Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Kenanga, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Davina saat itu hanya sedang bercanda saja." Bima berusaha berkilah, berharap Kenanga percaya dengan apa yang dia katakan.
"Mas, aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi. Kamu mungkin bisa mengatakan pada semua orang mengenai kebohongan ini dan mereka akan percaya padamu, tapi tidak denganku."
"Kamu benar-benar salah paham! Aku hanya bercanda dengan Davina."
"Apa memberikan aku pil KB juga merupakan candaan? Itu sama sekali tidak lucu. Dua puluh tahun kamu memberikannya padaku. Tidakkah kamu berpikir ada efek sampingnya pada tubuhku? Tidakkah kamu berpikir jika aku juga ingin memiliki seorang anak?"
"Memangnya buat apa? Sudah ada Devina di sini. Kamu juga sudah sangat menyayanginya dan menganggapnya seperti anak kandung sendiri, jadi buat apa memiliki anak yang lainnya? Itu hanya akan membuat kasih sayang kamu terbagi. Kasihan Davina juga."
"Jadi seperti itu pikiran kamu? Picik sekali. Sebagai seorang wanita aku juga ingin merasakan bagaimana hamil dan melahirkan. Meskipun nantinya aku memilih seseorang anak, aku tetap akan menyayangi Davina. Aku menyayanginya dengan tulus, tidak seperti kalian yang pada akhirnya menghianatiku."
"Aku minta maaf. Aku sudah melakukan kesalahan, tapi tolong jangan mengajukan gugatan cerai!"
Davina yang tidak suka dengan ucapan sang papa pun menyela, "Kenapa begitu? Papa sudah janji sama Mama Alicia akan menikah dengannya. Apa Papa mau punya dua istri?"
Bima menatap tajam ke arah Davina, berharap agar anaknya itu tidak ikut campur dengan urusannya. Bukan karena dirinya ingin mempertahankan Kenanga di sisinya, hanya saja untuk saat ini dia membutuhkan wanita itu untuk mendapatkan uang secara cuma-cuma. Kenapa putrinya itu sama sekali tidak mengerti kesulitannya.
Jika Bima meminjam pada orang lain, sudah pasti akan ada bunganya saat mengembalikan uang tersebut. Berbeda dengan kedua orang tua Kenangan, sudah tidak ada bunga juga tidak perlu mengembalikannya, jadi dia diuntungkan kalau masih mempertahankan wanita itu. Sayangnya Kenanga sudah tahu niat busuk suaminya itu. Dia pun tidak percaya sama sekali dan tetap pada pendiriannya untuk bercerai dari Bima.
"Mas, sudahlah! Tidak perlu berbasa-basi lagi. Aku sudah memutuskan untuk bercerai dengan kamu. Sebaiknya kamu bekerja sama agar tidak menambah masalah. Kita bisa berpisah secara baik-baik."
"Aku tidak akan pernah setuju untuk bercerai denganmu. Sekuat apa pun kamu memohon untuk bercerai, aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Bima merobek surat perjanjian perceraian yang diberikan oleh Kenanga tadi hingga menjadi serpihan kecil dan melemparkannya ke atas. Robekan kertas itu pun jatuh berhamburan mengenai mereka. Kenanga mengeram kesal, dia mengepalkan kedua tangannya sambil menatap sang suami.
Kenanga berkata dengan menahan emosi. "Aku akan tetap berusaha untuk mengajukan gugatan cerai. Setuju atau tidak kamu tidak akan bisa menghalangiku. Apalagi dengan bukti yang aku miliki, kamu tidak akan bisa menyangkalnya. Aku sudah cukup terluka dengan apa yang kamu lakukan. Aku tidak ingin menjadi penghalang antara kamu dengan Alicia. Aku tidak mau bersama kalian lagi."
Kenanga pun berlalu dari sana. Dia tidak ingin semakin terpancing emosinya. Dirinya juga akan menghubungi pengacaranya lagi dan menjelaskan jika memang menolak perceraian. Pengacaranya pasti lebih tahu jalan apa yang harus ditempuh.
Bima begitu marah sampai menggebrak meja dengan telapak tangannya, hingga peralatan makan yang di atas meja bergetar. Davina yang ada di samping papanya pun jadi takut. Dia tidak pernah melihat papanya semarah itu. Bukankah seharusnya pria itu senang karena akan bercerai dengan Kenanga tanpa harus berdrama, kenapa sekarang malah marah?
