NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:764.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

Pagi itu, gedung pencakar langit milik PT Adiwangsa tampak berdiri megah di pusat kota. Hendra turun dari mobilnya dengan setelan jas terbaik yang ia miliki, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya yang runtuh sejak kemarin.

Di sampingnya, Arumi berjalan dengan dagu terangkat tinggi, mengenakan gaun formal desainer dan kacamata hitam, seolah-olah ia adalah tamu agung yang sangat penting.

"Mas, kamu harus tenang," bisik Arumi sembari menggelayut manja di lengan Hendra saat mereka memasuki lobi. "Begitu ketemu CEO-nya, biar aku yang bantu bicara. Lelaki sukses biasanya luluh kalau dihadapi dengan negosiasi yang cerdas dan penampilan yang menarik seperti kita."

Hendra mengangguk pelan, meski jantungnya berdegup kencang bak ditabuh bertalu-talu.

"Iya, sayang. Semoga saja pemilik PT Adiwangsa ini tipe orang yang bisa diajak kompromi. Bisnisku taruhannya."

Mereka berdua kemudian naik ke lantai paling atas menggunakan lift khusus eksekutif. Begitu pintu lift terbuka, Pak Roni sudah berdiri menyambut mereka di depan sebuah pintu ganda bermaterial kayu ek yang sangat mewah.

"Selamat pagi, Pak Hendra, Nona Arumi," sapa Pak Roni dengan senyuman formal yang dingin. "Silakan masuk. Pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama PT Adiwangsa sudah menunggu Anda di dalam."

Arumi tersenyum manis yang dibuat-buat. "Terima kasih, Pak Roni. Akhirnya kita bisa bicara langsung dengan atasan Anda."

Hendra membuang napas berat, lalu mendorong pintu besar itu terbuka. Di dalam ruangan yang sangat luas dan menghadap langsung ke pemandangan kota, sebuah kursi kebesaran direktur tampak membelakangi mereka. Hanya terlihat siluet seorang wanita yang sedang memandang keluar jendela kaca besar.

"Selamat pagi, Pimpinan," buka Hendra dengan suara yang dibuat sehormat mungkin, melangkah maju beberapa tindak bersama Arumi. "Saya Hendra dari PT Buana. Kedatangan saya kemari ingin memohon maaf atas kesalahpahaman logistik kemarin, dan berniat mencari jalan keluar terbaik secara personal dengan anda."

Mendengar suara Hendra, kursi kerja mewah itu perlahan berputar seratus delapan puluh derajat.

Begitu sosok sang pemilik perusahaan terlihat sepenuhnya di bawah terpaan cahaya matahari pagi, waktu seolah berhenti berputar bagi Hendra dan Arumi. Seluruh pasokan oksigen di paru-paru Hendra mendadak lenyap seketika.

Di atas kursi kebesaran itu, duduk Ningsih.

Wanita itu mengenakan blazer formal berwarna hitam pekat yang sangat elegan, rambutnya disanggul rapi, dan sepasang matanya menatap tajam ke arah mereka berdua dengan senyuman paling dingin dan mematikan.

"N–ningsih?!" pekik Hendra dengan suara yang melengking saking syoknya. Kakinya mendadak lemas hingga ia terhuyung mundur satu langkah. "Kenapa kamu bisa ada di sini?!"

Arumi yang ikut mengenali wajah wanita di depan mereka langsung melepaskan kacamata hitamnya dengan kasar. Matanya membelalak sempurna, mulutnya menganga lebar karena tidak percaya.

"Mbak Ningsih?! Mas, jangan bercanda! Kenapa perempuan miskin ini bisa duduk di kursi pemilik PT Adiwangsa?!"

Ningsih tidak langsung menjawab. Ia melipat kedua tangannya di atas meja kerja, lalu terkekeh sinis—sebuah tawa yang terdengar begitu meremehkan dan membuat bulu kuduk Hendra meremang gatal.

"Selamat pagi, Mas Hendra dan Arumi," sapa Ningsih, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan penekanan yang menghancurkan. "Bagaimana tidur kalian semalam di atas ranjangku? Nyenyak, bukan?"

Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya, otaknya mendadak macet total.

"Tidak mungkin... Ini pasti salah. Kamu... kamu kan cuma istri rumahan, Ningsih! Bagaimana bisa kamu..."

"Bagaimana bisa aku memimpin PT Adiwangsa?" potong Ningsih cepat, berdiri dari kursi kebesarannya dan menatap Hendra dengan pandangan menghina. "Asal kamu tahu ya, Mas Hendra yang terhormat. PT Adiwangsa ini adalah perusahaan rintisan milikku! Selama ini aku sengaja memakai nama samaran dewan komisaris karena aku ingin fokus mengurusmu dan Luna di rumah!"

Ningsih berjalan perlahan memutari meja kerjanya, mendekati dua manusia yang kini sudah gemetar ketakutan.

"Tapi ternyata, ketulusanku justru kamu balas dengan air tuba," lanjut Ningsih, matanya kini beralih menatap Arumi dengan kilat kemarahan yang tertahan. "Dan kamu, Arumi. Kamu bilang sepuluh miliar itu uang kecil, kan? Kalau begitu, silakan tanda tangani surat ganti rugi ini sekarang juga. Jika tidak, Pak Roni dan petugas kepolisian di luar sudah siap menyeret kalian berdua ke jeruji besi atas kasus pengoplosan dan korupsi dana proyek!"

Brak!

Ningsih mengempaskan map hitam berisi berkas tuntutan tepat di depan dada Hendra.

Arumi melangkah maju, lalu menarik lengan kemeja Hendra dengan kasar hingga pria itu menoleh. Dengan mata yang mendelik sinis ke arah Ningsih, Arumi berbisik setengah mendesis di telinga Hendra.

"Mas, jangan bodoh! Kamu percaya begitu saja dengan bualan nya? Wanita kampung seperti dia mana mungkin punya perusahaan sebesar ini! Paling-paling dia ini selingkuhan rahasia dari pemilik asli PT Adiwangsa yang sebenarnya! Dia cuma numpang duduk di kursi itu untuk menakut-nakuti kita!"

Hendra tertegun. Otaknya yang sudah buntu karena panik mendadak menerima bisikan sesat Arumi sebagai sebuah kebenaran. Ego lelakinya yang sempat runtuh kini bangkit kembali. Ia menegakkan punggungnya, menatap Ningsih dengan pandangan menghina.

"Oh, jadi begitu kelakuanmu di belakangku, Ningsih?!" bentak Hendra, menunjuk wajah istrinya dengan berani. "Pantas saja kamu kabur dari rumah membawa Luna! Ternyata kamu menjual dirimu pada bos perusahaan ini agar bisa membalas dendam padaku, iya kan?! Menjijikkan!"

Arumi bersedekap dada sembari terkekeh gatal. "Tuh kan, Mas, apa aku bilang! Heh, Ningsih, turun dari kursi itu! Kamu tidak pantas bergaya sok kuasa di sini. Paling sebentar lagi kamu didepak kalau bos asli perusahaan ini bosan denganmu!"

Ningsih tidak berkedip sedikit pun. Ia menatap kedua manusia di depannya dengan pandangan seolah-olah sedang melihat dua ekor kecoak yang menjijikkan.

Alih-alih marah, Ningsih justru tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin dan penuh kuasa.

"Hendra, Hendra... Ternyata kebodohanmu itu memang sudah mendarah daging, ya? Dan kamu, Arumi, selain gatal ternyata otakmu juga tidak berfungsi," ucap Ningsih dengan nada suara yang teramat santai namun menohok.

Ningsih melirik ke arah Pak Roni yang berdiri di dekat pintu. "Pak Roni, tolong tunjukkan akta otentik pendirian PT Adiwangsa ke wajah mereka berdua. Biar mereka tahu siapa pemilik tunggal saham mutlak di sini."

Pak Roni dengan sigap membuka sebuah dokumen besar di layar proyektor ruang rapat. Di sana, tertulis jelas nama lengkap, Ningsih Adiwangsa, sebagai pemilik tunggal 100% aset perusahaan.

Hendra dan Arumi seketika membeku. Nama itu tertulis hitam di atas putih.

"N–ningsih... kamu..." Arumi terbata-bata, lututnya mendadak lemas seketika.

"Ayo kita pulang sekarang! Kita bicarakan ini di rumah, jelaskan semuanya padaku! Kamu tidak bisa menghancurkan PT Buana begitu saja, aku ini suamimu!" seru Hendra, mencoba meraih tangan Ningsih dengan raut wajah memelas yang menjijikkan.

Ningsih dengan cepat menarik tangannya menjauh, menatap Hendra dengan kilat mata yang sangat tajam.

"Rumah? Rumah yang mana? Rumah yang kamu pakai untuk berzina dengan perempuan ini semalam? Dan suami? Maaf, berkas gugatan cerai kita sudah masuk ke pengadilan subuh tadi."

Ningsih menekan tombol interkom di meja kerjanya.

"Keamanan, masuk sekarang! Seret dua binatang ini keluar dari ruangan saya, dan langsung serahkan mereka ke mobil patroli polisi yang sudah menunggu di bawah!"

"Ningsih! Jangan lakukan ini, Ningsih! Aku mohon!" teriak Hendra panik saat tiga petugas keamanan berbadan tegap masuk dan langsung mengunci kedua lengannya.

"Lepas! Jangan sentuh aku! Dasar wanita kampung sialan!" jerit Arumi histeris saat tubuhnya ikut diseret paksa .

1
Ris Mawati
bagus jln ceritanya
༶•┈┈⛧┈♛ 𝑅𝑖𝑠𝑘𝑎𝑎𝑎 ♛┈⛧┈┈•༶
aku suka kak karyamu terimakasih
l Rumiyati Heineman
dasar suami laknat
Marina Tarigan
kocak banget Satria papa cakep keluar air mstaku karens ketaws terus salam sejahtra tjour. drhat selalu
Marina Tarigan
balasan yg setimpal yeni giwang giman kalian berdua menyiksa Hendra dulu dgn sangat safis dan membuangnya
Marina Tarigan
akibat obat itj Nawang bisa nantonya tdk punya keyurunan lagi rajimnya bisa rusak karens obat keras ituYENzi
Marina Tarigan
neny dan nawang itu sdh seperti iblis ya tunghu saja perbuatan kalian yg sangat sadis memang lebih baik ke panti sosial dp kalian sikza sdgitu kejam
Marina Tarigan
nawang ini cari penyakit ya nanti dibentak kasar baru tahu rasa
Marina Tarigan
nawang ksmu juga akan jadi pelacur hati2 bawang Satria bukan Hendra Satria lebih unggul dari segLanya
Marina Tarigan
lanjut monyet tetep monyet walaupun dibungkus sutra mahal
Marina Tarigan
selamatkan perusahaan nawang ningdih
Marina Tarigan
jendra tdk tsju siapa Hendra sebenarnya
Marina Tarigan
aneh Rendra nampak kali cemburumu ya
Marina Tarigan
setisp perbuatan baik. buruk pasti ada akibatnya bekerjalah demi bisa menyambung hidup kubur grngsi yg kamu pernust Arumi
Marina Tarigan
untung datria tiba tepst waktu kalau tdk kamu sdh dipaksa zHendra masuk mobilnys tahu
Marina Tarigan
sdhlah Henfra perbuatanmu paling sadis sedunia yaitu kamu nawa Arumi kekamar utama sngai istri kalau aku orangnya detik itu juga sdh kutebas sampai rata ular pitonmi itu
Marina Tarigan
lanjut saja Hendra jalankan saja untuk mengubah nasipmu cuma jgn ganghu lavi Ningsih pengawalnya banyak sebelum kantongmu tebal kamu sdh dipermalukan telak
Marina Tarigan
ini nawang atau bswang kek pelacur ya baru ketemi terus gatal kembaran Arumi kali
Dewi Sekar Khirani
ngakak sendiri aku ngebayang
in bagaimana wajah ningsih saat menghadapi kelakuan satria yg
diluar nurul itu
yuuuuj semangat thor 💪👌
A_ntalus
definisi sabar sesungguhnya 😭💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!