NovelToon NovelToon
Jodoh Pak Dokter

Jodoh Pak Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Ibu susu / Nikah Kontrak
Popularitas:24.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.

Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.

Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.

Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Tak lama kemudian, lampu kamar pengantin yang sempat padam mendadak kembali menyala terang benderang. Kilatan cahaya yang tiba-tiba itu membuat Shanum perlahan membuka kedua matanya yang sedari tadi terpejam rapat. Begitu kesadarannya pulih, ia tersentak hebat saat menyadari bahwa dirinya saat ini masih berada dalam dekapan hangat dan erat tubuh kekar suaminya.

'Ya ampun... kenapa situasinya malah menjadi canggung seperti ini sih? Aku harus bagaimana sekarang? Mau dilepas tapi aku terlanjur memeluknya erat sekali!' pekik Shanum panik di dalam hati, wajahnya seketika merona merah padam hingga ke leher.

Sementara itu, Daniel sendiri mendadak salah tingkah. Jantungnya berdegup tidak karuan dan ia beberapa kali menelan ludahnya dengan susah payah untuk menenangkan diri.

'Kenapa aku dan Shanum malah saling berpelukan begini? Tidak... ini tidak bisa dibiarkan begitu saja! Aku harus segera menjaga jarak sebelum keadaan menjadi semakin tidak terkendali, 'batin Daniel tak menyangka jika pertahanan dirinya bisa goyah semudah ini.

Namun, kepanikan yang melanda mereka justru membawa petaka kecil. Di saat yang bersamaan, Shanum refleks mendongakkan wajahnya untuk meminta maaf, sedangkan Daniel berniat menurunkan kepalanya sedikit untuk melepaskan pelukan. Pergerakan yang terlalu tiba-tiba itu membuat mereka lagi-lagi beradu fisik tanpa sengaja.

Duk!

Dagu kokoh milik Daniel berbenturan cukup keras dengan dahi milik Shanum. Sialnya, benturan itu menyebabkan cedera di bagian sudut bibirnya Daniel. Karena sedari tadi ia sedang menggigit bibir bawahnya sendiri akibat gugup, hantaman itu membuat giginya tak sengaja merobek sudut bibirnya hingga mengeluarkan sedikit darah.

"Aakhhh! Ssshhh..." Daniel langsung meringis kesakitan, memegang sudut bibirnya yang berdenyut perih.

Suara ringisan Daniel yang cukup nyaring di tengah malam yang sepi itu lagi-lagi merambat samar menembus dinding, hingga terdengar sampai ke kamar kedua orang tuanya yang sejak tadi memang belum tertidur. Tentu saja, hal ini membuat Nyonya Tania dan Tuan Lee mulai berpikir yang tidak-tidak.

Nyonya Tania langsung menyenggol lengan suaminya dengan heboh. "Pah, kau dengar lagi suara teriakan di kamar pengantin, kan?"

Tuan Lee ikut menegakkan duduknya, mengangguk-angguk dengan senyum penuh arti. "Iya, Mah, Papah dengar... Bukankah itu tadi suaranya putra kita?"

"Iya, Pah! Itu jelas teriakannya Daniel!" seru Nyonya Tania setengah berbisik dengan mata berbinar-binar. "Bocah itu... dasar! Sepertinya Shanum lihai juga ya di atas ranjang, sampai-sampai Daniel menjerit begitu, hahaha!"

Tuan Lee hanya bisa mengusap wajahnya, tak habis pikir dengan imajinasi liar istrinya. "Sudah, Mah, jangan dilanjutkan lagi perkataanmu itu. Bikin kepala Papah makin pusing saja malam-malam begini."

Sementara itu di kamar pengantin, suasana justru dipenuhi oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Shanum yang merasa bersalah karena telah membuat suaminya terluka, langsung meminta maaf berulang kali sembari buru-buru menjauhkan dirinya hingga beberapa langkah ke belakang.

"Maafkan saya, Pak... maaf! Saya benar-benar tidak sengaja," ucap Shanum panik, kembali memanggil Daniel dengan sebutan 'Pak' dan langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam karena merasa bersalah sekaligus malu.

Daniel yang masih mengusap sudut bibirnya yang terasa sedikit perih dan asin karena darah, mencoba mengatur napasnya. "Ssshhh... tidak apa-apa, Num. Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil," sahut Daniel dengan suara agak serak, berusaha menenangkan Shanum agar tidak merasa terlalu bersalah.

Setelah insiden menggelikan dan mendebarkan yang terjadi bertubi-tubi malam ini, keduanya menyadari bahwa mereka harus segera mengakhiri malam ini sebelum terjadi kesalahpahaman yang lebih besar.

Akhirnya, Daniel dan Shanum memutuskan untuk tidur. Mereka menempati satu ranjang pengantin yang sama, namun dengan posisi yang sangat berjauhan. Keduanya tidur di bagian paling ujung kasur yang saling berlawanan, saling membelakangi satu sama lain, dan meletakkan sebuah guling panjang tepat di tengah-tengah sebagai pembatas suci tempat tidur mereka.

Malam pengantin yang seharusnya penuh kemesraan itu pun ditutup dengan keheningan, di mana dalam diam, baik Daniel maupun Shanum sama-sama memandangi dinding dengan jantung yang masih berdebar sisa kejadian tadi.

*

*

Keesokan paginya, tepat saat semburat fajar mulai menyingsing, Shanum terbangun dari tidurnya. Ia perlahan bangkit dari ujung kasur, memastikan tidak menimbulkan suara agar tidak mengusik Daniel yang masih terlelap di ujung ranjang satunya. Tanpa membuang waktu, Shanum bergegas membersihkan diri dan melangkah setengah berlari menuju kamar Baby Ziva. Rasa rindu yang tertahan sejak semalam membuat langkahnya terasa ringan.

Ceklek!

Bik Sumi yang sedang merapikan popok di dalam kamar sempat terkejut melihat Shanum yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dengan wajah sumringah. "Eh, Non Shanum... kok sepagi ini sudah ke sini?"

"Iya, Bik. Saya kangen sekali dengan Ziva," bisik Shanum lembut.

Seolah memiliki ikatan batin, Baby Ziva yang baru saja menggeliat kecil langsung membuka sepasang mata bulatnya. Begitu melihat sosok Shanum, bayi mungil itu langsung merentangkan tangan tangannya dan mengeluarkan suara rengekan halus, tanda bahwa ia mengenali aroma tubuh sang ibu susu dan mulai mencari sumber ASI nya. Dengan penuh kasih sayang, Shanum segera menggendong dan mendekap Ziva.

Sementara itu, di kamar pengantin, Daniel sudah menyelesaikan mandinya. Pagi ini ia tampak gagah dengan kemeja biru muda yang pas di tubuh tegapnya, lengkap dengan jas dokter putih yang tersampir rapi di lengannya. Siang nanti, Daniel memiliki agenda penting untuk menemui tim pengacaranya guna membahas taktik melawan gugatan banding hak asuh anak yang diajukan oleh Klara.

Saat sedang merapikan kerah kemejanya di depan cermin besar, pandangan Daniel mendadak terkunci pada pantulan wajahnya sendiri. Ia menyentuh sudut bibirnya yang sedikit membengkak, lalu sebuah senyuman tipis tanpa sadar terukir di wajah tampannya. Ingatan tentang insiden lampu padam dan benturan semalam kembali berputar, menyisakan debaran aneh yang berusaha ia tepis.

Setelah menyelesaikan urusan masing-masing, Daniel melangkah turun ke lantai bawah menuju ruang makan. Di sana, Shanum sudah duduk lebih dulu sembari menimang Baby Ziva yang tampak tenang di pangkuannya. Tak berselang lama, Nyonya Tania dan Tuan Lee muncul dengan langkah santai, lalu mengambil posisi duduk bersama untuk memulai sarapan pagi.

Suasana meja makan awalnya tenang, sampai akhirnya kejelian Nyonya Tania terusik. Sembari memotong roti, mata paruh baya nya itu melirik ke arah Shanum yang tampak malu-malu, lalu beralih menatap wajah putranya. Detik itu juga, Nyonya Tania menangkap noda kemerahan kecil seperti bekas gigitan di sudut bibirnya Daniel.

Seketika, senyum jahil merekah di wajah Nyonya Tania. Ia menyenggol keras lengan suaminya di bawah meja. "Pah, lihat itu...!" bisiknya heboh.

Tuan Lee langsung mengarahkan pandangannya ke titik yang dimaksud sang istri. Sadar akan apa yang terjadi, sepasang suami istri itu langsung saling melempar senyuman penuh arti yang sarat akan godaan. Tuan Lee berdehem sejenak, sengaja memecah keheningan dengan nada suara yang dibuat seformal mungkin.

"Ehem... Kenapa dengan sudut bibirmu itu, Daniel? Sepertinya ada luka baru."

Deg!

Shanum yang awalnya sedang asyik mengajak Baby Ziva mengobrol, seketika membeku. Wajahnya mendadak berubah pucat pasi. Ia reflex menoleh ke arah Daniel dengan tatapan panik, sementara Daniel juga menatap ke arah istrinya dengan kilatan mata yang mencoba menenangkan.

Daniel tahu, ia harus segera mengendalikan situasi agar pernikahan kontrak mereka tidak tercium oleh kedua orang tuanya yang teramat cerdas itu. Dengan ekspresi setenang mungkin, Daniel menyuap makanannya lalu menjawab santai.

"Papah kayak tidak pernah muda saja. Pasti Papah tahu sendiri kan apa yang biasanya dilakukan oleh pasangan pengantin baru di malam pertama?" ujar Daniel, sementara sudut matanya sengaja melirik ke arah Shanum seolah-olah mereka baru saja melewati malam yang penuh kemesraan.

Mendengar jawaban berani dari putranya, Nyonya Tania langsung bertepuk tangan pelan dengan wajah sumringah. "Wah, Papah... sepertinya kita akan secepatnya memiliki cucu laki-laki baru di rumah ini!"

Uhuk! Uhuk!

Mendengar celetukan sang ibu mertua, Shanum yang kebetulan sedang meneguk air langsung tersedak hebat. Wajahnya memerah karena malu sekaligus terkejut. Dengan sigap dan cekatan, Daniel langsung mengusap punggungnya Shanum dan menyodorkan sisa air putih di gelas.

"Kamu tidak apa-apa, Num?" tanya Daniel, suaranya terdengar sangat perhatian.

"Tidak, Pa... eh, maksud saya, tidak apa-apa, Mas," jawab Shanum gugup setengah mati. Ia merutuki bibirnya yang hampir saja keceplosan memanggil Daniel dengan sebutan 'Pak' di depan kedua mertuanya.

Selesai menghabiskan sarapan, Daniel bangkit dari kursinya untuk bersiap pergi ke rumah sakit. Namun, sebelum melangkah keluar, ia menyempatkan diri mendekati Shanum untuk mengambil alih Baby Ziva sejenak. Daniel menggendong putrinya dengan penuh kasih, lalu mendaratkan ciuman hangat di kedua pipi gembil Ziva.

Pemandangan manis itu tentu saja tidak luput dari radar godaan Nyonya Tania. Sembari menahan tawa, ia kembali berceletuk menggoda. "Wah, Ziva... pagi-pagi sudah dicium sama Papah. Pasti setelah ini giliran Mama mu yang kebagian jatah ciuman selamat pagi, ya?"

Mendengar kalimat telak itu, Shanum dan Daniel kembali saling pandang dalam diam. Rasa gugup seketika merayap di antara mereka. Daniel sadar, jika ia menolak, sandiwara pernikahan bahagia mereka akan runtuh seketika di mata ibunya.

Menekan seluruh egonya, Daniel mendekatkan wajahnya ke arah Shanum. Dan dengan gerakan yang lembut namun pasti, ia mendaratkan bibirnya tepat di bagian pipi kanannya Shanum. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, Daniel mencium pipi Shanum secara nyata. Detik itu juga, debaran jantung keduanya berpacu tak beraturan, menyisakan rasa salah tingkah yang amat kentara.

"Loh, Num? Kamu tidak cium balik suamimu sebelum berangkat kerja?" tagih Nyonya Tania lagi, memperlebar jebakan manisnya.

Perkataan itu membuat Shanum terpaksa menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan tangan yang sedikit bergetar dan wajah yang sudah sewarna kepiting rebus, Shanum memajukan tubuhnya. Ia terpaksa membalas dengan mendaratkan kecupan singkat di pipi kiri suaminya.

Tanpa di sadari oleh Shanum, polesan lipstik samar berwarna pink yang ia kenakan pagi itu meninggalkan bekas noda tipis di bagian pipinya Daniel.

"Aku berangkat dulu," pamit Daniel bergegas, suaranya terdengar agak buru-buru karena ia sendiri sudah tidak kuat menahan gejolak canggung di dadanya. Pria itu segera melangkah cepat menuju mobilnya untuk pergi ke rumah sakit.

Sementara itu, Shanum masih terpaku di dekat tempat duduknya sembari mendekap Baby Ziva. Ia berusaha keras menenangkan detak jantungnya yang terasa seperti ingin melompat keluar dari rongga dadanya, ditemani rasa malu yang luar biasa di bawah tatapan menggoda dari kedua mertuanya.

Bersambung...

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎
Nar Sih
siip daniel hajar terus sampai klara ngk bisa berkutik dan kmu lah yg jdi pemenang nya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😉
total 1 replies
neny
makanya jng menganggap sepele sm orang lain,, apalagi masa lalu itu km sendiri yg menghancurkan nya,,
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
neny: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Nar Sih
semagat 💪daniel smoga kmu lah yg menang atas tuntutan hak asuh ziva
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin 😊
total 1 replies
~Ni Inda~
Klw perlu karir yg dia bangun mati²an dg memanfaatkan Sony...hancur berkeping²
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: setuju kak, hancur dengan sikapnya sendiri
total 1 replies
~Ni Inda~
Masalah gakan selesai dg saling menduga
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: wah, mantap uji nyali ya kak🤭
total 1 replies
Ilfa Yarni
hajR trus spe masuk bui tuh perempuan licik dia yg berulah dia yg emosi hahaha kau ga bakal menang Kiara dasar perempuan murahan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
neny
ya iya lah daniel,,km yg buat Hanum seperti itu,,muka km hrs menyelesaikan Maslah ini,,spy kalian berdua harmonis lg🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
semoga shanum dan Daniel yg memenangkan hak asuh ziva
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aamiin 🤲🏼
total 1 replies
neny
semuanya serba salah faham,,sebaik nya jujur ajh sm perasaan masing2,,drpd kesalah fahaman ini ber larut2
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul, tunggu saatnya tiba, harus ada salah satu yang mengalah
total 1 replies
Teh Yen
nanti malam.jangan.salahkan.shanum.klaau Tidka.mau.tidur sekamar lagi yah dok.huuh 😤
Teh Yen
lah knp malah kata kata itu yg keluar dari mulutmu Daniel hadeeuh kasian kan shanum terluka padhl dia jg berharap loh dokter Suka smaa dia 🙈
Teh Yen
nah gt dong untung dokter daniel.cepat sadar dengan perasaannya yah ,, smoga shanum jg mau mengakui perasaannya pada Daniel yah
Teh Yen
kasian dokter.daniel.sakit.karena kelelahan mungkin yah
Teh Yen
xixixi .... engg pa pa num pijit ajah lumayan bikin badan rileks kan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣
total 1 replies
Teh Yen
yah kali ini gagal mah umpannya 🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Yen
Xixixiii mamah Daniel bisa aj nih bikin pengantin baru salah tingkah d nurutin kemauannya dari pada sandiwaranya terbongkar hihii tp bagus sih anggap aj latihan yah 😁
Teh Yen
duh udh main peluk peluk aj nih shanum cie daniel.deg deg gan engg tuh hihii 🤭
Nar Sih
dr daniel ,,jujur dgn shanum biar gak ada slh paham lgi
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😀
total 1 replies
Nar Sih
bnr kan ahir nya dr daniel jatuh cinta dgn mu shanum☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!