Bukankah papanya masih mencintai mama kandungnya dan ingin kembali bersama. Apakah semua itu hanya kebohongan? Apa pria itu sengaja ingin menenangkan Alicia saja dan tidak benar-benar memiliki perasaan cinta.
"Pa, kenapa Papa harus marah? Bukankah apa-apa dari awal Memangnya ingin bercerai dengan Mama Kenanga?" tanya Davina dengan hati-hati.
"Memang benar seperti itu, tapi tidak sekarang! Kamu tahu apa? Perusahaan Papa sedang membutuhkan dana dan hanya Opa Halim dan Oma Salma yang bisa membantu."
"Kenapa tidak meminta bantuan pada orang lain saja. Teman Papa juga banyak, mereka semua pengusaha terkenal."
"Kamu itu tidak tahu apa-apa, jangan pernah bicara seenaknya!"
Bima kesal sampai menggebrak meja dan pergi dari sana, sementara Davina menatap sedih kepergian sang papa. Ada rasa tidak suka saat papanya hanya memanfaatkan Kenanga untuk urusan pekerjaannya saja, sedangkan pria itu tidak memiliki perasaan apa pun pada mama sambungnya itu.
Namun, di sisi lain ada perasaan gelisah juga jika nanti sang lapa usahanya gagal. Sudah pasti akan berimbas pada kehidupannya sehari-hari. Apalagi dirinya juga saat ini masih kuliah, butuh pengeluaran yang cukup banyak. Tempat Davina belajar juga termasuk universitas ternama, sudah pasti biayanya sangat tinggi.
Davina pun bersiap pergi menuju kampus hari ini dia ada mata kuliah lagi suasana rumah pun jadi begitu sepi gigi yang sejak tadi mengopi pembicaraan majikannya pun merasa bersama pada Kenanga. Andai saja dia bisa menolak, tapi mau bagaimana lagi, dirinya di sini hanyalah seorang pembantu
***
Kenanga pergi meninggalkan rumah dengan membawa koper yang berisi baju-baju miliknya. Bibi yang tadinya sedang menyapu lantai pun tergopoh mendekati majikannya itu. Saat melihat Kenanga membawa koper dan juga tas, siapa pun pasti akan tahu jika wanita itu ingin pergi dari rumah.
"Ibu mau ke mana?" tanya bibi untuk memastikan tebakannya.
"Saya mau pergi, Bik. Saya sudah tidak ingin lagi menjadi nyonya di rumah ini. Bibi juga sudah bebas tidak perlu lagi memberikan saya obat setiap pagi."
Bibi menundukkan kepala denhan mata berkaca-kaca. Dia merasa sangat bersalah pada Kenanga. Awalnya wanita itu tidak mau melakukan hal tersebut, tetapi karena membutuhkan uang dan tidak ingin dipecat dari pekerjaannya, terpaksa dia menuruti perintah Bima.
"Maafkan saya, Bu. Saya melakukan semua ini juga karena terpaksa. Saya membutuhkan pekerjaan ini. Keluarga di kampung juga butuh uang."
"Tidak perlu meminta maaf karena sampai kapan pun aku juga tidak akan memaafkan Bibi. Seharusnya sebagai sesama wanita Bibi lebih mengerti bagaimana perasaanku, tapi ternyata tidak. Hanya karena uang Bibi menghalalkan segalanya. Sudahlah, semuanya juga sudah lewat. Aku juga tidak tahu apa yang menjadi kesulitan dalam kehidupan Bibi. Semoga saja ke depannya tidak ada wanita yang bernasib sama sepertiku. Aku pergi dulu, assalamualaikum." Kenanga melangkahkan kaki laki-laki terhenti karena pertanyaan dari pembantunya itu.
"Jadi, Ibu benar-benar akan pergi dari rumah ini dan tidak akan kembali?"
"Iya. Nanti Bibi juga kan mendapatkan majikan baru. Mungkin tidak akan lama lagi, mengingat semua rencana sudah dipikirkan sebelumnya. Assalamualaikum." Kenanga pun berlalu tanpa melihat ke belakang sama sekali.
"Waalaikumsalam."
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu