Alena, aku harus ke perusahaan sebentar," ujar Baskara lembut namun tegas saat menutup panggilannya.
"Kamu tetap di sini, jangan membukakan pintu untuk siapa pun. Aku tidak mau mama atau... orang-orang tidak diundang datang ke apartemen ini saat aku tidak ada."
Alena mengangguk patuh, memahami betul situasi yang tengah memanas.
Setelah memastikan keamanan sistem penthouse terkunci rapat dan pengamanan berlapis aktif, Baskara segera menyambar kunci mobilnya dan melangkah keluar.
Ia melajukan mobil mewahnya membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi menuju gedung pencakar langit tempat perusahaannya beroperasi.
Tujuan utamanya hanya satu: mengamankan dokumen-dokumen penting perusahaan dan memutus akses apa pun yang bisa digunakan oleh Yanuar atau keluarganya untuk menyerang posisinya.
Begitu tiba di lantai eksekutif, Baskara melangkah cepat menuju ruang kerjanya.
Namun, tepat saat tangannya hendak mendorong pintu kayu mahoni besar itu, langkahnya terhenti.
Pintu ruang kerjanya sudah terbuka sedikit. Dan di dalam sana, seseorang telah menantinya.
"Bas..." panggil sebuah suara manja.
Baskara menoleh dengan dahi mengerut tajam.
Ia mendapati Areta melangkah masuk dari balik pintu ruang kerjanya.
Wanita itu tampil sangat berani, mengenakan dress mini berpotongan rendah dan sangat seksi yang mempertontonkan lekuk tubuhnya secara terang-terangan—sebuah pemandangan murahan yang sama sekali tidak menarik minat Baskara.
"Kamu? Mau apa kamu ada di ruanganku?" tanya Baskara dingin, suaranya bagaikan es yang siap membekukan siapa pun.
Areta tersenyum menggoda, melangkah mendekat dengan gestur yang sengaja dibuat sensual, mencoba menyentuh dada bidang Baskara.
"Bas... jangan galak seperti itu," rajuknya dengan suara yang diimut-imutkan.
"Aku ke sini karena aku sangat mencintaimu, Bas. Kenapa kamu harus memilih wanita tua itu daripada aku yang bisa memberikan segalanya untukmu?"
Areta tidak membuang waktu. Sebelum Baskara sempat menghindar, wanita itu melompat maju dan menangkup wajah Baskara dengan kedua tangannya, lalu dengan sengaja memaksakan bibirnya menempel pada bibir pria itu dalam sebuah ciuman kilat yang sudah ia rancang sedemikian rupa.
Pada detik yang sama, pintu lift privat terbuka.
Alena melangkah keluar dari dalam lift dengan membawa sebuah dompet kulit berwarna hitam di tangannya.
Tadi, sebelum Baskara pergi, ia menyadari dompet suaminya tertinggal di atas nakas.
Khawatir dompet itu berisi kartu atau dokumen penting yang diperlukan
Baskara hari ini, Alena memutuskan menyusul menggunakan mobil kedua milik Baskara yang ada di basement, memanfaatkan kartu akses cadangan yang ia miliki.
Namun, langkah kaki Alena terhenti seketika di ambang pintu ruang kerja. Udara di sekitarnya mendadak lenyap.
Matanya membelalak lebar, menyaksikan pemandangan yang membuat jantungnya seperti berhenti berdetak.
Di dalam ruangan sana, suaminya tengah berciuman dengan Areta.
"Bas..." cicit Alena lemah.
Suaranya tercekat di tenggorokan, begitu lirih namun sarat akan kehancuran.
Dompet kulit hitam di tangan Alena terlepas begitu saja dari jemarinya, menghantam lantai marmer dengan suara debuk yang nyaring di tengah kesunyian lantai eksekutif itu.
Mendengar suara jatuhnya benda dan suara lirih itu, mata Baskara membelalak.
Kesadaran dan kepanikan langsung menghantamnya telak.
Dengan kasar, Baskara mendorong tubuh Areta menjauh hingga wanita itu nyaris kehilangan keseimbangan dan menabrak sudut meja kerja.
"Alena!" teriak Baskara panik, buru-buru menepis Areta dan melangkah cepat keluar dari ruang kerjanya demi mengejar sang istri.
Air mata seketika tumpah membasahi pipi Alena. Rasa sakit, pengkhianatan, dan kehancuran bergemuruh menjadi satu di dadanya.
Tanpa mendengarkan panggilan panik dari suaminya, Alena berbalik arah dengan tubuh gemetar, berlari kembali ke arah lift dengan isakan tertahan yang merobek hatinya.
Di dalam ruang kerja, Areta sama sekali tidak terlihat takut atau bersalah.
Wanita licik itu justru merapikan tali gaun seksinya, lalu memasang ekspresi pura-pura terkejut yang begitu busuk saat melihat Baskara berlari mengejar istrinya.
Begitu Baskara menghilang di balik pintu lift, Areta dengan cepat meraih ponselnya dari atas meja.
Ia mendial nomor Mama Baskara dengan senyuman kemenangan yang mengembang lebar di wajahnya.
Tut... tut...
Panggilan itu langsung diangkat di dering pertama.
"Halo, Tante!" bisik Areta penuh kemenangan, suaranya bergetar karena rasa puas yang meluap-luap.
"Rencana kita berhasil sempurna! Alena tadi datang dan melihat sendiri saat aku mencium Baskara!"
Di ujung sambungan sana, tawa renyah penuh kepuasan terdengar menggema dari Mama Baskara.
"Bagus sekali, Areta!" puji Mama Baskara dengan nada penuh kelicikan.
"Bagus... sebentar lagi, tidak akan ada resepsi pernikahan. Yang ada hanyalah perceraian dan kehancuran total untuk wanita sialan itu!"
Baskara menginjak gas mobilnya hingga batas maksimal, mengabaikan segala aturan lalu lintas demi mengejar taksi yang ditumpangi Alena.
Ia melihat taksi itu berhenti di depan toko roti Alena yang masih sepi.
Tanpa memedulikan keselamatan kendaraannya, Baskara memarkir mobilnya secara asal di bahu jalan dan berlari mengejar istrinya.
Di dalam toko, Alena tampak sangat kacau. Dengan tangan gemetar, ia meminta Tanti untuk segera menutup toko roti.
"Tanti, tutup tokonya sekarang! Jangan izinkan siapa pun masuk, aku tidak ingin ada pembeli yang melihatku dalam kondisi seperti ini!" perintah Alena dengan nada yang hampir pecah.
Baru saja pintu toko terkunci rapat, Baskara mendobrak masuk.
"Alena! Dengarkan penjelasan ku dulu!" seru Baskara dengan napas yang memburu.
Alena berbalik, air mata sudah membanjiri wajahnya.
"Penjelasan apa, Bas? Penjelasan bagaimana wanita yang dijodohkan mamamu menciummu? Aku tahu, aku memang tidak pantas untukmu. Tapi setidaknya, kamu punya keberanian untuk memberitahuku, ceraikan saja aku!"
"Sayang, bukan seperti itu!" Baskara melangkah maju, tangannya terulur untuk meraih Alena.
"Dengarkan aku dulu! Duduk!" perintah Baskara dengan nada yang sedikit meninggi karena frustrasi, namun Alena menggelengkan kepalanya dengan keras, mundur beberapa langkah.
"Semua lelaki sama saja, Bas. Ini yang aku takutkan dari awal jika aku menikah. Kamu sama saja dengan mereka!" tangis Alena tersedu-sedu.
Baskara menatap istrinya dengan tatapan yang menyiratkan rasa sakit yang luar biasa.
"Sayang, Areta datang dan tiba-tiba saja dia memelukku dan memaksa menciumku! Aku sama sekali tidak menginginkannya!"
"Iya, dan kamu terlihat menikmatinya, Bas!" potong Alena sengit, matanya berkilat penuh amarah dan kesedihan.
"Menikmatinya? Bukankah kamu tadi melihat sendiri kalau aku langsung mendorongnya dengan kasar?" suara Baskara mulai meninggi, menahan gejolak emosi di dadanya.
"Itu karena ada aku! Kalau aku tidak datang, mungkin kamu akan..."
"Sayang, jangan membuatku gemas!" Baskara sudah kehilangan kesabarannya.
Dengan gerakan cepat dan tegas, ia menarik pergelangan tangan Alena, menarik tubuh istrinya hingga merapat ke dada bidangnya.
Alena mencoba memberontak, namun Baskara lebih kuat.
Pria itu menangkup wajah istrinya, lalu tanpa memberi celah bagi Alena untuk menghindar, Baskara langsung memberikan ciuman khasnya yang dalam dan menuntut.
"Mmmphhh..." suara protes Alena tertelan dalam ciuman itu.
Baskara tidak melepaskan ciumannya, ia memagut bibir Alena dengan penuh gairah dan rasa putus asa, ingin membuktikan bahwa hanya Alena satu-satunya wanita yang ia inginkan, dan bahwa ia tidak akan membiarkan kesalahpahaman ini meruntuhkan segalanya.
Baskara menarik napas panjang, menatap lekat-lekat mata Alena yang masih basah dengan sisa-sisa air mata.
Ia kemudian menarik kursi kayu di depan Alena, duduk tepat di hadapan istrinya, lalu menggenggam kedua tangan wanita itu dengan sangat lembut.
"Dengarkan aku baik-baik, Alena," suara Baskara kini terdengar tenang namun penuh penekanan.
"Pertama, aku ke kantor pusat tadi karena ada urusan audit mendesak yang disengaja diatur oleh pihak internal untuk memancingku keluar dari penthouse. Aku sudah memasang kamera tersembunyi dan sistem pengawasan di rumah utama sejak lama, Alena. Aku tahu persis rencana busuk mereka—tentang bagaimana mereka ingin menghancurkan resepsi kita di hari Minggu nanti. Areta datang ke ruang kerjaku bukan sebagai tamu, dia datang sebagai alat. Dia masuk tanpa izin, dia sengaja berpakaian seperti itu untuk memancingku, dan dia sengaja menciumku tepat saat dia tahu kamu akan tiba di sana melalui informan yang dia tempatkan di lobi gedung."
Baskara menangkup pipi Alena, ibu jarinya mengusap lembut sisa air mata di sudut mata istrinya.
"Apakah kamu pikir aku sebodoh itu untuk menikmati ciuman dari wanita yang bahkan tidak kuanggap manusia? Aku mendorongnya bahkan sebelum aku sadar kamu masuk ke ruangan, Alena. Aku tidak pernah, dan tidak akan pernah, membiarkan diriku disentuh oleh wanita lain selain dirimu."
Ia menatap Alena dalam-dalam, memastikan setiap kata masuk ke dalam hati istrinya.
"Aku tahu kamu takut, aku tahu kamu merasa tidak pantas. Tapi dengarkan aku—kamu adalah satu-satunya wanita yang membuatku merasa kembali menjadi manusia setelah bertahun-tahun hidup di antara orang-orang yang hanya menginginkan hartaku. Jangan pernah bandingkan dirimu dengan wanita-wanita murahan itu. Aku menikahimu bukan karena wasiat semata, tapi karena aku memang memilihmu. Hanya kamu."
Baskara kemudian mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah rekaman audio yang tersimpan di cloud pribadinya—rekaman percakapan antara Areta dan Mama Baskara yang terjadi tepat setelah Baskara meninggalkan kantor.
"Dengarkan ini," ucap Baskara, lalu menekan tombol play.
Suara Areta yang penuh kemenangan dan tawa puas Mama Baskara memenuhi keheningan toko roti itu.
Rencana untuk menghancurkan resepsi dan memicu perceraian terdengar begitu jelas dan mengerikan.
"Mereka tidak akan berhenti, Alena. Tapi aku juga tidak akan tinggal diam. Aku membiarkan mereka merasa menang agar mereka lengah, dan saat hari Minggu nanti, di depan semua tamu dan media, aku akan memutar balik semua rencana mereka. Aku butuh kamu di sampingku, bukan sebagai wanita yang lari, tapi sebagai istri yang berdiri tegak bersama suaminya. Maukah kamu percaya padaku?"
Alena menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Ia tidak lagi menahan dirinya, langsung menerjang maju dan memeluk tubuh Baskara dengan sangat erat, menumpahkan segala ketakutan yang sempat membeku di dadanya.
"Maafkan aku, Bas... aku sempat meragukanmu," ucap Alena dengan suara teredam di dada bidang suaminya.
Baskara membalas pelukan itu dengan penuh kepemilikan, mengecup puncak kepala Alena berulang kali.
Seringai jahil muncul di wajahnya saat ia merasakan detak jantung Alena yang masih cepat.
Ia sedikit merenggangkan pelukan, menatap istrinya dengan sorot mata yang menggoda.
"Ternyata, istriku sudah mulai cemburu saat suaminya digoda oleh wanita lain, ya?" ledek Baskara dengan nada jenaka.
Seketika, Alena melepaskan pelukannya dan mencubit lengan Baskara dengan gemas.
"Tentu saja aku cemburu! Siapa wanita yang tidak akan marah kalau suaminya dicium oleh wanita lain tepat di depan matanya sendiri?"
Baskara tertawa kecil, rasa lega menyelimuti hatinya karena melihat Alena kembali menjadi dirinya yang berani dan posesif.
Ia menarik kembali tubuh Alena ke dalam dekapannya, kali ini lebih erat, seolah-olah ia tidak akan pernah membiarkan dunia menyentuh istrinya lagi.
"Itu adalah tanda bahwa kamu benar-benar milikku, Alena," bisik Baskara serak.
"Sekarang, hapus air matamu. Kita harus bersiap-siap untuk hari Minggu. Karena setelah apa yang mereka rencanakan, aku janji... pesta pernikahan kita akan menjadi hari di mana mereka semua akan kehilangan segalanya."
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